Berbagi Cinta: Aku, Madu Sahabatku

Berbagi Cinta: Aku, Madu Sahabatku
Bab 49


__ADS_3

Wina mendekati ranjang pasien, dimana Al duduk dengan tatapan kosong. Wina iba melihat kondisi Al yang seperti ini.


Kembali Wina menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Ia menarik senyumnya.


"Bang, ini aku, Wina," ucap Wina.


Al mulai bereaksi. Ia menoleh dan menatap Wina. Ekspresi nya belum berubah. Masih terlihat datar. Wina menanti selama beberapa menit. Namun, Al tak jua bersuara.


"Abang, ingat aku?" tanya Wina. Al masih diam tak menjawab.


"Aku Wina."


"Wina?" Wina mengangguk.


"Kau masih mau menemui ku?" Al meneteskan air matanya.


Wina tertegun. Sejak kapan dirinya tidak ingin bertemu dengan pria itu? Alisnya terangkat. Wina akhirnya menganggukkan kepala.


"Aku merindukanmu," lirihnya.


Wina hanya tersenyum. Ia tak ingin Al terus mengharapkannya. Namun, wina belum memikirkan caranya.


"Apa kau tidak merindukanku?" tanya Al.


Wina tetap diam. Tidak mungkin dia menjawab 'tidak'. Lebih tidak mungkin lagi, jika dirinya harus menjawab 'iya'. Meski jauh di lubuk hatinya yang terdalam, Wina masih merindukan Al berada di sisinya.


Wina menyadari, Al teringat akan dirinya, hanya karena rasa bersalah pria itu padanya. Wina yakin, Al tidak benar-benar mencintainya, seperti dia mencintai Citra.


"Ternyata kau memang tidak merindukanku. Sejak tadi kau diam." Al menundukkan kepalanya. Wajahnya, berubah sendu.


Citra yang berada di sana, meneteskan air mata. Sudah dua hari Citra mencoba membuat Al bicara. Namun, semua terasa sia-sia. Al bahkan tak pernah menjawab semua ocehannya.


Hati Citra kembali sakit. Ia ingin keluar dari ruangan itu. Namun, tubuhnya tak mampu ia gerakkan sedikitpun. Matanya bahkan tak mampu beralih dari pemandangan dihadapannya.


"Bang, kita harus selesaikan masalah kita."


Citra baru akan melangkah mendekati Wina dan Al. Citra ingin melarang Wina mengatakan hal apapun mengenai hubungan mereka yang harus berakhir di meja hijau.

__ADS_1


Widya lebih dulu menahannya. Ia berbisik di telinga Citra. Citra terkejut mendengar penuturan mertuanya itu.


Biarkan Wina yang mengatasinya. Kau duduk saja di sini. Lihat saja dengan baik.


Citra pun memilih diam dan mendengarkan semua hal yang akan Wina katakan pada Al. Apapun itu.


"Kita punya masalah? Masalah apa? Aku tidak bisa mengingatnya," ucap Al. Wajah Al berubah panik.


"Hem," deham Wina.


"Apa aku yang menyebabkan masalah itu? Maaf, maafkan aku. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Tapi, aku bersedia minta maaf lebih dulu. Aku tidak ingin kau meninggalkanku." Al memeluk lengan Wina.


"Bukan cuma Abang, yang salah. Aku juga." Air mata Wina menetes tak tertahan. Wina merasa iba melihat kondisi Al.


Al terdiam. Ia tidak tahu harus berkata apa. Ia mencoba memikirkan kesalahan apa yang telah diperbuatnya. Melihat Wina menangis, membuat hati Al terasa perih.


"Jangan menangis! Maafkanlah keb*****n ku." Al menarik Wina ke dalam pelukannya.


Wina mendorong dada mantan suaminya itu. Ia tak ingin ada lagi kontak fisik diantara mereka, hingga membuat Al kembali salah paham.


"Pasti aku sudah melakukan kesalahan besar padamu kan? Kau bahkan tidak lagi mau ku peluk."


"Bang, dengarkan aku." Wina menangkup wajah Al dan membuat Al menatapnya.


Al berhenti meracau dan menatap manik coklat milik Wina begitupun sebaliknya. Mereka saling menyelami hati melalui tatapan mata.


"Bang, kita tidak akan pernah mungkin bersama lagi. Ku mohon lepas aku. Bukan hanya secara fisik. Tapi batin mu juga harus bisa melepaskan aku. Kau, belum benar-benar melepas ku hingga kondisimu seperti ini. Bukankah sudah ku katakan, aku tidak akan mengambil Darren dari mu dan Citra? Jika kau seperti ini, maka aku harus mengambil hak asuh Darren dari mu. Karena kau, tidak akan mungkin bisa merawatnya, jika kondisi mental dan pikiran mu terganggu," tutur Wina.


Al terdiam. Entah karena dia mengerti atau tidak, raut wajahnya mulai berubah. Wina melepaskan kedua tangannya dari wajah Al. Ia mengambil langkah mundur. Hatinya mengatakan, Al akan melakukan sesuatu yang buruk.


Apa yang dirasakannya memang benar. Raut wajah Al kini terlihat garang. Matanya menyorot tajam. Wina semakin melangkah mundur.


"Aku ingat sekarang, kau lah yang meninggalkan aku. Bukan aku! Kau yang meninggalkan Darren sendiri. Sekarang, kau menginginkan Darren ? Kau pikir bisa merebut Darren dari ku? Aku ayahnya. Kau memang ibu yang mengandung dan melahirkannya. Tapi apa kau yang membesarkannya? Tidak! Bukan kau, tapi Citra. Kau, hanyalah wanita yang melahirkannya."


Citra tertegun mendengar ucapan Al. Rupanya, pria itu mulai mengingat namanya. Citra pun mendekati Wina yang kini sudah berdiri menjauh dari al. Widya tak mampu menghalanginya.


"Dalam hal ini, aku pun bersalah," ucap Citra.

__ADS_1


Al menoleh pada Citra. Matanya berubah lembut pada wanita itu.


"Sayang," panggil Al pada Citra.


Citra meneteskan air mata mendengar Al memanggilnya mesra. Ia mendekati Al dan memeluknya. Memeluk pria yang telah bersama dengannya lebih dari tujuh tahun itu.


"Mas, sudah mengingat aku lagi?" tanyanya disela isak tangisnya.


"Maafkan mas ya," ucap Al.


Al mengusap pipi Citra. Membuat citra semakin terharu. Wina yang berada di sana, kembali harus menekan dalam rasa sesak di dadanya. Mengingatkan kembali posisinya saat ini.


Wina memutuskan keluar dari ruangan itu. Namun, ucapan Al menahannya.


"Terimakasih karena kau pernah hadir dalam hidupku. Aku sudah mengingat semuanya. Ketakutan ku adalah Darren. Jika aku boleh jujur, aku sangat takut kau akan mengambil Darren dariku. Aku tidak akan sanggup hidup tanpa Darren. Darren adalah segalanya bagiku."


Wina terdiam. Ia kembali melangkah meninggalkan ruangan itu tanpa sepatah kata pun. Tanpa Wina sadari, Citra mengejarnya.


"Wina," panggil Citra.


Wina berhenti. Hatinya merasa amat lelah saat ini. Ia lelah menjalani semua drama kehidupan diantara Al dan Citra.


"Wina, terimakasih sudah membuat Mas Al kembali. Terimakasih karena kau sudah menjaga Darren...." ucapan Citra terhenti, karena tatapan Wina yang menusuknya.


"Darren itu putraku. Aku, tidak butuh rasa terimakasih dari mu. Jika aku mau, aku bisa saja merebut Darren dari kalian. Tapi, aku tidak membuat Darren seakan seperti barang taruhan yang harus ku perebutkan dengan kalian. Aku akan biarkan Darren memilih sendiri. Aku tidak akan mempengaruhinya sedikit pun. Mari kita lihat, siapa yang akan Darren pilih."


Wina segera berlalu meninggalkan Citra. Hubungan keduanya yang selalu baik, kini mulai terpecah. Citra merasa semakin bersalah atas apa yang terjadi. Terlebih, saat melihat tatapan Wina yang tajam. Namun, sarat dengan luka.


Aku tahu, salahku sudah menghadirkan dirimu dalam rumah tanggaku. Bahkan, jika kau menginginkan putramu kembali, aku tak punya hak untuk melarangnya.


Citra hanya bisa menangis saat ia mengingat semua kesalahannya. Tak ada lagi hal yang bisa ia lakukan untuk mengembalikan hubungan persahabatan mereka.


*****


Sore genks... baru sempat up. aku lelah sekali. seharian ini aku tidur untuk mengembalikan kondisi tubuh yang terasa lelah. terimakasih buat kalian yang masih setia di novel ku. maaf karena belum bisa membalas atau sekedar memberi like di komen kalian.


terimakasih juga yang sudah mengirimkan hadiah atau vote dan lain sebagainya... bahkan ada yang beri hati dengan koin... ah aku terharu... terimakasih banyak ku ucapkan pada kalian....

__ADS_1


sampai jumpa di bab selanjutnya....


lope lope yang banyak untuk kalianπŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜β€οΈβ€οΈβ€οΈπŸ’—πŸ’—πŸ’—


__ADS_2