
Wina membuka pintu kamarnya. Terlihat Al masih berdiri di sana. Al segera memeluk Wina erat. Menciumi rambut istrinya itu berkali-kali.
"Maaf, maafkan Abang. Abang berjanji akan membantumu bicara pada papi. Tolong jangan pergi. Semua kata-kata Abang tadi, karena Abang sedang emosi. Mami terus saja memaksa Abang untuk menceraikan Citra," Al menjelaskan.
Wina terdiam, ia tidak tahu harus bicara apa. Mengetahui Al menikahinya dengan terpaksa saja, sudah membuat hatinya terasa bak disayat sembilu. Ditambah, ucapan Al yang ingin melihat reaksi ayahnya ketika mengetahui Wina hadir dalam rumah tangga anaknya.
"Sayang, jangan diam saja. Apa kamu marah?" tanya Al dengan menangkup wajah Wina.
Wina menatap mata Al. Melihat kedalam hati suaminya itu untuk dirinya. Tatapan khawatir itu terlihat.
"Apa Abang sungguh mencintaiku?" tanyanya.
"Iya, Abang sungguh mencintaimu," ucap Al sungguh-sungguh.
Tapi, Abang lebih mencintai Citra kan? pertanyaan itu hanya terdengar oleh dirinya sendiri.
Al kembali menarik Wina ke dalam pelukannya. Membelai rambut hitam panjangnya. Kali ini, Wina membalas pelukan Al dengan erat.
"Mami mana?" tanya Wina.
"Sudah pulang. Mami bilang, mami minta maaf. Dia juga akan membantumu bicara pada papi. Abang dengar, tidak lama lagi papi akan kembali."
Wina mencengkeram kuat baju Al saat mendengar itu. Ada ketakutan yang menjalar di hatinya.
"Kamu tenang saja. Papi tidak akan langsung menemui mu sebelum menemui ku, mami dan Citra. Jika ingin bertemu denganmu pun, papi pasti akan mengatakannya padaku."
Wina menenggelamkan wajahnya di dada Al.
*****
Satu minggu berlalu. Minggu ini, Al akan berada di tempat Citra. Al menepati janjinya untuk bersikap adil pada kedua istrinya.
Begitupun dengan Widya. Setelah pembicaraannya dengan Al terdengar oleh Wina, ia berjanji tidak akan ikut campur dengan rumah tangga putranya itu.
Saat itu juga, Yudha Brahmana kembali ke Indonesia. Tempat pertama yang ia datangi adalah perusahaan. Ia mendatangi putranya dan akan menanyakan perihal pernikahan kedua putranya itu.
Seperti yang Al katakan, jika ayahnya selalu mengawasi keluarganya. Baik itu istrinya, anaknya dan menantunya. Terlebih, Citra adalah menantu kesayangan Yudha.
Pria itu mendorong pintu ruangan Al diiringi oleh asistennya. Al mendongak dan terpaku melihat kedatangan ayahnya.
__ADS_1
"Kau tidak ingin menyambut papi?" ucapnya.
Al berdiri dan memeluk papinya. Sekalipun Al sudah menikah dan memiliki keluarga sendiri, Yudha selalu memeluknya. Baginya, Al adalah putranya yang tidak akan pernah bisa dilepaskannya begitu saja.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Yudha saat mereka sudah duduk di sofa ruangan Al.
Asisten Yudha dan Al pun sudah keluar dari ruangan itu. Membiarkan ayah dan anak itu berbicara.
"Baik Pi." Al menundukkan kepalanya. Ia tengah merangkai kata dalam benaknya, seandainya papinya menanyakan perihal pernikahannya yang kedua.
"Bagaimana kondisi Citra sekarang? Apa dia masih bersedih setelah kepergian Naura?"
"Iya. Tapi, sudah lebih baik."
"Siapa wanita itu?" Al mengangkat pandangannya.
Yudha mengangkat sebelah alisnya, tanda menuntut sebuah jawaban. Sesuai dugaan Al, papinya akan bertanya lebih dulu pada dirinya.
"Sahabat Citra sendiri," lirihnya.
"Apa kau itu b***h, hingga tidak bisa melawan ucapan mami mu?"
Yudha memijit pelipisnya. Al benar, jika hanya Widya yang meminta dia pasti bisa menanganinya. Berbeda cerita jika Citra sendiri yang meminta.
"Apa alasan Citra?" tanyanya lagi.
"Rahim Citra sudah diangkat satu bulan setelah kepergian Naura. Jadi, Citra meminta Al menikahi sahabatnya untuk memperoleh keturunan," ucapnya sendu kala mengingat bagaimana Citra memohon adanya, untuk menikahi lagi.
Yudha menghela napas kasar mendengar penuturan Al. Tak dia pungkiri, jika Al harus memiliki keturunan. Namun, sakitnya hati Citra dan Wina, harus jadi pertimbangan juga bagi Al.
"Keduanya sudah tahu?" Al mengangguk.
"Atur pertemuan papi dengan Citra dan istri keduamu." Yudha bangkit berdiri dan merapihkan jas yang di kenakan nya.
"Pi, jangan salahkan Wina. Dia justru baru mengetahui, jika dirinya adalah madu untuk sahabatnya sendiri." Yudha yang baru melangkah, kembali memutar tubuhnya menghadap Al.
"Jadi, kau menikahinya tanpa dia tahu posisinya?" Al mengangguk. Lidahnya terasa kelu.
"Dasar b***h. Bagaimana dengan Citra?"
__ADS_1
"Justru Citra yang memintaku menikahinya."
Yudha tak lagi bicara. Ia segera keluar dari ruangan Al. Kali ini, tujuannya adalah bertemu Widya istrinya. Ia merasa perlu memberi Widya sedikit pelajaran.
*****
Yudha melangkah masuk ke rumah megah miliknya. Mencari keberadaan Widya ke dalam kamar.
Pintu kamar terbuka, menampakkan Widya yang tengah bersandar di kepala ranjang, seraya memainkan ponselnya. Widya terperanjat saat melihat suaminya kembali.
"Mas," ucap Widya.
Yudha menatap Widya dalam. Ada kemarahan, sekaligus kekecewaan yang terpancar di mata itu. Widya meneguk salivanya dengan sulit.
"Apa kau belum puas menyakiti Citra? Hingga kau harus memaksanya untuk menghadirkan madu dalam rumah tangga mereka?" tanya Yudha datar.
"Bu-bukan begitu mas," ucapnya tergagap.
"Jadi?"
"A-aku memikirkan ke-kelangsungan keluarga kita." Widya merasa terpojok.
"Tidak. Bukan itu alasanmu. Semua itu karena kau membenci almarhum Andini kan? Wanita yang justru membuat aku hampir berpaling darimu." Yudha menatap dalam mata Widya.
Terlihat jelas, nyala amarah itu kembali. "Iya. Aku membencinya. Sejak itu kau bahkan tidak pernah melihatku. Kau memilih bekerja hingga tak kenal waktu, daripada memperhatikanku," pekik Widya.
"Tapi semua itu tidak ada hubungannya dengan Citra, Widya," sentak Yudha dengan suara tak kalah tinggi dengan Widya.
"Bukan salahnya memang. Tapi di dalam tubuhnya mengalir darah wanita m*****n itu," air mata Widya luruh tak terbendung.
Yudha merasa bersalah. Ia hancur melihat Widya yang rapuh. Ia sadar, Widya melakukan ini untuk membalas perbuatannya.
"Tapi, tidak begini caranya Widya. Aku memilih mengutamakan pekerjaanku bukan karena aku kehilangan Andini. Tapi aku merasa bersalah padamu," tutur Yudha.
"Tidak, Mas. Jika kau merasa bersalah, kau justru akan bersikap baik padaku. Bukan menghindari ku. Kau tahu seberapa rindunya aku pada perhatianmu? Kau tahu seberapa inginnya aku menggenggam tanganmu? Tidak mas. Aku ragu kau hanya merasa bersalah. Bahkan, alasanmu menerima Citra dalam keluarga ini pun tidak masuk akal bagiku. Kau ingin membalas budi Andini kau bilang?
Ya, karena Andini lah yang membantumu sukses, bukan aku. Itukan yang selalu kau katakan? Hingga kau berniat menceraikan ku saat kau tahu, ayah Citra sudah meninggal. Apa aku salah? Aku tidak ada apa-apanya dibanding Andini mu itu. Sekarang, jika mas ingin menceraikan ku karena aku yang memaksa menantu kesayanganmu itu menghadirkan madu, akan ku terima."
Widya memilih keluar dari kamar itu. Meninggalkan Yudha di sana. Yudha tak mencegahnya. Pikirannya terasa kosong saat mendengar semua ucapan Widya. Benarkah semua salahnya?
__ADS_1