
Waktu semakin cepat berlalu, tak terasa sudah 5 hari mereka di rumah itu. Dan hari ini adalah hari terakhir Maura di sana, membuat wajahnya kembali murung saat hendak meninggalkan ayahnya sendirian.
Maura memeluk ayahnya dengan erat, dia sangat enggan melepaskan tangannya yang melingkar di tubuh sang ayah, hingga cairan bening itu pun menumpuk di kelopak matanya.
"Pergilah, Ayah tidak apa-apa!" ucap Doni, dia pun mengecup ujung kepala Maura penuh kasih sayang.
Setelah pelukan mereka terlepas, kini giliran Dion yang berpamitan dengan ayah mertuanya. Dia mencium punggung tangan sang mertua, kemudian memeluknya erat.
"Ayah percaya padamu. Tolong, jaga Maura!" pinta Doni, dia pun menepuk-nepuk pundak sang menantu. Berharap Dion bisa menjaga putrinya setulus hati.
"Ayah tidak perlu khawatir, tanpa Ayah minta pun Dion pasti akan menjaganya!" sahut Dion yakin.
Doni melambaikan tangannya sesaat setelah mobil Dion melaju meninggalkan halaman rumah. Meski pun berat melepas kepergian sang anak dan menantu, tapi dia harus ikhlas. Mereka sudah memiliki kehidupan sendiri dan Doni hanya bisa mendoakan rumah tangga putrinya berjalan dengan baik.
Sepanjang perjalanan pulang, Maura hanya diam menatap lurus ke arah jalanan. Berat baginya berpisah kembali dengan sang ayah, pria yang sudah membesarkannya dengan sepenuh hati, meski pun tanpa sosok seorang ibu. Seketika, cairan bening itu pun jatuh tanpa dia sadari.
Dion yang tengah duduk di bangku kemudi, sesekali mencuri pandang ke arah Maura. Dia tau persis bagaimana perasaan istrinya saat ini. Hingga dia pun menggenggam tangan sang istri dengan sebelah tangannya, sementara tangan lainnya tetap fokus pada stir mobil.
Tepat pukul 5 sore, mobil mereka sudah terparkir di depan rumah. Dion turun lebih dulu dan membukakan pintu untuk Maura.
"Ayo, turun!" ajak Dion, dia pun mengulurkan tangannya ke arah Maura yang masih duduk di bangkunya.
Maura menatap lirih wajah suaminya, tapi dia tak bereaksi sama sekali. Bahkan untuk berucap sepatah kata saja rasanya begitu sulit.
"Kenapa diam, mau aku gendong?" tanya Dion mengukir senyum di wajahnya.
"Tidak perlu, aku bisa jalan sendiri!" ketus Maura buka suara. Dia pun bergegas turun dan masuk ke dalam rumah tanpa mempedulikan suaminya sama sekali.
Setibanya di dalam kamar, Maura menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Air mata yang sedari tadi dia tahan, akhirnya tumpah ruah membasahi bantal guling yang kini ada di dalam pelukannya.
__ADS_1
Dion menghela nafas kasar, dia kemudian mendekat dan duduk di sisi ranjang sembari mengusap ujung kepala istrinya dengan sayang.
"Jangan sedih, ada aku di sini!" ucap Dion.
"Pergilah, aku tidak membutuhkan dirimu!" bentak Maura, dia pun menepis tangan Dion dari kepalanya.
Mendengar itu, Dion pun merasa sesak di dadanya. Niat hati ingin menghibur istrinya, justru kini hatinya lah yang hancur mendengar bentakan dari mulut sang istri.
"Baiklah, jika itu yang kamu inginkan." jawab Dion, dia pun keluar dari kamar meninggalkan Maura sendirian.
Sekitar pukul 7 malam, Maura keluar dari kamar. Matanya menggelinding mencari keberadaan Dion yang tak tau entah dimana. Bahkan saat tiba di meja makan, dia masih tak melihat batang hidung suaminya sama sekali.
"Ela, apa kamu melihat suamiku?" tanya Maura pada Ela yang tengah menyajikan makanan di atas meja makan.
"Tidak Nyonya, aku belum melihat Tuan sejak tadi." sahut Ela.
Maura mengangguk kecil, seketika rasa bersalah pun hinggap di hatinya. Mungkinkah sang suami marah karena ucapannya tadi sore. Karena sebelumnya Dion tak pernah seperti ini, dia selalu pamit jika ingin meninggalkan rumah.
Di bar, Dion tengah duduk menikmati minumannya. Namun kali ini, Dion tampaknya berada di luar kendali. Dia terus saja meneguk minumannya meski pun Miko sudah berulang kali mencegahnya. Entah berapa banyak botol kosong berserakan di atas mejanya.
"Cukup Kak Dion, kau sudah mabuk!" bentak Miko, dia pun menyingkirkan semua minuman dari hadapan Dion.
"Biarkan saja! Bahkan jika aku mati sekalipun, tidak akan ada yang peduli padaku." gumam Dion.
Tak sanggup mengendalikan emosinya, semua pun tumpah dengan sendirinya. Hingga perasaannya terungkap di depan sang adik angkat. Bahkan dia tak hentinya menitikkan air mata, kecewa terhadap sang istri yang belum bisa menerimanya hingga saat ini. Hal itu membuat Miko mendengus iba, memikirkan nasib sang kakak yang tak tau ujung pangkalnya.
Melihat Dion yang sudah mabuk berat, Miko memapah tubuh sang kakak dan membawanya masuk ke dalam mobil. Dia pun mengantarkan Dion pulang karena kondisinya saat ini tidak memungkinkan baginya menyetir mobil sendirian.
Setibanya di rumah, Miko meminta bantuan security membopong tubuh sang kakak ke kamarnya. Dia tak kuat memapah tubuh tinggi kekar itu sendirian.
__ADS_1
"Tok, tok, tok,"
"Kak Maura, buka pintunya. Ini aku Miko." teriak Miko dari balik pintu.
Maura yang kala itu tengah duduk di sofa, bergegas bangkit dari duduknya. Saat membukakan pintu, saat itu juga matanya terbelalak melihat sang suami yang tidak sadarkan diri.
"Apa yang terjadi?" tanya Maura kaget.
Miko tak menjawab, dengan cepat dia membawa sang kakak masuk dan membaringkannya di atas kasur.
"Kak Dion mabuk, biarkan dia beristirahat sejenak!" ucap Miko, dia kemudian berlalu meninggalkan kamar sang kakak angkat bersama security.
Setelah kepergian Miko, Maura menutup kembali pintu kamarnya. Dia pun menghampiri Dion yang tidak ada reaksi sama sekali.
Maura menghela nafas panjang, dia kemudian bangkit dan bergegas mengambil handuk kecil lalu membasahinya. Pelan-pelan, dia pun mengelap wajah Dion sambil memandanginya dengan sendu.
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud menyakitimu." gumam Maura.
Tak berselang lama, Dion pun membuka matanya pelan. Menatap nanar wajah sang istri yang tengah sibuk mengelap wajahnya. Seketika, dia pun meraih tangan istrinya dan menariknya hingga terjatuh di atas tubuhnya.
"Aku mencintaimu Maura, aku sangat mencintaimu." gumam Dion, dia kemudian mendekap erat tubuh istrinya dan melabuhkan bibirnya di kening sang istri. Tak lama, dia kembali menutup matanya dan tertidur.
***************
Pagi harinya, Dion terbangun sambil memegangi kepalanya. Dia mencoba bangkit dari tempat tidur, namun kepalanya masih terasa pusing hingga akhirnya dia pun menyandarkan tubuhnya di tampuk ranjang.
Tak lama, Maura datang membawakan sarapan pagi untuk Dion. Namun saat melihat sang istri mendekat, Dion pun memalingkan wajahnya.
"Kak Dion sudah bangun? Ayo, aku bantu ke kamar mandi, setelah itu sarapan!" ajak Maura.
__ADS_1
"Tidak perlu, aku bisa sendiri!" jawab Dion ketus, dia bahkan tak menatap wajah istrinya sama sekali.