
Gadis itu masih menunggu di depan ruang IGD. Sesekali, ia akan berdiri dan kembali duduk. Tatapan matanya tak lepas dari ruangan IGD. Tak berapa lama, seorang dokter keluar. Bukan dokter yang terakhir kali masuk yang keluar, justru dokter yang pertama lah yang keluar.
Gadis itu segera berdiri dan menghampiri dokter itu. Ia mulai bertanya pada dokter tersebut.
"Dokter, bagaimana keadaan bos saya?" tanyanya. Tak bisa ia pungkiri, jika ia begitu mengkhawatirkan Wina.
"Ibu Wina sudah baik-baik saja sekarang. Anda tenang saja, sudah ada dokter yang menanganinya." dokter itu pun berlalu dari tempat itu.
Tak lama kemudian, Citra tiba di ruang IGD. Ia mengedarkan pandangannya mencari seseorang yang membawa Wina. Netranya menangkap seorang wanita muda yang memegang tas Wina.
Dengan tergesa, Citra menghampirinya. Setelah nafasnya kembali sedikit normal, ia mulai mempertanyakan Wina.
"Kamu yang bawa Wina ke sini?" gadis itu menoleh dan mengangguk cepat.
Ia sedikit terpana menatap wanita cantik yang berdiri dihadapannya. Ia mengedipkan kedua matanya perlahan saat melihat makhluk ciptaan Tuhan yang begitu sempurna itu.
Ya ampun Bu Wina saja sudah cantik, cewek ini sama cantiknya sama Bu Wina.
"Hei." Citra menepuk pundaknya.
"Eh, i-iya. Iya saya yang bawa Bu Wina ke sini. Maaf, Mbak siapanya Bu Wina?" tanyanya.
"Sahabatnya." gadis itu menganggukkan kepalanya mengerti.
"Sudah bisa ditengok belum?" tanya Citra.
"Masih ada dokter di dalam," jawabnya jujur.
Citra menganggukkan kepalanya. Namun, ia tetap melangkah masuk. Matanya kini terfokus pada pria berjas putih yang duduk di samping ranjang Wina. Citra mengerutkan dahinya melihat itu.
Wina belum sadarkan diri. Sementara dokter pria yang duduk di samping ranjang sahabatnya, tengah menggenggam tangan Wina dengan wajah penuh kecemasan.
"Anda, siapa?" Citra sudah berdiri di belakang dokter itu.
Dokter itu pun menoleh dan mendapati Citra tengah menatap tidak suka padanya. Ia berdiri, wajahnya bahkan sudah berubah datar saat melihat Citra.
"Anda, siapa?" tanya dokter itu.
Citra semakin mengerutkan dahinya. Ditanya, kenapa balik bertanya? pikirnya.
"Saya sahabatnya." Citra memutuskan mengalah. Baginya, saat ini jauh lebih penting wina daripada pria yang tidak dikenalnya ini.
Citra, jadi kalian masih terus dekat? Baguslah. Setidaknya Wina tidak akan merasa kesepian.
Tanpa kata, dokter itu segera meninggalkan ruangan itu. Citra hanya mengendikkan bahunya tak peduli. Ia pun mendudukkan dirinya di tempat dokter itu duduk.
Perlahan, Wina mulai membuka matanya. Ia menyesuaikan pencahayaan yang masuk ke netranya. Ia melihat Citra. Mereka pun saling melemparkan senyuman.
"Permisi," Wina dan Citra menoleh.
"Dita," lirih Wina.
__ADS_1
"Iya Bu," jawab gadis yang dipanggil Dita itu.
"Terimakasih ya sudah menolong saya," ucap Wina tulus.
"Iya Bu, sama-sama. Oh iya, Bu. Ini tas ibu. Saya mau izin kembali ke kantor," pamitnya.
Wina menganggukkan kepalanya seraya tersenyum lembut.
"Terimakasih ya, sudah menolong Wina," ucap Citra.
"Sama-sama Bu. Kalau begitu, saya permisi." gadis itu segera berbalik meninggalkan ruang IGD itu.
*****
Wina kini sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Citra sedang membantunya menebus vitamin serta obat-obatan yang sudah diresepkan oleh dokter.
Sambil menunggu Citra, Wina duduk di taman rumah sakit. Ia menikmati terpaan angin yang memeluknya.
"Kamu, sudaha tahu kondisimu kan?" terdengar suara seorang pria dari belakang Wina.
Wina menoleh dan mendapati Dennis di sana dengan wajah datarnya. Tak lama kemudian, Dennis berpindah ke hadapan Wina.
"Iya, saya tahu. Saya hamil kan?" tanyanya.
Dennis mengangguk. "Jaga baik-baik kandungan mu."
Wina mengangguk lemah. "Terimakasih dokter."
Wina memperhatikannya sekilas dan berbalik menatap Dennis bingung. Sengaja Wina menatap langsung ke manik coklat bening itu. Terlihat ada kekhawatiran dan rasa cemas di sana.
Semoga hanya perasaanku saja.
"Jangan lupa ucapan ku." Dennis segera berbalik meninggalkan Wina.
Citra menghampiri Wina. Bohong jika dia mengatakan tak melihat dokter tadi memberi perhatian lebih pada Wina. Hatinya justru bertanya-tanya saat ini.
Apa aku sudah membuat kesalahan? Sepertinya pria itu menyimpan perasaan lebih pada Wina.
"Win, ayo pulang." Wina menoleh dan berdiri.
Mereka berjalan perlahan dalam diam. Tenggelam dalam pikiran masing-masing. Hingga Wina memecah keheningan lebih dulu.
"Bang Al, belum tahu aku masuk rumah sakit kan?" tanya Wina.
"Hmm, iya. Aku tidak bisa menghubunginya sejak tadi."
*****
Citra membantu Wina istirahat. Ia meletakkan obat-obatan yang tadi ditebusnya di atas nakas. Kemudian, Citra memasakkan sesuatu untuk Wina makan.
Citra membuka kulkas. Namun, ternyata di kulkas hanya tersisa sedikit bahan makanan. Pada akhirnya, Citra memesan makanan secara online. Setelah itu, ia menuang air hangat dan memberikannya pada Wina.
__ADS_1
Terdengar suara bel saat Wina dan Citra tengah berbincang. Citra pun bangkit berdiri dan melihat keluar.
Citra kembali dengan satu porsi nasi beserta satu mangkuk soto ayam di tangannya. Ia meletakkannya di atas nakas.
"Makan dulu." Wina duduk dan bersandar di kepala ranjang.
Ia memakan nasi dan soto yang di sodorkan Citra padanya. Baru masuk beberapa suap, Wina sudah tak sanggup lagi meneruskannya. Perutnya terasa mual.
Citra mulai membukakan obat yang harus diminum Wina. Ia tertegun mendapati vitamin dan obat yang harus Wina minum adalah obat serta vitamin yang diperuntukkan bagi ibu hamil. Sebelumnya, Citra tidak memperhatikannya.
Wina sudah hamil?
Matanya menatap lekat pada Wina. "Kamu, hamil?"
Wina tertunduk. Sungguh, kali ini ia merasa sangat bersalah pada sahabatnya itu. Ia sadar, jika Al mengetahui hal ini, perhatiannya akan lebih tertuju pada Wina.
"Maaf," ucap Wina.
Citra justru tersenyum dan memeluk Wina. Meski pada kenyataannya, hatinya ikut merasa pedih juga.
"Selamat ya. Sebentar lagi kamu akan jadi ibu," air mata Citra sudah berkumpul di sudut matanya dan siap meluncur.
"Kamu nangis?" tanya Wina saat melihat mata Citra berkaca-kaca.
Citra menggeleng. "Aku bahagia."
Bohong, kau terluka Citra. Dari matamu sangat terlihat jelas.
Wina menorehkan senyum pada Citra. Hatinya terluka melihat sikap Citra yang berkebalikan dari pancaran matanya.
"Jangan beritahu Abang dulu." Citra mengernyitkan dahinya.
"Kenapa? Mas Al, pasti senang mendengarnya." Wina menggeleng.
"Nanti saja. Nikmati waktumu bersama, Abang." Citra ingin sekali menangis sekeras-kerasnya mendengar ucapan Wina.
Sungguh, ia merasa beruntung memilih Wina sebagai madunya. Wina sangat mengerti dirinya. Hingga Citra lupa, jika dirinya ingin menanyakan perihal dokter yang menggenggam tangan Wina tadi.
"Terimakasih," ucap Citra tulus.
Wina tersenyum pada Citra. Mereka pun tidak memberitahu Al hingga saat dimana Al menghabiskan waktu bersama Citra selama satu minggu usai.
*****
Congrats Wina.... Wina hamil ternyataðŸ¤
pagi genks. maaf aku telat update. semalam terlalu ngantuk. Mudah-mudahan, besok kembali lagi seperti semula upnya ya.
Jangan lupa klik like, komen dan hadiah kalian ya.... lope lope yang banyak buat kalian.
sampai jumpa di bab selanjutnya
__ADS_1