Berbagi Cinta: Aku, Madu Sahabatku

Berbagi Cinta: Aku, Madu Sahabatku
Bab 40


__ADS_3

Al kembali disadarkan dengan kata-kata Samudra. Dimana ia tidak pernah memberikan kebahagiaan pada Wina. Benarkah itu? Benarkah selama Wina bersama Al, ia tidak merasa bahagia?


Hati Al tergelitik untuk menanyakannya. Ingin sekali ia bertanya pada Wina tentang hal ini. Jika dirinya memang tidak pernah memberikan kebahagiaan pada Wina, Al dengan senang hati akan melepaskan Wina.


"Aku, akan dengan ikhlas melepas mu. Tapi..." Al menjeda kalimatnya.


Pria itu berjalan mendekat ke arah Wina. Samudra dan Dennis bersiap menghalangi Al.


"Aku tidak berniat menyakiti nya," ucap Al.


Wina menarik lengan Dennis. Kemudian memberi isyarat, jika Dennis bisa membiarkan Al mendekatinya. Dennis pun mundur dan melakukan keinginan Wina.


Al berdiri tepat dihadapan Wina. Matanya menatap Wina dalam. Wina pun ikut menatap mata Al.


"Katakan sejujurnya, apa benar selama kita bersama, kau tidak bahagia?" tanya Al pada Wina.


Wina terdiam. Haruskah ia berbicara jujur? Tak bisa ia pungkiri, ia tetap merasakan kebahagiaan itu meski hanya dalam beberapa bulan saja. Bukankah ia tetap bahagia?


"Ya... sebelum aku tahu, kalau aku adalah istri keduamu," ucapnya. Wina memilih mengatakan yang sebenarnya.


Al mengangguk. "Jadi, kau lebih banyak menderita?" tanyanya lagi.


Kali ini, Wina memilih bungkam. Ia membuang pandangannya. Lebih baik baginya untuk tidak menatap mata Al kembali. Atau Wina, akan kembali goyah.


"Diam mu, ku artikan sebagai jawaban ya. Satu pertanyaan lagi. Apa kau ingat, aku pernah mengatakan jika aku mencintai mu?" Wina menoleh.


Entah apa tujuan Al menanyakan hal itu. Ia menundukkan pandangannya dan mengangguk.


"Apa kau tahu, cinta itu masih ada di sini?" Al menunjuk dadanya.


Wina tak lagi sanggup menantang mata itu. Ia tetap dalam posisi menundukkan kepalanya.


Aku pun masih mencintaimu. Tapi... Wina tak bisa melanjutkan kata-kata dalam hatinya. Dadanya terasa sesak saat ini.


"Apa kau tahu, setiap kali aku melihat Darren, aku selalu merindukan mu?" Al mulai mencurahkan segala hal yang tersimpan jauh di lubuk hatinya.


"Aku..." Wina tergugu. Ia tersedak dalam tangisnya.


"Apa kau tahu, jika sampai detik ini, aku masih mengharapkan kau kembali padaku?"


Wina tak bisa lagi menahan air mata yang telah menggenang di pelupuk matanya. Tubuhnya bergetar menahan tangis. Sungguh, ia mulai diliputi kebimbangan.


"Hentikan! Jika tujuanmu untuk menggoyahkan keputusan Wina, maka sebaiknya jangan kau teruskan lagi. Aku, tidak ingin adikku semakin tersiksa. Sudah cukup baginya merasakan cemburu." Dennis menghentikan ucapan Al yan semakin membuat Wina meragu.


"Aku hanya mengatakan isi hatiku saja," kilah Al.

__ADS_1


"Perempuan mana yang rela dimadu atau menjadi madu? Coba kau tanyakan itu pada istrimu. Atau, kau bisa menanyakannya pada ibu mu sendiri," ucap Samudra.


Sejak awal Al bicara pada Wina panjang lebar. Samudra sudah ingin menghentikannya. Mungkin Al bisa menerima keberadaan Wina. Ia pun bisa membagi cintanya dengan adil. Namun, berbeda dengan wanita. Mereka adalah makhluk perasa yang memiliki sensitivitas.


Al tidak akan pernah tahu, bagaimana Citra menutupi kecemburuannya mati-matian. Bagaimana Citra berusaha menerima perempuan lain dalam rumah tangganya, hingga seringkali Citra harus berkonsultasi dengan seorang psikiater, tanpa sepengetahuan Al.


"Aku tahu itu," balas Al.


"Apa yang kau tahu?" tanya Samudra ketus.


"Tidak mudah untuk membagi cinta, yang awalnya hanya ku beri untuk Citra. Namun, seiring berjalannya waktu, apa semua menjadi salahku jika aku jatuh cinta padanya? Dia istriku, dia berhak mendapatkan cinta dari ku. Dia juga berhak mendapatkan perhatian dariku. Apa seperti itu pun aku salah?" tanya Al frustasi.


"Dengar, disaat kau jatuh cinta, maka hatimu akan memiliki kecenderungan. Mana kau tahu, jika kau mengalami kelalaian dalam mencintai mereka? Hanya mereka yang tahu jawabannya." Samudra menunjuk pada Citra dan Wina.


"Jika kau tanyakan pada mereka, mereka hanya akan menutupi rasa sakit hatinya. Jika itu terus menerus terjadi, maka batin merekalah yang tersiksa. Apa kau lebih suka mereka merasakan itu?"


Sejak awal, Citra hanya diam mendengarkan kata demi kata yang terlontar dari mereka. Ia tak ingin membuka suaranya, meski semua yang Samudra ucapkan, adalah kebenaran.


Al pun terdiam mendengar semua ucapan Samudra sangat menusuk hatinya. Ia tak pernah menyadari hal itu.


"Kita hanya manusia, yang tidak akan pernah bertindak adil. Itu sebabnya, kau harus memilih salah satu dari mereka," ucapnya tegas.


Al mengangguk. Kini ia mengerti alasan Wina atau pun Citra meminta perpisahan empat tahun lalu.


Mungkin, tanpa ku sadari aku telah menyakiti kalian. Baik, gumamnya.


Dennis menarik Wina kedalam pelukannya. Ia tahu, bagaimanapun Wina masih mencintai Al. Ia tidak akan sanggup mendengar Al mengucapkan kata-kata itu.


Al berbalik dan mengulurkan tangannya pada Citra. Wajah Citra sudah terlihat sembab. Ia menyambut uluran tangan Al dan memeluknya. Mereka meninggalkan tempat itu lebih dulu.


Tubuh Wina melemas. Untungnya, Dennis masih memeluknya erat, hingga Wina tak perlu terjatuh.


Ternyata aku tidak sekuat itu. Saat mendengar mu mengatakannya langsung padaku, jauh lebih sakit dibanding aku yang mengatakannya. gumamnya dalam hati.


*****


Keesokkan harinya, Al mempercepat proses perceraiannya dengan Wina. Saat dalam perjalanan, ia hampir saja menabrak seseorang. Al keluar dan membantu ibu itu berdiri.


"Ibu, tidak apa-apa?" tanya Al.


"Ah, tidak apa. Hanya terkilir," ucapnya.


Silvia terkejut mendapati Al. Ya, wanita yang hampir Al tabrak adalah Silvia, ibu dari Samudra. Silvia mengangkat tangannya mengusap wajah Al.


Wajahnya, mirip dengan Mas Andrew. Apa dia putra dari Mas Andrew? tanyanya dalam hati.

__ADS_1


"Ibu," panggil Al sekali lagi.


Silvia tersentak saat Al memegang punggung tangannya. Saat itu, Silvia memang tengah merangkum wajah Al dengan kedua telapak tangannya.


"Apa nama ayahmu Andre?" tanya Silvia.


Al menggeleng. "Ayah saya bernama Yudha."


Mendengar nama Yudha, membuat Silvia mengangkat pandangannya. "Yudha?" Al mengangguk.


"Yudha Brahmana?" tanya Silvia kembali.


"Iya."


Silvia membulatkan matanya. Tidak mungkin. Ini tidak mungkin. Kenapa takdir selucu ini? Tidak, aku tidak percaya itu.


Silvia mencoba bangkit berdiri. Saat ia sudah berdiri, ia segera berlalu dari hadapan Al. Al hanya menatap terkejut padanya.


Al pun memilih meninggalkan tempat itu. Ia melajukan mobilnya menuju ke persidangan. Karena saat ini, hakim akan membaca kan surat putusan.


Al pun sudah memasuki ruang sidang. Acara mulai terus berjalan, hingga akhirnya ketukan palu itu terdengar. Kini, ia dan Wina sudah resmi bercerai. Al menerima kekalahannya serta kesalahannya.


Al memandangi aksara yang tercetak dalam surat putusan itu. Ia menarik napas dalam dan menghembuskan nya perlahan. Al pun melangkah pergi meninggalkan ruang sidang itu.


*****


Akhirnya resmi cerai genks🤧 ada yang sedih Al dan Wina cerai?


2 bab untuk kalian. Meski jaraknya jauh, gak apa ya genks.


rekomendasi novel malam ini. Kali ini, aku bawakan novel dengan genre komedi untuk kalian. Meski bertema poligami, kalian akan tetap tertawa membaca kisah ini.



siapa yang sudah kenal dengan othor ini? Dia salah satu my besties loh. Novelnya, di jamin akan mengocok perut kalian. Meski terselip rasa sesal di dada, karena tetap tema poligami, tapi dia bisa mengemasnya dengan baik. yuk di kepoin.


satu lagi dari othor lain



kalau kalian baca story' ini, kalian akan menemukan banyak kata ajaib di dalamnya. genre komedi dan time travel ada dalam novel ini. Yuk di kepoin karya para my besties ini.


sampai jumpa di bab selanjutnya genks...


good night, have a nice dream buat kalian...

__ADS_1


lope lope yang buanyak buat kalian🤗😘😘❤️❤️❤️💗💗💗


__ADS_2