
Wina bangkit berdiri dan menatap bingung pada Rosa. Pikirannya mulai melayang pada hal-hal yang tidak masuk akal. Silvia pun melakukan hal yang sama. Ia pun tak kalah terkejutnya melihat kedatangan Rosa bersama anak laki-laki yang usianya tidak jauh dari Darren.
"Rosa ... ada apa ini?" tanya Silvia.
Pandangan Rosa tetap pada Wina. Ia menatap Wina tanpa ekspresi. Tidak ada ketajaman yang terlihat dari tatapan Rosa pada Wina.
Wina menatap Rosa penuh rasa ingin tahu. Ingin tahu alasan wanita itu datang. Ingin tahu siapa anak yang dibawa oleh Rosa. Ada banyak rasa ingin tahu yang timbul dalam benaknya.
"Sebentar lagi Samudra akan kembali. Saat itu, aku akan bicara," ucap Rosa datar.
Wina berjalan mendekati Rosa dan memintanya menunggu di ruang tamu. Baru pagi tadi ia bermimpi indah. Memiliki bayi kembar dan membentuk keluarga bahagia bersama Samudra. Haruskah kini mimpi indahnya berakhir. Ia menghalau pikiran buruknya dan menunggu apa yang akan terjadi.
Terdengar suara deru mesin mobil yang memasuki halaman rumah. Wina dengan santai duduk dihadapan Rosa. Sementara Silvia mulai bergerak gelisah. Sepertinya, ada sesuatu yang tidak Wina ketahui.
Samudra tiba dihadapan ketiganya dengan napas tersengal-sengal. Anak kecil yang ikut bersama Rosa, seakan tak terganggu dengan ketegangan yang terjadi di sekitarnya.
Samudra segera duduk di samping Wina. Tidak ada senyum atau pun keterkejutan yang terlihat di wajah Wina. Yang ada tatapan dingin dan menusuk. Hingga Samudra bergidik ngeri menatap mata istrinya.
"Kenapa kau membawa anakmu ke sini?" tanya samudra langsung pada intinya.
Wina masih diam dan menanti kapan dia harus bicara. Apapun yang akan terjadi nanti, ia akan memikirkannya baik-baik.
"Tolong aku, Sam. Tolong jaga dia untukku."
Wina mengernyitkan dahinya mendengar permintaan Rosa yang terasa tidak masuk akal. Apa alasan Rosa menitipkan anaknya pada Samudra? Kembali ia mengenyahkan pikirannya dari hal buruk.
"Aku? Kenapa harus aku? Kau punya orang tua, Suami, dan keluarga suami mu. Kenapa justru kau titipkan padaku?"
Ada sedikit perasaan lega di hati Wina mendengar setiap kata yang meluncur dari mulut Samudra.
"Karena aku hanya mempercayaimu. Aku tidak mungkin membiarkan mereka menjual anak ini."
Kali ini, tidak hanya Samudra yang terkejut. Wina dan Silvia pun terkejut. Ketiganya menatap Rosa bingung. Entah apa maksud perkataan Rosa tadi.
"Menjual?" tanya Silvia.
__ADS_1
Silvia ingin memperjelas ucapan Rosa. Rosa menganggukkan kepalanya. Samudra menatap ibu dan istrinya bergantian. Begitupun dengan Silvia. Namun, tidak dengan Wina. Ia masih memfokuskan matanya pada Rosa. Mencari tahu kebenaran ucapan wanita itu dari matanya.
Mata Rosa menampakkan ketakutan. Wina semakin penasaran. Ia tetap menahan diri dari berbagai pertanyaan yang timbul terus menerus dalam benaknya.
"Iya. Sama sepertiku yang di jual oleh mereka pada keluarga suamiku. Seperti itulah mereka akan menjual anak ku pada orang yang aku bahkan tidak tahu."
"Lalu, apa maksudmu dengan keluarga suami mu dan suami juga suami mu akan menjual anak ini." tanya Samudra.
"Ada satu rahasia yang kau tidak tahu dari ku." Rosa menghapus air matanya.
"Sebenarnya, aku bukan putri kandung dari yah dan ibuku. Aku hanya anak angkat mereka."
Samudra dnn Silvia terkejut. Begitupun Wina. Entah ekspresi seperti apa yang harus ia tunjukkan pada Rosa. Ia pun tidak tahu, harus bersimpati, marah atau berempati pada wanita itu.
"Dulu, aku terpaksa meninggalkan mu karena ancaman mereka. Mereka akan menghancurkan karirmu, jika aku tetap bersamamu. Aku bahkan sengaja menjebak mu untuk berhubungan layaknya suami istri. Dengan harapan, mereka melepaskan ku bersama mu. Sayangnya, harapan ku sia-sia. Mereka semakin mengancam diriku.
Saat mereka mengetahui aku mengandung anakmu, mereka dengan sengaja menggugurkannya. Agar tidak ada lagi alasan bagiku bertahan denganmu. Dari situ aku menyerah. Aku membiarkan mereka melakukan apa yang mereka inginkan. Termasuk menikahkan ku dengan pria itu."
Ada kemarahan yang terlintas di mata Samudra. Ia baru mengetahui, jika dulu Rosa sempat mengandung buah hati mereka. Samudra berusaha mengontrol emosinya.
"Jadi, kau ingin mengatakan, jika cintamu pada suamiku jauh lebih tulus dari cintaku padanya?
Wina yang sejak awal kedatangan Rosa diam, mulai membuka suaranya. Samudra bahkan terkejut mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut Wina. Tidak ada emosi apapun yang terlihat.
"Bu-bu-bukan itu maksud ku," jawab Rosa terbata.
Rosa memejamkan matanya dan menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Ia menatap Wina tepat di kedua bola matanya.
"Aku hanya ingin minta tolong. Tolong jaga anakku sampai aku bisa pergi jauh dari keluargaku dan keluarga suami ku."
"Tapi, dari kata-katamu sudah jelas. Kau ingin memberitahuku, jika cinta yang kau miliki sangat tulus untuknya. Kau bahkan mengorbankan dirimu juga anakmu demi keselamatan Samudra suami ku. Apa kau ingin kembali padanya?"
Rosa terdiam. Semua yang Wina katakan masuk diakal. Rosa gugup.
"Aku bersumpah, aku tidak menginginkannya lagi. Aku tahu, Samudra sudah tak lagi mencintaiku. Hubungan kami, sudah lama berlalu. Jika kau takut aku merebut Samudra, biar ku bawa saja anak ini bersama ku."
__ADS_1
"Aku tidak mempermasalahkan masa lalu kalian. Aku juga tidak peduli jika kau menginginkan suamiku. Karena aku percaya pada sea Tetapi, apa kau tahu, dengan menitipkan anak itu pada kami, kau sama saja membahayakan kami? Suamiku bisa saja dituntut oleh suami dan keluarga mu. Lebih parahnya lagi, mereka bisa menghabisi keluarga kami. Apa kau tidak berpikir sampai ke sana?"
Rosa terbelalak. Ia terlihat terkejut mendengar penuturan Wina. Ia semakin terkejut, saat mendengar pertanyaan Wina berikut nya. Tidak hanya dirinya, Samudra dan Silvia pun ikut terkejut.
"Atau, anak ini adalah anak suamiku yang kau bilang sudah digugurkan keluarga mu?"
Rosa terlihat geram. Ia berdiri dan menatap Wina tajam. Samudra melindungi Wina dengan cara menyembunyikan istrinya, dibalik tubuhnya.
"Kau, menuduhku berbohong? Aku melihat sendiri janin itu digugurkan dengan paksa. Anak ini hadir di rahim ku, Tiga bulan setelah kepergiannya. Apa kau bisa melihat persamaan antara anak ini dengan suami mu?"
"Mami." suara teriakan itu membuat Rosa menoleh pada putranya yang terlihat ketakutan.
Rosa merubah wajah marahnya menjadi lembut. Bahkan suaranya pun berubah lembut saat menghampiri anak itu.
Anak itu meringkuk ketakutan di ujung sofa. Ia menutup telinganya. Tubuhnya bergetar hebat. Wina terkejut melihat kondisi psikis anak itu. Samudra bahkan sudah memperkirakan kondisi anak itu, jauh lebih parah dari yang terlihat.
"Dani. Maafkan, Mami ya, Nak. Dani gak apa-apa kan?"
Anak itu memeluk Rosa erat. Rosa menggendongnya. Ia berharap, Dani menjadi lebih baik.
*****
Ada yang jawabannya benar???? Bukan anak babang Samudra ya genksπ€π€π€ siang genks ... baru sempat nulis nih. Tetap semangat ya...
promo hari iniπππ
ada yang penasaran setelah baca blurbnya?? yuk mampir ke karya salah satu temanku. satu lagi promo untuk kalian
yuk kepoin dua cerita di atas... jangan lupa fav, like dan komen kalian ya....
sampai jumpa di bab selanjutnya kesayanganππππ€π€π€πππ
__ADS_1