
Malam hari, semua orang sudah duduk di meja makan. Saat Dion dan Maura turun, Ela dan Nisa menganga dengan mata terbuka lebar. Keduanya sampai gemetaran melihat sosok Dion yang dianggapnya sudah meninggal.
"Tu, Tuan, Nyonya...,"
"Tuan Dion? Nyonya Maura?"
Ela dan Nisa tergugu, sulit sekali bagi keduanya untuk berkata-kata.
Melihat kedua pelayan cantik itu, Maura tersenyum dan menghampiri keduanya. Maura memeluk mereka bersamaan melepaskan rindu setelah sekian lama tak bertemu.
"Ela, Nisa, bagaimana kabar kalian?" tanya Maura dengan mata berkaca-kaca.
"Nyonya, akhirnya Nyonya pulang juga. Aku senang Nyonya kembali." ucap Ela.
"Nyonya, apa itu Tuan Dion? Bukankah...,"
"Iya, itu Tuan Dion kalian. Ternyata Tuhan masih memberinya kesempatan untuk melihat putrinya. Dia masih hidup, tapi kondisinya saat ini sedang tidak baik. Dia kehilangan memori masa lalunya." jelas Maura, kemudian melepaskan pelukannya.
"Apa maksud Nyonya?" tanya Ela dan Nisa bersamaan.
"Tuan Dion kalian tidak mengingat kita. Dia hanya ingat dengan namanya saja, semua kenangan bersama kita sudah pupus dari ingatannya." jelas Maura.
Mendengar itu, Ela dan Nisa kembali membuka matanya lebar. Keduanya tidak menyangka semua ini akan terjadi kepada Tuannya.
"Nyonya yang sabar ya, Nyonya harus berusaha kuat agar ingatan Tuan segera kembali! Nyonya tidak boleh menyerah!" ucap Ela.
"Iya, tapi aku tidak bisa melakukannya sendiri. Aku butuh dukungan dari kalian semua." sahut Maura.
"Nyonya tidak perlu khawatir, kami siap membantu!" balas Nisa penuh semangat.
"Terima kasih, kalau begitu kita makan dulu yuk!" ajak Maura, dia ingin semuanya berkumpul menikmati makan malam. Sekaligus merayakan kepulangan Dion.
Saat makan malam dimulai, semua orang asik bercengkrama sembari menikmati makanan yang ada di piring masing-masing. Melihat kehangatan keluarga tersebut, Dion merasakan kedamaian yang tak pernah dia rasakan saat di rumah Adila.
"Jadi tolong ceritakan padaku, bagaimana aku sebelum ini?" tanya Dion penasaran, dia ingin tau bagaimana perjalanan hidupnya selama ini.
Mendengar pertanyaan itu, semua orang langsung terdiam. Bagaimana cara memulainya tidak ada yang tau, termasuk Maura sendiri.
"Loh, kenapa kalian diam saja? Ayo, ceritakan padaku!" pinta Dion penuh harap, siapa tau dengan mendengar cerita masa lalunya, pelan-pelan ingatannya akan pulih.
"Kak Dion itu orangnya pemarah. Tapi dibalik itu, Kak Dion memiliki hati yang sangat luas. Kak Dion bisa menjadi Kakak yang hebat untuk kami, padahal tidak ada hubungan darah diantara kita."
"Kak Dion juga berhasil menjadi suami yang hebat untuk Kak Maura. Kak Dion sangat sabar menunggu Kak Maura memberikan hati dan cintanya untuk Kakak. Hal itulah yang membuat Kak Maura sangat mencintai Kakak. Hanya Kak Dion satu satunya pria yang ada di hati Kak Maura hingga detik ini. Bahkan ketika kami menganggap Kak Dion sudah meninggal, Kak Maura tidak pernah melupakan Kakak, apalagi memberikan cintanya untuk pria lain." ungkap Miko.
Mendengar itu, dada Dion terasa sesak. Dia melirik ke arah Maura yang tengah duduk di sampingnya. Melihat wajah Maura yang sendu, Dion merasa bersalah karena sudah melupakan istri yang sangat mencintai dirinya.
"Kalian lanjutkan saja makannya! Aku ke kamar dulu menidurkan Diona," ucap Maura, kemudian mengambil Diona dari tempat duduknya, lalu menggendong putrinya menuju lantai atas.
Sepeninggal Maura, semua orang kembali melanjutkan makannya. Sementara Dion tampak sedikit murung setelah mendengar penjelasan Miko barusan.
"Apa pernikahan kami dulu bukan karena cinta?" tanya Dion penasaran.
"Bukan, cinta itu hanya ada di hati Kak Dion. Kak Maura itu takut dengan pria karena trauma yang pernah membelenggu jiwanya."
__ADS_1
"Dulu Kak Maura hampir saja menikah dengan David tunangannya, tapi Kak Dion mencurinya dari pria itu. Menikahinya dan memberikan cinta yang begitu besar untuknya. Karena cinta Kak Dion itulah Kak Maura bisa hidup dengan tenang."
"Saat Kak Maura tau ada Diona dalam rahimnya, dia begitu bahagia, begitupun dengan kami. Tapi sebelum Kak Maura sempat memberitahu Kak Dion, kecelakaan itu terjadi."
"Kak Maura hampir saja putus asa saat mengetahui kabar kematian Kak Dion, bayi yang ada di rahimnya lah yang menguatkannya waktu itu. Hingga detik ini pun, hanya Diona lah yang menjadi semangat hidupnya." jelas Miko.
Mendengar itu, dada Dion semakin sesak. Dia tidak sanggup membayangkan bagaimana menderitanya Maura selama ini. Tanpa Dion sadari, air matanya jatuh begitu saja. Hatinya hancur mendengar penjelasan Miko.
"Terima kasih Miko, kalau begitu Kakak ke kamar dulu. Kalian tidak apa-apa kan Kakak tinggal?" ucap Dion.
"Tidak apa-apa Kak, Kakak pergi saja!" jawab Miko.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sesampainya di kamar, Dion mendapati Maura yang tengah berbaring bersama Diona. Entah kenapa, dadanya tiba-tiba berdenyut nyeri mengingat penjelasan Miko di bawah tadi.
Setelah menutup pintu, Dion menghampiri Maura dan berbaring di sebelahnya. Dia melingkarkan tangannya di pinggang Maura, kemudian mencium pundak Maura dengan lembut.
"Maafkan aku Maura, aku tidak akan pernah meninggalkan kalian lagi. Aku janji," ucap Dion dengan suara terdengar berat.
"Jangan berjanji padaku, aku takut mendengar kata itu!" jawab Maura, kemudian mengangkat tangan Dion dari pinggangnya.
Maura bangkit dari tidurnya, kemudian berjalan menuju sofa. Dia masih ragu berdekatan dengan Dion yang sudah jelas suaminya.
Melihat Maura yang menjaga jarak dengannya, Dion menghela nafas berat, lalu mengusap wajahnya dengan kasar. Dion bangkit dari tidurnya, kemudian menyusul Maura menuju sofa.
"Kenapa selalu menghindar dariku? Apa kamu masih ragu?" tanya Dion sembari menekuk kakinya, lututnya bertumpu pada lantai.
Sentuhan itu tiba-tiba membuat jantung Dion berdegup kencang.
Dion meraih tangan Maura yang ada di pipinya, kemudian menggenggamnya erat, lalu mencium punggung tangan Maura dengan lembut.
"Apa kamu masih mencintaiku?" tanya Dion dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kenapa bertanya seperti itu?" tanya Maura balik.
"Ingin tau saja, itupun kalau boleh!" jawab Dion sembari tersenyum.
"Jika kamu mengingatkanku, kamu pasti tau jawabannya." balas Maura.
"Aku ingin sekali mengingatmu, tapi memori ku masih hang. Bisakah kamu membantuku?" tanya Dion.
"Katakan saja! Jika aku sanggup, akan ku bantu!" jawab Maura.
Tanpa berpikir, Dion dengan cepat mengecup bibir Maura dengan lembut, kemudian mengesap nya hingga dalam. Lalu ********** bak permen lolipop.
Maura tiba-tiba membatu mendapatkan serangan mendadak dari Dion. Namun lama kelamaan dia mulai menikmati sentuhan itu, rasanya masih tetap sama, caranya pun sama, tidak ada yang beda.
Bahkan cara Dion menyusup ke dalam rongga mulutnya dan membelit lidahnya pun sama. Hal itu membuat Maura terpancing, kemudian melakukan hal yang sama terhadap Dion.
Di tengah kehangatan yang terjadi diantara keduanya, tiba-tiba Dion melepaskan pagutannya. Kepalanya tiba-tiba berdenyut seperti ditusuk seribu paku. Sekilas, bayangan aneh pun terlintas di ingatannya.
"Akhh," erang Dion.
__ADS_1
"Kak Dion, apa yang terjadi?" tanya Maura khawatir.
"Tidak apa-apa, aku seperti melihat sesuatu. Tapi tidak jelas," ungkap Dion sembari memegangi kepalanya, kemudian mengusapnya pelan.
"Apa yang Kak Dion lihat?" tanya Maura penasaran.
"Sesuatu yang sensitif. Sedikit aneh sih, tapi...,"
"Tapi apa?" desak Maura ingin tau.
"Aku menginginkan dirimu! Apa boleh aku meminta hak ku sebagai seorang suami?" bisik Dion dengan deru nafas yang memburu.
"Apa yang Kak Dion katakan? Jangan berpikir yang aneh-aneh!" ketus Maura.
"Tidak ada yang aneh, bukankah ini normal. Aku sudah lama tidak mendapatkan hak ku, mungkin saja hal itu terjadi pada saat terakhir kita bertemu." jelas Dion dengan tatapan menuntut.
"Tidak mungkin, bukankah kamu sudah menikah lagi. Pasti kamu sudah melakukannya dengan wanita itu." ucap Maura.
"Tidak Maura. Selama yang aku ingat, aku tidak pernah menyentuhnya. Aku berani bersumpah, aku sama sekali tidak tertarik padanya."
"Berbeda saat aku bersamamu, keinginan itu timbul begitu saja. Aku seperti berada di tempat yang seharusnya." jelas Dion.
Mendengar itu, Maura merentangkan tangannya, kemudian memeluk Dion dengan erat.
"Aku percaya padamu. Aku tau meski dalam keadaan tidak sadar sekalipun, kamu tidak akan pernah mengkhianati ku." ucap Maura.
"Apa itu artinya kamu tidak meragukan ku lagi?" tanya Dion, kemudian membalas pelukan Maura.
"Tidak, aku yakin kamu adalah suamiku. Pria yang sangat aku cintai. Jangan pergi lagi ya, aku tidak sanggup hidup tanpamu!" pinta Maura, kemudian menggigit pundak Dion gemas.
"Maura, jangan menggodaku! Aku sudah lama berpuasa, jangan sampai aku membuatmu menangis setelah ini!" bisik Dion yang mulai terbakar api gairah.
"Tapi aku merindukanmu Kak Dion, sangat merindukanmu." gumam Maura dengan suara seraknya yang menggoda.
Tak tahan dengan gairahnya yang sudah memuncak, Dion akhirnya menekan tubuh Maura hingga terbaring di atas sofa.
Sebelum melanjutkan aksinya, Dion mematikan lampu terlebih dahulu. Dia takut Diona terbangun dan terkejut melihat kegiatan Papi dan Maminya berolahraga malam.
Dalam remang-remang cahaya, keduanya asik berpacu meraih puncak kenikmatan yang sudah lama tak dirasakan keduanya. Berbagai posisi sudah Maura coba hingga keringat peluh bercucuran di tubuh keduanya.
Malam yang sepi, seketika menjadi gaduh dengan jeritan, erangan, bahkan desa-han keduanya yang memenuhi seisi ruangan.
Satu jam berselang, keduanya terkulai lemas dengan tubuh yang sudah basah bermandikan keringat. Dion mengecup bibir Maura, kemudian mengecup kening Maura dengan sayang.
"Tidak peduli aku ingat atau tidak dengan masa laluku. Yang terpenting saat ini, aku mencintaimu. Bahkan jika ingatanku tidak akan pernah kembali, aku akan tetap mencintaimu." gumam Dion tepat di telinga Maura.
"Aku juga mencintaimu sayang, jangan pergi lagi ya!" pinta Maura sedikit manja.
"Tidak akan, aku janji." sahut Dion.
Malam ini akhirnya menjadi malam terindah untuk Maura dan Dion. Setelah membersihkan diri di kamar mandi, keduanya berbaring di atas kasur sembari memeluk Diona yang berada di tengah-tengah mereka.
TAMAT...
__ADS_1