Berbagi Cinta: Aku, Madu Sahabatku

Berbagi Cinta: Aku, Madu Sahabatku
bab 1


__ADS_3

Hari ini adalah hari yang membahagiakan bagi Wina. Wanita itu akan menjalani peran baru


setelah upacara sakral ini. Janji suci telah terucap di hadapan Tuhan dan para tamu undangan.


Setelah upacara selesai, mereka mengadakan resepsi pernikahan yang begitu megahnya. Para tamu undangan mengucapkan selamat pada mereka.


Banyak wanita yang menatap iri pada Wina yang tengah berdiri di atas pelaminan itu—


termasuk para sahabatnya. Wina tak pernah terlihat menonjol di antara mereka. Namun, ia bisa mendapatkan pria tampan dan mapan serta sukses seperti Alvino Brahmana.


"Wina beruntung banget ya. Padahal dulu dia itu jarang banget bergaul dengan para


cowok. Tapi sekarang, dia seperti Cinderella mendapatkan pangeran."


Gunjingan demi gunjingan terdengar di antara para tamu undangan. Di saat orang lain sukses, banyak yang bergosip jika orang itu melakukan sesuatu yang tak


benar. Pun ketika orang lain terjatuh, tetap saja digosipkan.


Acara pun usai. Setelah para tamu meninggalkan ballroom hotel yang dijadikan tempat


resepsi, Al segera membopong istrinya itu ke lantai atas.


"Bang, malu dilihat banyak orang," lirih Wina dengan wajah memerah.


"Biar saja, Sayang. Kita sudah sah kan?" Al tersenyum memamerkan dua lesung pipinya.


Wina pun menyembunyikan wajahnya di d*** bidang suaminya saat di lift. Hingga mereka


memasuki kamar pengantin, Al masih menggendongnya.


Kemudian, Al merebahkan Wina di atas ranjang pengantin mereka. Mereka mulai melakukan rutinitas sebagai pasangan suami istri. Terjadilah sesuatu yang membuat mereka bermandikan peluh dan nikmat.


*****


Di sebuah rumah yang terbilang mewah, seorang wanita tengah berjalan mondar mandir


di kamarnya. Ia menggigiti kuku tangannya.


Siang tadi, suaminya sudah memberinya kabar jika acara pernikahan telah usai. Hatinya


tengah harap-harap cemas mengetahui apa yang akan terjadi di antara suaminya dengan


istri barunya.


Maaf Wina. Kau harus terlibat dalam drama ini. Maaf, bukan maksudku melakukan ini.


*****


Keesokan harinya, Wina terbangun dengan tubuh terasa remuk redam. Tidak ada bagian


tubuhnya yang tidak sakit. Termasuk bagian inti tubuhnya. Terasa perih dan ngilu.


"Ah," pekiknya tertahan saat merasakan sakit di bagian inti nya.


Al terbangun. Ia tahu, ini adalah pengalaman pertama bagi Wina. Al bangun dan


membantu Wina dengan membopong tubuh gadis wanita itu.


"Biar ku bantu. Sakit sekali ya? Maaf kan aku ya," ucapnya tak enak.


"Tidak apa. Sudah tugasku," ucap Wina seraya menampilkan senyumnya.


Al pun meletakkan tubuh Wina di dalam bathtub setelah memastikan suhu air. Wina


tersenyum manis dan mengucapkan terimakasih.


Al pun menunggu di dalam kamar. Pria itu tengah termenung mengingat istri pertamanya.

__ADS_1


Istri yang begitu ia cintai, namun ditentang oleh orangtuanya.


Lamunan nya terhenti saat melihat Wina berjalan tertatih. Al menatap Wina dengan


seksama. Wina adalah wanita cantik. Meskipun tak secantik istrinya.


Dia juga baik sama seperti istri pertamanya. Tulus, serta memiliki pengertian. Namun,


apa dia akan menerima Al ketika ia mengetahui kenyataan, jika dirinya hanyalah istri


kedua Al?


Alasan apa yang harus ia berikan saat Wina mengetahuinya? Cinta? Saat ini, dirinya tak


merasakan cinta pada wanita ini. Meski mereka hanya menjalin hubungan dalam tiga bulan


terakhir, dan memutuskan menikah bersama.


Wina, akankah kau memaafkan ku saat kau mengetahui kenyataan ini? ucap Al dalam hati.


"Bang, kok bengong sih?" tanya Wina saat Al kembali dari lamunannya.


Al berusaha tersenyum pada wanitanya. "Tidak. Ini hanya masalah pekerjaan," jawab Al.


Al memutuskan mandi. Ia tak ingin Wina bertanya-tanya lagi. Wina pun mengganti


pakaiannya.


*****


Mereka saat ini tengah berada di restoran hotel untuk sarapan. Sesekali, Al akan


menggoda Wina hingga wanita itu menampakkan wajahnya yang memerah.


"Bang, kita kapan harus check out dari sini?" tanya Wina setelah mereka tiba di kamar.


"Bukan itu, sayang uangnya jika harus di habiskan untuk hal seperti ini." Al terkekeh


mendengar jawaban sang istri.


"Tenang saja, Sayang. Ini hadiah dari Mami dan Papi untuk kita," ucap Al menenangkan


istrinya.


Ucapan Al memang tidak sepenuhnya salah. Wina pun menghembuskan nafas lega kala


mendengar hal itu. Meskipun, wanita itu masih menyayangkan uang yang terbuang sia-sia


itu menurutnya.


Mereka pun menghabiskan waktu di kamar hotel itu dengan membicarakan banyak hal.


Mulai dari banyaknya anak yang diinginkan oleh Wina ataupun Al, serta Wina yang ingin


tetap bekerja meski sudah menikah.


Satu lagi nilai tambah wanita itu di hati Al. Mandiri dan dewasa. Al merasa nyaman saat


berbicara tentang masalah pekerjaan dengan Wina. Pengetahuannya yang luas, sangat


membuat Al kagum.


Sepertinya, tidak akan sulit untuk jatuh cinta pada wanita ini. Namun tidak untuk saat


ini. Itulah yang Al pikirkan.


Beberapa hari kemudian, Al membawa istrinya ke rumah yang sudah di hadiahkan oleh

__ADS_1


orangtuanya. Rumah itu memang tak semewah rumah yang Al miliki.


"Kamu suka?" tanya Al.


"Suka, Bang. Rumahnya bagus," jawab Wina dengan senyum. Al pun ikut tersenyum.


Setelah mengantar Wina tiba di rumahnya, ponsel Al berbunyi. Al melihat nama istri


pertamanya yang terpampang di sana.


"Abang, angkat telepon dulu ya." Wina mengangguk. Matanya masih menelisik setiap sudut rumah itu.


Al pun sedikit menjauh. "Halo, Sayang," sapa Al setelah benda pipih itu ia letakkan di


telinganya. Sesekali matanya mengawasi keberadaan Wina.


"..."


"Baiklah. Sampai jumpa, Sayang." Al pun mematikan panggilan itu.


Ia melangkahkan kakinya mencari keberadaan Wina. Melihat pintu kamar utama yang


terbuka, Al yakin Wina berada di sana. Pria itu segera mendorongnya dan melangkah


masuk.


"Sayang, Abang pergi sebentar ya. Ada pekerjaan yang harus, Abang selesaikan," kilah


Al.


Wina mengangguk dan tersenyum. Al pun mengecup kening istrinya itu dan segera pergi.


Tinggallah Wina sendiri di sana.


Wina memutuskan merapikan pakaian mereka. Pertama, Wina menyusun pakaiannya ke


dalam lemari. Kemudian, pakaian Al.


Saat tengah memasukkan pakaian suaminya, ia melihat sebuah foto anak kecil. Foto


memperlihatkan wajah gadis yang mirip dengan suaminya.


Muncul pertanyaan dalam benak Wina tentang gadis kecil itu. Siapa gadis ini? Mengapa


begitu mirip dengan suaminya? Hubungan apa yang mereka miliki? Mungkinkah ada


sesuatu yang Wina tidak ketahui?


Wina memutuskan akan bertanya pada suaminya nanti. Ia tak ingin berasumsi sendiri,


hingga terjadi salah paham antara dirinya dan Al suaminya.


Wina melanjutkan pekerjaannya dan memasak makan siang. Mungkin saja, suaminya akan


kembali saat makan siang nanti.


Siang pun berganti malam, namun Al belum terlihat kembali ke rumah barunya bersama


Wina. Rasa cemas mulai menghantui Wina. Ia mengambil ponselnya dan memutuskan


menelepon Al.


Tersambung, namun tak juga ada jawaban dari seberang sana. Sekali lagi, Wina mencoba


menghubungi suaminya. Kali ini terdengar suara Al. Membuat Wina menghela nafas lega


kala mendengarnya.

__ADS_1


__ADS_2