
Hari berganti hari. Mas Al terus membujukku untuk memberitahukan kebenaran pada Wina. Ia mengatakan, jika kami harus segera memberitahu Wina sebelum Wina mengetahuinya sendiri. Lebih parahnya lagi, jika ada orang lain yang memberitahunya.
Aku pun mulai memikirkan kemungkinan terburuk, yang akan terjadi. Mas Al semakin mendesak ku, kala melihat Wina terus mempertanyakan tentang diriku. Mas Al terus membujukku untuk segera membongkar identitas diriku di depan Wina.
Aku pun mulai mempersiapkan hati menerima semua konsekuensi yang harus ku tanggung. Sekalipun Wina akan membenciku, aku akan menerimanya.
Kamipun bertemu. Ekspresi yang tertangkap olehku adalah keterkejutannya melihat Mas Al ada di sisiku. Terlebih, saat melihat Mas Al menggenggam jemari ku. Kemudian, wajahnya berubah menjadi marah.
Aku tahu, inilah yang akan terjadi. Namun, aku tetap meyakini, jika Wina akan mengerti diriku. Sayangnya, harapan tinggallah harapan. Wina pergi meninggalkan kami, dengan amarah yang memenuhi hatinya.
Malam itu, aku dan Mas Al sengaja menunggu Wina di rumah yang mereka tempati. Wina tak jua kembali hingga matahari terbit. Entah sudah berapa kali aku menghubunginya. Namun, tak juga tersambung. Kami pun yakin, jika Wina pasti pergi meninggalkan rumah.
Kehadiran ibu mertuaku semakin membuat mental ku down. Ia begitu marah saat mengetahui kepergian Wina. Ada rasa iri yang menyelimuti diriku. Wina, dengan mudah mendapatkan hatinya. Sementara aku, aku yang sudah mencoba entah berapa kali pun, tak pernah mampu membuatnya menyayangiku. Mas Al kembali memelukku.
Aku mulai menutup diriku. Aku tak ingin bertemu dengan Mas Al. Karena aku tak bisa melihatnya bersedih.
Keesokkan harinya, Mas Al datang ke tempat Wina bekerja. Setelah bertanya pada resepsionis, ia menemukan jawabannya. Wina sudah mengajukan cuti dadakan. Melihat Mas Al yang mengkhawatirkan Wina hingga membuat lingkaran hitam di matanya, bahkan tubuhnya yang lelah, membuat hatiku terasa perih tak tertahan. Sebagian hatiku merasa tak rela, jika Mas Al mulai berpaling. Lagi-lagi, aku mengatakan pada diriku, untuk tidak cemburu. Karena ini pun adalah permintaanku.
Mas Al pun meminta ku untuk mengingat lokasi yang mungkin Wina datangi, disaat seperti ini. Aku teringat akan tempat kami di besarkan. Rumah almarhum orang tua Wina.
Aku pun pergi ke sana sendiri. Sebenarnya, Mas Al begitu ingin ikut ke sana. Namun aku menolaknya dengan berbagai alasan. Mas Al pun membiarkan aku pergi sendiri.
__ADS_1
Aku berhasil menemukannya. Aku mencoba bicara padanya. Namun, setiap kata yang meluncur dari mulutnya membuat hatiku sangat sakit. Jika aku harus melepas suamiku, untuk apa aku menghadirkan madu dalam pernikahanku? Aku terdiam cukup lama di sana. Ia meminta aku memberikan jawaban padanya makam itu juga.
Aku yang tak mampu memberikan jawaban, memilih meninggalkan tempat itu dan pulang. Aku menangis dalam pelukan Mas Al. Semua ucapan Wina ku beritahukan padanya. Mas Al terus memelukku dan mengecup kepalaku.
Keesokkan harinya, Mas Al menghubungiku dan memintaku datang ke rumah yang mereka tempati. Dia mengatakan, jika Wina sudah kembali. Aku bergegas pergi ke sana. Baru saja kakiku menginjak halaman rumah itu, aku mendengar semua ucapan antara Wina dan Mas Al.
Wina yang akan melepaskan Mas Al. Ia tak ingin menyakitiku. Pernyataan Mas Al padanya, membuat hatiku sakit tak tertahan. Mas Al sudah mulai mencintai Wina. Cintanya kini mulai terbagi. Aku menguatkan hatiku. Aku melangkah masuk dan mengatakan hal yang sebaliknya dari yang hatiku rasakan.
Kami pun berdamai. Ide Mas Al untuk kami tinggal bersama, semakin membuat hatiku sakit. Namun, setelah beberapa hari hal itu tak terjadi. Mas Al bilang, Wina tidak ingin menyakitiku lebih lagi dengan hal itu.
Melihat Mas Al yang mulai mendengarkan ucapan Wina, membuat hatiku teriris perih. Aku hanya bisa tersenyum. Akhirnya, Mas Al akan mengunjungi kami bergantian.
Tak lama setelah Wina kembali, ia dinyatakan positif hamil. Namun, ia menyembunyikannya dari Mas Al. Aku pun memutuskan akan menggugat cerai pada Mas Al. Apalagi, ibu mertuaku mulai memintaku untuk pergi. Aku yang tak sanggup lagi pun, memutuskan pergi. Sayangnya, rencana ku diketahui oleh Wina.
Mas Al terlihat marah. Kami mengejar mereka. Aku terkejut, melihat mobil itu masuk ke area rumah sakit. Bahkan, kecepatan mobil yang di bawa dokter itu, di atas rata-rata. Kami pun ikut masuk ke sana. Baru saja kami menemukan keberadaannya, pria itu menerjang Mas Al.
Setelah mendengar penjelasannya, aku pun mengetahui alasannya melakukan itu pada Mas Al. Yang aku tidak ketahui adalah hubungan diantara mereka. Sampai Wina pulang pun, aku tak menemukan jawabannya.
Sejak itu, Mas Al tidak berbicara padaku ataupun Wina. Aku memilih memulai pembicaraan pada Mas Al. Mas Al pun mendengarkan ku dan mulai mendatangi, serta menemani Wina melakukan pemeriksaan.
Rupanya, Wina tak bisa melahirkan secara normal. Posisi bayinya membuat ia tak bisa melakukan itu. Yang membuat kami bersedih, Wina harus pergi setelah melahirkan.
__ADS_1
Aku merawat Darren, putra dari Wina dan Mas Al dengan sepenuh hati. Ku curahkan seluruh kasih sayangku padanya. Anak itu tumbuh dengan baik dan cerdas.
Setelah empat tahun, kami mengetahui kenyataan jika Wina masih hidup dengan baik. Kami tak habis pikir. Apa yang membuat Wina memilih pergi dengan cara itu? Saat ini, aku tahu jawabannya. Dia tak bisa berbagi suami dan cinta denganku. Tapi, berbagi kasih sayang anaknya denganku, dia rela.
Mas Al mengalami depresi dan hanya mengingat Wina setelah kenyataan baru terungkap. Hubungan antara ayah dan ibunya, bahkan dengan orang yang tak pernah mereka kenal serta ibuku. Aku pun terkejut.
Aku mencoba segala cara untuk menyadarkan Mas Al dari deresinya. Sayangnya, semua itu tak berhasil. Hingga Wina datang dan menyadarkannya. Aku iri sekali melihat itu. Namun, aku bersyukur Mas Al kembali. Tidak butuh waktu lama untuknya kembali.
Kami pun menjemput Darren. untuk kembali. Namun, Darren memilih untuk tinggal dengan Wina dan Samudra, calon suaminya. Aku turut bahagia, melihat wina menemukan kebahagiaannya. Dia tidak akan kembali pada Mas Al. Meski ada Darren diantara mereka. Ia tidak ingin menambah luka di hatiku. Ia juga tak ingin menambah luka hatinya. Karena suatu saat, itu akan melukai Darren juga.
Aku bersyukur, sahabatku ingin mengembalikan ikatan kami yang sempat merenggang. Aku pun mengharapkan hal yang sama dengannya. Semoga saja, Tuhan mendengarkan doa kami. Mas Al kembali mengingat cintanya padaku. Seberapa berjuang nya dia untuk bisa mendapatkan ku dan janjinya untuk tetap di sisiku.
Semoga saja, ini menjadi awal yang baik untuk hubungan kami kedepannya. Darren terlihat lebih bahagia sejak tinggal dengan Wina. Mas Al pun tak lagi mengharapkan Wina. Sesekali, kami akan berkumpul bersama dan membawa Darren bermain bersama.
*****
Part Citra usai .... Gak usah panjang² ya genks...
okelah. kita lanjutkan menuju halalnya Wina dan Samudra. Asik... uhuy... Nanti kita kondangan bareng ya...☺️☺️
Sampai jumpa di bab selanjutnya....
__ADS_1
lope-lope buat kalian semua kesayangan akoh....😘😘😘💗💗💗❤️❤️❤️