Berbagi Cinta: Aku, Madu Sahabatku

Berbagi Cinta: Aku, Madu Sahabatku
Bab 32


__ADS_3

Al kembali ke rumah yang saat ini ditempatinya bersama Citra. Al berjalan gontai dan tak bertenaga. Citra yang melihat kedatangan Al segera menghampiri suaminya itu.


"Bagaimana, Mas?" tanya Citra.


Al menghembuskan napas lelah. Ia memijat kepalanya yang berdenyut akibat kurang tidur dan memikirkan tentang perceraian yang akan ia daftarkan.


"Dokter bilang, Darren harus segera memulai pengobatannya. Untuk pendonor, dokter itu memiliki kecocokan dengan Wina. Mereka akan segera melakukan transplantasi."


Citra menggigit bibirnya. Mereka tak bisa lagi berbuat sesuatu selain mendoakan keselamatan Wina. Citra mengusap pundak Al lembut. Al menyandarkan kepalanya di perut Citra.


Citra memeluk Al dan mengusap punggungnya. Ia membiarkan Al menyalurkan kesedihan yang dialami Al dalam tangisnya. Tanpa Citra ketahui, jika Al sedang mencoba ikhlas melepas Wina dari hidupnya. Itulah yang membuat hatinya terasa amat sakit saat ini.


*****


Sore harinya, Al tengah bersama dengan Darren di halaman belakang. Ia menghampiri Darren yang sedang bermain mobil-mobilannya.


"Darren," panggil Al pada Darren.


"Iya, pa," sahut Darren.


"Papa ingin mengajak Darren bertemu dengan mama yang mengandung dan melahirkan Darren ke dunia. Apa Darren mau?" tanya Al.


Darren mengernyitkan dahinya. "Mama Darren kan mama Citra," jawab Darren.


"Mama memang yang merawat kamu sampai hari ini. Tapi, yang menghadirkan Darren bukanlah mama," ucap Citra.


Citra sudah berdiri di ambang pintu saat Al menyatakan keinginannya untuk membawa Darren menemui ibunya. Citra mengusap lembut rambut Darren.


"Jadi, Darren punya dua mama?" tanyanya.


Citra dan Al mengangguk seraya menunjukkan senyumnya. Darren tersenyum dan menganggukkan kepalanya tanda ia ingin menemui mamanya itu.


"Darren mau, pa. Apa mama Darren itu baik seperti mama Citra?" tanya Darren kembali.


"Namanya, mama Wina. Dia sangat baik. Saat ini, mama Wina sedang sakit. Mungkin, jika mama Wina mendengar suara Darren, mama Wina akan kembali semangat untuk sembuh," ucap Al dengan suara bergetar saat ia kembali mengingat kondisi Wina yang seakan enggan untuk hidup.

__ADS_1


Al berharap, dengan kehadiran Darren, Wina kembali memperoleh alasannya untuk hidup. "Besok, kita akan ke rumah sakit bertemu dengan mama Wina ya." Darren mengangguk dengan penuh semangat.


*****


Keesokkan harinya, Al dan Citra benar-benar membawa Darren menemui Wina. Mereka menuju ke depan ruang rawat Wina. Di sana, terlihat Dennis dan Fika yang saling diam satu sama lain.


"Kak," sapa Citra.


Dennis menoleh. "Ada apa kalian ke sini? Sebaiknya, jangan bawa Darren ke lingkungan rumah sakit. Itu tidak baik untuk dirinya," ucap Dennis.


"Aku ingin memperkenalkannya pada Wina. Boleh kami masuk?" tanya Al.


Dennis dan Fika saling bertukar pandangan. Kemudian, Dennis membawa mereka masuk kedalam. Al mendekat ke ranjang Wina. Sementara Dennis memperhatikannya bersama Fika. Fika menggenggam erat lengan Dennis.


Citra turut mendekat dan menggenggam tangan Wina yang terkulai lemah di atas ranjang. Ia mengusapnya perlahan dan menitikkan air matanya menatap Wina yang tak berdaya.


Dulu, juga selalu seperti ini. Kenapa kau tidak pernah menjadi orang yang kuat? Kenapa kau selalu berlindung di belakang ku? Sekarang, sekalipun aku melindungi mu, aku tetap tak bisa melindungi mu. Aku justru menyakitimu dengan sangat dalam. Sekarang, aku lah yang lemah Wina. Pada siapa aku akan mengadu? Padamu? Bagaimana aku bisa mengadu saat kau pun dalam kondisi seperti ini? Bangunlah Wina, aku di sini bersama mu. Aku ingin minta maaf atas semua hal yang aku lakukan padamu. Atas keegoisanku padamu. Ku mohon, buka matamu dan lihat lah. Aku bahkan membawa anakmu. Anak yang kau lahir kan.


Citra mengusap matanya yang dipenuhi oleh air mata. Kemudian, Al mendekat dan tersenyum pedih melihat tubuh Wina yang tak jua bergerak.


"Mama sangat cantik," ucap Darren.


"Pegang lah tangan mama. Katakan pada mama, jika Darren menyayangi mama."


Darren mengikuti ucapan Al. Ia menggenggam tangan Wina dengan tangan mungilnya. "Mama, Darren datang. Darren di sini. Darren sangat menyayangi mama. Mama cepat sembuh ya, biar mama bisa menemani Darren bermain. Darren ingin mama menyanyikan lagu untuk Darren. Darren juga ingin mendengarkan suara mama. Mama harus sembuh ya," ucap Darren.


Al, Citra, Dennis dan Fika meneteskan air matanya mendengar semua yang Darren ucapkan pada Wina. Darren melihat air mata yang mengalir dari mata Wina dan menghapusnya. Namun, tubuh Wina tak meresponnya.


"Mama jangan nangis. Darren akan selalu berdoa untuk kesembuhan mama. Karena Darren ingin mengenal mama. Darren ingin bersama mama."


Fika menyembunyikan wajahnya ke dada bidang milik Dennis. Dennis pun tak kuasa menahan tangisnya mendengar setiap ucapan Darren.


Dennis tahu, Wina tak bisa menggerakkan tubuhnya. Namun, alam bawah sadarnya merespon dengan mengalirkan air mata itu.


"Sebaiknya, kita keluar sekarang. Wina tidak boleh sampai stress sampai operasi besok. Atau semua akan gagal." Al mengangguk.

__ADS_1


"Darren, ayo kita keluar. Biarkan mama istirahat dulu. Nanti, kita jenguk mama lagi."


"Benarkah pa?" tanya Darren. Al mengangguk.


Mereka segera keluar dari ruang rawat Wina. Wina membutuhkan waktu sebelum operasi berlangsung. Saat ini, Samudra pun sudah mulai menjalani perawatan untuk operasi besok. Ia memikirkan kembali tentang perasaannya pada Wina.


Sejujurnya, ia tidak mengerti kenapa dirinya begitu ingin membantu Wina. Rasanya, hubungannya dengan Wina tergolong biasa saja. Tidak ada yang spesial diantara mereka. Hanya sekedar say halo saat bertemu.


Dennis masuk ke ruang rawat Samudra dan tersenyum pada sahabatnya yang selalu berwajah datar tanpa ekspresi itu.


"Sam, terimakasih ya, kamu sudah mau mendonorkan hati mu untuk adikku. Aku tidak tahu harus membalasnya dengan apa," ucap Dennis.


"Tidak masalah. Aku hanya melakukan ini demi kemanusiaan," balas Samudra.


"Mas, bagaimana jika kita jodohkan Sam dengan wina?" Fika yang baru saja masuk langsung mencetuskan sebuah ide.


Dennis mengerutkan dahinya. "Mas, tidak masalah. Asalkan Sam, bisa membahagiakan Wina, maka mas akan menyetujuinya."


Fika tersenyum. "Sam, pasti bisa. Iya kan Sam?" Sam membuang pandangannya.


Seenaknya saja menjodohkan orang. Memang kau pikir semudah itu menikah? Apa lagi aku tidak memiliki rasa cinta untuk Wina. Bagaimana jika dia tidak bahagia? Kalian pasti akan membunuhku. Terlebih, Wina masih mencintai suaminya itu.


"Bagaimana, Sam?" tanya Dennis.


Samudra mengendikkan bahunya. "Adikmu belum bercerai dari suaminya. Aku juga tidak tahu tentang perasaanku," lirihnya.


"Move on Sam. Kau tidak mungkin terus hidup dalam masa lalu. Orang yang kau cintai dulu itu saja, sudah hidup bahagia dengan pilihannya. Untuk apa kau menangisinya lagi? Buka lah lembaran baru. Jika kau tidak memulainya, kau akan selamanya terjebak dalam masa lalu." Sam termenung mendengar nasihat Fika tadi.


Hatinya mulai memikirkan, haruskah ia kembali membuka hatinya pada wanita lain?


*****


2 bab genks .. fiuhh... lega.... hari ini, cukup sekian ya....


Sampai jumpa di bab selanjutnya ...

__ADS_1


lope lope yang buanyak buat kalian 😘😘😘❤️❤️❤️💗💗💗


__ADS_2