
Wina melepaskan pelukannya dan kembali terfokus pada pembicaraan mereka sebelumnya.
"Apapun alasannya, aku tidak mau kita bertiga berada di bawah satu atap," ucap Wina tegas.
Melihat Al dan Citra yang akan kembali bicara dan melayangkan protes, Wina mulai mengemukakan pendapatnya lebih dulu.
"Dengarkan aku dulu. Aku tahu kau ikhlas berbagi, Bang Al denganku. Tetapi, tidak menutup kemungkinan suatu saat nanti kau akan terluka karena kebersamaan kami. Bukankah sudah ku katakan, jika aku tidak ingin melukaimu. Jika itu terjadi, aku tidak akan sanggup bertahan. Lebih baik aku mundur." Meski pada akhirnya, hatiku tetap terluka.
Al kembali berpikir. Matanya menatap Citra dan Wina bergantian. Apa yang Wina ucapkan memang benar. Citra tidak sekuat yang terlihat. Hatinya rapuh dan rentan terluka.
Sementara Citra, memilih bungkam. Bukan dirinya tak menyadari semua itu. Namun, entah mengapa ide itu tercetus begitu saja. Ia menundukkan pandangannya.
Wina menghela nafas dan mendekati Citra. "Citra, maaf karena aku mengucapkan ini. Aku terlalu mengenalmu. Kau tahukan, betapa aku menyayangimu?" Citra mengangguk.
"Kalau begitu, biarkan seperti ini saja. Kau di rumah itu dan aku di sini. Biarkan Bang Al mendatangi kita dengan adil." Wina memeluk Citra.
Al mendekati keduanya dan ikut memeluk kedua istrinya itu. Mengecup puncak kepala mereka bergantian. Wina dan Citra saling melepas pelukan mereka. Mereka berbalik dan memeluk pria yang notabene adalah suami sah mereka.
*****
Seperti permintaan Wina, Al pun membuat jadwal untuk tinggal ditempat Wina selama satu minggu dan minggu berikutnya, ia akan bersama Citra.
Jadwal itu mereka mulai hari itu juga. Berhubung Wina baru saja kembali, Al memilih tinggal dengan Wina mulai malam itu. Al lebih dulu mengantar Citra ke kediaman mereka.
Saat ini, Al baru saja kembali ke rumah yang ditempatinya bersama Wina. Wina sedang menyiapkan makan malam untuk mereka. Wina belum menyadari kehadiran Al.
Al tersenyum melihat Wina. Sungguh ia merindukan wanita dihadapannya ini. Perlahan, Al mendekati Wina dan memeluknya. Ia menjatuhkan kepalanya di pundak Wina. Menghirup aroma memabukkan yang menguar memenuhi indera penciumannya.
"Bang, sudah pulang." Wina ingin berbalik. Namun, ia tidak bisa. Al mengeratkan pelukannya di perut Wina.
"Sebentar, Sayang," ucap Al dengan suara serak.
"Tapi, aku lagi masak bang?" protes Wina.
"Memang Abang gak lapar?" tanya Wina.
__ADS_1
Al masih terdiam dan menikmati pelukan mereka. "Aku merindukanmu. Jangan pergi lagi," sendunya.
Wina merasa ragu. Entah ia harus percaya atau tidak. Jujur saja, dirinya belum bisa mempercayai Al sepenuhnya. Hatinya kembali terasa perih mengingat ada Citra diantara mereka. Wina tersenyum pedih.
Al membalikkan tubuh Wina menghadapnya. mengungkungnya di sana. Tangannya bergerak mematikan kompor yang menyala di belakang Wina.
Sementara mata Wina terus menatap Al. Menatap wajah yang begitu ia rindukan. Mata mereka bersirobak. Terpancar kerinduan dari sana.
Al mengangkat tangannya mengusap wajah Wina. Alis, mata, hidup, pipi, bahkan bibir serta rahang Wina tak luput dari sentuhannya. Tubuh Wina meremang menerima sentuhan yang Al berikan. Ia menampik, jika dirinya merindukan sentuhan itu.
Tidak ada tindakan lebih dari Al selain menyentuh wajahnya tadi. Sejujurnya, wina berharap Al melakukan lebih dari sebuah sentuhan.
Al tersenyum menampilkan kedua lesung pipinya. Wina terpanah melihat ketampanan Al. Tangannya terulur membelai rahang Al yang ditumbuhi rambut halus.
Al terlihat semakin tampan dan macho di mata Wina. Al menutup matanya menerima sentuhan Wina. Ia pun merindukan sentuhan Wina.
Mata Wina menatap bibir merah yang selalu mencumbuinya. Lagi-lagi, ia teringat, jika bibir itu juga telah mencumbui Citra lebih dulu. Seakan tak rela, Wina memajukan wajahnya dan menautkan bibir mereka.
Al justru membalasnya. Hingga membuat lutut Wina melemas. Sebenarnya Wina melakukan itu karena cemburu. Namun, Al menganggapnya berbeda.
Al pun membopong tubuh Wina tanpa melepaskan tautan bibir mereka. Al menendang pintu kamar mereka dan melupakan, jika pintu depan rumah mereka belum terkunci.
*****
Mendengar Al sudah pulang sejak jam tiga sore tadi, Widya pun memilih mendatangi kediaman Al. Entah mengapa dirinya bisa tiba di rumah yang ditempati Al dan Wina.
Loh, kok kesini ya? Apa Al ada? gumamnya dalam hati.
Awalnya Widya ragu-ragu. Namun, ketika matanya menangkap mobil Al yang terparkir cantik di halaman, Widya pun masuk. Widya mulai melangkah membuka gerbang rumah Al. Ia memaki Al yang tak mengunci gerbang rumahnya dengan benar.
Widya mulai membuka pintu depan rumah itu dan mendapatinya tak terkunci. Ia kembali memaki Al yang begitu ceroboh. Niat hati, Widya datang ingin mendesak Al untuk mencari keberadaan Wina. Baru saja kakinya melangkah masuk, terdengar suara aneh di dalam kamar.
Suara apa itu? Jangan-jangan Al dan Citra... Widya tak sanggup meneruskannya.
Ingin ia masuk dan mengumpat pada putranya itu. Saat ini, Widya belum mengetahui jika Wina sudah kembali. Wajah Widya memerah menahan amarah. Apalagi, ketika mendengar teriakan-teriakan penuh kenikmatan itu.
__ADS_1
Widya berpikir jika Al tengah melakukan hal itu bersama Citra. Ia begitu marah, karena Al dengan beraninya membawa Citra ke rumah yang di siapkan ya untuk Wina dan melakukan hubungan itu di sini.
Widya memilih menunggu mereka menyelesaikan kegiatan panas mereka di ruang tamu. Ia melipat tangannya. Tatapan matanya tak ubah seperti singa yang siap menerkam mangsanya.
Dasar anak kurang a**r. Istri keduanya hilang bukannya dicari, malah keenakan melampiaskan nafsu di sini. Kenapa tidak di rumah mereka saja? Dasar menantu tidak tahu diri. Kenapa juga dia mau melakukannya di rumah yang bukan miliknya. Apa dia gak jijik dengan tempat yang sudah digunakan suaminya dengan temannya sendiri?
Widya menggeram dalam hati. Mengumpat Al dan Citra yang tidak mengenal tempat dalam menyalurkan keinginan mereka. Ia bergidik ngeri saat membayangkannya.
Sudah lebih dari satu jam widya mendengar suara-suara itu. Ia menghela napas berat dan menggelengkan kepalanya. Ia memijit keningnya. Ia teringat pada suaminya. Al putranya dan suaminya Yudha. Kedua pria terpenting dalam hidupnya ini memang perkasa dalam urusan ini.
Widya mulai merasa bosan dalam menunggu. Haruskah ia mengganggu kegiatan mereka. Ia benar-benar merasa kesal. Lima belas menit kemudian, tak lagi terdengar suara itu dari dalam kamar. Sepertinya mereka sudah selesai melakukan kegiatan itu.
Widya berdiri dan berniat menunggu mereka di depan pintu. Setelah itu, ia akan mendamprat keduanya. Ia bertolak pinggang dan wajahnya menunjukkan kemarahan.
*****
😂😂😂 gimana ya reaksi mami waktu tahu itu bukan Citra?
Hai genks.. kembali lagi. jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya.
Hari ini, aku kembali membawa novel rekomendasi untuk kalian. Yang pasti, bagus² semua ya. ini dia
jangan lupa mampir ke karya kakak² aku ya. Karya mereka pun bagus² loh. Tinggalkan jejak kalian di sana ya.
ok. sampai jumpa direkomendasi selanjutnya. bye...
__ADS_1
Salam cinta se-alam semesta untuk kalian.
(biar semuanya kebagianðŸ¤ðŸ¤—💖💖)