
Pada malam hari, semua orang sudah berada di luar. Miko membuat api unggun, cuaca pegunungan membuat tubuh mereka kedinginan. Sedangkan Andra sibuk membakar tempurung kelapa.
Maura dan Dira menyiapkan ayam untuk dipanggang, ada ikan, sosis dan juga jagung yang bisa mereka nikmati untuk santapan malam ini. Sementara Tuti menjaga Diona dan duduk di ayunan besi yang ada di teras.
Suasana malam ini mulai terasa hangat, Miko dan Dira asik memanggang ayam. Sementara Maura dan Andra memanggang ikan beserta sosis. Mereka semua tampak seperti satu keluarga yang utuh.
Setelah semua siap, Maura dan Dira menyajikannya di atas meja. Semua mulai duduk dan menikmati makanan mereka.
Diona duduk di pangkuan Andra, keduanya sangat dekat layaknya ayah dan anak. Andra menyuapi Diona dengan penuh kasih sayang. Maura terenyuh melihat pemandangan itu, senyuman Diona membuat gumpalan es di hatinya mencair.
Usai menikmati makan malam, Maura kembali ke kamar menidurkan Diona. Sementara Tuti dan Dira asik membereskan sisa makanan dan piring kotor yang berserakan di atas meja.
Miko dan Andra duduk di depan api unggun, cuaca semakin dingin hingga membuat tubuh keduanya menggigil.
Setelah Diona tertidur, Maura keluar dari kamar. Kemudian meminta Tuti masuk menemani putrinya.
Maura melangkah menghampiri Andra dan Miko, kemudian menutup tubuh Andra dengan selimut kecil yang dia bawa.
"Loh, kok cuma Kak Andra saja yang dikasih selimut. Buat Miko mana Kak?" tanya Miko sedikit cemburu.
"Buat kamu, minta sama Dira gih!" jawab Maura dengan senyuman manisnya.
"Gak adil ih," Miko bangkit dari duduknya, meninggalkan Maura dan Andra berdua di sana.
Maura tertegun untuk sesaat, dia merasa canggung dengan keadaan yang membuatnya kebingungan. Berusaha keras membendung segala keinginan di hatinya.
"Cuaca sangat dingin. Aku masuk dulu, jangan lama-lama di luar!" ucap Maura, kemudian membalikkan tubuhnya hendak pergi.
Andra bangkit dari duduknya, menahan tangan Maura hingga langkah wanita cantik itu terhenti.
"Jangan pergi! Bisakah kamu menemaniku sebentar?" pinta Andra dengan deru nafas yang memburu.
Dada Maura terasa sesak, dia seperti merasakan sentuhan tangan suaminya. Bagaimana bisa dia menghadapi ini, perasaan hatinya semakin berkecamuk tatkala melihat wajah Andra dan merasakan sentuhannya.
"Andra, tolong lepaskan aku!" pinta Maura memohon.
Andra menarik tangan Maura, tubuh mereka saling menempel hingga hembusan nafas keduanya mulai beradu. Ada magnet yang menarik diri keduanya untuk saling berbagi kehangatan.
Maura menatap mata Andra dengan intens, dia menemukan cinta suaminya di dalam sana. Tatapan keduanya mengisyaratkan keinginan lain yang tak bisa mereka ungkapkan.
__ADS_1
Ada sesuatu di hati Andra, sesuatu yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Gai-rahnya memuncak melihat tatapan mata dan bibir Maura yang merekah. Ingin sekali dia melahap habis bibir itu, namun dia sadar itu tak mungkin dia lakukan.
Andra memeluk Maura erat, matanya berkaca-kaca. Entah apa yang terjadi dengan dirinya, perasaan itu semakin kuat menekan hatinya. Jantungnya berdegup kencang saat bersentuhan dengan wanita itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di teras sana, Miko tengah duduk di samping Dira. Gadis itu melipat tangannya di dada, kemudian mengusap lengannya naik turun.
Miko yang menyadari itu, membuka jaketnya dan menutupi punggung Dira agar tidak kedinginan.
Tatapan keduanya saling bertemu saat Dira menoleh ke arah Miko, ada yang aneh dengan pandangan mereka. Meskipun sering bertengkar, tapi ada rasa yang menggumpal di hati keduanya.
"Dingin sekali ya," ucap Miko mencairkan suasana.
"Kalau dingin, kenapa memberikan jaket mu padaku? Pakai saja!" Dira meraih jaket Miko yang ada di punggungnya, namun Miko bergegas menahan tangan Dira.
"Tidak perlu, kamu lebih membutuhkannya. Suhu tubuh kita berbeda, tubuh pria lebih hangat dari wanita." ucap Miko.
Dira menatap mata Miko dengan intens. Meskipun terkadang pria itu menjengkelkan, tapi dia mengakui ketulusan hati Miko. Tidak hanya tampan, tapi juga baik.
Dua tahun lebih mereka bersama, tidak ada orang lain diantara keduanya. Miko masih betah dengan kesendiriannya, Dira pun demikian. Tidak ada yang tau bagaimana hidup mereka kedepannya, jalani dan nikmati sesuai alur yang ada.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Suasana seperti ini mengingatkanku dengan Kak Dion, waktu kecil kami sering melakukan ini. Kami mencurinya dari kebun tetangga, lalu membakarnya di depan rumah Kak Dion." ucap Miko mengenang masa lalunya.
Maura terperanjat mendengar itu. Suasana yang tadinya hangat berubah dingin saat Maura menundukkan wajah cantiknya.
Dia kembali teringat semua kenangan indahnya bersama Dion, tak satupun luput dari memorinya.
"Seandainya dia ada di sini, mungkin keadaannya akan berbeda." gumam Maura memendam kesedihannya.
"Maaf Kak Maura, aku tidak bermaksud membuatmu sedih." sesal Miko akan celetuknya.
"Bukankah dia ada di sini? Anggap saja aku adalah dirinya!" sambung Andra, bermaksud menghibur Maura.
Maura mengangkat kepalanya, menatap Andra dengan tatapan tak biasa.
"Tapi kenyataannya berbeda Andra. Kamu bukan dia, kamu bukan suamiku." bentak Maura meninggikan suaranya.
__ADS_1
Maura bangkit dari duduknya, dia berlari ke samping resort. Duduk di bawah pohon yang rindang, meratapi perasaannya yang kian tak menentu.
"Apa-apaan sih Miko? Lihat tuh ulah kamu!" Dira kecewa melihat Miko yang tanpa sengaja membuat Maura kembali terluka.
"Sudah, jangan bertengkar! Aku yang salah, aku yang membuatnya sedih. Wajah ini, dia terluka melihat wajah ini."
Andra bangkit dari duduknya dan menyusul Maura yang tengah termenung di bawah pohon.
"Maafkan aku Maura, aku yang salah. Aku tidak bermaksud membuatmu sedih. Jika kehadiranku hanya membuatmu terluka, aku akan pergi!"
Andra menghela nafas berat.
"Aku akan mencari cara lain untuk mengembalikan ingatanku. Sampai saat itu tiba, tolong tunggu aku! Jangan berikan hatimu pada orang lain sebelum aku mengetahui jati diriku!"
Andra menggenggam tangan Maura erat, lalu menyeka pipi Maura dengan lembut.
Hatinya juga sedih, sakit melihat Maura seperti ini. Tapi apa yang bisa dia lakukan, kenangan itu tak satupun berbalik pada dirinya.
Andra mengayunkan langkahnya, meninggalkan Maura yang masih terdiam tanpa kata.
Sesampainya di kamar, Andra mengemasi barangnya. Air matanya tumpah begitu saja, tak ada satupun yang mengerti perasaannya. Dia juga tersiksa dengan keadaannya.
Andra melayangkan bogem mentahnya ke permukaan dinding, lalu membenturkan kepalanya dengan keras berulang kali.
"Siapa aku?" gumam Andra.
"Akhh...,"
Benturan yang cukup keras membuat Andra berteriak menahan sakit. Sangat sakit hingga membuatnya tersungkur di lantai. Dia meringkuk sembari memukuli kepalanya yang seakan mau pecah.
"Akhh...," teriak Andra sangat lantang, keringat dingin bercucuran deras di dahi hingga tubuhnya.
Mendengar teriakan yang sayup-sayup di telinganya, Maura bergegas bangkit. Dia berlari ke dalam resort, terpaku saat mendapati Andra yang tengah berjuang melawan rasa sakitnya.
"Andra?"
Maura berlari menghampirinya dan menekuk kakinya di samping Andra. Dia bingung harus berbuat apa, erangan Andra membuatnya sangat takut.
"Akhh...," Teriakan Andra semakin menjadi, wajahnya memerah dibanjiri keringat dan air mata. Urat di dahinya menonjol dengan jelas menahan sakit yang sungguh luar biasa.
__ADS_1
"Jika aku akan mati malam ini, aku ikhlas. Tapi tolong kembalikan ingatanku walau hanya sedetik saja." gumam Andra terbata.