
Miko berdecak kagum saat pertama kali menginjakkan kakinya di rumah Dion. Dia sama sekali tak menyangka, ternyata kehidupan kakak angkatnya itu tak seburuk yang dia duga. Berbanding terbalik dengan kehidupannya di desa.
Rumah dengan tiga lantai itu tampak begitu luas dan megah dengan arsitektur yang cukup unik, tak kalah dibanding dengan rumah yang ditempati Maura.
Bahkan perabotan yang tertata di dalam bukanlah barang biasa yang berserakan di pasaran, melainkan barang antik yang memiliki nilai jual tinggi.
Mata Miko terbelalak dengan mulut sedikit menganga. Kakinya mulai bergerak menjajal setiap sudut ruangan hingga tak satupun terlewatkan olehnya.
"Cubit aku Kak! Apa aku sedang bermimpi?" gumam Miko.
Mendengar itu, Dion menyunggingkan senyuman miringnya. Dia mengangkat sebelah tangannya lalu memukul pipi Miko yang putih hingga memerah seketika.
"Au, sakit Kak." rintih Miko, kemudian mengelus pipinya dengan pelan.
"Dasar anak bodoh!" cela Dion, lalu terkekeh melihat ekspresi wajah Miko.
Tak berselang lama, dua orang pelayan datang menghampiri mereka berdua. Pelayan itu membawakan barang bawaan Dion dan Miko ke dalam kamar masing-masing.
Dion menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Matanya yang sangat lelah tidak bisa diganjal lagi, hingga dia pun terlelap dalam hitungan detik.
Diwaktu yang bersamaan, Miko menyisir setiap sudut kamar yang akan dia tempati. Kasur yang empuk dengan segala perlengkapan yang lengkap di dalam satu ruangan membuatnya bergeming.
"Ini kamar untuk Tuan, jika butuh sesuatu panggil saja saya di bawah!" ucap Ela, pelayan yang mengantarkan Miko ke dalam kamar.
Miko tersenyum menatap punggung Ela yang sudah menjauh dari pandangannya. Dia tak pernah membayangkan akan seberuntung ini sebelumnya.
Mengingat hari yang sudah semakin sore, Miko akhirnya masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sudah basah dengan keringat.
Sekitar pukul 7 malam, Dion keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Tubuhnya kembali segar, dia tersenyum menatap pantulan wajahnya di depan cermin.
Usai mengenakan pakaiannya, Dion keluar dari kamar dan melangkah turun menuju lantai bawah, bola matanya menggelinding ke sana kemari mencari keberadaan Miko.
"Dimana anak itu?" tanya Dion kepada Nisa, salah seorang pelayan yang tak sengaja berpapasan dengannya.
__ADS_1
"Tuan Miko ada di ruang makan, Tuan." jawab Nisa.
Dion melanjutkan langkahnya, dia bergegas menuju meja makan sebab perutnya sudah memberontak saat ini. Bahkan cacing di dalamnya tidak bisa lagi diajak kompromi.
Usai menikmati makan malam, Dion berlalu meninggalkan meja makan, Miko pun mengikutinya dari belakang. Keduanya berjalan ke arah garasi, di sana berjejer rapi beberapa mobil mewah koleksi Dion.
Mata Miko kembali terbelalak dengan mulut sedikit menganga. Lagi-lagi ekspresi wajahnya tampak membagongkan yang membuat Dion menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kenapa, mau ditampar lagi?" tanya Dion sembari menyunggingkan senyumannya.
Miko terperanjat kaget, dia dengan cepat menutup kedua pipinya dengan sepasang telapak tangannya.
Mana mungkin dia sanggup menerima satu tamparan lagi, sementara rasa sakit yang tadi saja belum hilang sepenuhnya.
****************
Keesokan harinya, Maura sudah tiba di kediamannya bersama Nek Ida dan juga Bik An yang ikut bersamanya. Semua itu sesuai permintaan Doni, dia ingin mertuanya ikut andil di acara penting putrinya itu.
Bola mata Maura menggelinding memperhatikan setiap sudut rumah yang sudah dihias sedemikian rupa. Bahkan altar pertunangan sudah berdiri indah dengan megahnya. Hal itu membuat kakinya semakin berat untuk melangkah.
Kini seorang perias sudah masuk ke dalam kamarnya, wanita itu membawa sebuah box yang berisikan peralatan makeup. Hal itu membuat jantung Maura berhenti berdetak untuk sesaat.
"Nona, apa bisa kita mulai?" tanya wanita itu.
Maura tak menyahut, tatapan matanya lirih dengan kaki yang mulai bergetar mengguncang sekujur tubuhnya.
"Nona, apa yang terjadi dengan anda?" tanya wanita itu bingung.
Maura mendongakkan kepalanya. Ditatapnya wanita itu dengan tatapan tak biasa, cairan bening itu sudah menggenang di kelopak matanya.
Tak ada kata yang terucap dari bibirnya saat ini. Yang terdengar hanyalah deru nafas yang tersendat menahan isak tangis di jiwanya.
Dalam kegundahan hatinya yang kian mendera, Maura terduduk lesu di depan cermin dengan tatapan kosong. Bahkan saat perias itu menjamah wajahnya, dia hanya membatu bak patung yang tak bernyawa.
Wajah Maura yang tadinya kusut, kini sudah sangat cantik hasil polesan tangan wanita tadi. Gaun putih bertabur manik-manik berwarna gold yang dia kenakan, membuatnya terlihat begitu anggun.
__ADS_1
Dalam ketidakberdayaan nya, Maura tak sengaja melihat ponsel miliknya yang terletak di sudut meja rias. Dia meraih ponsel itu dan membukanya tergesa-gesa.
"Miko, iya Miko." gumam Maura sembari mencari kontak Miko di layar ponselnya.
Entah apa yang dia pikirkan, tapi hanya Miko lah satu-satunya yang terlintas di benaknya saat ini.
Setelah sambungan telepon itu terhubung, Maura menceritakan semuanya kepada Miko, dengan harapan pria itu bisa membantunya lepas dari jeratan pertunangan yang sebentar lagi akan dilangsungkan.
Miko yang saat ini tengah berada di bar, mulai kelimpungan setelah sambungan telepon itu terputus. Pria berlesung pipit itu berjalan mondar-mandir layaknya setrikaan rusak.
"Apa yang harus aku lakukan?" batin Miko sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
Diwaktu yang bersamaan, Dion mendekat dengan segelas minuman yang ada di tangannya. Dia menautkan alisnya mendapati Miko yang tampak aneh layaknya orang stress.
"Apa yang kau lakukan? Merusak pemandangan saja." ketus Dion.
Miko mengangkat wajahnya saat mendengar suara Dion. Dia terpaku dalam pemikirannya sendiri. Sepertinya Dion bisa dia harapkan untuk membantu Maura.
"Kak Dion, apa Kakak mencintai Kak Maura?" tanya Miko mencari tau.
Pertanyaan itu tiba-tiba membuat Dion tersedak hingga menyemburkan minuman yang baru saja dia teguk.
"Pertanyaan macam apa ini?" ketus Dion meninggikan suaranya.
"Kali ini aku serius. Jika Kak Dion tidak mengakuinya, aku jamin Kak Dion akan menyesal seumur hidup." tekan Miko yang membuat Dion langsung terpaku.
"Apa maksudmu?"
Dion menggertakkan giginya kuat, rasanya dia ingin marah dan memukul pria yang ada di hadapannya itu dengan tangannya.
"Tidak apa-apa kalau Kak Dion tidak menyukai Kak Maura. Kalau begitu aku pergi dulu." ucap Miko, dia pun membalikkan tubuhnya membelakangi Dion.
"Kau mau kemana? Aku membawamu ke sini untuk bekerja, jangan berlagak seperti bos besar jika kau tidak ingin aku pulangkan ke desa!" ancam Dion.
Miko menggulingkan senyuman miringnya, ucapan Dion itu sama sekali tidak membuatnya takut.
__ADS_1
"Aku hanya ingin memberikan selamat untuk Kak Maura, pertunangannya akan dilangsungkan malam ini. Kak Dion tenang saja, setelah acara selesai aku pasti kembali!" seru Miko, kemudian berlalu begitu saja.