
Perusahaan tempat wina bekerja akan mengadakan family gathering. Jika pada tahun sebelumnya Wina memilih tidak mengikutinya, tahun ini wina justru ingin mengikuti acara itu. Dia tidak berencana membawa Al ikut serta. Menurutnya, ia butuh refreshing dan menjauh dari Al untuk beberapa waktu. Tentunya itu berat bagi Al.
Namun, pekerjaan Al pun tak bisa pria itu abaikan. Dengan berat hati, Al pun mengizinkan Wina menikmati liburan itu sendiri. Wina mengecup pipi Al. Beruntung Wina belum memberitahu Al tentang kehamilannya. Begitupun citra yang menepati janjinya. Hingga sikap Al, belum terlihat posesif padanya.
Wina pun menikmati perjalanannya. Meski ia didera oleh morning sickness, Wina tetap bersemangat.
Di parkiran rumah sakit, Citra baru saja akan pergi saat Dennis menghampirinya. Ya, Dennis akhirnya memilih menemui Citra langsung. Citra yang melihat Dennis pun kembali menutup pintu mobilnya.
"Boleh saya bicara dengan anda?" tanyanya. Matanya menatap nyalang pada Dennis.
Dennis menatap datar pada Citra. "Silahkan."
"Kenapa anda mendekati Wina? Bukankah Anda sudah tahu, jika Wina sudah menikah dan akan memiliki anak?" tanya Citra.
"Ya, saya tahu."
"Lalu?" Dennis tersenyum. Namun, raut wajahnya terlihat marah.
Pria itu menekan kuat amarahnya. Jika bukan karena mengingat Wina, mungkin pria itu pun akan menghajar wanita di depannya ini.
"Saya hanya tidak suka Wina terus kalian sakiti." Dennis memilih berbalik dan pergi. Ia belum ingin membongkar siapa dirinya pada Citra. Pada Wina pun, ia tak memberitahunya.
Citra merasa bingung. Menyakitinya? Aku? Siapa dia sebenarnya? Kenapa dia bisa bicara seperti itu?
*****
Keesokan harinya, Al terbangun akibat rasa mual yang begitu hebat. Ia berlari ke arah kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya. Citra mengernyit mendapati Al masih mengalami mual muntah ini. Sepertinya, Al lebih mencintai Wina daripada dirinya. Hingga apa yang Wina rasakan pun, turut Al rasakan. Wina pun masih mengalami hal yang sama.
Mereka mengalami morning sicknees bersamaan.
"Mas," panggil Citra.
"Mad, gak apa-apa. Kamu tenang saja." Al tersenyum pada Citra.
"Apa saat mas bersama Wina, mas juga merasakan mual dan muntah seperti ini?" tanya Citra penuh selidik.
"Tidak. Itu juga yang membuat mas heran. Kenapa, saat mas bersama mu, mas pasti akan kehilangan nafsu makan dan mengalami mual juga muntah. Tapi, saat bersama Wina, mas tidak merasakan apa pun. Justru, nafsu makan mas meningkat," tutur Al yang merasa sangat heran dengan kondisinya.
"Apa Wina mengatakan sesuatu?" tanya Citra lagi.
__ADS_1
Al menggeleng. Ia yakin, jika Wina tidak mengatakan apapun selain meminta izin kemarin.
"Tidak ada. Kemarin, dia hanya minta izin akan mengikuti family gathering dari perusahaannya. Karena mas tidak bisa ikut, Wina jadi pergi sendiri."
Citra membelalakkan matanya tak percaya. "Mas, memilih pekerjaan mas di banding istri mas sendiri?"
"Kamu kan juga istri mas, Citra? Lagi pula, minggu ini adalah waktunya mas bersama mu kan?" Al mengusap wajahnya. Tidakkah Citra menyadarinya?
"Apa mas tahu, jika Wina tengah hamil?" Al menoleh cepat pada Citra dan membelalakkan matanya.
"Ha-hamil?" Citra mengangguk.
"Wina tidak memberitahuku masalah ini. Sejak kapan?"
"Sekarang sudah memasuki minggu ke delapan. Itu sebabnya mas mengalami mual muntah dan tidak nafsu makan jika jauh dari Wina. Begitupun dengan Wina. Aku sudah memperhatikannya selama ini." Al memegang bahu Citra.
"Kenapa kau baru memberitahu mas sekarang?" tanyanya penuh penekanan.
"Karena Wina bilang, dia sendiri yang akan memberitahu nya padamu. Aku tidak tahu jika Wina justru masih diam sampai sekarang."
Al menghembuskan napasnya berat. Ia tak mengerti jalan pikiran kedua istrinya. Terlebih, ia tidak tahu alasan Wina belum mengatakan apapun tentang kehamilannya pada dirinya.
"Tidak bisa, pekerjaan Mas juga tidak bisa di tinggal saat ini. Kamu tahu kan, kalau papi belum memberi kelonggaran pada Mas?" Citra pun menghembuskan napas kasar.
"Aku saja yang menyusulnya!" seru Citra.
"Tidak. Jangan coba-coba pergi!" Al memperingatkan.
"Mas yakin, Wina akan baik-baik saja."
"Mas..." Al menatap tajam pada Citra. Pertanda jika dirinya tak ingin dibantah.
*****
Wina menelusuri pinggir pantai dengan santai. membiarkan ombak menyapa kakinya. Ia tak mengikuti rangkaian acara family gathering yang tengah berlangsung di area hotel. Wina sudah memberitahu alasannya pada panitia dan mereka pun memakluminya.
Wina benar-benar menikmati angin yang membelai tubuhnya, serta cahaya matahari yang menghangatkannya. Sungguh, ia berharap angin membisikkan sebuah jalan keluar padanya. Sayangnya, angin pun tak memberi jalan padanya.
Wina memejamkan matanya menikmati semua itu. Dita menghampirinya dan membawakan ponselnya yang sudah berdering sejak tadi. Sebelumnya, Wina memang menitipkan ponselnya pada Dita.
__ADS_1
"Bu, ponsel ibu sejak tadi berbunyi," ucapnya menyadarkan Wina.
Wina menoleh dan tersenyum. Ia mengambil ponselnya dari tangan Dita. Saat dita hendak pergi, Wina menyuruhnya menunggu. Dita pun menunggu di sampingnya.
Wina, melihat nama Al dan Citra yang memenuhi layarnya. Ia tak membuka satupun pesan yang ada di sana. Wina menekan tombol on off dan memberikan ponselnya kembali pada Dita.
"Pegang saja dulu. Aku sedang tidak ingin di ganggu. Oh iya, tolong bawakan aku segelas jus alpukat dengan sedikit madu. tidak perlu menggunakan gula ya," pinta Wina.
"Iya, Bu. Saya permisi," pamitnya. Wina mengangguk dan membiarkan Dita pergi.
*****
Dua hari kemudian, Wina baru saja tiba di rumah saat ia mendapati Al dan Citra sedang menunggunya. Al segera berdiri begitu melihat Wina kembali. Ia menghampiri Wina dan memeluknya erat. Citra tersenyum, meski lagi-lagi hatinya terasa perih.
Jangan menangis Citra, jangan bersedih. Ini pilihanmu. Maka, nikmati saja.
"Kamu baik-baik saja kan? Kenapa ponselmu tidak bisa Abang hubungi? Kenapa kamu tidak memberitahu Abang kabar itu?" Al terus bertanya tanpa jeda.
Wina tidak terkejut ketika Al mempertanyakan banyak hal. Ia tahu pasti, jika Citra pasti sudah memberitahu Al tentang kehamilannya. Wina masih setia dalam diamnya.
"Dia baik-baik saja kan? tanya Al seraya mengusap perut rata Wina.
Wina menangkap wajah terluka Citra. Hatinya pun turut terluka. Wina kembali menatap Al dan tersenyum.
"Dia baik-baik saja, Bang," jawabnya.
"Syukurlah. Abang sangat khawatir." Al menghela napas lega saat mendengar jawaban Al.
Citra pun menghampiri mereka. "Maaf, aku jadi memberitahu Mas Al tentang kehamilan mu," ucapnya merasa tak enak hati.
Wina menggeleng. Ia meraih tangan Citra dan menggenggamnya. "Tidak apa. Aku juga lupa memberitahu, Bang Al kemarin."
Mereka pun memutuskan makan siang bersama di rumah itu. Wina dan Citra, memasak bersama. Citra memberitahu Wina semua makanan kesukaan Al. Namun, rupanya Wina sudah mengetahui maksud Citra lebih dulu.
"Jangan pernah berpikiran untuk bercerai dari Abang. Atau aku akan pergi membawa bayi ini jauh dari kalian." Wina sengaja mengancam Citra.
*****
2 bab genks.... lelah pikiranku menyelesaikan konflik mereka. Siapa aja nih pendukung Wina dan bang Al? mana suara pendukung Citra dan mas Al?
__ADS_1
Sayang kalian semua readers ku😘😘😘💖💖💖💖💖💖💗💗