Berbagi Cinta: Aku, Madu Sahabatku

Berbagi Cinta: Aku, Madu Sahabatku
Bab 57


__ADS_3

Tiga bulan berlalu sejak pembicaraan Wina dan Samudra. Wina memutuskan membatalkan pernikahan mereka. Ia tidak siap jika pada akhirnya harus mendengar pengakuan Samudra yang masih menanti sang mantan.


Namun, tanpa Wina ketahui Samudra tidak membatalkannya. Ia hanya menundanya sampai batas waktu yang tidak bisa ia tentukan. Kabar baiknya, pemilik Wedding Organizer itu adalah teman baiknya dan Dennis. Hanya mereka yang mengetahui hal itu.


Silvia bahkan sampai menghajar Samudra karena hal ini. Ia sangat geram saat mengetahui Samudra yang tak bisa melupakan mantan kekasihnya. Silvia baru berhenti menghukum Samudra, ketika pria itu berjanji akan tetap menikahi Wina dan kembali mengambil hati wanita itu.


*****


Kini, Wina sudah memutuskan berhenti dari pekerjaannya. Hasil kerja kerasnya itu, ia pakai sebagai modal awal untuk membangun usaha. Wina membuka toko pakaian serta accesoris penunjang bagi kaum hawa.


Toko yang Wina buka, berada di area strategis kota itu. Apalagi, tempat itu cukup dekat dengan tempat wisata. Ditambah bantuan Dennis, Fika, Al dan Citra dalam mempromosikan tokonya, menjadikan toko yang Wina kelola lebih ramai.


Darren yang tak ingin jauh dari Wina pun, selalu mengikuti Wina hingga ke tokonya. Dengan senang hati, Wina membawa Darren kemanapun. Ia sangat menikmati kebersamaannya dengan Darren.


Siang itu, Wina akan bertemu dengan salah seorang pemasok dari merk yang cukup dikenal oleh masyarakat. Mereka akan mengadakan pertemuan bisnis disalah satu restoran mewah di daerah Wina. Wina didampingi Dennis dan Fika. Namun, saat pembicaraan dengan owner nanti, hanya Wina seorang.


Wina melangkah menuju meja kasir sekaligus informasi. Ia menanyakan satu meja kosong, beserta meja yang sudah dipesan atas nama owner-nya.


Setelah itu, mereka melangkah memasuki restoran. Ekor mata Wina menangkap bayangan Samudra bersama wanita. Wina yang memang tak lagi peduli, berjalan seakan tak melihatnya.


"Bukankah, dia tunangan mu itu?"


Wina tak menggubris ucapan wanita itu. Dia terus melangkah mengantarkan Darren dan kakaknya di meja yang masih tersedia. Darren akan memanggil Samudra, jika Dennis dan Wina tak menghalanginya.


Setelah berpesan pada Darren untuk tetap bersama om dan tantenya, Wina meninggalkan meja itu. Ia duduk di bagian pojok restoran.


Tak lama Wina duduk, datang dua orang pria muda tampan dan terlihat berkelas. Wina berjabat tangan dengan mereka dan mempersilahkan keduanya duduk.


"Wah, dia hebat sekali bisa menggaet pebisnis muda seperti Rian Artajaya. Waw...." Rosa, mantan kekasih Samudra seakan tengah menambah minyak, di atas bara api yang menyala.


Ada perasaan tidak suka yang amat kentara dari mata Samudra. Namun, ia berusaha keras menutupinya. Ia tak ingin Rosa memanfaatkan kesempatan itu untuk menghancurkan rencana yang telah ia susun.


"Aku percaya pada tunangan ku. Jadi, kau tidak perlu khawatir." Rosa mencoba tersenyum.


"Jadi, kau masih sama seperti dulu? Mudah percaya pada orang yang kau cintai." Rosa menutup mulutnya untuk menahan tawanya.


"Terserah apa yang akan kau katakan." Samudra kembali menatap Wina.

__ADS_1


Ia kembali melihat senyum Wina, yang beberapa bulan ini tak lagi dapat ia nikmati. Meskipun, Wina tersenyum pada pria lain. Jarak yang cukup jauh, membuat Samudra tak bisa mendengarkan pembicaraan mereka.


Samudra tak lagi menghiraukan ocehan Rosa. Ia tak tahu, apa yang Rosa ucapkan sejak tadi. Merasa tidak di gubris, membuat Rosa kesal dan memilih pergi.


Sepeninggal Rosa, Samudra masih terus menikmati setiap ekspresi yang Wina tunjukkan. Tak dapat ia pungkiri, ada kerinduan yang begitu menggebu dalam dirinya terhadap Wina.


Wina menyadari tatapan yang Samudra arahkan padanya. Tidak nyaman, adalah hal yang pasti Wina rasakan. Namun, ia tak menunjukkannya di hadapan Rian.


"Apa, ada yang membuat Anda tidak nyaman?" tanya Rian pada Wina.


"Ah, tidak, maaf. Saya, hanya takut membuat kerjasama kita hancur. Karena saya masih sangat awam di dunia ini," kilah Wina.


Rian terkekeh mendengar alasan Wina. "Santai saja, aku bukan orang yang mementingkan kesempurnaan. Jika ada kesulitan kami akan bantu Anda," ucap Rian.


Makanan pun terhidang. Mereka pun makan dalam diam. Rian sungguh takjub melihat kegigihan Wina dalam membesarkan putranya. Ia memang tidak menutupi jati dirinya. Entah mengapa, Wina merasa nyaman berbicara dengan Rian.


Ia teringat pada ucapan Riana dulu. "Aku dan kakakmu memang sudah berakhir. Tetapi, aku tidak berniat mencari pria lain dalam hidupku,"


Disaat kalian tersakiti, kalian tidak berniat membuka hati pada orang lain lagi.


Wina menyadari perubahan raut wajah Rian. "Anda, tidak apa-apa?" tanyanya.


"Benarkah? Wah, pasti dia adalah orang yang sangat istimewa untuk Anda. Sampai, Anda, terus mengingatnya," ucap Wina.


"Anda benar. Dia sangat istimewa."


Mereka pun melanjutkan pekerjaan mereka hingga penanda tanganan dokumen kerjasama. Kembali, Wina menjabat tangan Rian sebelum pria itu pergi.


Setelahnya, Wina kembali ke meja Dennis. Samudra menggenggam pergelangan tangan Wina dan menariknya untuk mengikuti langkahnya. Dennis, hanya menggelengkan kepalanya.


"Lepas, mas," ucap Wina.


Samudra pun melepaskannya. "Kenapa kau harus bekerjasama dengan pria?"


Wina mengerutkan dahinya. Darimana dia tahu kalau aku bekerjasama dengan pak Rian? Ah, kak Dennis.


"Bukan urusan, mas," jawab Wina.

__ADS_1


"Bagaimana caranya aku meyakinkanmu, jika hanya kamu wanita yang aku inginkan?" tanya Samudra frustasi.


Ia sudah kehabisan cara untuk meyakinkan Wina. Mengirimkan bunga, mengirim pesan cinta, mengirim makanan, semua sudah ia lakukan. Namun, sepertinya itu tak akan mengubah pendirian Wina.


Samudra memeluk Wina. Ia meletakkan kepalanya di bahu Wina yang sempit. Wina berusaha melepaskan pelukan itu.


"Sebentar saja. Aku sangat merindukanmu."


"Kita sudah tidak lagi memiliki hubungan. Jadi, tidak pantas rasanya kita melakukan ini."


Samudra pun melepas pelukannya dan membiarkan wina pergi. Sepertinya, sangat sulit mendapatkan kepercayaan Wina kembali.


Luka yang pernah Wina miliki, mengajarkannya untuk tidak mudah menjatuhkan harapan pada seorang pria. Samudra menyadari, ia adalah salah satu penyebab luka itu.


Jika saja waktu dapat diputar kembali, ia ingin memperbaiki semuanya. Namun, waktu tak akan terulang kembali. Kini, Samudra hanya berharap Tuhan memberinya kesempatan kedua.


Ia berjanji dalam hatinya, ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu. Samudra sudah memastikan, siapa pemilik hatinya ini.


Tuhan, beri aku satu kesempatan lagi. Akan aku buktikan, jika hanya dia yang bertahta di hatiku. Rosa, sudah lama hilang dari hatiku. Samudra pun berjalan gontai menuju mobilnya.


"Daddy," teriak Darren.


Samudra menoleh dan tersenyum Rupanya, Wina, Dennis dan Fika pun akan segera kembali.


"Kenapa Daddy tidak pernah main ke rumah lagi? Apa Daddy sudah tidak sayang Darren lagi?" tanya Darren dengan raut wajah sedih.


*****


Ah, telat lagi aku upnya🤦 maafkan aku ya genks.🤧


Sambil nunggu aku up, mampir ke karya sahabat² literasi ku yuk




terimakasih kalian masih setia menungguku. Aku sayang kalian semua😘😘😘❤️❤️❤️💗💗💗

__ADS_1


sampai jumpa di bab selanjutnya....


__ADS_2