
Maura menekuk kedua kakinya, hatinya benar-benar hancur setelah menerima telepon dari ayahnya. Air matanya terus mengalir hingga isak tangisnya terdengar sampai ke telinga Dion dan Miko yang masih duduk tak jauh dari tempatnya tersungkur lesu.
Kedua pria tampan itu terkejut, tatapan keduanya saling bertemu satu sama lain. Miko menggerakkan kepalanya, Dion mengangkat bahunya. Tak ada satupun dari mereka yang tau apa yang terjadi dengan Maura saat ini.
"Kak Maura, Kakak kenapa?" tanya Miko, dia melangkah menghampiri Maura dan duduk di hadapan gadis itu.
Maura tak menyahut sama sekali, wajahnya tertutup oleh lututnya yang masih dia dekap dengan erat. Hal itu tentu saja membuat Miko kebingungan.
Miko menoleh ke arah Dion yang masih berdiam diri di tempat duduknya. Keningnya mengkerut memberi isyarat kepada Dion untuk datang menghampiri Maura.
Seketika mata Dion membesar, dia menggelengkan kepalanya menolak permintaan Miko yang tidak masuk akal. Mana mungkin dia bisa mendekati gadis yang masih takut dengannya itu.
"Kak Maura, apa yang terjadi dengan Kakak? Bicaralah padaku! Kalau seperti ini aku kan jadi bingung." ucap Miko sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
Perlahan, Maura mengangkat kepalanya. Matanya sembab, tatapannya menyayat hati yang membuat Miko merasa iba. Pria muda itupun memberanikan diri membawa Maura ke dalam pelukannya.
Niat hati ingin membantu mengurangi rasa sedih di hati Maura, namun tangisan gadis itu malah semakin menjadi di dalam pelukannya. Hal itu tentu saja membuat Miko kelimpungan.
Dari sudut lain, Dion menggertakkan giginya. Rahangnya mengerat kuat menyaksikan pemandangan itu. Tangannya bahkan mengepal erat dengan sorot mata yang tampak begitu tajam.
Ingin sekali dia menerobos masuk diantara mereka berdua, namun niat itu kembali dia urungkan mengingat pria itu adalah adik angkatnya sendiri. Hingga akhirnya, dia memilih pergi dari tempat itu.
Tak berselang lama, tangisan Maura mulai mereda. Dia merasa sangat lega setelah mendapatkan tempat untuk bersandar.
Malam semakin larut, Miko dan Maura memutuskan untuk pulang ke rumah neneknya. Namun saat ingin berpamitan dengan Dion, tiba-tiba saja Miko tertegun mendapati bangku kosong yang ada di belakangnya.
"Kemana dia?" batin Miko sembari menatap sekelilingnya.
Karena tak kunjung melihat Dion di mana-mana, keduanya akhirnya pulang tanpa berpamitan kepada Dion.
Langkah kaki Miko dan Maura terdengar semakin menjauh di telinga Dion, dia keluar dari balik sebuah pohon besar dan menatap punggung keduanya dengan tatapan yang tidak biasa.
__ADS_1
***************
Pagi harinya, semua barang penting milik Dion sudah tersusun rapi di dalam bagasi mobil. Dia memandangi rumah tua itu dengan lirih sebelum akhirnya melajukan mobilnya menuju rumah Nek Ida.
Sesampainya di depan rumah itu, Dion turun dengan tampang yang terlihat begitu dingin. Wajahnya terlihat datar, tak ada sedikitpun senyuman yang terpancar dari raut wajahnya. Bahkan dia tak menoleh ke arah Maura sama sekali.
"Selamat pagi Nek, pagi Bu!" sapa Dion kepada Nek Ida dan Bik An yang sudah menunggu di teras rumah.
Dion menyalami tangan Nek Ida, lalu menciumi punggung tangan nenek itu sebagai bentuk rasa hormatnya. Hal yang sama juga dia lakukan kepada Bik An yang tak lain adalah ibunya Miko.
Sementara Dion tengah berpamitan dengan semua orang, Miko bergegas mengangkut barang bawaannya dan menyusunnya di dalam bagasi mobil yang masih tampak lapang.
Setelah semua beres, Miko kembali ke teras rumah menyusul Dion dan berpamitan dengan semuanya. Tak terkecuali dengan Maura yang sudah dia anggap seperti kakaknya sendiri.
Berbeda dengan Dion, dia bahkan tak menatap wajah Maura sekalipun. Hal itu membuat Miko yang tengah memperhatikannya, merasa aneh dengan sikap kakaknya itu.
Dion dan Miko melangkah menuju mobil yang masih menyala di depan rumah Nek Ida. Hal itu membuat semua mata mulai menangis melepas kepergian mereka berdua.
Seketika, Dion yang hendak masuk ke dalam mobil langsung terpaku mendengar Maura menyebut namanya. Entah kenapa tiba-tiba dadanya berdegup dengan kencang, hingga dia pun menoleh ke arah gadis itu.
"Daaaaaah...,"
Maura melambaikan tangannya, hal itu membuat Dion akhirnya tersenyum menatap wajah cantik gadis itu. Ingin sekali dia mendekat dan memeluk Maura saat ini. Tapi apa daya tangannya takkan sanggup melakukan itu semua. Dia hanya bisa membalas lambaian tangan Maura dari kejauhan.
Selang beberapa menit, mobil itu pun menghilang dari pandangan semua orang. Nek Ida dan Bik An kemudian menyeka wajah mereka yang sudah basah.
***************
Setelah kepergian Miko dan Dion, wajah Maura tampak sedikit murung. Suasana yang sebelumnya ramai, sekarang terasa begitu sepi hingga dia tak punya teman lagi di tempat ini.
Hari ini dia juga malas pergi ke kebun bersama neneknya, dia memilih tinggal di rumah menikmati sisa-sisa waktunya di sini.
__ADS_1
Di dalam kamar, Maura mulai memandangi setiap foto ibunya yang berjejer rapi di dinding. Tak terasa air matanya kembali menetes, hatinya benar-benar rapuh mengingat keputusan ayahnya yang tak bisa dia lawan.
"Andai saja Ibu ada di sini, pasti Ayah tidak akan sekejam ini terhadap Maura." isak Maura sesegukan.
Di jalanan menuju kota, Dion tengah fokus mengendarai mobilnya. Namun hatinya mulai galau memikirkan kejadian tadi pagi. Dia sama sekali tak menyangka, akhirnya Maura menyebut namanya untuk pertama kali.
Tanpa dia sadari, senyuman di wajahnya pun mulai mengambang. Bahkan jantungnya kembali berdegup kencang yang membuatnya tidak fokus lagi menatap jalanan.
"Sreettttt...,"
"Braaaak...,"
Dion menginjak pedal rem dengan tiba-tiba, hampir saja dia menabrak seekor sapi yang melintas di tengah jalan. Hal itu membuat kepala Miko membentur keras kaca mobil di sisinya.
"Au, s-h-i-t...," rintih Miko, lalu mengumpat.
Miko mengelus kepalanya pelan. Sesaat dia terlihat seperti orang teler, tatapan matanya mulai berkunang-kunang dan kabur. Dia pun menggertakkan giginya geram.
"Kak Dion, apa kau ingin membunuhku?" ketus Miko dengan nada meninggi.
Dion tersenyum miring, ingin sekali dia menertawai Miko yang begitu lucu saat ini, tapi dia menelan tawanya kembali.
"Salah sendiri, siapa yang menyuruhmu tidur di dalam mobil?" sahut Dion tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Siapa yang tidur, bukankah Kak Dion yang tidak hati-hati. Sapi sebesar itu saja tidak lihat, pasti lagi mikirin Kak Maura ya?" goda Miko.
Wajah Dion seketika memerah bak udang rebus. Seberapa pintarnya dia menyembunyikan pikirannya, anak itu selalu saja bisa menebaknya.
"Jangan bicara omong kosong!" bantah Dion.
"Omong kosong dari Hongkong, dari wajah Kak Dion saja sudah jelas. Makanya kalau suka tuh diungkapkan, jangan dipendam sendiri! Ntar keduluan orang baru menyesal." ujar Miko yang membuat Dion langsung terdiam, hening tak bersuara.
__ADS_1