Berbagi Cinta: Aku, Madu Sahabatku

Berbagi Cinta: Aku, Madu Sahabatku
Bab 17


__ADS_3

Al tiba di tempat Citra saat waktu sudah mendekati tengah malam. Ia masuk dan mencari keberadaan Citra. Ia melihat Citra sudah tertidur. Dengan langkah perlahan, ia memasuki kamar mandi dan membersihkan diri lebih dulu.


Usai dengan ritual mandi, Al turut masuk ke dalam selimut. Mendekap Citra dan mencium keningnya. Citra terbangun. Perlahan ia membuka matanya.


"Mas," ucap Citra dengan suara serak khas orang yang baru bangun dari tidur.


"Maaf ya, Mas membuat kamu terbangun," ucapnya.


Citra memeluk pinggang Al dan membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya itu. Citra kembali teringat dengan permintaan Widya ibu mertuanya. Hatinya kembali terasa sakit. Mampukah ia kehilangan pria yang di cintainya ini?


Sungguh, membagi cinta dengan sahabatnya saja, ia sudah berusaha untuk menyenangkan hati mertuanya. Belum cukupkah pengorbanannya? Haruskah ia kembali berkorban hanya demi rasa sayang yang ia rindukan?


"Mas, seandainya kita berpisah, apa kau mau?" tanya Citra.


Al melepas pelukannya dan menatap Citra. Menatapnya tepat di kedua bola mata istrinya itu. Mencoba menyelami maksud dari perkataan yang Citra lontarkan tadi.


"Apa maksudmu?" tanya Al.


Citra menggeleng seraya tersenyum. Namun Al, tidak percaya. Pria itu merasa ada sesuatu yang tidak beres telah terjadi.


"Katakan pada Mas, apa yang terjadi? Apa itu permintaan Mami?" tanyanya.


Citra terkejut Al mampu menebaknya. Citra tidak ingin membuat Al semakin menjauh dari Widya. Ia juga tidak ingin semakin disalahkan jika itu terjadi.


"Tidak, Mas. Aku hanya asal bicara," ucap Citra.


"Jangan pernah bicara seperti itu lagi. Kamu tahu kan seberapa sayangnya, Mas sama kamu?" Al menarik Citra ke pelukannya lagi.


"Bagaimana dengan Wina?" tanya Citra. Entah mengapa, pertanyaan itu terlontar.


"Mas juga menyayanginya. Meski, tidak sebesar rasa sayang mas padamu," tutur Al.


"Jika Wina hamil, apa mas akan melupakanku?" tanya Citra.


Tak bisa Citra pungkiri, ada rasa takut kehilangan dalam dirinya. Apalagi, dirinya sudah tak sempurna sekarang.


"Tidak akan. Kamu akan tetap menjadi prioritas Mas," jawab Al yakin.

__ADS_1


Benarkah itu? Aku sendiri tidak yakin. Apa aku akan benar-benar mengutamakan Citra? batin Al.


Benarkah itu Mas? Kenapa aku merasa ucapan mu bertentangan? tanya Citra dalam hatinya.


Tak ingin memikirkan hal itu, Citra berusaha menikmati tiga hari tersisa bersama Al, sebelum pria itu kembali pada Wina.


*****


Pagi hari, Al terbangun karena perutnya terasa mual. Ia berlari ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya. Citra mengikutinya dan membantu Al.


"Mas, sakit? Kita ke dokter ya," ajak Citra.


"Mas, gak apa-apa sayang. Hanya kelelahan saja," tolaknya.


Al mencoba memeluk Citra. Namun, entah mengapa ada rasa berbeda. Kemarin, dirinya juga merasa mual. Tetapi, saat ia memeluk dan menghirup aroma yang menguar dari tubuh Wina, justru menghilangkan rasa mualnya.


Sama seperti Al, Wina pun tengah mengalami morning sickness. Sejak pagi, ia sudah mengeluarkan semua isi perutnya. Hingga tubuhnya terasa lemas dan tak bertenaga. Tiba-tiba saja, ia merindukan Al dan menginginkan pria itu.


Tidak Wina. Tahan dirimu. Nak, kamu harus kuat. Papamu tidak mungkin selalu bersama dengan mama. Tolong mama, Nak! monolognya. Wina mengelus perutnya yang masih rata.


Saat akan sarapan, Wina tak berselera. Ia pun mendorong piring sarapannya dan meminum susu saja. Kemudian, ia memilih berangkat ke tempatnya bekerja.


"Mas, Al kenapa ya?" tanyanya pada diri sendiri.


Saat ini, Al sudah masuk ke dalam mobilnya. Tak lama kemudian, mobil itu meninggalkan kediaman Citra.


*****


Waktu pun berganti. Malam itu, Al akan kembali ke tempat Wina. Tiba-tiba saja, ada rasa bahagia yang membuncah di hatinya. Rasanya, ia sudah lama tak bertemu dengan Wina.


"Abang, pulang," pekiknya ketika menginjakkan kaki di rumah Wina.


Wina berjalan mendekati Al. Ia merelakan senyum pada suaminya itu. Al langsung memeluk Wina erat. Wina pun membalasnya.


Sungguh, mereka seperti dua orang yang sudah lama berpisah. Malam itu, mereka habiskan dengan bertukar cerita. Namun, Wina masih merahasiakan kehamilannya.


Wina bahkan sudah menyembunyikan obat serta vitamin yang diresepkan dokter untuknya beberapa hari yang lalu.

__ADS_1


Sementara itu, Widya kembali mendatangi Citra. Ia ingin memastikan keputusan yan akan Citra ambil. Citra sudah memutuskannya.


"Jadi, bagaimana keputusanmu?" tanya Widya tanpa berbasa-basi.


"Aku akan tetap berada di sisi, Mas Al." Widya menatap Citra tajam.


"Dasar tidak tahu malu. Kau dan ibumu sama saja. Perusak." Widya mengambil tasnya dan berlalu.


Citra mengernyitkan dahinya mendengar ucapan Widya tadi. Perusak? Aku dan mama? Apa maksud Mami?


Citra memang belum mengetahui alasan Widya membencinya. Kini, ia semakin dibuat bingung dengan ucapan Widya. Adakah hubungannya kebencian Widya padanya dengan ibunya?


Citra pun mengejar Widya. Ia ingin tahu alasan Widya membencinya.


"Mi," panggil Citra.


Widya menghentikan langkahnya dan berbalik. "Ada apa?" tanyanya ketus.


"Kenapa mami mengatakan itu? Mami tidak mengenal mamaku. Kenapa mami bilang mama perusak? Apa maksud mami?" tanyanya beruntun.


"Karena ibumu adalah penyebab rusaknya hubunganku dengan Mas Yudha. Karena ibumu juga, hampir membuatku menjadi janda. Ah, salah. Karena ibumu, aku sudah menjadi janda sejak dua puluh tahun yang lalu. Hanya saja, status ku tetap istri, Mas Yudha. Tetapi, apalah artinya sebuah status, jika suamimu tidak sedikitpun menaruh hatinya lagi padamu." Widya segera berlalu setelah mengucapkan semua kata-kata itu.


Citra terperangah. Ia tidak percaya dengan apa yang diucapkan Widya padanya. Inikah alasan Widya membencinya? Apa benar ibunya melakukan semua itu? Air matanya menetes tak tertahan.


*****


Satu minggu berlalu dengan cepat. Selama bersama dengan Wina, Al merasa baik-baik saja. Nafsu makannya baik, mual muntahnya pun menghilang. Begitupun dengan Wina. Hal serupa dialami wanita itu.


Sementara Citra tengah mempersiapkan perceraiannya dengan Al. Tentu saja tanpa sepengetahuan Al dan Wina. Sudah cukup ia menangisi masa lalu yang ia sendiri tidak ketahui.


Ia bahkan sudah mempersiapkan diri untuk pergi sejauh mungkin dari Al dan keluarganya. Tidak hanya itu, ia pun akan menghindari Wina.


Di saat itulah, Citra tak sengaja melihat dokter yang dulu menggenggam tangan Wina, tengah memperhatikan sahabatnya itu. Citra ingin menemui Wina. Ingin melihat keadaan sahabatnya itu dalam menjalani trimester awal kehamilan.


Siapa pria itu, kenapa dia memperhatikan Wina seperti itu? Dia seperti orang yang begitu merindukan Wina?


Dennis menangkap keberadaan Citra dengan ekor matanya. Ia segera berbalik dan pergi meninggalkan tempat itu. Citra yang masih merasa penasaran, memilih mengikuti pria itu. Ia tidak ingin, rumah tangga Al dan Wina dihancurkan oleh pria itu. Sayangnya, Citra kehilangan jejak.

__ADS_1


*****


Fiuh.... 2 bab genks.... 🤭🤭🤭 semoga menikmati ya...


__ADS_2