
Dion tiba di bar miliknya beberapa menit setelah meninggalkan rumah. Entah apa yang terjadi di sana, dia sampai mengeratkan rahangnya saat mendapati keadaan cafe yang sudah berantakan.
Melihat kedatangan Dion, Miko pun mendekat. Dia menceritakan semuanya, hingga pada saat itu juga Dion mengepalkan tangannya erat. Darahnya mulai mendidih, menatap seorang wanita yang tengah duduk dengan santainya setelah membuat kekacauan.
"Wanita tidak tau diri," umpat Dion.
Dion menghampiri wanita cantik yang tak lain adalah Giska, mantan kekasihnya. Dengan kasarnya, Dion meraih tangan wanita itu dan menariknya keluar. Membuat semua mata mengerinyam ngeri melihat kemarahan Dion yang berapi-api.
"Dion, lepaskan tanganku!" teriak Giska, dia meronta untuk melepaskan diri dari cengkraman Dion. Tapi apa daya, kekuatannya tak sebanding dengan pria itu.
Setibanya di luar, Dion menyentak kan tangannya dengan kuat dan mendorong tubuh Giska hingga oleng dan tersungkur ke lantai.
"Cukup kali ini saja membuat onar di tempatku. Jika sekali lagi aku melihatmu melakukan ini, jangan harap aku akan mengampuni mu!" ancam Dion dengan tatapan membunuhnya.
"Kenapa, apa semua ini gara-gara pelakor itu?" tanya Giska meninggikan suaranya.
"Jaga ucapan mu, siapa yang kau bilang pelakor?" bentak Dion yang semakin tersulut emosi.
"Cih, jangan berpura-pura bodoh di hadapanku, kau pikir aku tidak tau. Kenapa kau menikahinya, harusnya akulah yang menjadi istrimu, bukan wanita murahan itu!" pekik Giska, dia pun kembali bangkit.
"Siapa kau berani mengaturku? Siapapun yang ingin aku nikahi, itu tidak ada urusannya denganmu!" bentak Dion, dia pun memunggungi wanita itu dan menoleh ke arah dua orang keamanan yang berdiri di depan pintu.
"Kenapa masih berdiri? Usir wanita itu dari sini, aku tidak ingin melihatnya menginjakkan kaki lagi di tempat ini!" perintah Dion, kemudian berlalu pergi.
Keduanya mengangguk pelan, lalu mendekati Giska yang masih berdiri dengan mata merahnya. Tanpa berbasa-basi, keduanya menyeret paksa tubuh wanita itu hingga ke pintu mobilnya yang terparkir di parkiran.
"Hari ini kau bisa mengusirku Dion Adriano. Tapi lihat saja nanti, aku tidak akan membiarkan wanita itu merebut mu dariku!" gumam Giska, dia pun menggulingkan senyuman liciknya.
"Cukup Nona, pergilah dari sini sebelum kami bertindak kasar padamu!" sahut salah seorang keamanan.
__ADS_1
Setelah kedua keamanan itu memastikan Giska benar-benar pergi, mereka kembali masuk dan menghadap Dion yang tengah duduk di pojok ruangan.
"Apa saja kerja kalian di sini hah? Mengurus satu wanita saja tidak becus." hardik Dion sambil menatapi kedua pria bertubuh tinggi besar itu dengan tajam.
"Maaf Tuan, semua di luar dugaan kami." sahut salah seorang keamanan.
"Bodoh, kali ini aku bisa memaafkan kalian. Tapi jika lain kali kalian melakukan kesalahan ini lagi, jangan harap kalian akan melihat matahari lagi setelah itu!" ancam Dion sembari mengepalkan tangannya erat.
"Iya Tuan, kami mengerti." Mereka pun mengangguk pelan, kemudian berlalu dari pandangan Dion.
Tidak berselang lama, Miko mendekat dan duduk di hadapan Dion. Dia pun menanyai keadaan Maura saat ini, bagaimanapun Miko masih sangsi mengingat pernikahan itu terjadi di luar rencana.
Dion mengerti dengan kegelisahan Miko, dia pun menjelaskan bahwa sang istri baik-baik saja. Bahkan Dion juga mengatakan, kalau mereka sudah tinggal di rumahnya. Hal itu membuat Miko menghela nafas lega.
Tak hanya itu, Dion juga meminta Miko untuk tinggal di lantai atas bar tersebut. Hal itu akan mempermudah Miko mengontrol bar tiap harinya. Dan yang lebih penting, Miko tidak perlu bolak-balik lagi menghabiskan waktunya keluar masuk bar.
Setelah cukup lama mengobrol, Dion akhirnya pamit. Dia tak bisa lagi berlama-lama di bar itu seperti biasanya. Dia lebih suka menghabiskan waktunya bersama sang istri di rumah.
Setibanya di rumah, Dion bergegas masuk dan segera menuju kamarnya. Dia benar-benar sudah tidak sabar ingin melihat wajah sang istri. Padahal baru beberapa jam saja mereka tak bertemu, tapi rasa rindunya sudah memuncak hingga ubun-ubun.
Sesaat setelah membuka pintu kamar, Dion kembali menyunggingkan senyumannya. Maura yang saat itu tengah berbaring di atas kasur dengan posisi tengkurap, membuatnya menelan ludah dengan kasar.
"Kamu belum tidur?" tanya Dion, dia pun mendekat dan duduk di sisi ranjang.
"Belum ngantuk," sahut Maura yang masih setia dengan posisinya sambil memainkan layar ponselnya.
"Belum ngantuk atau sedang menungguku?" goda Dion.
Mendengar itu, Maura langsung bangkit dan turun dari tempat tidur. Namun saat kakinya hendak melangkah, Dion dengan sigap meraih tangannya dan menariknya ke dalam pelukannya.
__ADS_1
"Kak Dion, apa yang kamu lakukan? Lepaskan aku!" pinta Maura sambil mendorong dada Dion dengan kedua tangannya.
Dion tak menghiraukan permintaan sang istri, dia malah semakin mengencangkan pelukannya yang membuat tubuh Maura terkunci di dadanya.
"Jangan takut, aku hanya ingin memelukmu. Percayalah padaku, aku tidak akan menyakitimu!" bujuk Dion, dia pun menenggelamkan wajahnya di pundak Maura.
"Kak Dion, tolong lepaskan aku! Aku takut." gumam Maura, bahkan kakinya mulai bergetar hingga menjalar ke seluruh tubuhnya.
Dion mengangkat kembali kepalanya dari pundak Maura, matanya menatap lekat wajah sang istri dengan sendu.
Pelan-pelan dia pun melangkah mundur tanpa melepaskan pelukannya, hingga pada saat betisnya menyentuh tepi ranjang, dia pun menekuk kakinya dan memangku tubuh Maura di atas kedua pahanya.
Dion kembali mengeratkan pelukannya, dia bahkan tak segan menyandarkan pipinya di pundak sang istri yang kala itu duduk dengan posisi menyamping di pangkuannya.
"Kalau seperti ini, apa kamu masih takut?" tanya Dion.
Tak ada sahutan dari mulut Maura, dia hanya diam sambil menekuk wajahnya. Sepasang tangannya saling meremas satu sama lain saking takutnya dia kala itu.
Dion mengangkat wajah Maura dengan sebelah tangannya, sementara tangan yang lain masih melingkar erat di pinggang sang istri.
"Lihat aku!" pinta Dion.
Maura menatap wajah sang suami dengan lirih, seketika pandangan mereka berdua saling bertemu saat Dion menatap lekat wajah sang istri.
Tatapan itu seketika membuat Dion terenyuh, dia bahkan sampai berkaca-kaca menatap wajah sang istri seperti memendam bebannya sendiri.
"Apa Kak Dion sudah bisa melepaskan pelukan ini?" tanya Maura, dia pun kembali memalingkan wajahnya.
Dion menitikkan air matanya, dia kembali mendekap tubuh sang istri hingga wajah cantik itu tenggelam di dadanya.
__ADS_1
Dion pikir sikap lembut dan manjanya itu bisa meluluhkan hati sang istri, tapi kenyataannya tidak sama sekali. Bahkan hati sang istri seperti sudah membatu. Segitu berat kah beban mental yang dia pikul selama ini? Dion tak sanggup lagi berkata-kata.