
Saat ini Wina, Citra dan Al tengah berada di ruang tamu. Darren sendiri, sedang asyik menggoda Cahaya.
"Apa kau mempengaruhi Darren?" tanya Al.
Wina menatap Al. "Tidak," jawab Wina.
Kesunyian kembali menyergap ketiganya. Hanya celoteh riang Darren dan baby Cahaya yang terdengar.
"Kenapa tiba-tiba dia ingin tinggal bersamamu?" tanya Citra.
"Kalian bisa tanyakan sendiri padanya. Aku tidak akan memaksanya untuk tetap bersamaku."
"Jadi, kau menuduh kami yang memaksanya?" tanya Al dengan nada suara kesal.
Wina menarik napas dalam dan menghembuskannya. "Darren," panggil Wina.
Darren menoleh dan menghampiri ketiganya. "Ya, mommy," ucap Darren.
"Papa dan mama, ingin bicara dengan Darren. Apa Darren setuju?" Darren menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu, Mommy dan bibi ada di atas."
Wina segera beranjak dan mengambil Cahaya dari gendongan Fika. Wina tak sanggup menolehkan kepalanya.
Darren duduk dihadapan Al dan Citra setelah Wina pergi. Ia menatap Al dan Citra bergantian.
"Darren, mama ingin bertanya. Darren jawab yang jujur ya?!" Darren mengangguk.
"Kenapa Darren merubah panggilan lagi pada bunda?" tanya Citra.
"Daddy Sam bilang, mommy lebih cocok dipanggil mommy daripada bunda," jawabnya.
"Alasannya?"
"Karena mommy lah yang menghadirkan Darren ke dunia," jawab Darren polos.
Hati Citra terasa sakit mendengar penuturan Darren. Namun, ia tak bisa mengelak, bahwa apa yang Darren katakan memang benar.
"Kenapa Darren memanggil om Samudra dengan sebutan Daddy?" kali ini, Al bertanya langsung pada Darren.
"Karena Daddy bilang, pasangan mommy disebut Daddy. Daddy dan mommy juga akan segera menikah."
__ADS_1
Raut wajah Al berubah pias. Ia tidak tahu, jika Wina begitu mudah untuk menemukan penggantinya. Citra terkejut mendengar berita itu.
"Lalu, kenapa Darren ingin tinggal dengan mommy?" tanya Citra.
Pertanyaan inilah yang sangat ingin mereka ketahui jawabannya. Mereka ingin tahu, apakah Wina yang mempengaruhi Darren, atau Darren yang memutuskannya sendiri? Darren terdiam. Ia tidak menjawab pertanyaan itu.
"Mama, tidak pernah berbuat jahat pada Darren kan?" tanya Citra lagi. Darren kembali diam dan tak menjawab.
"Tidak apa, jawab saja," pinta Citra.
"Darren ingin tinggal bersama Mommy. Kasihan mommy, selalu saja jauh dari Darren. Darren bisa merasakan, jika mommy sangat menderita jauh dari Darren. Mommy bahkan minta maaf pada Darren karena sudah meninggalkan Darren pada papa dan mama," ucap Darren sedih.
Al dan Citra mengerti sekarang. Meski Darren hidup terpisah dari Wina selama empat tahun, tetapi ikatan antara ibu dan anak tidka bisa mereka hilangkan.
"Apa Darren sudah tidak sayang mama lagi?" tanya Citra.
Air mata Citra sudah menumpuk di pelupuk matanya. Ia menengadah untuk menahan laju air mata yang akan segera tumpah.
"Darren sayang kok sama mama. Mama itu mama terbaik yang Darren punya. Mama juga, yang sudah mengajarkan banyak hal pada Darren. Tapi, Darren juga sayang sama mommy. Mommy bahkan sampai menangis, semalam. Dia juga tidak tidur. Hampir setia malam, mommy selalu ada di samping Darren."
Al dan Citra mengerutkan keningnya. "Darren tahu darimana? Darren tidak tidur?" tanya Al.
"Darren tidur kok pa. Tapi, Darren tidak sengaja mendengar mommy menangis. Mommy bahkan terus menerus mencium Darren dan meminta maaf."
"Jadi, bolehkan Darren tinggal dengan mommy? Darren yakin, mommy tidak akan melarang papa dan mama menemui Darren. Daddy pun begitu."
"Jika Darren bahagia, papa akan ikut bahagia," ucap Al.
"Terimakasih, papa."
Darren menghambur ke pelukan Al dan mencium pipi ayahnya itu. Al tersenyum melihat kegembiraan di mata Darren.
"Kalau begitu, Darren mau ikut papa main? Papa kangen sama Darren. Sudah lama kita tidak bermain bersama kan?" bujuk Al.
"Darren bilang ke mommy dulu ya pa," ucap Darren.
Setelah Al mengangguk, ia berlari menuju tempat Wina berada. Tak butuh waktu lama, keduanya menghampiri Al dan Citra. Wina membawakan satu tas kecil di tangan lainnya.
"Darren, dengarkan mama dan papa ya, Nak." Wina mengusap sayang kepala Darren.
Wina menyerahkan tas berisi keperluan Darren saat akan bepergian. Citra mengulurkan tangannya dan mengambil tas itu.
__ADS_1
"Terimakasih, sudah mengizinkan Darren ikut bersama kami," ucap Citra.
"Dia juga anak kalian. Tidak mungkin aku menghalangi Darren untuk bertemu papa dan mamanya." Wina tersenyum tulus pada keduanya.
"Selamat, karena. sebentar lagi kau dan dokter Samudra akan menikah." Al mengulurkan tangannya hendak berjabatan tangan.
"Terimakasih." Wina membalas jabat tangan Al.
Al tak melepas genggamannya dari tangan Wina. Beberapa kali, Wina mencoba melepaskan tangannya dari tangan besar milik Al.
"Mas." Al masih menggenggam tangan mungil milik Al. Kembali, hati Citra terasa dicubit saat melihat ketidak rela-an Al melepas Wina.
"Ekhem."
Terdengar suara dehaman seseorang dari arah pintu masuk. Mereka menoleh dan mendapati Samudra berdiri di sana. Darren yang melihat kedatangan Samudra, berlari kedalam pelukan Samudra.
"Daddy," panggil Darren.
Samudra merentangkan tangannya dan membawa Darren ke dalam gendongannya. Kemudian, menciumi seluruh wajah Darren, hingga bocah itu tertawa geli.
"Jagoan Daddy mau kemana? Sudah rapih sekali?" tanya Samudra. Ekor matanya masih mengawasi setiap gerakan Al.
Wina menghampiri Samudra dan Darren. Wina tersenyum manis pada Samudra. Samudra merangkul pundak calon istrinya dan mengecup keningnya mesra. Al yang melihat itu, segera membuang pandangannya.
"Bang, sudah saatnya kau kembali membangun hubunganmu dengan Citra. Aku yakin, cintamu pada Citra jauh lebih besar daripada rasa cintamu padaku. Aku sudah menemukan Mas Samudra. Jadi, mari kita lupakan masa lalu. Aku dan kamu, masih tetap bisa berhubungan baik. Maaf, karena selama ini aku punya banyak salah dengan kalian. Terutama pada Citra. Rebut lah kembali hati bang Al untuk dirimu. Aku yakin, kau pasti bisa," tutur Wina.
Mata Citra berkaca-kaca mendengar penuturan Wina. Al menatap Citra. Kini, ia menyadari kesalahannya. Selama ini, ia hanya terfokus pada Wina tanpa mempedulikan hati Citra. Al menarik Citra ke dalam pelukan hangatnya, hingga Citra menumpahkan air matanya pada dada bidang suaminya.
Berkali-kali Al menggumamkan kata maaf. Darren tersenyum melihat papa dan mamanya yang terlihat lebih dekat, sama seperti Wina dan Samudra. Wina menoleh pada Samudra. Mereka saling melemparkan senyum bahagia melihat Al yang kembali menyadari kesalahannya.
Wina berdoa, semoga kebahagiaan kelak kembali ke sisi sahabatnya. Ia pun meminta kesempatan, untuk dapat kembali membangun persahabatan mereka yang hancur. Semoga saja, Tuhan berbaik hati mengabulkan doanya.
*****
satu bab lagi meluncur.... terimakasih semua.... Sampai jumpa di bab berikutnya....
Sedikit pengumuman. Mungkin novel ini tidak akan terlalu panjang ya. Sudah mulai terlihat kebahagiaan buat mereka.
yang bilang Citra belum dapat apa², aku jawab. Sejak kehadiran Wina dan terbongkarnya hubungan mereka, Al mulai mencondongkan hatinya pada Wina. Jadi, Citra bertahan hanya karena Wina. Tapi, Wina minta berpisah karena dia tau, Al hanya sedang tersesat🤭 sekarang, Al kembali sadar. Berapa tahun kira² siksaan batin Citra? yuk di hitung ☺️
semoga jawabanku membantu ya.
__ADS_1
lope lope yang banyak untuk kalian😘😘😘❤️❤️❤️💗💗💗