
Mendengar pertanyaan Darren, membuat Samudra memutar otak untuk memberikan jawaban pada anak itu. Ia menyadari diusia Darren saat ini adalah usia dimana seorang anak akan selalu bertanya dengan kritis, saat ia ingin mengetahui sesuatu.
Samudra memikirkan jawaban yang tepat. Ia tidak ingin menyakiti hati murni Darren. Namun, Wina lebih dulu menjawabnya.
"Sayang, Daddy kan sibuk bekerja. Darren tidak boleh bicara begitu ya," ucap Wina.
"Mommy, ayah dari teman-teman Darren pun sibuk. Tapi, ayah mereka masih menyempatkan waktu untuk mengajak mereka jalan-jalan. Darren kan juga ingin pergi jalan-jalan dengan Daddy dan mommy," ucapnya sendu.
Wina tak mampu menjawab setiap ucapan Darren lagi. Melihat hal itu, Samudra pun tersenyum pada Darren.
"Maafkan Daddy ya, Nak. Daddy tidak bermaksud melupakan Darren. Daddy sayang sekali sama Darren. Daddy janji, Daddy akan selesaikan urusan Daddy dan membawa Darren serta mommy tinggal dengan Daddy."
Mendengar ucapan Samudra, membuat Wina mengalihkan pandangan padanya. Ia mengerutkan alisnya. Samudra begitu yakin dengan ucapannya. Saat mengucapkannya pun, Samudra menatap kedalam mata Wina.
"Benar Daddy?" Samudra mengangguk.
"Janji ya?" Darren mengacungkan jari kelingkingnya.
Samudra pun menautkan jarinya pada jari mungil Darren dan tersenyum. "Iya. Daddy janji," ucapnya.
"Kami, duluan ya Sam," pamit Fika yang sejak tadi ingin ikut bicara. Namun, Dennis terus menahannya.
Samudra tersenyum dan menganggukkan kepala. Dennis menepuk pundak Samudra.
"Berjuanglah mencairkan hati adikku." Dennis pun berlalu meninggalkan Samudra.
Samudra menatap punggung mereka hingga menghilang. Setelahnya, ia pun masuk ke dalam mobil.
*****
Hari demi hari Samudra lalui dengan merayu Wina. Ia mengirimkan bunga dengan berbagai ungkapan cinta. Tidak hanya itu, Samudra pun mengirimkan berbagai pesan singkat berisi rayuan dan sekedar pengingat hingga akhirnya, Wina memblokir nomor ponselnya.
Sebelum memblokirnya, Wina mengirimkan pesan yang membuat Samudra tak menghiraukannya.
📨Wina;
Tolong jangan mengirimiku pesan seperti ini lagi. Aku muak dengan semua rayuan mu.
Karena hal itu, Samudra memilih mendatangi Wina secara langsung dan mengajaknya bicara. Ia baru saja tiba di depan toko Wina, saat Wina menutup railing door.
"Hai," sapa Samudra.
__ADS_1
Wina mendengus kesal melihat kedatangan Samudra di sana. Ia kembali mengunci pintu dan menyimpan kunci ke dalam tasnya. Kemudian, ia mempersilahkan karyawannya pulang lebih dulu.
"Ada apa?" tanya Wina datar.
"Kita harus bicara."
"Sepertinya tidak ada hal yang harus kita bicarakan saat ini." Wina melangkah ke pinggir jalan untuk menghentikan taksi.
Samudra mengikuti langkah Wina. "Ku mohon, beri aku waktu untuk bicara," ucap Samudra.
"Sudahlah, Mas. Kita sudah memutuskan untuk tidak lagi bersama. Jadi, mari kita jalani hidup kita masing-masing. Aku akan memberi pengertian pada Darren," tutur Wina.
Melihat Wina yang enggan bicara dengannya, membuat Samudra menahan Wina saat wanita itu akan pergi.
"Ku mohon. Beri aku satu kesempatan. Aku tidak akan menyia-nyiakannya. Akan aku buktikan jika di hatiku hanya ada nama mu," ucap Samudra.
Wina gamang. Haruskah ia benar-benar memberi kesempatan kedua untuk Samudra ataukah dia harus tetap pada pendiriannya? Wina terdiam tak bisa menjawab.
"Aku sungguh-sungguh. Aku tidak lagi mencintai wanita itu. Dia hanya masa lalu bagiku. Saat kita bertemu dengannya dulu, aku memang terkejut. Tapi, aku tidak berpikir untuk kembali padanya. Aku bahkan senang, saat mendengar kau mengatakan, jika dirimu adalah tunangan ku."
"Lalu, kenapa bukan Mas Sam saja yang menjawab pertanyaan dia? Kenapa harus menunggu aku yang menjawabnya?" tanya Wina.
"Aku menganggap, jika dia tidak perlu mengetahui siapa dirimu. Bagiku, dia bukan lah siapa-siapa," ucap Samudra tegas.
Wina menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. "Oke. Aku akan memberikan mas satu kesempatan."
Samudra tersenyum dan menggenggam jemari Wina. Ia menciumnya berkali-kali.
"Mas." Wina menarik tangannya.
Wajahnya memerah malu saat Samudra mencium punggung tangannya. Ia menatap orang-orang yang berjalan di sekelilingnya seraya berbisik-bisik.
"Baiklah. Ayo, aku antar pulang." Samudra menggenggam jemari Wina kembali dan menariknya ke arah mobil.
Samudra membukakan pintu penumpang bagian depan tepat di sebelahnya. Ia pun menjalankan mobil dengan kecepatan sedang.
Senyum di wajah Samudra tak henti terkembang. Hingga Wina mengedipkan kedua matanya cepat. Ia merasa sedikit heran melihat sikap Samudra yang berbeda.
Entah hanya perasaannya saja atau tidak, Samudra terlihat lebih kekanakan saat ini. Kemana Samudra yang dulu terlihat cool dan cuek? Sejak kapan pria itu mengubah sifatnya?
"Mau bengong sampai kapan?" tanyanya.
__ADS_1
Wina terkejut. Ia tak menyadari, jika mobil yang Samudra kendarai sudah memasuki halaman rumah Dennis. Wina terkekeh. Ia melepas seat belt dan mendorong pintu.
"Mau mampir?" Wina menawarkan.
Samudra melihat jam di pergelangan tangannya. Jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Samudra menolak tawaran Wina.
"Sudah terlalu malam. Tidak mungkin aku bertamu di jam segini. Tidak apakan?" Wina mengangguk.
"Besok, ku jemput ya. Aku merindukan Darren. Karena besok weekend, aku libur. Boleh kan?"
"Boleh," jawab Wina.
"Oke. Sampai jumpa," ucap Samudra.
Wina pun masuk ke rumah setelah Samudra tak lagi terlihat. Wina membuka pintu dan kembali menguncinya.
"Sepertinya, ada yang sudah baikan, Mas," ucap Fika pada Dennis. Jelas, Fika sedang ingin menggoda Wina yang baru saja kembali.
"Iya. Wajahnya juga kelihatan lebih berseri," timpal Dennis.
"Kak." Wina menatap keduanya bergantian.
"Gak apa kok, kalo emang balikan lagi. Toh, Samudra tidak melakukan kesalahan yang fatal kan?"
Wina terdiam. Apa yang Fika ucapkan memang benar. Hanya saja, Wina benar-benar menjaga hatinya saat ini. Ia tidak ingin mengalami kegagalan lagi. Wina pun tak ingin menaruh harapan palsu.
Jujur saja, dari lubuk hatinya yang terdalam, ia merasa sudah jatuh hati pada Samudra. Wina tidak ingin kembali merasakan sakitnya dikhianati dan dibohongi.
Luka masa lalu itu saja masih membekas dalam ingatannya. Apalagi, ada Darren juga yang menjadi pertimbangannya ke depan. Jika ia sampai salah melangkah, bukan hanya hatinya yang terluka, Darren pun akan ikut merasakannya. Semoga saja, kali ini Tuhan berbaik hati memberikannya kebahagiaan.
"Aku memberinya kesempatan kedua. Karena aku tidak ingin terburu-buru mengambil keputusan. Jika memang kami berjodoh, aku percaya Tuhan akan menyatukan kami. Namun, jika kami tidak ditakdirkan bersama, mungkin memang kami tidak berjodoh."
Dennis mendekati Wina dan memeluk adiknya itu. "Kau pantas bahagia, Sayang. Kakak akan pastikan itu," ucapnya lirih.
Fika pun ikut memeluk tubuh Wina. Sebagai wanita, ia mengerti bagaimana perasaan Wina saat ini.
*****
malam genks.... baru sempat up. terimakasih untuk kalian semua.... oh iya, kalian udah tau belum sih, NT sudah memperbarui sistem. Sekarang, kalian bisa komentar di setiap paragraf. cukup tekan sedikit lebih lama aja. Nanti akan ada paragraf yang terblok dan muncul kolom komentar. Wah, NT makin keren ya.
Oke baiklah semuanya. Sampai jumpa di bab selanjutnya. aku udah ngantuk. besok kita lanjut ya...
__ADS_1
lope² yang banyak buat kalian semua....
bye.. bye..