Berbagi Cinta: Aku, Madu Sahabatku

Berbagi Cinta: Aku, Madu Sahabatku
Bab 34


__ADS_3

Satu minggu kemudian


Kondisi Samudra kini sudah jauh lebih baik. Ia bahkan sudah diperbolehkan pulang. Karena dirinya yang baru saja menjalani operasi butuh pengawasan, ia memutuskan kembali ke rumah orang tuanya saat ini.


Ia baru saja menginjakkan kakinya di ambang pintu saat melihat ibunya berdiri dengan bertolak pinggang di sana. Wajahnya terlihat garang dan siap menelan Samudra hidup-hidup.


Samudra meneguk salivanya sulit saat ini. Ia tersenyum lebar pada ibunya. Namun, ibunya justru menaikkan kedua alisnya tanpa mengubah raut wajahnya.


Jika saja ia dalam kondisi fit, sudah pasti Samudra akan memeluk ibunya ini untuk meredakan amarahnya. Samudra hanya menundukkan kepalanya.


"Bunda kira kamu sudah lupa jalan pulang? Sudahlah kamu tidak kasih kabar, ponselmu dimatikan, di rumah sakit pun tidak ada. Kamu mau lihat bunda mati penasaran iya?" pekik ibu Samudra.


"Bunda kok ngomongnya begitu sih? Samudra kan kerja, Bun," protes Samudra.


Silvia, nama ibu kandung Samudra. Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik. Seorang single parent yang berhasil mengantarkan anaknya ke gerbang kesuksesan. Hanya satu yang kurang dari putranya ini, pasangan.


"Kerja aja dibanyakin. Sampai kapan kamu seperti ini. Cari istri Samudra. Bunda bosen deh kasih tahu kamu," ucap Silvia.


Ia mendekati putranya dan mencubit perut sixpack miliknya. Samudra menggeram pelan merasakan nyeri pada area perutnya. Silvia terkejut. Belum lagi, perubahan raut wajah Sam yang terlihat benar-benar menahan sakit.


Tanpa diduga, ia mengikuti nalurinya untuk membuka kancing kemeja putranya. Samudra belum sempat mengelak saat Silvia melihat luka jahitan di sana. Matanya menyorot tajam pada Samudra. Ia menuntun putranya itu untuk duduk di sofa. Kemudian, ia membuatkan air hangat untuk samudra minum.


"Sekarang, jelaskan pada Bunda apa yang terjadi," tuntut Silvia.


Samudra pun akhirnya menceritakan semuanya. Alasannya mematikan ponsel dan menghilang tanpa kabar pada bundanya. Silvia tersenyum bangga pada putranya itu.


"Bunda bangga sama kamu, Nak," ucap Silvia tulus.


Samudra pun mendapat perawatan dari sang ibu dengan baik. "Nanti, setelah kondisi kamu benar-benar pulih, bawa Bunda bertemu dia ya," pinta Silvia.


"Mau ngapain?" tanyanya.


"Ya, bunda mau lihat saja perempuan yang bisa menarik simpati kamu," ujar Silvia.


Samudra menghela napas kasar mendengar hal itu.


*****


Di rumah sakit.


Fika melangkah mendekati ranjang Wina. Ia membawakan kotak bekal untuk Wina makan. Kemudian, menarik kursi dan duduk di samping Wina.


"Perut kakak tuh sudah besar. Kenapa harus repot-repot sih?" protes Wina.

__ADS_1


"Baru tujuh bulan. Gak apa-apa," jawab Fika santai.


"Wina benar, Sayang." sebuah suara terdengar dari belakang Fika.


Fika menoleh dan tersenyum lebar pada suaminya itu. Dennis menghampirinya dan merangkul bahunya. Mencium keningnya dengan lembut.


"Bagaimana kondisi kamu?" tanya Dennis pada Wina.


"Aku baik-baik saja kak," jawab Wina tersenyum.


Terdengar suara pintu yang diketuk. Dennis menyuruh si pengeruk masuk. Terlihat seorang anak berlari ke arah mereka dengan senyum polosnya. Mata Wina, hanya terfokus pada anak itu.


"Mama," teriak anak itu.


Sebuah senyum tercetak di wajah Wina. Bahkan air matanya ikut menetes mendengar sebutan itu di sematkan untuknya oleh Darren. Dennis mengangkat tubuh Darren dan didudukkan di samping Wina.


"Mama sudah sembuh ya? Berarti mama bisa main bareng Darren kan?" tanya Darren penuh semangat. Wina mengangguk.


"Darren, mama Wina masih harus istirahat dulu, Sayang," ucap Citra yang sudah ada di sana.


Wina mengalihkan pandangannya dari Darren dan melihat keberadaan Al dan Citra. Wajah Al terlihat menyimpan kerinduan mendalam padanya.


"Terimakasih, sudah membawa Darren menemui ku. Bahkan, mengajarkannya memanggilku mama," ucap Wina.


"Ini." Al menyerahkan sebuah amplop coklat pada Wina.


Wina mengulurkan tangannya dan mengambil amplop berlogokan pengadilan agama itu. Tangannya gemetar hebat melihat amplop itu. Ia membukanya perlahan. Hatinya tiba-tiba terasa sakit melihat gugatan cerai yang sudah dilayangkan Al padanya. Namun, sekuat tenaga ia menahannya dan tersenyum getir.


"Terimakasih, Abang mau melepas aku," ucapnya. Meskipun itu atas permintaan Wina sendiri, nyatanya hati Wina tetap terasa sangat sakit. Al hanya mengangguk dan diam.


Cukup lama Darren bermain dengan Wina di sana. Hingga mereka berpamitan, Al tak lagi bicara pada Wina. Hanya saja, Wina seringkali menangkap tatapan Al yang begitu merindukannya.


Dennis yang sejak tadi mengerti bagaimana perasaan sang adik, hanya bisa memeluknya.


*****


Tiga hari kemudian


Samudra kini sudah kembali beraktifitas dengan normal. Wina pun akan segera diperbolehkan pulang setelah pemeriksaan hari ini, menyatakan kondisi ya yang baik.


Pagi tadi, Silvia dengan keras kepalanya meminta pada Samudra untuk membawanya menemui Wina. Samudra pun akhirnya membawa ibunya ke tempatnya bekerja, sekaligus tempat Wina di rawat.


Setelah mengenakan pakaian kebesarannya, Samudra melangkah bersama ibunya menuju ruang rawat Wina. Ia mengetuk pintu. Terdengar suara Dennis yang menyuruhnya masuk.

__ADS_1


Mereka masuk ke dalam. Mata Silvia berbinar melihat Wina. Senyumnya semakin merekah saat melihat Dennis. Dennis bangkit berdiri dan mendekati ibu sahabatnya itu.


"Bun," sapa Dennis seraya mencium punggung tangan wanita paruh baya tersebut.


"Kamu sehat, Den?" tanya Silvia.


"Sehat, Bun," jawab Dennis.


"Kenalkan. Ini adik Dennis, namanya Wina," ucap Dennis.


"Adikmu cantik sekali," puji Silvia.


Wajah Wina merona mendengar pujian dari Silvia padanya. Hingga menambah kecantikannya berkali lipat. Hal itu tak lepas dari pandangan Samudra. Sejenak, pria berwajah datar dihadapan orang lain itu tertegun melihatnya.


Cantik, pujinya dalam hati.


"Terimakasih, Tante," ucap Wina.


"Jangan panggil Tante, Sayang. Panggil saja bunda sama seperti Dennis dan Samudra," ucap Silvia seraya menggenggam jemari Wina.


Silvia merasa sayang pada Wina. Ia sendiri tidak mengerti kenapa begitu cepat ia bisa merasa seperti itu.


"Kamu, mau tidak menjadi menantu bunda? Menikah dengan anak bunda?" tanya Silvia.


Samudra menatap ibunya horor. "Bunda," pekik Samudra tertahan.


"Kenapa? Kalau nunggu kamu ketemu yang cocok, sampai satu abad pun gak akan ketemu. Karena tolak ukur kamu pada mantanmu itu," protes Silvia.


Dalam hati Samudra menyesak sudah membawa ibunya menemui Wina. Ia seharusnya mengingat bagaimana tingkah ibunya. Mengingat sudah ratusan kali ibunya melamar seorang gadis tanpa persetujuannya dan berakhir ditolaknya.


"Sam, dengar bunda. Kali ini bunda yakin, Wina adalah wanita yang tepat untuk mendampingi kamu. Percaya sama bunda, Nak," ucap Silvia yakin.


"Maaf, Tante. Saya sudah menikah," ucap Wina.


Seketika, hati Silvia yang tadinya begitu yakin, langsung terjun bebas. Samudra membuang pandangannya dari sang ibu. Terlihat raut wajah kecewa Silvia. Wina meringis tak enak. Namun, ia harus melakukan ini. Karena tidak mudah baginya membunuh rasa cinta yang sudah ada untuk Al.


*****


Yeay 2 bab.... thank you genks untuk dukungan kalian semua....


sampai jumpa di bab selanjutnya ...


lope lope buat kalianπŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ’—πŸ’—πŸ’—β€οΈβ€οΈβ€οΈ

__ADS_1


__ADS_2