Berbagi Cinta: Aku, Madu Sahabatku

Berbagi Cinta: Aku, Madu Sahabatku
Bab 20


__ADS_3

Setelah melihat kedua istrinya memasuki dapur, Al memilih naik ke atas untuk berolahraga. Sudah lama rasanya dirinya tak berolahraga. Ia masuk ke dalam ruangan yang berisi peralatan gym miliknya.


Satu jam berlalu. Tubuhnya kini sudah penuh dengan peluh. Al memutuskan membersihkan diri sebelum makan bersama kedua istrinya.


Kini Al sudah merasa lebih segar. Ia pun keluar dari kamar dan akan menghampiri kedua istrinya. Namun, tanpa di duga, kedua istrinya tengah berdebat. Semua ingin saling berkorban.


Jika kalian ingin saling berkorban? Apa selama ini pengorbananku tidak ada artinya bagi kalian? batin Al.


Al berbalik dan kembali masuk ke kamarnya bersama Wina. Ia mendudukkan diri di bibir ranjang. Pikirannya menerawang entah kemana.


Pria itu merasa bingung dengan sikap kedua istrinya. Ia menengadahkan kepalanya ke atas. Kemudian, memejamkan matanya sesaat. Ia pun memutuskan kembali menghampiri mereka.


*****


Tubuh Citra membeku. Sepertinya, tingkat kepekaan Wina masih seperti dulu. Ia tak bisa membohongi Wina sedikitpun. Citra menoleh dan memaksakan senyumnya.


Wina mengangkat sebelah alisnya. Citra meneguk salivanya susah payah. Wina mendekatinya dan menghela napas perlahan. Ia memegang kedua pundak sahabatnya dan sedikit meremasnya.


"Kamu, akan tetap menjadi istri dari Bang Al. Jadi, jangan pernah berpikir untuk mengalah pada ku." Wina kembali menarik tangannya dari pundak Citra.


"Kenapa kau selalu melindungi ku? Tidak bisakah kali ini aku yang melindungi mu? Apa aku selemah itu di matamu? Sampai kapan kau harus melindungi ku? Kau juga berhak untuk bahagia. Jika kau mencintai Mas Al. Biarkan kali ini aku yang mengalah." nada bicara Citra sudah sedikit lebih tinggi.


Mereka berdua saling menatap. Menyelami perasaan lawan bicaranya. Keduanya merasakan cinta yang sama untuk pria yang sama. Keduanya juga ingin berkorban untuk sahabatnya.


Citra menggigit bibirnya menahan isak tangis yang akan keluar dari bibirnya. Sementara Wina mati-matian menahan air mata yang hampir saja terlihat di ujung matanya.


"Sudah, lupakan saja." Wina memilih mengakhiri perdebatan mereka.


Makanan telah selesai ditata bertepatan dengan Al yang menuju meja maka. Namun, Wina menyadari ada yang berbeda dengan suaminya itu. Citra pun duduk di sisi kiri Al. Sedangkan Wina berada di sisi lainnya.


Al mengambil sendiri makanannya. Wina dan Citra pun saling pandang. Tak seperti biasanya, Al sangat pendiam kali itu. Ia bahkan tak mengajak kedua istrinya bicara.


Wina dan Citra pun makan dalam diam. Al mengawasi keduanya dari sudut matanya. Selesai makan, Al segera beranjak menuju kamarnya dengan Wina. Wina dan Citra berbicara dengan isyarat tubuh mereka. Saling bertanya dan menjawab tidak tahu.


Tak lama kemudian, Al muncul dari kamar dengan pakaian rapi. Wina segera berdiri dan menghampiri Al. Dia berinisiatif untuk bertanya lebih dulu.


"Bang," panggil Wina.


Citra mengikuti Wina dari belakang. Al berhenti dan menunggu Wina bicara.

__ADS_1


"Abang mau kemana?" tanyanya.


"Abang mau kerja dulu."


"Mas, ini sudah bukan jam kerja kan?" kali ini, Citra yang bicara.


"Ada pekerjaan yang harus ku selesaikan. Suryo baru saja menghubungiku," kilahnya.


"Bang." kali ini Wina menahan Al dengan memegang lengan pria itu.


Al menatap mata Wina. Ia segera berpaling. Al butuh waktu untuk memikirkan segalanya.


"Ada apa?" tanya Wina.


"Tidak ada. Aku pergi dulu." Al melepas genggaman Wina dan berlalu.


Citra mengejar langkah Al. "Mas," panggilnya.


Al tak menghiraukannya. Ia meneruskan langkahnya mengikuti Al. Citra pun nekad dan masuk ke dalam mobil Al. Wina memperhatikannya. Mobil pun melaju meninggalkan halaman.


Wina memegang dadanya yang terasa sesak. Entah mengapa, ia merasa Al tengah marah padanya dan Citra. Air mata Wina menetes. Wina menghapusnya dengan punggung tangannya. Mencoba tegar dan berpikir positif.


Wina menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan.


*****


Malam hari, Wina tengah tertidur saat Al kembali. Dengan gerakan perlahan, Al mencium kening Wina. Pria itu membelai lembut pipi Wina. Wina terusik. Namun, ia berusaha tak terbangun. Ia ingin tahu, apa yang akan Al lakukan.


Tangan Al menyentuh perut rata Wina. Ada perasaan hangat yang mengalir di tubuh Wina, saat tangan besar itu menyentuh perutnya.


"Terimakasih kau mau hadir di sini. Maafkan papa yang membuat mamamu tersakiti. Bukan hanya mamamu. Bunda mu Citra pun tersakiti. Maaf, karena papa bersikap seperti pengecut. Maaf..." Al tersedak oleh air matanya sendiri.


Ia tak sanggup melanjutkan kata-katanya. Wina yang mendengarnya pun perlahan membuka matanya. Ia melihat Al yang menahan tangisnya agar tak terdengar. Wina terduduk. Ia memeluk pinggang Al. Tak ada balasan dari pria itu. Wina ikut merasakan pedihnya hati Al.


"Bang, jangan berhenti mencintai Citra. Ku mohon. Apapun alasan Citra ingin bercerai darimu, ku mohon tolak saja," pintanya.


"Jadi, apa kau yang akan menyerah? Apa kalian tidak mempertimbangkan perasaanku juga? Dulu Citra mati-matian meminta ku mendekatimu dan menikahi mu. Sekarang, kau dan Citra memintaku mempertahankan salah satu dari kalian. Apa kalian tahu bagaimana perasaanku? Aku mencintai kalian berdua. Tapi sepertinya tidak dengan kalian." Al bangkit berdiri.


"Bang, bukan begitu." Wina merasa gamang. Ia tidak tahu harus melakukan apa.

__ADS_1


Di tempat lain, Citra pun mulai meragu untuk melanjutkan niatnya. Apakah dirinya harus bertahan, atau melepaskan. Bukan salah Al memang. Ini salahnya.


Citra kembali memikirkan semua rencananya. Ia ingin bercerai bukan karena permintaan Widya. Tetapi murni karena keinginannya yang di balut rasa cemburu.


Sementara Wina, ia ingin meninggalkan Al karena sesungguhnya, harinya tidak bisa menerima poligami ini. Ia kalah pada rasa cintanya untuk Al saat itu. Seiring berjalannya waktu, hatinya tidak bisa mengikhlaskan pernikahan seperti ini. Salahkah dirinya yang ingin menyerah?


Al kembali merasa terluka. Ia menatap langit malam yang gelap. Sungguh ironi hidupnya ini. Entah takdir seperti apa yang harus di jalaninya.


*****


Keesokkan harinya, Al meminta Citra dan Wina menemuinya di apartemen yang biasa ia gunakan untuk bekerja jika akan lembur. Wina dan Citra tiba bersamaan. Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi.


"Sudah datang? Ayo, masuk!" ajak Al.


Wina dan Citra duduk bersebrangan dengan Al. Kemudian, Al menyerahkan selembar kertas yang bertuliskan PERJANJIAN. Serempak, kedua wanita itu mengambilnya dan membacanya.


Selesai membaca, keduanya meletakkan kertas itu dengan mata melotot tajam pada Al. Al hanya menatap datar keduanya.


"Tanda tangani jika kalian setuju."


Dengan napas memburu, Wina berdiri dan menampar keras pipi Al. Begitupun dengan Citra. Al hanya mengelus pipinya dan menyeringai.


*****


Perjanjian apa bang? wah si bambang nih bangunin singa yang lagi tidur aja.


Hai genks. 3 bab loh. jangan lupa like, komen dan votenya yah. bunga kalian ku terima kok. aku butuh kopi juga nih buat penyemangat...


hehe canda genks.


Oke. mulai besok, aku up 1 bab perhari ya. Soalnya, aku lagi ngejar naskah lain nih. Doakan naskah itu cepat kelar ya. biar aku bisa up minimal 2 bab sehari.


ini rekomen berikut



Sampai jumpa di bab selanjutnya....


Sayang kalian semua😘😘😘💖💖💗💗

__ADS_1


__ADS_2