Berbagi Cinta: Aku, Madu Sahabatku

Berbagi Cinta: Aku, Madu Sahabatku
Bab 60


__ADS_3

Wina terdiam. Samudra mendekatinya perlahan. Pikiran Wina terasa kosong mendengar semua ucapan Samudra. Haruskah ia kembali mempercayakan hatinya, ditengah ketidak pastian dari Samudra? Samudra bahkan belum menjelaskan apa pun tentang pertemuannya dengan mantan kekasihnya.


Perlahan tapi pasti, Samudra menarik pinggang Wina dan menempelkannya pada tubuhnya. Wina terkejut. Sayangnya, ia tak sempat menghindari benda kenyal yang mendarat sempurna pada bibirnya.


Ia mengatupkan bibirnya rapat. Wina mencoba mendorong Samudra menjauh. Namun, usahanya sia-sia.


Ketika Samudra melepaskan tautannya, Wina hampir menamparnya. Tangan Samudra, lebih dulu menahannya.


"Aku tahu, kau marah padaku karena hal ini. Tapi, yang perlu kau tahu aku serius padamu. Ini salah satu bukti, jika aku benar-benar menginginkanmu. Aku dan Rosa sudah berakhir. Kemarin, aku hanya memenuhi keinginannya untuk bertemu. Aku tidak lagi peduli padanya. Ku mohon, berikanlah aku sedikit kepercayaan mu."


Samudra menarik Wina kedalam pelukannya. Wina hanya diam tak membalasnya. Ia mencoba mencerna setiap ucapan Samudra. Ia bisa merasakan ketulusan dari setiap ucapan Samudra padanya.


"Mas tahu, selama ini aku masih menunggu mas menjelaskannya. Aku sengaja mendiamkan mu. Tapi sepertinya, mas benar-benar ingin berpisah dariku. Apa salah, jika aku berpikir seperti itu? Apa salah, jika aku kembali dekat dengan pria lain disaat dirimu tak juga memberi kejelasan? Aku berpikir kau lebih memilih dia."


Wina menangis dalam pelukan Samudra. Dengan lembut Samudra mengusap punggung Wina.


"Maaf, karena aku tidak memberikan kepastian padamu. Percayalah, hanya dirimu yang ku inginkan." Wina semakin membenamkan wajahnya di dada bidang Samudra.


Mereka tak menyadari, jika Darren sudah membuka matanya dan tersenyum melihat keduanya kembali berbaikan. Dengan tangan mungilnya, Darren memeluk keduanya.


Wina dan Samudra terkejut dan berjongkok untuk menyamakan tinggi mereka dengan Darren. Wina dan Samudra tersenyum pada Darren dan memeluknya. Darren memeluk leher keduanya.


*****


Darren menggandeng tangan Wina dan Samudra kembali ke rumah. Wajahnya terlihat sangat bahagia. Fika dan Dennis yang tengah bermain dengan cahaya di teras rumah pun ikut tersenyum bahagia.


"Om." Darren berlari ke arah Dennis.


Dennis menangkapnya dan menggendongnya. "Halo, jagoan. Kelihatannya kamu sedang bahagia hari ini."


"Iya, dong. Mommy dan Daddy kan sudah berbaikan. Jadi, seperti yang om dan tante katakan kalau sebentar lagi, mommy dan Daddy akan membawa Darren. tinggal bersama mereka."


"Oh, iya?!" Dennis berpura-pura terkejut.


Samudra berjalan dengan memeluk pinggang Wina dan mendekati mereka. Senyum terus terkembang di wajah keduanya.


"Jadi, apa kalian akan melanjutkan pernikahan yang tertunda itu?" tanya Fika pada keduanya.


"Tidak sekarang. Aku dan Wina harus menyelesaikan sesuatu dulu."


Wina menatap Samudra. Ia tidak mengerti apa yang Samudra maksud. Samudra membalas tatapan Wina lembut dan tersenyum.

__ADS_1


"Kita harus membuat dia jera, Sayang. Aku tidak ingin, dia kembali mengacaukan hubungan kita."


Apa Rosa yang Mas Samudra maksud?


Samudra mengangguk seakan mengerti isi hati Wina. Wina pun balas tersenyum.


"Bagaimana caranya?" tanya Wina.


"Kau ikuti saja arahan ku nanti. Kita akan buat dia menjauh dari keluarga kita."


Wina mengangkat kedua alisnya tinggi. Kemudian menganggukkan kepalanya. Entah rencana seperti apa yang akan Samudra lakukan. Wina hanya mengikutinya saja. Selama rencananya tidak akan merugikan mereka, itu tidak akan menjadi masalah.


*****


Seperti dugaan Samudra, Rosa kembali mendatanginya ke rumah sakit. Kali ini, ia terlihat berdandan layaknya istri yang diusir oleh suaminya.


"Sam," sapanya.


Samudra melipat tangannya di atas meja dan menatap tampilan Rosa yang menyedihkan. Tak lama, pintu ruangannya kembali terbuka dan menampilkan Wina. Wina tersenyum dan mendekati Samudra.


"Halo, Sayang. Sudah sampai." Wina mengangguk.


Rosa merasa kesal melihat adegan dihadapannya. Namun, dengan cepat ia menekannya agar tujuannya tercapai.


Tenang Rosa. Jangan terpancing. Kau harus bisa memiliki Samudra dan pergi dari pria tak berguna itu.


"Kalian, sudah berbaikan?" tanyanya basa-basi.


"Apa kita bertengkar, Sayang?" tanya Samudra pada Wina.


"Kemarin, Mas," ucap Wina lembut.


"Oh, aku lupa." Samudra tersenyum manis sekali pada Wina.


"Sepertinya, aku mengganggu waktu mu ya. Kalau begitu, lain kali saja aku menemui mu."


Rosa beranjak dari tempatnya dan akan pergi. Namun, langkahnya terhenti saat mendengar ucapan Wina.


"Jika kau ingin bicara, bicara saja sekarang. Aku tidak akan ikut campur urusan kalian. Tapi, aku akan tetap di sini. Jika kau menemuinya tanpa aku, maka aku akan menganggap mu sebagai wanita m*****n. Bukankah kau sudah memiliki suami?"


Terlihat kemarahan melintas di mata Rosa. Secepat kilat, Rosa menekan kembali emosinya dan tersenyum. Ia kembali melangkah mendekati mereka.

__ADS_1


"Baik. Samudra, calon istrimu memang cantik. Tapi sayangnya, mulutnya sangat kotor. Pikirannya pun sangat sempit. Dia tidak bisa memberimu kepercayaan."


Wina baru akan mengatakan sesuatu. Akan tetapi, Samudra menghentikannya. Kali ini, dia akan membungkam mulut Rosa dan menghentikan tujuan Rosa lebih dulu.


"Benarkah? Menurutku dia benar. Mana ada seorang wanita yang sudah menikah, terus menerus menemui mantan kekasihnya tanpa sepengetahuan suaminya? Atau kau memang sengaja memanfaatkan ku untuk kepentingan pribadimu seperti dulu? Dulu, aku membantumu hingga kau berhasil menempuh pendidikan mu. Kau bahkan mampu bekerja di perusahaan bonafit dan mendapatkan suamimu itu. Sekarang, apa lagi yang kau inginkan? Memintaku menolong dirimu agar kau bisa lolos dari jerat suamimu? Karena suamimu, akan menjual mu demi bisnisnya yang hampir hancur itu?"


Wina terkejut mendengar penuturan Samudra. Begitupun dengan Rosa. Rosa tidak tahu, jika sejak pertemuan mereka dulu yang mengakibatkan pertengkaran bahkan perpisahan sementara diantara Wina dan Samudra, pria itu mulai menyelidikinya.


Samudra memang mencurigai kemunculan Rosa kembali. Namun, Samudra tidak bisa menjelaskan maksud dari raut wajahnya yang tiba-tiba berubah saat itu. Lima tahu Samudra bersama dengan Rosa, ia cukup mengenal sifat wanita itu.


"Ka-kau ...." Rosa tak bisa melanjutkan ucapannya.


"Bagaimana aku tahu semuanya? Jelas saja aku menyelidikinya. Apa kau tahu, Wina adalah wanita yang justru jauh lebih baik darimu. Ucapannya hanya untuk melindungi diriku dari jerat mu. Kau itu ibarat racun yang mematikan. Jika aku sampai terjebak, maka selamanya aku akan kau jadikan budak mu."


Rosa menunduk malu saat rencananya sudah terendus oleh Samudra. Ia berlari meninggalkan ruangan pria yang pernah menjadi bagian hidupnya itu.


Wina terperangah. Rupanya, ia sudah salah selama ini. Samudra hanya butuh sedikit waktu untuk menyelesaikan masalahnya dari benalu yang menempel padanya. Wina memeluk Samudra erat.


Samudra tersenyum. Akhirnya, ia bisa mengembalikan kepercayaan Wina padanya.


"Maafkan aku yang sudah berburuk sangka padamu, Mas," ucapnya.


"Tidak apa. Jika aku ada di posisimu, mungkin aku pun akan melakukan hal yang sama sepertimu."


"Kenapa mas tidak memberitahuku sejak awal?"


"Maaf, karena aku tidak melibatkan mu. Tapi, aku tidak ingin kau tersakiti. Meski nyatanya, aku pun telah menyakiti perasaanmu dengan ucapan ku saat itu," lirih Samudra.


Wina mendongak dan menatap lembut mata pria itu. Seketika, senyumnya terbit. Dengan cepat, Wina mencium pipi Samudra.


*****


Pagi genks.... Masih semangat ya. Maaf ya karena tidak semua komentar aku bales. Tapi, aku tetap memberi like pada setiap komentar kalian.


Aku mau promo nih genks🀭promo terus ya. gak papa lah ya. aku bantu temenΒ² othor lainnya. Sambil menunggu aku up, boleh banget mampir ke karya ini, πŸ‘‡πŸ‘‡πŸ‘‡



udah tamat genks, jadi bisa maraton ya🀭 baiklah, sampai jumpa di bab selanjutnya genks...


Aku sayang kalian semua πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜β€οΈβ€οΈβ€οΈπŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ€—πŸ€—πŸ€—

__ADS_1


__ADS_2