Berbagi Cinta: Aku, Madu Sahabatku

Berbagi Cinta: Aku, Madu Sahabatku
Bab 9


__ADS_3

Citra masih bergeming di tempat itu. Melepas Al, adalah sesuatu yang tidak bisa ia lakukan. Jika memang dirinya ingin melepas Al, untuk apa ia menghadirkan Wina di tengah harmonisnya hubungan mereka.


Citra menekan dadanya yang terasa sesak. Hingga sulit rasanya untuk sekedar bernafas. Dengan langkah gontai, Citra meninggalkan tempat itu.


Haruskah aku melepas mu mas? Lagi-lagi, air matanya menetes tak tertahan. Hatinya berdenyut perih. Bukan hanya Widya ibu mertuanya yang meminta Al dan dia berpisah. Kini, sahabatnya sendiri pun memintanya.


*****


Wina menatap kosong pada kolam ikan kecil di samping kediaman almarhum orangtuanya. Pikirannya kembali melayang pada kejadian satu jam yang lalu.


Ia bertanya pada dirinya sendiri. Benarkah ia menginginkan Al? Apa Citra akan memberikannya?


Senyum pedih terlihat di wajah Wina. Tidak mungkin. Bang Al pasti akan lebih memilih Citra daripada aku. Apa aku tega pada Citra.


Jujur saja, hati kecilnya tidak ingin menyakiti sahabatnya. Baginya, Citra adalah sahabat terbaik yang ia miliki.


Wina pun memutuskan akan melepas Al, untuk mempertahankan persahabatannya dengan Citra. Ia tidak ingin menyakiti sahabatnya itu. Wina tahu, jika hati kecil Citra bertentangan dengan logikanya.


Meski bibirnya berkata ikhlas dimadu, hatinya pasti menolak. Jika Wina ada di posisi Citra, ia pasti memilih bercerai daripada dimadu.


Hari pun berganti malam. Wina sudah menunggu Citra untuk mengatakan pada sahabatnya, jika dirinya akan menyerah. Namun, sampai malam semakin larut Citra tak juga menampakkan batang hidungnya.


Wina mulai gelisah. Apakah Citra akan melakukan permintaannya siang tadi? Wina tak bisa tinggal diam. Ia mengambil tasnya dan beranjak meninggalkan rumah.


Aku harus menyelesaikan semua ini secepatnya. Masalah ini tidak akan mungkin selesai jika aku bersembunyi terus seperti ini.


Wina memutuskan kembali ke kota Jakarta. Ia berjalan cepat menuju jalan besar untuk menghentikan taksi. Ia melupakan jika waktu sudah beranjak tengah malam. Wina tersadar, saat ia melihat jam tangannya.


"Astaga, sudah tengah malam rupanya. Pantas saja sepi sekali. Kendaraan pun sudah tidak ada yang berlalu lalang." Wina menepuk dahinya.


Wina pun berbalik arah dan memutuskan kembali. Mungkin, besok ia akan pergi dan melakukan rencana yang sudah disusunnya.


*****

__ADS_1


Matahari mulai menampakkan sinarnya saat Wina membuka mata. Semalaman ia tak bisa tidur dengan tenang.


Ia beranjak membersihkan diri. Sepuluh menit kemudian, Wina sudah rapih. Ia segera beranjak dan meninggalkan kampung halamannya.


Kamu pasti tidak sanggup mengatakannya padaku kan Citra? Sampai kau memilih kembali.


Kakinya menginjak terminal bus yang beberapa hari lalu mengantarnya ke tempat itu. Namun kini, Wina akan kembali menghadapi kenyataan.


Wina sudah duduk dan tengah menunggu bus tersebut meninggalkan terminal. Lima belas menit kemudian, bus mulai meninggalkan terminal. Jantung Wina berdegup kencang saat ini.


Berkali-kali Wina terlihat menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Setelah menempuh jarak ribuan kilo meter, bus pun mencapai ibu kota.


Wina kembali memantapkan hatinya. Ia melangkah pasti. Hal pertama yang dilakukannya adalah mengaktifkan ponsel nya.


Baru saja ponsel itu aktif, ribuan pesan dan telepon masuk ke sana. Ada senyum samar yang terlihat di wajah Wina. Tidak lama, hanya sekejap.


Andai saja.... Wina tak berani berandai. Ia terlalu takut semua yang dibayangkannya hancur. Ia tak ingin dirinya semakin hancur.


Setelah menarik napas sekali lagi, Wina mulai menekan tombol panggil untuk memanggil Al.


*****


Al tengah duduk termenung saat ponselnya berbunyi. Tumpukan pekerjaan yang menunggunya pun tidak menarik perhatiannya.


Saat ponsel nya berbunyi dan menampakkan nama Wina, Al segera menjawabnya tanpa berpikir lagi. Hatinya sedikit lega.


"Halo," ucapnya.


"..."


Telepon itu pun mati. Al segera beranjak dan meninggalkan pekerjaannya yang menggunung. Ia menuju ke rumah tempatnya dan Wina tinggal.


Empat puluh menit kemudian, mobil Al masuk ke halaman rumahnya. Ia segera keluar dan berlari masuk ke dalam. Ia menghembuskan napas lega saat melihat Wina duduk di ruang tamu.

__ADS_1


Al berlari ingin memeluk Wina. Langkahnya terhenti saat tangan Wina memintanya untuk berhenti.


"Wina," suara Al tercekat.


Bibirnya melengkung sempurna, menampakkan dua lesung pipi yang semakin menambah ketampanannya. Wina merindukan suara itu sungguh. Hati kecilnya menyuruhnya berlari dan memeluk Al. Wina juga merindukan Al.


Wina menahan air mata yang sudah tergenang di pelupuk matanya, agar tak terjatuh. Ia menengadahkan kepala dan berkali-kali mengedipkan matanya.


"Bang, ayo kita berpisah."


Bola mata Al membulat sempurna mendengar kata itu. Senyumnya perlahan menghilang. Wanita dihadapannya kembali hanya untuk berpisah.


"Kau, ingin berpisah?" tanya Al. Ia ingin memastikan sekali lagi, jika pendengarannya sedang tidak mengalami gangguan.


"Ya." Wina masih teguh dengan pendiriannya.


Ia sudah memikirkannya matang-matang. Ia akan melepas Al. Wina mengepalkan tangannya erat saat sebuah bisikan memintanya untuk merengkuh Al.


Al bergeming. Ia tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Pikirannya mendadak kosong. Dalam perjalan pulang tadi, Al sudah merangkai banyak kata untuk Wina. Dia bahkan akan meminta Wina bertahan bersama Citra.


"Apa ini karena..." Wina mengangguk sebelum Al selesai bicara.


Wina tahu apa yang akan dikatakan Al. "Aku terlalu menyayangi Citra. Aku tidak ingin menyakiti hatinya. Aku tahu, Citra hanya menahan dirinya. Wanita mana yang ikhlas berbagi suami dan cinta dengan wanita lain, meski dengan sahabatnya sendiri? Tidak ada, bang? Jadi, sebaiknya kita berpisah!"


Al memejamkan mata sesaat. Terlihat setetes air matanya terjatuh dan membasahi pipi pria itu. Rahangnya mulai di tumbuhi rambut halus. Sepertinya, Al tidak terurus dengan baik. Wina masih memperhatikan wajah pria itu. Mengukirnya dalam hati.


"Jika ku katakan aku membutuhkanmu, apa kau akan mempercayaiku? Jika ku katakan aku sudah mencintaimu sejak awal, apa kau akan tetap berada di sisiku? Apa kau akan merubah keputusanmu?"


Wina terdiam. Kata-katanya tersangkut di tenggorokan. Benarkah Al sudah mencintainya sejak awal? Di satu sisi, Wina ingin sekali bersikap egois. Namun, di sisi lain Wina tidak bisa mengabaikan hati nuraninya sebagai wanita.


Air mata yang ditahannya pun luruh. Ia tidak tahu harus berkata apa. Kata-kata Al membuatnya gamang. Hatinya mulai bimbang. Haruskah ia melanjutkan keinginannya untuk berpisah dari Al, ataukah dia akan bertahan sesuai keinginan Al? Tapi bagaimana dengan Citra?


"Kau tahu, aku sangat merindukanmu." perlahan, Al mulai mendekati Wina. Ia begitu ingin memeluk wanita itu.

__ADS_1


Wina belum menyadari, jika Al sudah semakin mendekat. Al segera memeluk istrinya itu penuh kerinduan. Menyalurkan rasa cinta yang memang sudah tercipta untuk Wina.


Entah sejak kapan rasa ini tercipta untukmu. (Alvino Brahmana)


__ADS_2