Berbagi Cinta: Aku, Madu Sahabatku

Berbagi Cinta: Aku, Madu Sahabatku
Bab 39


__ADS_3

Merebutnya? Apa itu mungkin? Apa aku akan memenangkan hak asuhnya? Itu tidak akan pernah mungkin. Mereka memiliki bukti kuat untuk mengalahkan ku. Jangan terlalu bermimpi Wina.


Wina terdiam beberapa saat. Ia tersadar saat Dennis mengguncang tubuhnya. Wina tersenyum pahit dan menggeleng. Ia menyerahkan bayi dalam gendongannya pada sang ayah.


Fika memperhatikan perubahan raut wajah wina. Entah apa yang terjadi sebelum ini. Bukan ia tak tahu perihal kedatangan Al ke rumah mereka tadi. Hanya saja, saat ia ingin memberitahukannya pada Dennis, bertepatan dengan ras mulas yang menghampirinya.


"Apa yang terjadi?" tanya Fika.


Wina hanya menggeleng tak menjawab. Ia memilih keluar dari ruang rawat Fika dan duduk di ruang tunggu. Ia memegangi dadanya yang terasa sesak. Sungguh, hari ini terasa amat berat untuk dijalaninya.


Kenapa Kau buat aku kembali pulih, jika hnya untuk merasakan sakit yang lebih dari sebelumnya? Apa aku tidak pantas bahagia? Kenapa tidak kau cabut saja nyawaku?


Air mata Wina mulai menetes tak tertahan. Sekuat tenaga, ia menahan isakannya. Dari ujung koridor, Samudra dapat melihat bagaimana muramnya wajah Wina. Entah sudah berapa kali Wina harus membuang napas seraya menyeka matanya yang berair. Ada sedikit rasa bersalah yang bercokol di dadanya. Namun, ia membuangnya jauh-jauh.


Wina memilih pulang. Ia tak ingin menjadi bahan gunjingan di rumah sakit. Ia berjalan dengan gontai. Bahkan, Wina tak menyadari, jika saat ini sudah tengah malam.


Ia hanya berjalan mengikuti langkah kakinya. Menyusuri jalan sepi dan gelap. Ia di kejutkan dengan kehadiran beberapa orang yang terlihat sangar dan berantakan. Matanya hanya menatap mereka bergantian.


"Mau kemana cantik?" tanya seorang dari antara mereka.


Wina mulai memundurkan langkahnya. Matanya mengerjap cepat saat menyadari bahaya. Ia mulai menoleh ke kiri dan kanan. Sayangnya, jalan itu terlalu sepi.


Mereka mulai mengepung Wina. Wina mulai merasa takut. Napasnya memburu hebat.


Bukankah kau ingin mati? Ya sudah, relakan saja dirimu pada mereka, salah satu sisi hatinya berkata.


Lari Wina, lari, kembali sisi lainnya berteriak.


Untuk apa dia lari? Dia kan ingin mati?


Wina memegang kepala dan menggeleng kuat. Ia mencoba mengusir suara hatinya. Sungguh, ia tidak tahu harus melakukan apa saat ini.


Mereka mulai mendekatinya. "Jangan," ucapnya lirih.


Semakin lama, mereka semakin menghimpitnya. Wina berjongkok dan menyembunyikan wajahnya diantara kedua lututnya. Tubuhnya menggigil. Ia tak menyadari, jika perkelahian mulai terjadi.


"Kau baik-baik saja?" Wina mengangkat wajahnya dan mendapati Al di sana.


Entah dia harus bersyukur atau tidak. Ia hampir saja bangkit berdiri dan memeluknya. Namun, Wina tak mampu bergerak. Mereka saling menatap satu sama lain.

__ADS_1


Al bisa melihat, ada kerinduan yang Wina pendam sedalam-dalamnya. Ada cinta, yang sepertinya sengaja ia tutupi. Apakah dia harus memeluk Wina? Dia ingin sekali memeluknya. Tapi tak bisa. Ia menyadari kesalahannya. Bagaimana ia telah sangat menyakiti Wina. Hingga wanita itu tak lagi sanggup berada di sisinya.


"Wina." Dennis membantunya berdiri dan memeluk tubuh adiknya.


Tak ada respon dari Wina. Dennis melepas pelukannya dan menatap mata Wina.


"Kak," lirihnya.


Dennis mengangkat kedua alisnya dan menghapus air mata Wina yang mengalir deras. "Kau baik-baik saja kan?" tanya Dennis cemas.


Netranya menangkap keberadaan Citra. Kini, Al sudah berdiri di samping Citra dan memeluknya. Rasa cemburu itu kembali. Wina membuang pandangannya. Al menyadarinya.


Aku tahu, tidak mudah untuk kalian berbagi. Aku, tidak mungkin melepas Citra. Maaf, jika selama ini aku tidak rela kehilanganmu. Sekarang, aku akan melepas mu. Pergilah Wina, carilah kebahagiaanmu. Jika kau ingin menemui Darren, aku tidak akan menghalanginya.


"Apa kau pernah merasa cemburu saat mas bersama Wina dulu?" tanya Al pada Citra.


Citra menoleh pada Al. Terlihat kesungguhan di mata Al. Citra ingin menjawab tidak. Namun, ia akan membohongi hatinya sendiri.


"Jujur saja," ucap Al.


"Ya," lirih Citra. Al menganggukkan kepalanya mengerti.


"Mas baru mengetahuinya hari ini. Saat mas melihat jauh ke dalam matanya. Dia terluka. Terlebih, dia dengan rela memberikan anak yang di kandungnya untuk kita. Menutupi setiap rasa sakitnya seorang diri." Citra memeluk pinggang Al.


Samudra yang juga ada di sana mendekati Dennis dan Wina. Sudah cukup baginya melihat drama dan mendengar pembicaraan Citra dan Al tadi. Kali ini, ia mengakui kesalahannya.


"Terimakasih, Sam. Jika bukan karena mu, entah apa yang akan terjadi pada adikku."


"Terimakasih, dok. Maaf, saya selalu merepotkan dokter," ucapnya.


Samudra tak menjawab. Pria itu tetap berwajah datar seperti biasa. Mereka mengalihkan perhatian pada Al dan Citra yang mulai mendekat.


"Kami permisi dulu," pamit Al dan Citra.


"Terimakasih sudah menolongku," ucap Wina pada Al.


"Maaf, karena ucapan ku pasti sudah menyakitimu," ucap Wina pada Citra.


Citra tersenyum dan mengangguk. Dennis tak melepas pelukannya dari Wina. Al dan Citra pun mulai melangkah menjauhi Wina dan yang lainnya

__ADS_1


"Tunggu." Al dan Citra berbalik.


Samudra melangkah mendekati mereka. "Boleh aku tahu, sudah sampai dimana proses perceraian anda dengan Wina?"


Tidak hanya Al dan Citra yang terkejut mendengar pertanyaan Samudra. Wina dan Dennis pun ikut terkejut. Al mengerutkan keningnya menatap pria itu.


"Bukan urusan, anda," jawab Al.


"Sam, untuk apa kau menanyakan hal itu?" tanya Dennis.


Samudra menoleh. Ia belum menjawab pertanyaan sahabatnya itu. Dennis tak bisa membaca apa yang sahabatnya itu inginkan. Raut wajahnya tak terbaca sama sekali.


"Aku butuh informasi itu. Untuk ... segera menjadikan adikmu istriku," ucapnya yakin.


Wina menatap tak percaya pada Samudra. Begitupun dengan Dennis dan Citra. Entah apa yang membuat Samudra mengatakan itu dengan lantang. Bahkan, dihadapan Al sekalipun. Tanpa sadar, Al mengepalkan tangannya kuat.


Samudra melihat itu. Bibirnya menyunggingkan senyum sangat tipis dan tak terlihat. Tatapan Al dan Samudra bertemu. Ada kilat amarah di matanya


"Apa kau yakin?" tanya Dennis.


Pertanyaan Dennis menyadarkan keduanya dari perang yang tak terlihat di sana. Samudra menoleh dan mengangguk yakin.


"Tapi kak ..." ucapan Wina terpotong.


"Apa kau sudah benar-benar bisa melupakan masa lalu mu?"


Samudra terdiam beberapa saat. Kemudian, "ya. Aku akan pastikan adikmu mendapatkan kebahagiaan yang tidak ia dapatkan dari mantan suaminya ini,"


*****


Pagi genks....


Aku lagi badmood beberapa hari ini. Kayanya, beberapa bab ini gak dapat feelnya sama sekali😔


maaf ya semua..


Terimakasih untuk setiap bentuk dukungan kalian.... maafkan karena aku hanya mampu membuat cerita 1 bab perhari. karena badmood ku ini. mudah²an lekas hilang badmood ini.


sampa jumpa di bab selanjutnya....

__ADS_1


Lope² yang banyak untuk kalian semua😘😘😘❤️❤️❤️💗💗💗


__ADS_2