
Kini, rumah tangga Citra dan Al kembali harmonis. Widya pun sudah tak lagi ikut campur dalam urusan rumah tangga anaknya. Ia sadar, ia telah menyakiti hati Citra.
Widya bahkan rela meminta maaf pada Citra. Apa yang Citra rindukan, kini ia dapatkan. Kasih sayang dari seorang ibu dan cinta Al yang kembali utuh padanya.
Citra sangat berterimakasih pada Wina. Karena Wina lah, yang membuatnya tetap bertahan dengan Al. Seandainya Wina tetap bersama Al, mungkin Citra tak akan mampu lagi berdiri tegak seperti saat ini.
"Wina, terimakasih untuk semua yang kau berikan. Aku bersyukur, sempat merawat Darren. Meskipun, itu hanya kulakukan selama empat tahun. Aku dan Mas Al sepakat akan mengadopsi anak," ucap Citra.
Wina tersenyum bahagia. Ia memeluk Citra dengan erat. Bagaimanapun juga, mereka pernah menjadi sahabat. Saling berbagi suka dan duka, berbagi cerita, saling menolong, dan saling memiliki.
Wina dengan tulus memaafkan dan melupakan kejadian yang lalu. Wina pun akan mengubur dalam cinta yang pernah tumbuh untuk Al.
*****
Hari ini, Wina dan Samudra akan melakukan foto prewedding di sebuah taman. Samudra terlihat sangat tampan dan gagah dengan setelan jas berwarna putih dan dasi kupu-kupu yang melingkari lehernya.
Ia masih menunggu Wina yan tengah dirias. Wina akan menggunakan gaun berwarna senada dengan Samudra. Sambil menunggu, Samudra memainkan ponselnya.
Terdengar suara pintu terbuka. Membuat Samudra menaikan pandangannya dan menatap kecantikan alami milik Wina. Samudra terus menatap Wina lekat hingga Wina tersipu malu. Wina mengenakan dress berwarna senada dengan setelan yang digunakan Samudra. Dress itu hanya sepanjang lutut, dan menampakan betis Wina yang terlihat cantik di mata Samudra.
"Mas, gak ada niat menelanku kan?"
Kedua alis Samudra terangkat. Menelannya? Samudra mencoba mencerna ucapan Wina.
"Untuk apa?" tanya Samudra pada akhirnya.
"Habis, mas lihat aku sampai seperti itu. Seakan-akan ingin menelanku," ucap Wina. Wajahnya memberengut kesal.
Samudra memajukan wajahnya dan berbisik, "aku itu terpana melihatmu, Sayang. Tapi, kita belum sah. Jadi, hanya mataku yang bisa menikmatinya."
Wajah Wina memerah bak kepiting rebus. Sungguh, ucapan Samudra membuatnya sangat malu. Wina hanya mencubit pinggang Samudra. Tangan Samudra lebih cepat menangkap jemari Wina yang akan mencubitnya.
"Dilarang menyentuhku sebelum kita resmi menjadi suami istri. Atau aku bisa khilaf saat ini." Kembali Samudra berbisik.
Samudra pun meletakkan tangan Wina di lengannya dan melangkah menuju area pemotretan. Wina menunduk malu mendengar ucapan Samudra.
Penata gaya pun mulai mengarahkan gaya yang harus mereka lakukan. Entah sudah berapa banyak foto yang mereka ambil. Samudra, yang biasanya sangat tidak suka memperlihatkan senyumnya pada orang lain, kini ia perlihatkan. Bagi Wina, senyum Samudra sungguh menawan. Rasanya, Wina semakin jatuh dalam jerat asmara pada pria ini.
*****
Matahari mulai terasa menyengat saat ini. Karena mereka tengah berada di ruangan terbuka. Samudra mengambil sapu tangan dari kantung jasnya dan menempelkannya perlahan di dahi Wina yang berkeringat.
"Makasih, Mas," ucap Wina. Ia tersenyum sangat manis pada Samudra.
Pemotretan pun usai. Saat ini, mereka tengah makan siang di sebuah restoran yang berada tidak jauh dari lokasi mereka melakukan foto prewed. Wina sudah membersihkan make up yang tadi digunakannya. Wajahnya terlihat cantik alami.
Mereka memesan makan siang dan menunggu makanan itu tiba. Wina mengambil ponsel dari dalam tasnya. Kemudian mendial nomor telepon Al.
"Telepon siapa?" tanya Samudra.
__ADS_1
"Darren," jawab Wina. Samudra menganggukkan kepala mengerti.
Wina melakukan panggilan video untuk melihat wajah putranya. Baru beberapa jam ia tak melihatnya, rasa rindu sudah menderanya.
"Mommy."
Terdengar suara Darren yang teriak memanggil Wina. Wina tersenyum menatap putranya itu. Samudra berpindah ke samping Wina dan tersenyum pada calon anaknya itu.
"Halo, Daddy."
"Halo, honey. Are you okay?" tanya Samudra.
"Yes, i am okay. Bagaimana pemotretannya?"
"Mommy mu sangat cantik tadi?
"Oh, ya? Oh ... harusnya aku ikut mommy dan Daddy saja tadi."
Wina dan Samudra terkekeh mendengar ucapan Darren. Wajahnya terlihat sangat menggemaskan sekali.
"Darren sudah makan?" tanya Wina.
"Sudah. Mommy dan Daddy baru mau makan ya?"
Wina dan Samudra mengangguk bersamaan. "Sebentar lagi, mommy dan Daddy akan pulang. Darren baik-baik ya," pesan Wina.
"Oke, Mommy. Mommy dan Daddy hati-hati ya. Bye mommy, bye Daddy."
"Mas, ternyata jago gombal ya," ucap Wina.
"Itu bukan gombal, Sayang. Kenyataan," jawab Samudra. Wina terkekeh.
*****
Mereka kini berjalan menuju parkiran. Wina merangkul lengan Samudra mesra. Namun, langkah mereka terhenti saat Samudra melihat sepasang manusia dihadapannya
Raut wajah Samudra yang sebelumnya ceria, berubah menjadi datar dan dingin. Wina mengikuti arah pandang Samudra. Wanita yang Samudra perhatikan pun menoleh.
Terlihat ada keterkejutan di matanya. Wina melepas rangkulannya. Entah mengapa, melihat calon suaminya yang tak berkedip menatap wanita di depan mereka, membuat hatinya sakit.
"Mas," panggil Wina pada Samudra.
Pandangan Samudra masih terfokus pada wanita itu. Tak lama, terlihat wanita itu melangkah bersama pria di sampingnya tadi. Wina pikir, mereka akan segera pergi. Namun nyatanya, mereka menghampiri Wina dan Samudra.
"Hai, Sam," sapa wanita itu.
Wajah Samudra tidak berubah. Ia masih terlihat datar dan dingin. Wina melemparkan senyum lebih dulu.
"Mba, mengenal Mas Samudra?" tanyanya memecah keheningan.
__ADS_1
"Aku, mantan kekasihnya. Kenalkan, ini suamiku," ucap wanita itu pada Wina.
Wina mengulurkan tangannya dan tersenyum pada keduanya. Melihat kecantikan wanita yang mengaku sebagai mantan kekasihnya, membuat Wina merasa insecure. Tubuh wanita itu tinggi dan langsing. Kulitnya putih bersih. Rambutnya panjang terurai. Bola matanya terlihat jernih. Wina merasa seperti melihat seorang putri kerajaan.
Belum lagi, melihat Samudra yang tak berkedip memandang wanita itu. Wina semakin merasa tidak pantas bersama Samudra.
"Apa kabar Sam? Apa dia istrimu?" tanyanya lagi.
Samudra tetap setia dalam kebisuan nya. Wina bingung harus menjawabnya atau tidak. Belum lagi, pandangan wanita itu yang terlihat merendahkan Wina.
"Dia tunangan ku." Samudra menarik pinggang Wina dan menempelkannya pada tubuhnya.
Wina sedikit tersentak saat Samudra terasa seakan meremas pinggangnya. Seperti ada ketakutan dalam diri Samudra yang ia coba pendam.
"Oh, jadi kau sudah berhasil move on dari istriku? Atau kau hanya berpura-pura?" pria itu tertawa mengejek Samudra.
"Aku memang tunangannya. Apa ada yang salah dengan itu?" tanya Wina dengan nada menantang.
Samudra menoleh pada Wina. Dalam hati, ia tersenyum melihat Wina merasa sedikit marah. Kedua orang itu sedikit terkejut. Tanpa berpamitan, kedua meninggalkan Wina dan Samudra.
Wina memilih masuk ke mobil lebih dulu, meninggalkan Samudra di tempat itu.
*****
oooo... ketemu mantanπ
maaf ya genks, baru sempet update. tetap dukung wina dan samudra sampai pelaminan ya....
boleh aku minta tolong? bantu aku lindungi karya ku yuk. ini caranya
ketik di sana novelku "aku, sahabatku"
klik yang aku lingkari ya genks...
terimakasih untuk setiap bentuk dukungan kalian...
mampir juga ke karya teman aku
sampai jumpa di bab selanjutnya..
__ADS_1
bye bye
lope lope yang banyak untuk kalian semuaπππβ€οΈβ€οΈβ€οΈπππ