
Silvia dan Fika terkikik geli melihat raut bingung di wajah Wina. Meski Wina pernah menikah, ia tidak akan mengerti ucapan diantara mereka. Apalagi, ucapan ambigu yang yang diucapkan para pria di depannya.
Wina memilih mengambil alih Cahaya dari gendongan ibunya. Dengan senang hati Fika mengalihkannya. Cahaya juga terlihat senang berada dalam pelukan Wina.
"Kalian bicaranya yang jelas dong. Wina mana tahu istilah itu!" Samudra dan Dennis tersenyum.
Samudra bergeser dan merangkul bahu istrinya. Ia mendekati telinga Wina dan berbisik. Seketika, wajah Wina bersemu merah mendengar ucapan suaminya itu. Merasa gemas, Samudra mengecup pipinya. Wina memelototi Samudra.
Samudra hanya tersenyum padanya. "Kakakmu bertanya, apa di sini sudah tumbuh Samudra junior?" Samudra mengusap perut rata istrinya.
Wajah Wina kembali bersemu merah. Ia merasa malu membicarakan hal itu saat ini. Terlebih, mereka baru satu minggu menikah. Dennis tersenyum melihat wajah adiknya yang menahan malu.
*****
Dennis dan Fika pun berpamitan saat Darren terbangun. Sejak anak itu membuka mata, ia langsung mencari Samudra dan menempelinya. Hingga mereka mengantarkan Dennis dan keluarga kecilnya, Darren terus memeluk leher Samudra.
"Darren, ayo sama Mommy." Wina ingin mengambil alih Darren dari gendongan Samudra.
"Darren sama Daddy saja Mommy. Mommy istirahat saja. Mommy pasti lelah."
"Daddy juga lelah loh." mereka menoleh pada Silvia.
"Tidak apa, Bun. Biar Sam dan Wina, bawa Darren ke kamar saja," Jawab Samudra.
"Tidak akan mengganggu kalian?"
"Tidak Bun," jawab Samudra.
"Ya sudah. Istirahat sana. Kalian pasti lelah."
*****
Keesokkan harinya, Wina bangun lebih dulu. Menyadari jika dirinya kini sebagai seorang istri, membuatnya secara naluriah menyiapkan keperluan Samudra.
Setelah menyiapkan pakaian kerja untuk suaminya, Wina menyiapkan sarapan di dapur. Seorang asisten rumah tangga yang memang sudah bekerja di sana cukup lama, sedang membuat sarapan.
"Bikin apa mbok?" tanya Wina.
"Eh, Non. Ini non si mbok mau bikin nasi goreng seafood."
"Ini, bahan-bahannya?"
"Iya, Non?"
Wina segera membantu meracik semua bahan. "Sudah, biar saya saja mbok yang masak. Mbok kerjakan yang lain saja."
Mbok Surti mengangguk dan segera meninggalkan area dapur. Wina mulai menyalakan kompor dan memasak nasi goreng untuk sarapan.
"Kamu sudah bangun, Sayang?" Silvia mendekati Wina dan tersenyum.
Wina membalas senyum Silvia. "Sudah, Bun."
"Samudra mana?"
"Tadi sih masih tidur." Wina mematikan kompor dan mengambil wadah untuk menaruh masakannya.
"Sudah, biar bunda pindahkan. Kamu bangunkan Samudra dan Darren ya." Wina tersenyum dan mencuci tangannya.
__ADS_1
"Wina ke atas dulu ya, Bun," ucapnya.
Wina menaiki tangga menuju kamarnya dan Samudra. Ia membuka pintu perlahan dan melihat suami serta anaknya masih tertidur lelap. Darren bahkan memeluk Samudra. Begitupun sebaliknya. Wina melangkah perlahan dan mulai mengguncang pelan tubuh suaminya.
"Mas, sudah siang. Ayo, bangun."
Perlahan Samudra membuka matanya. Ia melepaskan pelukannya pada Darren dan memindahkan tangan Darren perlahan.
"Pagi, Sayang," sapa Samudra.
Wina tersenyum dan mengecup cepat bibir Samudra. Samudra tersenyum melihat istrinya yang mulai berani mengecupnya lebih dulu.
"Lagi," ucapnya jahil.
"Apanya?" Wina segera berdiri dan akan menuju bathroom.
Ia akan mengisi bathub dengan air hangat. Samudra membiarkannya dan mengikuti langkah istrinya.
"Tidak usah, Sayang. Biar aku saja."
Samudra mengecup pipi Wina dan memeluknya. Menghirup dalam aroma yang sudah menjadi candu baginya.
"Aku menginginkan m, Sayang." suara Samudra terdengar parau.
"Jangan aneh-aneh, Mas. Sudah, lepaskan. Aku harus membangunkan Darren."
Dengan tidak rela, Samudra melepaskan pelukannya dan ******* belahan merah menggoda itu dengan rakus. Wina membalasnya. Namun, teriakan Darren menghentikan tindakan keduanya.
"Mommy," teriak Darren memanggil Wina.
"Iya, Nak. Mommy datang," sahutnya.
Wina segera menghampiri Darren. Samudra tersenyum dan menutup pintu kamar mandi.
*****
Satu bulan lebih kemudian. Wina baru saja tiba di tempat Samudra bekerja. Setelah Dennis menghubunginya, ia segera pergi ke rumah sakit.
Dennis memberitahu, jika Samudra terus saja memuntahkan isi perutnya hingga tubuhnya melemas. Wina yang mengkhawatirkan kondisi suaminya, bergegas meninggalkan toko.
"Kak. Mas Samudra dimana?" Wina terlihat sangat khawatir.
"Di dalam. Masuklah." Wina membuka ruangan Dennis dan melihat wajah pucat Samudra yang bersandar di sofa dalam ruangannya.
"Mas." Wina duduk di samping Samudra dan menyentuh wajah pucatnya.
Perlahan Samudra bergerak memeluk Wina. Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Wina. Menghirup dalam aroma yang membawa ketenangan untuk Samudra. Wina mengusap punggung Samudra perlahan.
"Mas, baik-baik saja?" Samudra mengangguk.
"Aku tidak apa, Sayang. Kakakmu saja yang berlebihan."
Wina menoleh pada Dennis. Dennis sendiri menunjuk hidungnya. Wajah Dennis berubah masam.
"Kenapa jadi aku yang disalahkan?" gerutunya.
"Kau tidak lupa dengan istilah couvade sindrom kan?" Dennis mengerutkan dahinya.
__ADS_1
"Ah, rupanya ...." Kedua sahabat itu tersenyum cerah.
"Ada apa ini?" tanya Wina yang tidak mengerti dengan istilah yang mereka sebutkan.
Sejak tadi, ia hanya mendengarkan pembicaraan mereka, tanpa mengerti maksudnya. Melihat mereka yang tak berniat menjelaskannya, membuat Wina buka suara untuk bertanya.
"Apa kau tidak merasa ada yang berbeda dengan dirimu, Sayang?"
Wina mengerutkan dahinya. Apa yang aneh? Rasanya tidak ada. Wina menggeleng.
"Yakin?" Wina mengangguk yakin. Samudra mengusap perut Wina yang masih rata. Wina kembali mengerutkan dahinya.
"Di sini, calon baby kita pasti sudah bertumbuh."
Wina terlihat terkejut. Ia kembali mengingat kapan terakhir kali ia mendapat tamu bulanannya.
"Aku baru selesai datang bulan, Mas."
"Kapan?"
"Sepertinya, sepuluh hari yang lalu," jawab Wina tak yakin. Ia seperti melupakan kapan terakhir kali tamu bulanannya datang.
"Saat kau bilang perutmu terasa sakit?" Wina mengangguk.
"Apa tamu mu benar-benar keluar?"
Wina kembali berpikir dan mencoba mengingat dengan baik. "Sepertinya tidak. Hanya flek saja."
Samudra berdiri dan menggamit jemari Wina. "Mari kita buktikan ucapan ku."
Mereka meninggalkan ruangan Dennis dan menuju poli obgyn. Wina hanya mengikuti langkah Samudra.
"Mas, yakin? Aku malu mas kalau ternyata tebakan mas salah."
Wina menundukkan kepalanya malu. Ia takut mengecewakan harapan suaminya. Dia ingat, saat bersama Al dulu saja, ia baru hamil setelah usia pernikahan mereka lebih dari empat bulan.
Samudra tak menggubris ucapan istrinya. Ia merasa yakin dengan ucapannya. Mereka terus melangkah hingga berhenti di satu ruangan.
Samudra mengetuk pintu. Setelah dipersilahkan masuk, Samudra meminta Wina masuk lebih dulu. Seorang dokter cantik tersenyum dan berdiri menyalami Wina dan Samudra.
"Tumben sekali dokter Samudra yang sibuknya luar biasa menyambangi saya?"
Samudra diam dan duduk di samping Wina. Tak mendapat jawaban, dokter itu mengalihkan perhatiannya pada Wina.
"Ini, istri Anda?" Samudra mengangguk.
"Jadi?" tanyanya.
"Aku ingin memeriksakan kandungan istriku."
Dokter wanita itu tersenyum Namun, Wina bisa menangkap kesedihan dari wajahnya. Terlebih, suaminya merubah wajah lembutnya menjadi datar dan dingin. Seakan tak tersentuh sedikit pun.
*****
Pagi menjelang siang genks... beberapa hari ini sibuk banget.... Jadi, hanya bisa up 1 bab. Tapi, jika sempat aku akan up lagi nanti.
Oh iya, aku mau bikin cerita teen nih. Tapi, kalo kalian gak suka, aku gak jadi bikin deh. ðŸ¤ðŸ¤ vote yuk... kalo banyak yg mau, akan ku buat.
__ADS_1
Sampai jumpa di bab selanjutnya kesayangan....🤗🤗🤗😘😘😘💖💖💖