Berbagi Cinta: Aku, Madu Sahabatku

Berbagi Cinta: Aku, Madu Sahabatku
Bab 53


__ADS_3

POV Citra


Lebih dari separuh hidupku, aku tidak pernah merasakan kebahagiaan. Sejak kepergiaan orang tuaku, aku benar-benar kehilangan arah.


Aku dan Wina tinggal berdua sejak itu. Kami selalu bersama dalam suka dan duka. Saat Wina mendapatkan beasiswa penuh untuk melanjutkan pendidikannya, saat itulah kami mulai berpisah. Namun, komunikasi kami tetap berjalan.


Pertama kali aku bertemu dengan Mas Al, adalah saat membahagiakan untukku. Berkali-kali pria yang kini menjadi suamiku itu mendekatiku. Banyak kata-kata gombal yang dilayangkannya pada ku.


Hingga suatu hari, aku benar-benar luluh akan ketulusannya. Dia adalah pria pertama yang membuatku jatuh cinta. Dia juga pria pertama yang mengajarkan aku artinya dicintai. Dia jugalah yang membuatku merasa aman.


Sungguh, aku benar-benar jatuh cinta sedalam-dalamnya pada dia. Kami menjalin hubungan yang cukup singkat. Mungkin hanya sekitar tiga bulan saja kami menjadi sepasang kekasih. Mas Al melamar ku. Ia membawaku menemui kedua orang tuanya.


Awal mengenal ibu dan ayahnya, aku sungguh tidak percaya diri. Aku baru mengetahui, jika kekasih sekaligus calon suamiku ini adalh orang berada yang cukup berpengaruh. Ibunya menanyakan segala hal tentangku. Mulai dari keluarga, pendidikan, dan lain sebagainya.


Suatu hari, aku tidak tahu apa alasan beliau tidak menyukaiku. Tentangan demi tentangan


tentangan terus terjadi. Aku tidak tahu apa yang Mas Al katakan pada ibunya, hingga ia menyetujui pernikahan kami.


Kami pun menikah. Hanya ayah dari Mas Al lah yang mendukung penuh pernikahan kami. Saat pernikahan kami berlangsung, Wina sahabat ku tak bisa hadir karena pekerjaannya. Ia hanya mengirimkan beberapa paket hadiah pernikahan untukku. Aku sangat senang memiliki Wina sebagai sahabat. Dia begitu memperhatikan diriku.


Dua bulan kemudian, aku dinyatakan hamil. Mas Al begitu bahagia menerima kabar itu. Ia menghujaniku dengan banyak cinta dan perhatian. Kami sangat bahagia. Perlahan, ibu mertuaku mulai menerimaku.


Hal itu semakin membuatku bahagia. Di usia kehamilanku yang menginjak tiga puluh sembilan bulan, bayi yang kami tunggu pun lahir. Bayi cantik dan sehat. Kedua mertuaku begitu bahagia menyambut kelahirannya.


Aku merasa begitu beruntung setelah kelahiran putri kecil ku. Lagi-lagi, Wina tidak bisa datang melihat putriku. Karena saat itu, ia sedang melakukan perjalanan bisnis, hingga tidak mungkin baginya meninggalkan pekerjaan. Aku sangat mengerti kesibukannya dan memakluminya. Setelah itu, kami tidak lagi saling berhubungan. Wina bak hilang ditelan bumi.

__ADS_1


Putriku tumbuh semakin besar dan cantik. Dia juga tumbuh sehat. Hidup kami semakin diwarnai oleh celotehan dan keceriaannya. Mas Al bahkan selalu pulang lebih awal sejak kehadiran Diana putrinya. Ia selalu membantu ku menjaga Diana.


Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih. Dokter memvonis putriku tidak akan bertahan lama. Kanker yang menyerangnya, bertumbuh dengan cepat. Segala macam pengobatan sudah kami coba. Diana harus kembali ke pangkuan sang kuasa. Aku begitu terpukul dengan kepergian putriku.


Mas Al dengan setia selalu menghiburku. Buruknya lagi, kondisiku makin hari makin menurun. Dengan dukungan Mas Al, aku pun berkunjung ke dokter.


Rupanya, rahim ku pun terserang kanker. Aku dan mas terkejut. Aku memilih kemoterapi, karena tak ingin sampai tak memiliki anak lagi. Aku masih berharap, Tuhan berbaik hati menitipkan kembali malaikat kecil di tengah keluarga kecil kami.


Sejak itu, ibu mertuaku mulai kembali seperti awal. Ia sering sekali mencemooh ku dan meminta Mas Al menceraikan ku. Namun, Mas Al berhasil meyakinkannya untuk bersabar.


Tubuhku semakin kurus, rambutku semakin rontok dan habis. Namun, Mas Al tetap setia di sisiku. Aku semakin mencintainya. Melihat ketulusannya dan kesabarannya dalam menghadapi diriku yang sakit, membuatku berjanji dalam hati. Apapun yang terjadi, aku akan tetap berada di sisinya.


Setelah berjuang cukup lama dokter menyatakan, bahwa rahimku tetap harus diangkat sebelum sel kanker menyebar dan mengancam nyawaku. Pada akhirnya, kami menyetujui saran dokter. Mas Al terus meyakinkan ku, jika ia tidak akan meninggalkanku.


Kabar ini pun sampai di telinga ibu mertuaku. Sementara ayah mertuaku masih berada di luar negeri untuk urusan bisnisnya, beliau segera mendatangi kami.


Pada akhirnya, aku memutuskan mencarikan istri untuk suamiku. Sejak itu, ibu mertuaku pun tak lagi memojokkan kami. Apa Mas Al marah? Tentu saja, dia marah. Bahkan, di sangat marah.


Aku terus membujuknya hingga aku mengorbankan operasi ku jika dia tidak mau menikah lagi. Mas Al pun menerima syarat itu demi diriku. Aku pun mulai memintanya mencari tahu tentang Wina.


Tidak butuh waktu lama, semua data Wina sudah ada di tanganku. Aku pun memintanya untuk bertemu dengan Wina secara natural. Perlahan, mereka semakin dekat.


Aku pun menjalani operasi pengangkatan rahim. Sedih? Aku bahkan sudah tak memiliki air mata untuk menangisi hidupku yang malang. Bahkan, kini aku harus merelakan suamiku bersama sahabat ku sendiri.


Wina tidak mengetahui hal ini, atas syarat dari ku. Mas Al melakukan segalanya demi diriku. Setelah aku kembali pulih, aku mulai merancang pernikahan mereka. Rambutku mulai tumbuh, tubuhku pun tak sekurus dulu.

__ADS_1


Pernikahan mereka pun berlangsung. Aku ingin menangis. Namun, air mataku tak lagi bisa mengalir. Pikiranku melayang pada hal yang akan terjadi pada setiap pengantin.


Ah, rasanya aku ingin datang dan membatalkan pernikahan itu. Lagi-lagi, aku tak mampu melangkah. Kaki ku seolah terpaku di lantai kamarku.


Maafkan aku Wina. Aku harus menyeret mu dalam drama rumah tanggaku. Aku sungguh tak mampu berbagi dengan yang lain. Aku mencoba memejamkan mataku. Namun, aku tak bisa hingga matahari kembali terbit.


Tiga hari kemudian, Mas Al kembali. Ia memelukku. Sungguh, aku merindukan pelukannya. Aku juga merindukan aroma parfumnya. Hanya tiga hari. Namun rasanya seakan sudah bertahun-tahun.


Kami pun melakukan rutinitas kami sebagai suami-istri. Aku merindukan kecupannya, merindukan sentuhannya. Saat ini lah ku lampiaskan semua kerinduanku. Mendekap dirinya hanya untukku.


Sayangnya, kebersamaan kami harus usai. Wina menghubunginya. Aku memilih mengalah dan meminta suami ku kembali pada istri keduanya. Mas Al tidak rela. Dia ingin bersamaku. Aku terus membujuknya. Ia pun terus membujukku untuk memberitahu kebenaran padanya.


Aku tidak siap. Aku takut Wina membenciku. Aku takut dia tak lagi menganggap ku sahabatnya. Aku takut dia menjauhiku. Sungguh, begitu banyak rasa takut dala diriku.


Mas Al selalu menemui ku disela kesibukannya. Kami pun memanfaatkan waktu yang ada untuk menjalin hubungan kami semakin erat. Meski ku akui, jika aku menginginkan Mas Al tetap di sisiku.


******


sore menjelang malam genks ... kali ini, aku buat full narasi. karena ini part Citra dan perjalanan hidup Citra.


Jangan di hujat ya genks🀭 part Citra tidak akan banyak. Mungkin, 1 atau 2 bab aja. Oke genks....


Sampai jumpa di bab selanjutnya.....


bye..bye..

__ADS_1


lope lope yang buanyak untuk kalian semuaπŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜β€οΈβ€οΈβ€οΈπŸ’—πŸ’—πŸ’—


__ADS_2