
Pagi harinya Dira keluar dari kamar, lalu berjalan menuju meja makan. Di atas meja sudah terhidang nasi goreng buatan Ela. Dira duduk dan menoleh ke arah pintu kamar Miko yang masih tertutup rapat.
"Miko mana Ela?" tanya Dira sembari menyendok nasi goreng ke dalam piringnya.
"Aku belum melihatnya dari tadi, apa Tuan Miko menginap di sini tadi malam?" jawab Ela dengan pertanyaan pula.
"Iya, semalam aku pulang bersama Miko. Kak Dion sama Kak Maura nginap di bar." jelas Dira.
Di tengah percakapan keduanya, Miko keluar dari kamarnya. Lalu menghampiri Dira yang sudah lebih dulu menikmati sarapan paginya.
"Pagi Dira, Ela." sapa Miko, dia menarik sebuah kursi dan duduk di hadapan Dira.
"Pagi juga Miko," sahut Dira.
"Pagi Tuan," sapa Ela.
"Pagi-pagi begini sudah rapi saja, mau kemana?" tanya Miko ingin tau.
"Mau ke kantor Kak Dion, aku sekarang bekerja di sana." jawab Dira.
Miko melirik wajah Dira sekilas, kemudian menyendok nasi goreng yang ada di dalam mangkok. Kini keduanya fokus menikmati nasi goreng itu tanpa bersuara.
Setelah makanan di piring keduanya habis, Dira bangkit dan kembali ke kamar mengambil tas. Sementara Miko, dia duduk di ruang tengah sembari menghisap sebatang rokok.
"Miko, aku harus ke kantor sekarang. Kamu tidak apa-apa kan aku tinggal." ucap Dira yang kini sudah berdiri di hadapan Miko.
"Kebetulan aku juga mau pergi. Aku antar ya!" tawar Miko, dia mematikan rokoknya lalu bangkit dari duduknya.
"Tidak usah, aku bisa pergi bersama sopir." tolak Dira, dia tidak ingin merepotkan Miko.
"Kenapa, apa kamu takut padaku?" tanya Miko, dia mendekati Dira dan berdiri di hadapan gadis itu.
"Bukan begitu, untuk apa aku takut? Aku tidak ingin merepotkan mu." jawab Dira gugup.
Semakin Miko mendekat, wajah Dira terlihat semakin gelisah. Ada perasaan canggung di dirinya melihat wajah tampan pria itu.
"Kalau tidak takut, kenapa wajahmu jadi merah kayak tomat begini?" goda Miko, dia terkekeh melihat ekspresi Dira.
"Ti, tidak, jangan asal tuduh!"
Dira melempar pandangannya ke arah lain, lalu melangkah meninggalkan Miko sendirian. Dia tidak ingin orang rumah salah paham melihatnya terlalu dekat dengan Miko.
__ADS_1
"Tunggu Dira!" teriak Miko, dia bergegas menyusul Dira yang sudah tiba di depan pintu.
"Apalagi Miko?" tanya Dira sembari menghentikan langkahnya.
"Biar aku antar! Aku juga sekalian mau ke bar." paksa Miko.
"Tapi Miko...,"
"Sudah, tidak ada tapi tapi!"
Miko meraih tangan Dira dan membawanya ke arah garasi. Hal itu membuat Dira tergugu tanpa bisa berkata-kata.
Setelah keduanya duduk di dalam mobil, Miko mulai menginjak pedal gas. Kemudian melajukan mobilnya meninggalkan kediaman Dion.
Sepanjang perjalanan, Dira tak banyak bicara. Dia hanya diam menatap lurus jalanan yang mereka tempuh, sesekali memainkan ponsel yang ada di tangannya.
" Kenapa diam saja?" tanya Miko, beberapa kali dia melirik ke arah Dira.
"Tidak apa-apa, fokus saja mengendarai mobilnya!" sahut Dira, dia bahkan tak menoleh ke arah Miko sedikitpun.
"Jangan terlalu kaku jika bersamaku! Anggap saja aku ini Kakakmu, sama seperti Kak Dion." ucap Miko.
Mendengar itu, Dira mengukir senyum di wajah cantiknya. Meskipun canggung, dia merasa hal itu cukup bagus untuk mereka.
Miko menghela nafas berat mendengar itu. Dia memang ingin Dira menganggapnya sebagai kakak, namun ketika mendengar kata-kata itu langsung dari mulut Dira, dia justru merasa keberatan.
"Tidak apa-apa Miko, memang sebaiknya seperti ini. Jangan berharap lebih dari hubungan ini!"
Miko berusaha meyakinkan dirinya, memang seperti inilah seharusnya. Selain menghargai hubungannya dengan Dion, dia juga tidak ingin perasaannya semakin jauh terhadap Dira. Sejak semalam, wajah cantik Dira selalu menghantui pikirannya.
Setibanya di depan Star Group, Dira turun dari mobil. Dia tersenyum dan melambaikan tangannya ke arah Miko. Hal itu membuat jantung Miko berdegup kencang. Perasaannya semakin berkecamuk melihat senyuman Dira yang sangat manis.
"Terima kasih sudah mengantarku sampai sini, sampai jumpa lagi."
Dira berjalan meninggalkan mobil Miko yang masih terparkir di depan gerbang. Miko hanya bisa tersenyum menatap punggung Dira yang semakin jauh dari pandangannya.
"Sadar Miko, sadar. Kamu hanya sebongkah batu kerikil yang tak berharga, jangan berharap bisa bersanding dengan sebuah berlian. Itu tidak mungkin."
Miko mengusap wajahnya kasar, lalu menghela nafas panjang. Dia kembali menginjak pedal gas dan berlalu menyusuri jalan raya.
Di waktu yang bersamaan, Maura dan Dion baru saja terbangun dari tidurnya. Dion mengangkat tubuh Maura dan membopong nya ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
Usai mandi bersama, keduanya keluar dengan handuk yang melilit di tubuh masing-masing. Dion menatap Maura dengan intim, tatapannya terlihat sangat menuntut.
"Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Maura sembari mengulum senyumannya.
"Tidak apa-apa, cepat pakai pakaianmu! Aku takut khilaf." jawab Dion, kemudian terkekeh dengan sendirinya.
"Ya ampun sayang, kenapa otakmu jadi mesum terus sih? Gak ada capek-capeknya." ketus Maura.
"Mau gimana lagi sayang? Habis rasanya enak sih." jawab Dion dengan jujurnya.
"Dasar mesum!" umpat Maura dengan senyuman miringnya.
Setelah mengenakan pakaiannya, Maura melemparkan handuk basah tadi ke wajah Dion. Kemudian mencubit biji pepaya yang menempel di dada Dion saking geramnya.
"Hahahaha, sakit sayang. Jangan menggodaku!"
Dion mengambil handuk yang sudah menutupi seluruh wajahnya, lalu melemparkannya kembali ke wajah Maura. Kemudian mengangkat tubuh istrinya dan menjatuhkannya di atas kasur. Dion naik dan menindih Maura hingga terkunci di bawah kungkungan nya.
"Mau menggodaku ya?" ucap Dion sembari tersenyum licik, lalu menenggelamkan wajahnya di leher Maura.
"Jangan sayang, ampun. Aku hanya bercanda, salah sendiri pikirannya mesum terus."
Maura terkekeh saat Dion menciumi lehernya bertubi-tubi, dia tak kuat menahan rasa geli hingga bulu kuduk nya berdiri seketika.
"Mau menggodaku lagi?" gertak Dion.
"Hahahaha, ampun sayang. Cukup, tidak lagi! Aku benar-benar lelah."
Mendengar itu, Dion menjatuhkan tubuhnya di samping Maura. Kemudian membawa Maura ke dalam dekapan dadanya. Dia mengecup ujung kepala Maura dengan sayang, lalu turun dan melu-mat bibir ranum istrinya penuh kelembutan.
"Jika tidak memikirkan punyamu yang lecet, aku sudah memakan mu sekarang juga." gumam Dion gemas.
Maura tersenyum sumringah, kemudian melingkarkan tangannya di dada suaminya. Maura menenggelamkan wajahnya di belahan ketiak Dion dan menikmati aroma tubuh Dion yang selalu membuatnya candu.
"Aku mencintaimu Kak Dion, sangat mencintaimu. Janji ya, jangan pernah meninggalkan aku sendirian!" gumam Maura, ada ketakutan yang berlebihan di dalam hatinya.
"Kenapa bicara seperti itu? Aku tidak akan pernah meninggalkanmu." jawab Dion, kemudian mempererat pelukannya.
"Entahlah, aku hanya takut. Aku tidak akan sanggup jika itu sampai terjadi."
Maura mendekap erat dada Dion, matanya berkaca-kaca memikirkan ketakutannya yang tidak beralasan itu.
__ADS_1
"Sudah sayang, tidak perlu berpikir sejauh itu!"
Dion membelai rambut Maura dan mencium kening istrinya itu dengan sayang. Dia sendiri juga takut kehilangan Maura, satu-satunya wanita yang mampu mengisi kekosongan hatinya. Mengobati luka yang selama ini bersarang di jiwanya.