Berbagi Cinta: Aku, Madu Sahabatku

Berbagi Cinta: Aku, Madu Sahabatku
Bab 6 (sudah revisi)


__ADS_3

Suasana canggung begitu kentara di ruang VIP itu. Meski banyak kata yang ingin terucap dari bibir Wina.


"Win," Citra mencoba mencairkan suasana yang terasa amat kaku.


Al menggenggam jemari Citra. Wina bisa melihatnya dengan jelas. Dadanya terasa makin sesak melihat itu.


Pikirannya mulai menerka apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia mulai menggigit bibirnya untuk menahan tangis yang akan keluar dari bibirnya. Matanya memerah menahan emosi yang hendak meledak saat ini.


"Wina, ini adalah jawaban dari pertanyaan mu." al mengangkat jemari tangannya yang bertautan dengan jemari tangan Citra.


Wina menepuk dadanya yang terasa amat berat. Jadi aku, madu sahabatku? Tuhan, kenapa kau berikan aku cobaan seperti ini? Kenapa rasanya sakit sekali? Sangat sakit.


Wina tak bisa lagi menahan laju air matanya. Sungguh, ia tak pernah menyangka akan menjadi orang ketiga dalam pernikahan sahabatnya.


"Kenapa?" tanya Wina dengan nada bergetar.


Ia mengusap airmatanya kasar. Wina mencoba tegar dan siap untuk mendengar alasan kedua orang yang penting dalam hatinya.


Citra dan Al terdiam. Mereka tidak tahu apa yang harus mereka katakan sebagai alasan. Al dan Citra menundukkan pandangan mereka.


"Apa ini masalah anak?"


Citra menggigit bibirnya keras. Ia menahan tangisan yang akan keluar dari bibirnya. Al semakin menundukkan kepalanya.


"Bukankah kau pernah hamil?" tanya Wina pada Citra.


"Putriku meninggal beberapa bulan sebelum, Mas Al menikahi mu," lirihnya.


Wina menyesali pertanyaan yang lolos dari bibirnya tadi. Sungguh, ia tidak mengetahui perihal kematian putri sahabatnya itu. Wina ingin mengucapkan kata maaf, namun egonya menahan dirinya untuk mengucapkan kata itu.


"Kenapa kalian tidak mengatakannya sebelum ini? Apa aku harus bertanya lebih dulu baru kalian mengatakannya?" ucapnya frustasi.


"Apa kau bisa membayangkan sakitnya hatiku, Cit?" Citra menundukkan pandangannya.

__ADS_1


Isak tangis Citra semakin terdengar. Begitu pula dengan Wina. Al ikut meneteskan air matanya. Ia tahu, dirinya turut andil dalam masalah ini.


"Wina, tolong jangan salahkan Citra," pinta Al. Suaranya terdengar bergetar.


"Jadi, aku harus menyalahkan siapa?" tanyanya lirih.


"Ah, aku yang salah. Benarkan?" Wina terkekeh seraya menghapus airmatanya.


Wina bangkit berdiri. Ia tak sanggup lagi berada di ruangan yang sama dengan Citra dan Al. Citra pun turut berdiri dan memegang lengan Wina.


"Win, ku mohon. Tetaplah menjadi istri, Mas Al," pinta Citra.


Wina terdiam, dalam hati ia merutuki dirinya sendiri. Saat ini Wina tak bisa berpikir dengan baik. Merasa dirinya dikhianati oleh sahabat dan suaminya sendiri.


"Wina, aku akan berusaha adil pada kalian," Al ikut membujuk Wina.


"Aku rela berbagi cinta. Asalkan kamu orangnya. Ku mohon, tetaplah disisi, Mas Al."


"Citra—" lirih Al.


"Win, kau tahu, aku hanya percaya padamu. Kau orang yang tulus dan baik. Jadi, kumohon tetaplah bersama, Mas Al. Aku tidak lagi sempurna. Aku tak bisa lagi memberikannya anak." tangis Citra semakin keras dan menyayat hati.


Citra mengakui kekurangannya pada Wina. Ia tak segan melucuti harga dirinya, demi membuat Wina tetap menjadi bagian keluarga kecilnya. Setidaknya, Wina tidak akan memandang rendah dirinya. Jika saja wanita itu bukan Wina, entah apa yang akan terjadi pada Citra.


Wina mengerti bagaimana perasaan Citra. Sekali lagi, egonya menolak apapun alasan yang diberikan Citra dan Al padanya. Jujur saja, hatinya berdenyut perih mendengar ucapan Citra.


Tak ingin bertahan lebih lama, yang akan mengakibatkan keruntuhan egonya, Wina menarik tangannya yang digenggam erat oleh Citra. Tanpa menoleh ke belakang lagi, Wina segera meninggalkan tempat itu.


Al melangkahkan kakinya lebar. Hatinya tersiksa melihat penderitaan Citra. Ia menarik lengan Wina, hingga Wina menoleh padanya.


"Tidak bisakah kau sedikit bersimpati pada Citra? Dia bahkan sudah membuang harga dirinya hanya untuk memohon belas kasihmu. Seperti ini kah dirimu? Inikah yang Citra banggakan darimu? Sungguh, aku tidak tahu harus menyebutmu dengan apa. Kau, wanita yang tidak punya hati. Jika kau ingin pergi, pergilah. Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti Citra lagi. Termasuk kau." Al segera kembali ke ruangan Citra.


Wina tak kuasa lagi menahan air matanya. Ia segera berlari ke luar dari restoran. Hatinya semakin sakit. Apa yang dikatakan Al memang benar. Ia mulai mempersalahkan dirinya yang tak bisa menaruh simpati pada sahabatnya.

__ADS_1


Sepertinya, Tuhan berbaik hati padanya dengan menurunkan hujan yang begitu lebat. Wina membiarkan air hujan itu membasahi dirinya. Wina berharap, hujan bisa membawa sedikit beban yang ada di pundaknya.


Salahkah dirinya yang bertahan dengan egonya? Bagaimana dengan dirinya yang merasa dibohongi dan dikhianati? Tidak pentingkah bagaimana perasaannya?


Andai saja sejak awal mereka memberi tahu semua itu padanya. Mungkin dirinya tak akan terluka seperti saat ini. Andai saja Al dan Wina mempertimbangkan apa yang akan terjadi ke depannya, hubungan mereka tak akan serumit ini.


Nasi telah menjadi bubur. Tidak ada lagi yang bisa ia rubah. Semua yang terjadi, sudah menjadi suratan takdir. Tetapi, bolehkah dirinya egois untuk kali ini saja? Wina butuh waktu. Ia harus memikirkan segalanya.


Wina tak ingin salah mengambil keputusan. Ada perasaan Citra yang di pertaruhkan. Ada juga perasaannya yang harus ia pertimbangkan. Serta, perasaan Al yang harus ia jaga.


Entah Al sungguh mencintainya atau tidak, Wina pun harus memikirkannya.


*****


Malam semakin larut, Wina belum juga kembali ke rumah yang ditempatinya bersama Al. Citra ikut ke sana. Ia ingin menjelaskan segalanya pada Wina.


Sementara Wina berada di tempat berbeda dalam kondisi kedinginan. Tubuhnya yang basah karena guyuran hujan, kini kembali mengering dengan sendirinya. Bibirnya mulai membiru. Tubuhnya bahkan menggigil hebat.


Hingga kakinya tak lagi mampu menopang berat tubuhnya. Matanya perlahan mulai memburam. Telinganya pun, mulai tak jelas mendengar. Kesadarannya perlahan mulai menghilang.


Seorang pria yang melihat Wina menghampirinya. Ia mencoba membuat Wina sadar. Sayangnya, Wina semakin menutup matanya. Dengan sigap, pria itu membopong tubuh Wina ke dalam mobilnya. Ia melepaskan jasnya dan menutupi tubuh Wina.


Dengan segera, pria itu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tak sampai setengah jam, mobilnya tiba di rumah sakit. Pria itu menghentikan mobilnya tepat di depan ruang IGD.


"Bawakan brankar ke sini cepat!" katanya pada satpam di depan ruang IGD. Dengan sigap, satpam itu segera mencari brankar kosong dan membawanya pada pria tadi.


"Ini dok."


Pria itu segera meletakkan tubuh Wina di atas brankar. Kemudian, ia mendorongnya.


"Suster, cepat bawa pakaian pasien dan masuk ke dalam."


Perawat itu menuruti perintah atasannya dan membawakan baju pasien serta menggantikannya.

__ADS_1


__ADS_2