Berbagi Cinta: Aku, Madu Sahabatku

Berbagi Cinta: Aku, Madu Sahabatku
Bab 8


__ADS_3

Sudah lebih dari dua hari, Al belum mendapatkan kabar keberadaan Wina. Ia terus mencoba menghubungi istrinya itu. Tak bisa ia pungkiri, jika dirinya turut khawatir dengan kondisi Wina saat ini.


Belum lagi, kondisi Citra turut menurun. Citra mulai menutup dirinya dari Al, sejak saat itu. Al menyandarkan kepalanya di sandaran kursi kebesarannya. Perutnya terasa mual, karena beberapa hari ini, makannya pun tak teratur. Tidak hanya itu, tidurnya pun tak tenang.


Setiap kali ia memejamkan mata, telinganya seakan mendengar suara tangisan Wina. Terkadang, berganti dengan tangis Citra.


Al teringat dengan tempat Wina bekerja. Ia belum mencoba mencarinya kesana. Segera, Al menyambar kunci mobil serta ponsel miliknya yang ada di atas meja.


Dengan langkah lebar, Al segera keluar dari gedung tempatnya bekerja. Ia melajukan mobil yang dikendarainya dengan kecepatan tinggi.


"Selamat pagi, Mbak," sapa Al pada resepsionis yang tengah bertugas, begitu kakinya menginjak lobby.


"Selamat pagi, Pak. Ada yang bisa saya bantu?" sapa resepsionis itu kembali.


"Bisa saya bertemu, Ibu Wina bagian HRD?" tanyanya lagi.


"Apa, Bapak sudah membuat janji?"


"Belum," jawabnya.


"Tunggu sebentar ya, Pak," wanita itu segera mengangkat gagang telepon. Tak lama kemudian, "Maaf, Pak. Saat ini Ibu Wina tidak berada di tempat. Beliau, sedang cuti." Al terkejut mendengar hal itu.


"Cuti?"


"Benar, Pak."


"Berapa lama?" Al kembali bertanya.


"Saya kurang tahu, Pak. Jika memang sangat penting, silahkan hubungi beliau saja langsung."


Al mengucapkan terimakasih dan meninggalkan tempat itu. Ia tak menyangka, jika Wina benar-benar menghindari untuk tidak bertemu dengannya.


Al tak lagi berkonsentrasi melakukan pekerjaannya. Ia melajukan mobilnya ke kediamannya bersama Citra.


*****


"Sayang," tak ada sahutan dari Citra.


"Apa dia masih marah?" gumamnya.


Al melangkahkan kakinya menuju kamar utama di rumah itu. Pintu itu terkunci dari dalam. Al segera membuka laci lemari yang ada di dekat kamar. Ia mencari kunci cadangan, yang selalu diletakkan di sana.

__ADS_1


Setelah beberapa menit berlalu, Al mendapatkan kunci yang dicarinya. Al membuka pintu dan masuk ke dalam. Terlihat, Citra tengah duduk melamun di balkon kamarnya.


Perlahan, Al menghampiri Citra dan memeluk istrinya itu. Ia merindukan aroma lembut yang menguar dari tubuh Citra. Al semakin menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Citra.


"Wina, sudah ketemu?" lirihnya.


Al menggeleng. "Apa, kau tahu tempat yang akan dikunjungi Wina jika sedang merasa sedih?


"Iya. Biar aku yang menemuinya. Aku tidak ingin masalah kita semakin berlarut." Al membalik tubuh Citra agar mereka saling berhadapan.


Al menatap bola mata yang selalu membuatnya jatuh cinta sejak dulu. "Apa kau yakin?" tanya Al.


Citra tersenyum dan mengangguk. Citra mengangkat tangannya dan mengusap lingkaran hitam yang bersarang di bawah mata suaminya itu.


"Mas, pasti lelah. Istirahatlah. Aku janji, aku akan membujuk Wina kembali. Jika Wina menginginkanku untuk mundur—" Al menghentikan ucapan Citra dengan menaruh jari telunjuknya di bibir istrinya itu.


"Jangan bicara seperti itu. Sampai kapanpun, aku tidak akan melepaskan mu." Al menarik Citra kedalam pelukannya.


Setetes air mata jatuh, membuat Citra segera menghapusnya.


Jika aku tahu hal ini terjadi, aku tidak akan membiarkanmu memasuki kehidupanku, Mas, ucapnya dalam hati.


*****


Citra bahkan mengabaikan perutnya yang meronta meminta di isi. Dalam benaknya, ia ingin menyelesaikan masalah ini secepatnya.


Tak terasa, Citra kini sudah menginjakkan kakinya di dalam terminal bus. Citra, segera mengedarkan pandangannya mengelilingi tempat itu. Tidak banyak perubahan yang terjadi pada tempat itu.


Citra menghentikan sebuah taksi dan meminta diantarkan ke suatu tempat. Hanya dalam waktu tiga puluh menit, kini Citra berdiri di depan rumah yang tampak asri itu.


*****


Wina tengah menikmati pemandangan di hadapannya saat ini. Setelah kemarin dirinya di perbolehkan pulang, Wina segera mengajukan cuti pada atasannya.


Tanpa kembali ke rumah yang di tempati Al dan dirinya, Wina segera meninggalkan ibukota. Sialnya, dokter yang menemukan dan merawatnya, mengikutinya.


Wina menghampiri dokter itu. "Dokter Dennis kenapa mengikuti saya?" tanyanya.


"Saya hanya ingin memastikan kamu kembali dengan selamat," ucapnya datar.


"Tidak apa dok. Saya pasti akan baik-baik saja. Dokter kembali saja." Wina segera berbalik dan hendak menghentikan taksi.

__ADS_1


Dennis lebih dulu menggenggam tangannya. "Biar saya antar. Saya, mohon." pinta Dennis bersungguh sungguh.


Pada akhirnya, Wina mengalah. Di sinilah ia saat ini. Bersama seorang dokter yang entah mengapa, membuatnya merasa nyaman. Wina bahkan menyiapkan makan malam untuk mereka.


*****


Matahari bersinar cerah secerah hati Wina. Wina bisa sedikit bernafas lega. Ia tak ingin mengacaukan rumah tangga sahabatnya, hingga memilih kembali ke kampung halamannya.


Suara ketukan pintu, mengalihkan pandangan Wina. Wina segera berdiri dari duduknya.


Betapa terkejutnya dia mendapati citra berdiri di depannya. Tanpa aba-aba, Citra memeluk Wina. Tangis Citra meledak ketika merengkuh sahabatnya itu.


"Win, kumohon kembalilah pada, Mas Al. Dia sangat merindukanmu," tutur Citra.


Wina memutar bola matanya kesal. Merindukanku, kau bilang? Ha....


"Sudahlah Citra. Kau tidak perlu membohongiku dengan cara seperti ini," ucapan Wina begitu menusuk hingga ke ulu hati Citra.


Perih tak tertahan kini Citra rasakan. Tak bisakah kau mempercayaiku lagi?


"Maaf, karena aku harus membawamu masuk dalam drama rumah tanggaku. Aku tidak akan memaksamu untuk mempercayaiku. Katakan saja, apa yang kau inginkan?"


Wina menatap dalam mata Citra. Ia tidak tahu, apa yang sudah dialami sahabatnya ini, hingga ia rela membiarkan suaminya menikah lagi.


"Bisakah kau, melepas bang Al untukku?" ucap Wina.


Bagai tersambar petir, hati Citra terasa nyeri mendengar permintaan sahabatnya. Memang salahnya yang menghadirkan Wina di tengah keharmonisan keluarganya. Ia juga yang mendorong Al untuk terus bersama Wina.


Meski sudah mempersiapkan diri dengan baik, nyatanya tak membuat Citra tegar. Saat ini, air matanya sudah menganak sungai di pipinya.


Citra sadar, tidak ada seorang pun wanita di dunia ini, yang rela berbagi dengan wanita lain. Citra belum menjawab permintaan Wina.


"Bagaimana? Mudahkan?" Citra bergeming.


Sementara Wina, berusaha keras menyembunyikan rasa ibanya yang menyeruak hingga ke permukaan.


Tak kunjung mendapatkan jawaban, ia segera mendekati Citra. "Aku, akan beri kau waktu hingga malam nanti. Pikirkanlah baik-baik." Wina menutup pintu.


Tubuh Wina merosot setelah menutup pintu yang kini menjadi sandarannya. Air mata yang tadi di tahannya tak lagi terbendung. Wina segera menuju kamarnya dan menumpahkan air mata itu.


Sungguh, hati Wina ikut sakit melihat sahabatnya seperti itu. Ia tak berniat mengucapkan hal itu tadi. Namun, entah mengapa justru kata itu yang terlontar.

__ADS_1


__ADS_2