
Di mobil
Citra dan Darren menunggu di dalam mobil. Sudah lebih dari sepuluh menit berlalu. Namun Al belum juga terlihat keluar. Citra sungguh merasa tak tenang. Ingin sekali Citra masuk kembali dan bicara pada Wina. Namun, ia juga tak mungkin meninggalkan Darren sendiri.
Berulang kali Citra meremas jemarinya. Ia menggigit bibirnya. Pikirannya merasa tak tenang saat ini. Darren memperhatikan wajah Citra yang terlihat khawatir. Meski tubuhnya kecil, Darren mampu memahami apa yang tengah terjadi. Terlebih, saat ia melihat ayahnya bersama wanita yang tidak diketahuinya. Namun, entah mengapa ia merasa menyayanginya.
"Mama, tadi itu siapa?" tanya Darren.
Citra menoleh saat mendengar pertanyaan itu. Haruskah Darren mengetahuinya sekarang, jika dirinya bukanlah ibu yang melahirkannya, melainkan Wina? Apakah Darren akan membenci Wina saat ia mengetahuinya? Citra berperang melawan batinnya sendiri.
"Ma," panggil Darren saat pertanyaannya tak juga Citra jawab.
"Darren, mama mau tanya," Darren mengangguk.
"Seandainya Darren memiliki ibu yang lain selain mama, apa Darren akan menyayanginya?" Darren mengerutkan dahinya heran.
Citra tak tahu bagaimana cara yang tepat untuk memberitahu Darren tentang ibu kandungnya. Tidak hanya takut Darren membenci Wina. Ia pun takut, jika Darren tak lagi menyayanginya. Empat tahun kebersamaan mereka, mungkin saja akan sirna seketika. Citra membuka tasnya dan mengambil sesuatu dari sana. Ia memutuskan akan tetap memberitahu kebenarannya pada Darren.
"Lihat ini." Darren melihat foto pernikahan Wina dan Al empat tahun lalu.
Darren menatap Citra setelah melihat foto itu. Ia mengenali foto wanita lain di sana adalah wanita yang saat ini ada bersama ayahnya.
"Papa menikah lagi dengan, Tante tadi?" tanya Darren.
"Dia ibumu. Ibu kandungmu." mata Citra berkaca-kaca saat memberitahukan hal itu pada Darren.
Darren terdiam. Ia tidak tahu harus berkata apa. Yang dia ingat adalah eyangnya pernah mengatakan, jika ibu kandungnya sudah meninggalkan dirinya empat tahun lalu karena sakit. Karena sejak Darren bisa mengingat, Widya mulai memberitahu keberadaan Wina. Bahkan, membawa Darren untuk melihat makam ibunya.
"Eyang putri bilang, mama Darren sudah tidak di dunia lagi!" seru Darren.
Citra menarik napas dalam dan menghembuskannya. "Dengar nak, mama tidak tahu apa yang terjadi saat itu. Tapi yang jelas, dia ibumu. Ibu yang melahirkan mu."
Setetes air mata jatuh di pipi Darren. Ia menundukkan kepalanya. Citra memeluknya dan mengecup rambutnya berkali-kali.
__ADS_1
"Dengarkan mama. Mama tahu Darren anak yang pintar. Darren pasti akan mengerti tentang apa yang akan mama ceritakan ini. Dulu, mama melakukan kesalahan dengan membuat ibu kandungmu menjadi istri kedua untuk papa. Ibumu sangat marah hingga ia memutuskan pergi dari papa sebelum dirimu hadir. Namun, mama dan papa terus meyakinkannya untuk bertahan. Dia menyetujuinya. Dia sangat marah, waktu tahu mama ingin menyerah dan membiarkannya tetap bersama papa. Saat itu, kau sudah berada di dalam rahimnya. Mama akui, mama cemburu. Ibumu memaksa mama untuk tetap berada di samping papa. Akhirnya mama setuju. Tanpa mama dan papa ketahui, jika ibumu sudah merencanakan semuanya sendiri.
"Mama yakin, ibumu tidak berniat meninggalkanmu. Ini pasti keputusan yang berat baginya. Apa Darren mengerti maksud cerita mama?" Darren menatap Citra.
"Darren tahu ma. Jadi, mama ingin beritahu Darren agar Darren tidak membencinya kan?" Citra mengangguk. Darren tersenyum pada Citra.
*****
Di dalam cafe.
Dennis pun segera merangkul bahu Wina. Tubuhnya masih bergetar hebat karena menahan emosi. Ia menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Pembicaraan mereka terganggu akibat kehadiran manager cafe tersebut.
"Ada apa ini?" tanyanya.
"Maaf, pak, Bu, jika kalian ingin bertengkar, mohon untuk melakukannya di luar. Apa kalian tidak lihat, cafe kami berantakan seperti ini? P*******n kami bahkan merasa tidak nyaman dengan hal ini!" protesnya.
"Maaf pak. Ini, saya ganti rugi. Silahkan di hitung saja," ucap Dennis.
Al dan Wina masih saling menatap. Al menatap kosong, sementara Wina menatap penuh kerinduan. Wina tak bisa memungkiri, jika relung hatinya telah diisi penuh oleh nama Al. Hingga ia merasa sulit untuk membuka hatinya pada pria lain.
"Kita keluar." Dennis mendorong tubuh Wina.
Ia menundukkan kepala meminta maaf pada p*******n lain. Wina berusaha meredakan gejolak dalam dadanya.
"Wina," Al kembali menggenggam jemari Wina.
"Empat tahun aku berdiam diri menerima keputusan adikku. Empat tahun juga dia menyesali keputusannya dengan menyerahkan anaknya pada kalian. Kau, hanya bisa menghakimi Wina bukan? Apa kau tahu betapa berat dia mengambil keputusan itu? Apa kau tahu, jika setiap malam dia akan menangisi keb*****nnya dulu?" Al tertegun.
Wina memilih diam, karena dadanya terasa makin sesak. Ia pun memilih menarik kemeja yang Dennis gunakan sebagi isyarat, agar mereka segera meninggalkan tempat itu. Wina menarik paksa jemarinya yang digenggam Al.
"Jika kau menyesalinya, kenapa kau tidak kembali? Kenapa justru kau memilih pergi? Kenapa kau bahkan tidak pernah menemuinya sekalipun? Kau bahkan membuat drama kematian untuk dirimu sendiri agar aku tak mencegah mu pergi bukan? Kaulah yang menyiksa dirimu sendiri. Kau yang membuat semuanya menjadi sulit. Apa pernah kau membicarakannya padaku atau Citra? Tidak. Kau egois. Kau hanya memikirkan dirimu sendiri.
"Kau merasa sakit hati dengan ucapan ku? Apa ada dari ucapan ku yang salah? Kau, tidak pantas disebut sebagai ibu. Tidak ada ibu yang tega meninggalkan anaknya sendiri. Tapi kau, dengan kesadaran mu meninggalkannya. Aku benar-benar salah menilai mu." Al memilih pergi meninggalkan Wina yang mematung.
__ADS_1
Dennis sudah ingin menghampirinya dan menghajar dirinya. Namun, Wina menghalanginya dan menggelengkan kepalanya.
Dennis pun membawa Wina ke mobilnya. Sebelumnya, ia sudah lebih dulu mengantarkan Fika istrinya pulang. Hingga Fika tak perlu melihat drama ini.
Wina menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. Pandangannya, hanya mengarah ke jendela. Apa yang Al katakan memang benar. Hingga Wina terus memikirkannya.
Dennis melirik Wina dengan ekor matanya. Terlihat dengan jelas, kesedihan yang menggantung di wajah Wina.
"Sejak awal, kakak seharusnya sudah melarang mu melakukan itu. Maafkan kakak," ucap Dennis yang merasa bersalah.
"Bukan salah kakak. Sudahlah. Aku tak ingin membahasnya." Wina kembali membuang pandangannya.
Tiba di rumah, Fika segera memberondongnya dengan pertanyaan. Namun, Dennis merangkul istrinya dan menggelengkan kepala. Fika pun terdiam dan tak banyak bicara.
Dikamar, Wina menangis dengan kerasnya. Ia merutuki dirinya sendiri yang ternyata masih menyimpan sedikit rasa cinta pada Al. Ia menenggelamkan wajahnya diantara kedua lututnya.
Entah sudah berapa lama Wina menangis. Dennis masih saja bisa mendengarkan Isak tangis adiknya itu.
*****
Note: obat yang Dennis berikan pada tubuh Wina waktu itu, seutuhnya hanya karangan bebas penulis saja. karena manusia tidak mungkin bisa mempermainkan nyawa manusia lainnya. Jadi, please jangan salah kaprah ya.
Wah, berat banget aku bikin part ini. Drama banget gak sih? Wina masih belum bicara ya genks tentang uneg² dia. Jadi, jangan kemana²...
rekomendasi novel untuk mu. Sambil menunggu aku up, yuk mampir di karya terbaru ku. ini dia
mampir juga di karya my besties
Sampai jumpa di bab selanjutnya genks....
__ADS_1
lope-lope yang banyak buat kalian😘😘😘💗💗💗❤️❤️❤️