
Silvia pun menemui Wina. Sesuai dengan ucapan Samudra, ia aja mengajak Wina ke salah satu butik untuk melakukan fitting baju pengantin.
Wina baru saja datang dan menemui pegawainya. Ia sedikit terkejut melihat ibu dari kekasihnya berada di sana. Ia menghampiri Silvia dan mencium punggung tangan wanita itu.
"Kok bunda gak bilang Wina dulu kalau mau kesini?" Silvia hanya tersenyum.
Mereka duduk di sofa dalam ruangan Wina. Setelah menyediakan beberapa camilan dan air mineral, mereka pun mengobrol.
"Bunda dengar, kamu dan Samudra sudah kembali berbaikan?' Wina tersenyum dan mengangguk.
"Kalau begitu, ikut bunda ya, ke suatu tempat?"
"Kemana, Bun?"
Silvia langsung menarik pergelangan tangan Wina. Merek menuju parkiran mobil dan menaiki mobil Silvia. Silvia menyebutkan alamat butik, dimana Samudra telah memesan gaun pengantin untuk Wina.
Wina mengernyit bingung saat mendengar alamat itu. "Kita mau ngapain ke sana, Bun?"
"Mau mencari gaun pengantin untuk mu." Silvia tersenyum bahagia.
"Bun, aku dan Mas Samudra gak mungkin langsung menikah," ucap Wina.
"Bunda tahu. Tapi, mencari gaun dari sekarang gak salah kan?"
Wina tak lagi bicara. Ia terdiam dan hanya tersenyum. Oke. Bunda benar. Terlalu banyak prosesnya dalam memesan gaun pengantin.
Jarak yang tidak terlalu jauh, ditambah keadaan jalan yang lowong, menjadikan mereka tiba lebih cepat dari biasanya. Tiba di sana, Wina dan Silvia masuk dan di sambut oleh pegawai butik.
"Sudah siap kan?" tanya Silvia pada salah seorang pegawai.
"Sudah nyonya. Silahkan." pegawai itu mempersilahkan mereka untuk menuju ruang VIP.
Pegawai lainnya, membawakan gaun yang telah Samudra pesan. Wina menatap kagum pada gaun itu. Gaun yang cantik dengan taburan berlian bak bintang yang berkilauan.
"Bun, ini pasti mahal banget," bisik Wina.
"Sudah sana coba." Silvia mendorong Wina lembut.
Wina pun masuk ke ruang ganti. Dibantu oleh seorang pegawai yang membawa gaun itu, Wina mengenakannya. Gaun berwarna putih itu terlihat sangat cantik.
Wina mengenakannya dan berdecak kagum melihat selera calon ibu mertuanya. Astaga, cantiknya gaun ini. Kok bisa langsung pas ya?
__ADS_1
"Cantik sekali. Ayo, tunjukan pada nyonya Silvia!" pegawai itu membuka pintu ruang ganti dan mempersilahkan Wina keluar.
Silvia menatap pada pintu yang terbuka dan menunggu Wina keluar. Ia tertegun melihat kecantikan Wina dalam balutan gaun pengantin itu.
Wah, selera anakku benar-benar luar biasa. Terlihat sangat elegan. Ukurannya bahkan sudah sangat pas. Tunggu, dia tidak...
Pikiran Silvia berubah buruk pada anaknya sendiri. Akan ku tanyakan nanti. Awas saja jika dia sudah berbuat macam-macam sebelum di resmikan. Akan ku hajar dia. Membuat ku curiga saja. Menikah terburu-buru, gaun yang sudah pas, undangan yang sudah tercetak bahkan tersebar tanpa sepengetahuan Wina. Ah, terlalu banyak untuk ku absen.
Silvia mempertahankan senyumnya dan mendekati Wina. "Cantik sekali. Bunda suka. Ukurannya juga sudah pas."
"Mbak, tolong simpan gaun ini ya!" pegawai itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya setuju.
Mereka kini kembali ke toko Wina. Setelah berbincang sedikit, Silvia pamit. Ia meminta supirnya ke rumah sakit tempat putranya bekerja.
Tiba di sana, ia menanyakan jadwal Samudra pada bagian resepsionis. Ia harus menunggu, karena Samudra tengah melakukan operasi besar sejak pagi. Sebagai dokter bedah, ia memiliki jadwal yang cukup padat. Sudah satu hari ini, ia belum menghubungi bahkan menemui kekasihnya Wina.
Bosan menunggu, Silvia berjalan menuju ruangan putranya. Ia memilih menunggu di sana. Silvia memperhatikan setiap sudut ruangan Samudra.
Ia menemukan kotak berukuran sedang di atas meja kerja putranya. Ia melihat, jika kotak tersebut belum dibuka.
"Dari siapa ini?"
Silvia membolak-balikkan kotak tersebut. Tidak ada nama pengirim atau petunjuk apa pun. Silvia ke luar dan bertanya pada perawat yang ada di sana.
"Kurang tahu, Bu. Tapi, tadi ada kurir yang mengantarnya."
"Dokter Samudra sudah lihat?" kembali Silvia bertanya.
"Belum, Bu. Beliau masih berada di ruang operasi sejak pagi tadi."
Silvia mengangguk dan mengucapkan terimakasih. Ia kembali ke ruangan putranya. Ia sangat penasaran isi kotak itu. Namun, hatinya juga mulai merasa resah dan tak bisa dijelaskan.
"Buka atau tidak."
Silvia tak menyadari, jika pintu ruangan Samudra kembali terbuka. Tatapannya masih terfokus pada kotak itu.
"Bunda ngapain?" Silvia mengusap dadanya terkejut.
"Kamu ngagetin bunda aja." Samudra terkekeh.
Silvia menunjukkan kotak yang ada di atas meja Samudra. Samudra mendekati mejanya dan mengambil kotak tersebut. Ia mulai membuka pita yang mengikat kotak itu.
__ADS_1
Rasa takut semakin menjalar di sekujur tubuh Silvia. Tangannya mulai terasa dingin dan berkeringat.
Samudra membuka tutup kotak itu dan terkekeh mendapati voucher bulan madu di dalamnya. Ada sebuah surat yang terselip di sana.
Silvia menghembuskan napas lega melihat isi dalam kotak itu. Ia sudah hampir mati ketakutan melihat kotak misterius itu tadi.
"Voucher bunda." Silvia memukul lengan Samudra keras hingga pria itu mengaduh.
Samudra mengambil sepucuk surat yang ada di dalamnya.
*Untuk Samudra dan Wina
Surat undangan yang kau kirimkan sudah sampai padaku dan Citra. Aku dan Citra akan datang di hari pernikahan kalian. Selamat untuk kalian. Ini adalah hadiah dari kami untuk kalian. Semoga kau bisa membahagiakan Wina. Tolong jaga dia dan Darren. Jika sampai kau menyakitinya sedikit saja, aku dan Citra yang akan membawa Wina pergi. Sudah cukup penderitaan Wina selama ini.
NB: Jangan beritahu Wina tentang hadiah ini. Dia pasti akan menolaknya dan kalian pasti akan batal bulan madu. Dia lebih suka berada di rumah daripada membuang uang. Itu pengalaman ku dengannya dulu.
Semoga kalian berbahagia dan di karunia buah hati.
by,
Alvino dan Citra*
Silvia tersenyum menatap putranya. "Dia memperingatkan mu. Tapi, Al benar. Kau tahu, Wina bahkan hampir menolak gaun yang kau pilihkan. Dia bilang, itu terlalu mahal."
"Bunda benar. Dia bukannya irit. Tetapi merasa sayang, jika uang harus terbuang untuk hal yang sebenarnya tidak perlu. Bagi dia, uang itu lebih baik diberikan pada mereka yang membutuhkan." Silvia mengangguk.
Sedetik kemudian, Silvia mengingat alasannya datang ke tempat Samudra bekerja. Raut wajahnya berubah garang.
"Kau, tidak melakukan kesalahan kan?"
Pertanyaan itu membuat Samudra menoleh pada ibunya. Bulu kuduk Samudra meremang melihat aura kemarahan dari ibunya. Ia mulai memikirkan kesalahan apa yang diperbuat nya. Setelah mengingat semua hal, Samudra yakin tidak melakukan kesalahan apa pun.
"Tidak ada. Kenapa bunda menanyakan itu?"
"Gaun itu bisa sangat pas ditubuh Wina. Pernikahan yang bahkan Wina tidak ketahui dan telah rampung persiapannya dan undangan yang telah disebar tanpa bunda atau siapa pun tahu. Katakan dengan jujur."
*****
Pagi genks.... sedikit ujian bagi calon pengantin. ada yang deg-degan baca part ini? terutama di bagian kotak misteri?
Al masih kasih perhatian ke Wina. uhuy ya🤭
__ADS_1
baiklah, sampai jumpa di bab selanjutnya kesayanganku...😘😘😘❤️❤️❤️💗💗💗