
Tiba di rumah, Dion langsung masuk ke dalam kamar dan membanting pintu dengan kasar. Dia kemudian menghempaskan tubuhnya di atas kasur, lalu menyisir setiap sudut kamar dengan tatapan lirih. Ucapan Maura itu masih terngiang jelas di telinganya, itu membuatnya sedih bercampur kesal.
Hari ini Dion memilih untuk berdiam diri di rumah. Dia tidak ingin kemana-mana mengingat suasana hatinya yang sedang tidak baik. Bahkan untuk datang ke kantor saja dia sangat malas. Semua pekerjaan kantor, sudah dia serahkan kepada orang-orang kepercayaannya. Begitupun dengan bar miliknya, semua sudah dia percayakan kepada Miko.
Tepat pukul 1 siang, Dion keluar dari kamar menuju ruang makan mengingat cacing di dalam lambungnya sudah tidak bisa diajak kompromi.
Usai mengisi kampung tengahnya, Dion kembali ke kamar. Perut yang sudah kenyang membuat matanya mulai mengantuk, apalagi semalam dia tidak cukup tidur karena terus saja memandangi wajah istrinya yang tertidur dengan lelap.
Pukul 7 malam, Dion tersentak dari tidurnya. Seketika, dia pun terduduk kaget saat menoleh ke arah jam yang terpajang di dinding kamar.
"Ya Tuhan, tidur macam apa ini?" gumamnya, dia pun melompat turun dari kasur dan berlari ke dalam kamar mandi.
Selesai mandi dan berganti pakaian, Dion bergegas mengambil kunci mobil dan berlalu meninggalkan rumahnya.
Di kediaman Doni, semua orang sudah duduk di meja makan untuk menikmati makan malam. Namun batang hidung Dion tak tampak sama sekali di sana.
"Maura, mana suamimu?" tanya Doni yang tak melihat menantunya sedari tadi.
Maura tak menjawab, dia hanya mengangkat bahu dengan bibir sedikit maju.
"Lah, suami sendiri kok tidak tau?" sambung Nek Ida mengernyitkan keningnya.
Maura lagi-lagi hanya diam tanpa bersuara. Dia bahkan tidak ingin mengetahui kemana, dimana dan bersama siapa suaminya saat ini. Baginya semua itu tidaklah penting.
Usai makan malam, mereka semua mulai menghilang dari meja makan. Satu persatu dari mereka masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Begitupun dengan Maura, dia bahkan tidak mau menunggu Dion pulang terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam kamarnya.
Sekitar pukul 9 malam, Dion tiba di rumah itu dan mendapati lantai bawah yang sudah sepi. Dia pun naik ke lantai 2 dan bergegas masuk ke dalam kamarnya.
Sesampainya di dalam kamar, seketika Dion menggulingkan senyumannya mendapati sang istri yang tengah berbaring di atas tempat tidur. Dia pun mendekat dan duduk tepat di sisi ranjang.
"Kamu belum tidur?" tanya Dion sambil mengusap ujung kepala istrinya dengan lembut.
Maura tak menyahutnya sama sekali, dia lantas menepis tangan Dion dan berbalik badan memunggungi sang suami.
"Kamu kenapa, marah karena aku pulang telat?" tanya Dion lagi.
Kesal karena Dion terus saja mengganggunya, Maura pun bangkit dari tempat tidur dan berpindah ke sofa tanpa sepatah katapun. Membuat Dion hanya bisa menelan ludahnya dengan kasar.
__ADS_1
"Kalau ada masalah, lebih baik dibicarakan. Jangan mendiami ku seperti ini!" pinta Dion yang tidak ingin berlarut-larut dengan keadaan seperti ini.
"Tidak ada yang perlu kita dibicarakan!" ketus Maura, dia bahkan tak menatap sang suami sama sekali.
Dion menghela nafas dan membuangnya kasar. Dia benar-benar kehilangan akal menghadapi sikap dingin istrinya itu.
Dion kembali mendekat dan duduk tepat di samping Maura.
"Apa pernikahan ini membuatmu begitu tersiksa?" tanya Dion mencari tau.
"Bukankah Kak Dion sudah tau jawabannya, kenapa masih bertanya?" sahut Maura ketus.
Bak disambar petir di siang bolong, Dion tersentak kaget mendengar ucapan yang menusuk hingga ulu hatinya itu. Membuat rahangnya mengerat kuat dan tangannya mengepal erat.
Tak kuasa menahan amarahnya, Dion bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah lemari. Hingga akhirnya, dia melayangkan tinjunya ke pintu lemari hingga pintu itupun remuk seketika.
"Au, apa yang Kak Dion lakukan?" teriak Maura kaget.
Maura menutup matanya, sekujur tubuhnya mulai bergetar ketakutan. Dia bahkan tak menyadari kalau Dion sudah meringis kesakitan karena tujahan kayu yang merobek punggung tangannya.
Tak ingin membuat Maura semakin ketakutan, Dion melangkah meninggalkan kamar dan membanting pintu dengan kasar.
"Ya Tuhan, apa itu darah?" gumam Maura.
Menyadari Dion tengah terluka, Maura berlari keluar kamar menyusul suaminya yang sudah pergi entah kemana. Raut mukanya tampak panik memikirkan keadaan Dion yang entah bagaimana saat ini.
Setibanya di halaman rumah, tiba-tiba langkah Maura terhenti saat mendapati Dion tengah terduduk lemah di bangku taman, wajahnya tampak gusar.
"Kak Dion, tanganmu terluka. Ayo kita masuk, biar aku obati!" ajak Maura khawatir.
"Tidak perlu, masuklah ke dalam!" sahut Dion.
"Tapi Kak, lukamu harus diobati. Kalau tidak bisa infeksi." balas Maura memaksa.
"Biarkan saja, bahkan luka ini tidak sebanding dengan luka yang keluar dari mulutmu itu!" ketus Dion.
"Apa maksud Kak Dion?" tanya Maura yang sama sekali tidak mengerti maksud ucapan suaminya.
__ADS_1
Dion bangkit dari tempat duduknya dan masuk ke dalam rumah tanpa menghiraukan Maura sama sekali.
Setibanya di kamar, Dion membuka pintu lemari dan mengambil sebuah kain putih untuk membaluti lukanya. Dia melakukannya sendiri tanpa butuh bantuan dari istrinya.
Usai membalut lukanya, Dion kemudian berbaring di atas sofa dan mulai memejamkan matanya. Bahkan rasa lapar di perutnya pun dia tahan meskipun lambungnya sudah terasa perih.
Sebelum pulang, Dion sengaja tidak makan di rumahnya. Dia berharap bisa makan bersama istrinya. Tapi kenyataannya sungguh berbeda. Istrinya bahkan tidak menganggapnya sama sekali.
Esok paginya, Dion dan Maura keluar dari kamar dan melangkah menuju meja makan. Semalaman tidak makan membuat lambung Dion terasa benar-benar perih.
Setibanya di meja makan, ternyata Nek Ida dan Doni sudah lebih dulu duduk di sana. Tatapan mereka saling menyelidik saat mendapati tangan Dion terbalut kain.
"Dion, kenapa dengan tanganmu?" tanya Nek Ida mengkhawatirkan.
"Tidak apa-apa Nek. Cuma luka kecil saja, besok juga sembuh." sahut Dion untuk menutupi kejadian semalam.
Usai sarapan, Dion mengutarakan maksud hatinya yang ingin membawa Maura tinggal di rumahnya.
Mendengar itu, Doni awalnya keberatan. Tapi setelah dia memikirkannya dengan bijak, dia pun mengizinkannya. Walau bagaimanapun, sekarang Maura sudah menjadi tanggung jawab Dion seutuhnya.
"Maura tidak mau, Maura ingin tinggal di sini saja." jawab Maura menentang keputusan suaminya.
"Jangan membangkang, belajarlah menuruti keinginan suamimu!" hardik Doni yang tidak suka melihat keras kepala putrinya.
Dion kembali ke kamarnya, Maura pun menyusulnya dari belakang. Hingga pada saat Dion mengeluarkan sebuah koper dari dalam lemari, Maura pun merungut kesal.
"Berkemas lah, hari ini juga kita akan pulang ke rumahku!" perintah Dion.
Maura hanya diam membatu, dia tak bergerak sama sekali hingga membuat Dion mengeratkan rahangnya.
Tak ingin berdebat lagi dengan istrinya, dia pun membuka pintu lemari dan memasukkan pakaian Maura dengan tangannya sendiri. Namun saat tangannya menyentuh barang pribadi milik istrinya, dia pun memejamkan matanya gugup.
Setelah semua beres, Dion menarik koper tersebut dan menaruhnya di depan pintu.
"Ayo, cepatlah!" ajak Dion.
Mau tidak mau, akhirnya Maura menurut. Sebagai seorang istri dia tak ingin berdosa menentang keinginan suaminya. Tapi tetap saja baginya pernikahan itu hanyalah status semata.
__ADS_1
Sesampainya di bawah, Maura berpamitan kepada Ayah dan Neneknya. Meskipun berat, dia harus kuat, karena sejatinya seorang istri harus mengikuti kemanapun dan apapun keinginan sang suami.