Belenggu Cinta Sang Pewaris Tunggal

Belenggu Cinta Sang Pewaris Tunggal
Bab 75.


__ADS_3

Dikarenakan hari masih siang dan cuaca cukup panas, Maura memilih menetap di kamar. Dia tidak ingin Diona kepanasan di luar sana.


"Dira, Tuti. Kalau kalian ingin jalan-jalan, pergilah! Nikmati liburan kalian!" ucap Maura.


"Ayo Tuti, temani aku! Pemandangan di sini sangat indah, kita bisa mengambil foto dari setiap sudut." ajak Dira penuh semangat.


"Apa Ibu tidak apa-apa kami tinggal?" tanya Tuti tidak enak hati.


"Tidak apa-apa, pergilah! Aku dan Diona mau istirahat dulu." jawab Maura, lalu mengambil Diona dari tangan Dira.


Setelah kedua gadis itu menghilang, Maura merebahkan diri di atas kasur bersama putrinya. Seperti biasa, Diona menyelipkan tangannya di sela baju yang dikenakan Maura.


"Mi, nen." ucap Diona meminta *****.


"Hehehe, sayang Mami haus ya?"


Maura tergelak mendengar permintaan putrinya, dia dengan cepat membuka kancing bajunya dan menyodorkan benda kenyal itu ke mulut Diona.


Di kamar lain, Miko baru saja merebahkan diri di atas kasur. Tak berselang lama, ponselnya berdering mendapat panggilan masuk.


"Halo Kak, ada apa?" sapa Miko setelah sambungan teleponnya terhubung.


"Halo Miko, maaf mengganggu di jam sibuk seperti ini. Begini, aku ingin bertemu Diona. Apa kamu tau mereka sekarang ada dimana?" tanya Andra dari ujung sana.


"Mau bertemu Diona apa Maminya?" goda Miko terkekeh.


"Hahahaha, kamu bisa aja. Anggap saja keduanya." ucap Andra.


"Sayang sekali, mungkin untuk beberapa hari ini kalian belum bisa bertemu. Kami sedang liburan di puncak, nanti saja aku hubungi jika kami sudah kembali!" jawab Miko.


"Puncak mana? Apa aku boleh menyusul ke sana?" tanya Andra.


"Boleh saja, asal tidak mengganggu. Hahahaha," Miko terkekeh dengan sendirinya.


"Ya sudah, tolong share lokasi ya. Aku tunggu!" pinta Andra.


"Ok, baiklah."


Miko mematikan sambungan teleponnya, kemudian mengirimkan lokasi tempat mereka berada saat ini.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Pukul 5 sore, Maura dan Diona sudah rapi dan wangi. Keduanya keluar meninggalkan resort dan duduk di area taman bermain yang tersedia untuk anak-anak.


Di parkiran sana, Andra turun dari mobil. Setelah menghubungi Miko dan menemukan resort yang mereka tempati, dia bergegas menonaktifkan ponselnya. Dia tidak ingin Adila menghubunginya dan mengganggu waktu liburannya.


Setibanya di kamar Miko, Andra menaruh kopernya di dalam sana, lalu keluar mencari keberadaan Maura. Entah kenapa, dia merasa rindu akan sosok wanita cantik itu.


Bola mata Andra menggelinding ke sana kemari mencari keberadaan Maura. Dia melangkah menjelajahi setiap tempat yang mungkin ada Maura di sana.


Tidak lama, matanya menangkap keberadaan wanita cantik itu. Maura tengah asik bermain ayunan bersama Diona.


"Sore Maura, Diona." sapa Andra yang sudah berdiri di belakangnya.


Maura terperanjat kaget mendengar suara Andra, kemudian menoleh ke belakang. Matanya membulat saat mendapati pria itu tersenyum dengan manisnya.


"Andra?" gumam Maura kaget.


"Apakah aku mengganggu?" tanya Andra, kemudian mendekat dan duduk di ayunan kosong yang ada di sebelah Maura.


"Tidak, kenapa kamu bisa di sini?" tanya Maura sembari berayun dengan putrinya.


"Entahlah, sepertinya ada sesuatu yang menuntunku untuk datang ke tempat ini." jawab Andra yang ikut berayun pelan.


"Apa itu?" tanya Maura penasaran.


Maura tersipu malu mendengar itu, andai saja pria itu benar Dion suaminya. Pasti dia sudah memeluknya dengan erat.


"Jangan menggodaku! Meskipun wajahmu sama persis dengan suamiku, tapi hanya dia yang boleh menggodaku. Aku tidak akan tertarik padamu." tegas Maura.


"Bagaimana jika kenyataannya aku adalah dia?" tanya Andra berandai-andai.


"Jika kamu suamiku, tentu saja aku akan mengikatmu dengan kuat. Aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi dariku." jawab Maura dengan polosnya, namun tiba-tiba dia tersadar dan menekuk wajahnya.


"Maaf, aku pikir...,"


Maura tak kuasa menahan dirinya, melihat Andra sama seperti melihat Dion suaminya.


Dia bangkit dari duduknya dan meninggalkan Andra sendirian di ayunan itu.


Andra menyusulnya dan menghadang langkah Maura. Dia mengerti perasaan yang dirasakan Maura saat ini.


"Pi, Pi," Diona berusaha meraih pundak Andra dan memanggilnya dengan sebutan Papi. Hati Maura teriris mendengarnya.

__ADS_1


"Sayang, ini bukan Papi Nak. Ini Om, Om Andra." Tanpa disadari, air mata Maura tumpah begitu saja.


"Maura, jangan seperti itu! Kasihan Diona,"


Andra mengambil Diona dari gendongan Maura dan mendekapnya dengan erat.


"Pi," Diona melingkarkan tangan mungilnya di leher Andra, kemudian merebahkan kepalanya di pundak pria itu.


"Biarkan Diona menganggap ku sebagai Papinya! Paling tidak, dia bisa merasakan kasih sayang seorang Ayah." pinta Andra.


"Tapi ini tidak benar Andra, kenyataannya kamu bukan Papinya. Kamu memiliki keluarga, ada istri dan juga anak. Bagaimana perasaan Diona jika mengetahui semua ini?" lirih Maura terisak.


"Sssttt, jangan menangis! Diona bisa sedih melihatmu begini." ucap Andra, kemudian menarik Maura ke dalam dekapannya.


Andra mengayunkan kakinya, mencari tempat yang cukup nyaman untuk mereka berbicara.


Baru beberapa langkah, mata Andra tertuju pada sebuah rumah pohon, lalu mengajak Maura naik ke atas sana. Setelah keduanya duduk, Andra membaringkan Diona di atas bean bag.


Maura terdiam seribu bahasa. Bukannya bahagia, dia justru semakin tersiksa melihat wajah suaminya di diri orang lain. Bukan ini yang dia harapkan.


"Kemari lah!" Andra menarik pinggang Maura dan membawanya ke dalam dekapan dadanya.


"Lepaskan aku!" Maura kembali terisak.


"Jangan memberiku harapan palsu!"


"Aku sudah merasakan sakitnya kehilangan satu kali, aku tidak sanggup menghadapinya lagi untuk yang kedua kali." lirih Maura, kemudian menekuk kakinya.


"Maura, jangan bicara seperti itu! Bukankah kamu sudah berjanji mau membantu memulihkan ingatanku? Jika kita tidak bersama, bagaimana mungkin ingatan itu akan kembali?"


"Sesuai janjiku, aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Meskipun ingatanku tidak akan pernah pulih, aku akan tetap berada di sampingmu." ucap Andra.


"Lalu bagaimana dengan istrimu? Kalian bahkan sudah memiliki anak." tanya Maura dengan tatapan tak biasa.


"Masalah itu biar menjadi urusanku. Aku merasa tidak pernah menikahinya, yang aku tau dia sudah hamil saat kami bersama."


"Aku tidak pernah menyentuhnya, hubungan kami tidak seperti suami istri pada umumnya. Itulah yang menjadi keraguan ku saat ini, berbeda saat aku bersamamu." Andra menjeda ucapannya.


"Saat pertama kali melihatmu, aku merasakan ada sesuatu di dalam hati ini. Sesuatu yang aneh, aku tidak mengerti perasaan apa itu. Jujur, aku nyaman bersamamu. Hatiku menjadi tenang, aku seperti menemukan jati diriku kembali." Andra menghela nafas berat.


"Aku mohon Maura, jangan menghindar dariku! Biarkan aku berdiri di sampingmu! Kembali atau tidaknya ingatanku, kita serahkan saja pada Sang Pencipta." jelas Andra panjang lebar.

__ADS_1


"Tapi aku berharap kamu adalah suamiku, Kak Dion yang sangat aku cintai dan mencintaiku sepenuh hati." Maura menghela nafas berat.


"Aku tidak mau hidup dalam bayangan orang lain. Aku ingin suamiku kembali. Aku ingin menjadi satu-satunya wanita yang dia cintai seperti dulu." Tangisan Maura pecah di dalam dekapan dada Andra.


__ADS_2