Berbagi Cinta: Aku, Madu Sahabatku

Berbagi Cinta: Aku, Madu Sahabatku
Bab 35


__ADS_3

Silvia kembali merubah raut wajahnya. Tidak masalah jika ia tak bisa menjadikannya menantu. Dia bisa menjadikannya anak perempuannya bukan?


Ia kembali tersenyum dan menggenggam kedua tangan Wina. Menepuknya lembut dan berkata, "tidak masalah, bunda akan anggap kamu anak perempuan bunda. Jadi, mulai sekarang kamu harus panggil bunda ya."


Wina tersenyum menanggapi ucapan Silvia padanya. Samudra hanya menggelengkan kepala melihat ibunya.


Tak lama, pintu ruang rawat Wina kembali diketuk. Kali ini, profesor James akan melakukan visit terakhir sebelum Wina diperbolehkan pulang.


"Halo, selamat pagi," sapa profesor James.


"Pagi dok," balas Wina.


"Wah, ada dokter Dennis dan dokter Samudra juga di sini." Dennis dan Samudra berjabat tangan dengan profesor James.


"Bagaimana, apa ada keluhan?" tanya profesor James pada Wina.


"Sudah lebih baik dok," jawab Wina.


"Kalau begitu, mari kita ganti perbannya ya." profesor segera meminta para pembesuk, untuk keluar lebih dulu.


Saat mengganti perban yang membalut luka operasi Wina, profesor James menjelaskan pada Wina cara merawat lukanya nanti. Wina mendengarkan dengan seksama. Sesekali, ia akan bertanya.


"Tenang saja, ada dokter Dennis yang akan membantu anda merawat luka itu nanti." profesor James tersenyum pada Wina.


"Terimakasih dok," ucap Wina.


"Untuk beberapa waktu ke depan, harus tetap kontrol ya. Kami akan memeriksa respon tubuh anda. Yang kami takutkan adalah adanya penolakan. Tapi, sejauh ini respon tubuh Anda baik-baik saja." profesor James kembali menjelaskan.


"Baik dok. Saya akan rutin melakukan kontrol," ucap Wina.


"Dokter Samudra juga sekarang sudah mulai membaik. Kondisi tubuhnya berangsur kembali normal, meski belum sepenuhnya." kening Wina berkerut.


"Dokter Samudra?" tanya Wina.


"Iya. Dia adalah orang yang mendonorkan hatinya untuk anda. Dokter Dennis juga mengetahuinya dan menyetujuinya."


Melihat kebingungan Wina, profesor James segera menambahkan ucapannya. "Oh... saat itu, anda sedang tidak sadarkan diri. Jadi, dokter Dennis tidak mungkin bicara dengan anda. Ada dua orang lagi yang ikut melakukan pemeriksaan. Namun, mereka tidak memiliki kecocokan. Baik dari golongan darah, ataupun jaringan."


Wina memaksakan senyumnya. Mungkin, kali ini dia bisa mengucapkan terimakasih pada dokter tampan dengan sikap dingin itu.


"Nah, sudah selesai. Ini surat kontrol nya ya."


Wina mengambil surat itu dan mengucapkan terimakasih. Profesor James segera berlalu dan kembali ke ruangannya. Dennis kembali masuk. Namun, kali ini tidak bersama dengan Samudra dan ibunya lagi.


"Sudah siap?" tanya Dennis.

__ADS_1


Wina mengangguk. Wina pun segera membereskan beberapa barang bawaannya. Dennis menuntun langkah Wina perlahan.


*****


Di mobil,


"Kak, apa benar dokter Samudra yang mendonorkan hatinya padaku?" Dennis menoleh sebentar dan kembali fokus pada jalanan.


"Memang kenapa?" tanyanya.


"Jawab saja," pinta Wina.


"Iya."


"Apa alasannya?" Dennis mengeratkan cengkeramannya pada roda kemudi.


"Tidak ada alasan."


"Baik, aku percaya. Kalau begitu, suatu saat aku akan membalas budinya."


Wina membuang pandangannya ke arah jendela. Selama sisa perjalanan, tidak ada lagi pembicaraan diantara mereka. Dennis tak ingin Wina merasa tidak nyaman karena mengetahui siapa orang yang menyelamatkannya. Karena saat Wina sadar, ia sudah bertanya tentang hal itu. Namun, ia tak menjawabnya.


Wina membaringkan tubuhnya. Ia berusaha memejamkan matanya. Namun, wajah ibu dari Samudra terbayang di pelupuk matanya. Bagaimana binar mata penuh harap wanita itu, kasih sayang yang terpancar darinya, bahkan rasa kecewanya saat mengetahui Wina telah menikah.


"Masuk," ucap Wina.


Terlihat Fika berjalan menghampirinya dengan perut yang semakin membesar. Wina tersenyum menyambut kakak iparnya. Fika memeluk tubuh ringkih Wina dengan erat.


"Syukurlah, sekarang kamu sudah baik-baik saja. Kakak sangat khawatir," ucap Fika.


"Terimakasih, karena kak Fika sangat mengkhawatirkan aku," balas Wina.


"Sekarang, kamu harus hidup lebih baik ya. Masih banyak orang yang menyayangi kamu," nasihat Fika.


"Iya kak," jawab Wina.


*****


Satu bulan kemudian.


Wina kini sudah bisa beraktifitas seperti semula. Ia sering bermain bersama Darren saat akhir pekan. Perkembangan perceraian antara Wina dan Al pun sudah memasuki persidangan pertama.


Wina, menepati janjinya untuk tidak hadir dalam sidang tersebut. Ia berharap, perpisahannya dengan Al cepat terlaksana. Biarlah ia membunuh perasaannya yang sempat tumbuh dan berkembang.


"Mama," panggil Darren.

__ADS_1


Wina tersadar dari lamunannya dan tersenyum pada Darren. "Kenapa, Sayang?" tanyanya.


"Kenapa diam? Apa ada yang mama pikirkan?" tanya Darren kembali.


"Mama sedang berpikir, bagaimana jika Darren memanggil mama dengan sebutan bunda?" kilah Wina. Meski tak ia pungkiri, sejak Darren ada dalam kandungannya, Wina sudah membahasakan dirinya dengan sebutan bunda.


Terlihat Darren yang menyipitkan matanya berpikir. Tak lama kemudian, ia mengangguk cepat dan tersenyum menampakkan deretan gigi mungilnya.


Wina mengacak rambut Darren dan mengecup pipinya. Mereka kembali bermain bersama hingga matahari tenggelam. Hal itu tak lepas dari pandangan Al dan Citra.


Hari ini, mereka memang sengaja memberikan waktu untuk Wina melakukan pendekatan dengan Darren. Saat langit mulai menggelap, Wina menepati janjinya untuk mengembalikan Darren kembali. Meski sejujurnya, Wina ingin bersama dengan Darren lebih lama lagi. Namun, apa mau dikata, ia menyadari kesalahan yang di perbuat nya dulu.


"Dadah bunda. Nanti kita main lagi ya," ucap Darren.


Wina melambaikan tangannya. Citra dan Darren pun telah menghilang dari pandangan. Tinggallah Wina dan Al di sana.


"Kalau begitu, aku permisi ya, Bang." Wina berdiri dan akan melangkah saat tangan besar Al memegang pergelangan tangannya.


"Tidak bisakah kita kembali bersama seperti dulu?" tanya Al.


"Bang, ku rasa perbincangan kita sudah selesai. Tolong, biarkan aku menata hidupku kembali," ucap Wina


Al melepaskan pegangannya. "Biar aku antar pulang," ujar Al.


"Tidak usah. Aku bisa sendiri," tolak Wina.


"Aku hanya akan mengantarmu, tidak lebih." Al masih memaksa.


Wina baru akan membuka mulutnya untuk menolak. Namun, bunyi klakson mobil menghentikannya. Mereka menoleh dan melihat sebuah mobil SUV berhenti di depan mereka. Jendela mobil itu diturunkan dan menampakkan Samudra.


"Ayo, masuk!" perintah Samudra.


"Aku sudah dijemput. Jadi, aku pulang dulu," ucap Wina.


Al terdiam dan memasukkan tangannya ke dalam saku celana. Melihat Wina perlahan memasuki mobil itu dan menghilang dari pandangannya. Tanpa Al sadari, tangannya mengepal erat dalam saku celananya. Hatinya terbakar melihat Wina pulang bersama pria lain. Ada rasa tak rela yang dirasakan Al.


Inikah akhir perjalanan kita? Bolehkah aku merasa cemburu melihatmu bersama pria lain? Aku belum bisa merelakan mu. Meski aku sudah berusaha melepas mu. Hatiku sungguh tidak bisa melakukannya. Salah kah aku yang masih mengharapkan dirimu kembali padaku? Alvino


*****


maaf genks, 🀧 aku sedang tidak semangat. Butuh tambahan semangat aku tuh.


Sampai jumpa di bab selanjutnya...


lope lope yang banyak untuk kalianπŸ˜˜πŸ˜˜β€οΈβ€οΈβ€οΈπŸ’—πŸ’—πŸ’—

__ADS_1


__ADS_2