Belenggu Cinta Sang Pewaris Tunggal

Belenggu Cinta Sang Pewaris Tunggal
Bab 54.


__ADS_3

Malam sudah tiba, Maura dan Dion keluar dari kamar dan turun menuju meja makan dengan tangan saling menggenggam. Di sana sudah ada Dira yang menunggu kedatangan keduanya.


"Malam Kak Dion, malam Kak Maura." sapa Dira, dia tersenyum dengan manisnya.


"Malam juga Dira." sahut Maura.


Dion menarik kursi untuk Maura, setelah itu keduanya duduk di kursi masing-masing. Ketiganya langsung menikmati makanan yang sudah terhidang di atas meja.


"Malam ini aku dan Kakakmu akan keluar, kami ingin mengunjungi bar. Kamu mau ikut atau tinggal di rumah?" tanya Dion.


"Aku di rumah saja, ngapain jadi nyamuk menemani kalian berdua?" jawab Dira.


"Kok gitu, ikut saja Dira! Kapan lagi kita keluar bersama?" sambung Maura.


"Aku tidak ingin mengganggu kebersamaan kalian." jawab Dira.


"Tidak mengganggu, justru aku sangat senang jika kamu ikut bersama kami." ucap Maura.


"Ya sudah kalau Kak Maura memaksa, aku ganti baju dulu." jawab Dira, dia bangkit dari duduknya dan masuk ke dalam kamar.


Maura dan Dion juga bangkit dari duduknya. Maura naik menuju kamar untuk bersiap-siap, sementara Dion menunggu di ruang tengah sembari menghisap sebatang rokok.


Setelah kurang lebih 15 menit menunggu, Maura turun dari lantai atas. Tidak lama, Dira juga keluar dari kamarnya. Ketiganya berjalan keluar menuju mobil yang terparkir di garasi.


Mobil Dion mulai menghilang dari pekarangan rumahnya. Maura duduk di samping Dion seperti biasanya, sementara Dira duduk di belakang sendirian.


"Apa kamu sudah punya pacar?" tanya Maura, dia menoleh ke arah belakang.


"Kenapa Kak Maura menanyakan itu?" jawab Dira dengan pertanyaan pula, wajahnya memerah mendengar pertanyaan Maura.


"Tidak apa-apa, Kakak hanya ingin tau saja. Kalau kamu punya pacar, kamu bisa mengenalkannya kepada kami." ucap Maura, dia tersenyum melihat Dira yang kelihatan salah tingkah.

__ADS_1


"Tidak ada Kak, aku baru kembali setelah sekian lama menetap di Jepang. Mana mungkin aku punya pacar di sini?" jawab Dira jujur.


"Oh, kalau di sana bagaimana? Pria di sana tampan-tampan loh." ucap Maura, hal itu membuat Dion menggertakkan giginya geram.


"Sama saja Kak, aku belum siap berpacaran. Aku ingin fokus dengan karirku dulu." jawab Dira apa adanya.


Mendengar itu, Maura tersenyum dan kembali mengarahkan pandangannya ke depan. Namun dia tak menyadari kalau suaminya susah memasang muka garang di sampingnya.


"Siapa yang kamu bilang tampan?" tanya Dion kesal.


Hal itu membuat Maura terkejut dan segera menoleh ke arah Dion. Dia benar-benar bingung melihat ekspresi wajah suaminya yang sulit diartikan.


"Kamu kenapa?" tanya Maura menautkan sepasang alisnya.


"Jawab saja pertanyaan ku tadi, jangan mengalihkan pembicaraan!" ketus Dion mengeratkan rahangnya kuat.


"Ya ampun sayang, aku cuma bilang pria di sana tampan. Bukan bilang si ini tampan atau si itu tampan. Kenapa jadi masalah?" jawab Maura, dia tak merasa ada yang salah dengan ucapannya.


Dion memutar stir mobilnya dengan kasar ketika memasuki gerbang bar miliknya. Setelah mobil terparkir, Dira turun lebih dulu. Dia takut melihat kemarahan di wajah Dion, dia tidak ingin ikut campur urusan Kakaknya. Dia sangat tau sifat Dion yang mudah berapi-api.


Maura menatap lekat wajah suaminya, dia yakin Dion tengah cemburu setelah mendengar ucapannya tadi. Dia meraih tangan Dion dan menggenggamnya dengan erat.


"Sayang, jangan marah lagi! Tadi maksudnya untuk Dira, bukan untukku. Aku sudah memiliki kamu, untuk apa pria lain lagi?" bujuk Maura, dia mengecup tangan Dion dan meletakkannya di dadanya.


"Cukup sekali ini saja mengatakan itu di depanku!" ketus Dion membuang mukanya kesal.


Maura bergeser dari duduknya dan menyentuh pipi berbulu suaminya dengan lembut. Kemudian mengarahkan wajah Dion hingga tatapan mereka saling bertemu.


"Bagiku hanya satu orang pria yang paling tampan di dunia ini, pria itu kamu, suamiku." ucap Maura, dia tersenyum dan mengecup bibir Dion dengan lembut.


"Caramu membujukku lumayan juga." sahut Dion, kemudian menarik pinggang Maura hingga tubuh keduanya saling menempel.

__ADS_1


Dion melanjutkan kecupan Maura menjadi sebuah luma-tan. Dia mengesap bibir ranum istrinya bak mengulum permen lolipop. Bibir Maura yang manis membuatnya betah berlama-lama hingga saling membelit lidah.


"Cukup sayang! Malu di lihat orang." ucap Maura setelah ciuman mereka terlepas.


"Kenapa musti malu? Kaca ini tidak tembus pandang, jadi tidak akan ada yang melihatnya." jawab Dion, dia kembali menarik pinggang Maura dan mengesap bibir merekah itu tanpa ampun.


Maura tak bisa mengelak, dia benar-benar pasrah membiarkan Dion menikmati bibirnya sesuka hati. Apa lagi yang bisa dia lakukan kalau suaminya sudah kehilangan akal sehat seperti ini.


Setelah Dion melepaskan ciumannya, dia mengecup ujung kepala Maura dengan sayang. Lalu membawa Maura ke dalam dekapannya.


"Maafkan aku, aku tidak bisa mengontrol diriku kalau sudah berhadapan denganmu. Aku seperti hewan liar yang kelaparan jika tak bisa melahap bibirmu ini." ucap Dion jujur, dia tak ingin Maura salah paham terhadap dirinya.


"Tidak apa-apa, aku tau. Semua yang ada di tubuhku ini milikmu, jadi kamu berhak melakukan apa saja padaku. Yang terpenting, jangan pernah sekalipun menyakitiku!" jawab Maura, dia pun mengecup pundak Dion lembut.


Dion melepaskan pelukannya dan kembali mengecup ujung kepala Maura dengan sayang. Dia turun dari mobil lalu membukakan pintu untuk Maura.


Di dalam sana, Dira sudah duduk di sebuah sofa. Tempat dimana dia sering nongkrong bersama Dion dan teman-temannya. Meskipun sudah lama tidak menginjakkan kaki di sana, tapi suasana di dalam bar itu masih sama seperti dulu, tidak banyak yang berubah.


Melihat gadis cantik yang sudah duduk melipat kakinya, Miko mendekat. Namun sesaat dia tergugu memandangi wajah Dira yang semakin dekat dengan dirinya.


Entah kenapa, tiba-tiba jantungnya berdegup kencang seperti tengah lari maraton. Perasaan yang aneh yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.


Dalam diamnya itu, Dion dan Maura datang mengagetkannya. Dia terlonjak, raut wajahnya berubah dalam sekejap. Dia mengusap wajahnya, kemudian menghela nafas panjang lalu membuangnya kasar.


"Kak Dion, Kak Maura, kalian datang?" sapa Miko, tatapannya sulit diartikan.


"Apa yang kau pikirkan, kenapa menatap Dira seperti itu?" tanya Dion, dia bisa membaca garis wajah Miko dengan satu tatapan saja.


"Ti, tidak, biasa saja. Kak Dion kenal dengan gadis ini?" jawab Miko gugup.


"Dia adikku, jangan macam-macam kalau tidak ingin berurusan denganku!" ketus Dion, hal itu membuat Miko jadi salah tingkah.

__ADS_1


"Siapa yang macam-macam? Satu macam saja aku tidak mampu." jawab Miko kesal.


Kini Maura dan Dion sudah duduk di hadapan Dira. Sementara Miko, dia berlalu mengambil laporan keuangan bar yang disimpan di dalam laci.


__ADS_2