Berbagi Cinta: Aku, Madu Sahabatku

Berbagi Cinta: Aku, Madu Sahabatku
Bab 25


__ADS_3

Dennis memanggil perawat untuk memindahkan Wina ke ruang rawat. Saat ia keluar, terlihat wajah bahagia Al dan keluarganya. Begitu pun Citra. Dennis mengepalkan kedua tangannya tanpa ia sadari.


Muak dengan mereka, Dennis memilih berlalu dari sana. Pria itu segera mempersiapkan semua hal yang telah mereka rencanakan. Sebentar lagi, obat yang telah Dennis berikan akan bekerja.


Di ruang rawat Wina.


Al dan keluarganya kini berada di kamar Wina. Begitupun dengan Citra. Mereka, tengah menunggu perawat datang membawa bayi Wina dan Al. Saat ini, bayi itu tengah di observasi oleh dokter anak.


Mereka juga masih menunggu Wina sadar.Tidak ada pembicaraan berarti di antara mereka. Pintu ruang rawat Wina terbuka, menampilkan Dennis yang tersenyum ramah pada mereka.


"Selamat malam semua. Sebentar lagi, baby boy akan segera di bawa kesini. Apa, Wina sudah sadar?" tanyanya.


Tidak ada satu pun yang berniat menjawab pertanyaan Dennis tadi. Dennis mengendikkan bahunya dan memilih mendekati Wina.


Dennis pun undur diri. Tinggal setengah jam lagi, obat itu akan segera bekerja. Dennis menyeringai tak terlihat oleh mereka.


Tepat seperti perhitungan Dennis. Tubuh Wina mulai mengejang. Citra dan Widya menyadari kondisi Wina dalam bahaya. Dengan panik, mereka mulai menekan tombol untuk memanggil dokter dan perawat.


Yudha turut mendekati tubuh Wina. Begitupun dengan Al. Mereka mencoba mengguncang tubuh Wina, berharap Wina segera membuka matanya.


Dokter dan perawat segera masuk ke ruang rawat Wina. Termasuk Dennis yang ikut memasang raut wajah khawatir.


Dokter segera memeriksa kondisi Wina. Hingga beberapa menit kemudian, Wina dinyatakan telah meninggal dunia.


Syok. Itulah yang Al dan keluarga rasakan. Al mendekati ranjang pasien. Air matanya menetes melihat sang istri yang tak lagi bisa merawat anak mereka. Citra memeluk tubuh Wina. Air matanya berderai dengan derasnya.


Al mendekati Dennis. "Aku ingin bicara denganmu." Al berjalan mendahului Dennis.


Dennis mengikuti langkah Al dengan santai. Senyum miring, sempat tercetak di bibir pria itu. Tanpa diduga, Al mencengkeram kerah kemeja Dennis dan memojokkannya hingga tubuh Dennis terbentur dinding. Dennis tak melawan sedikitpun. Ia mempertahankan wajah datarnya.


"Apa yang kau lakukan pada istriku?" tanya Al dengan menautkan gerahamnya. Matanya bahkan melotot tajam.


"Aku?" Dennis menunjuk hidungnya. Tiba-tiba Dennis tertawa.


"Hei, Bung. Sadarilah kesalahanmu. Kau mungkin tidak tahu, jika selama ini Wina mengalami pre-eklampsia dan sekarang berubah menjadi eklampsia." Dennis melepaskan cengkeraman tangan Al pada kerah kemejanya.


Al terduduk, menyadari kesalahannya. Ia menyugar rambutnya ke belakang. Al merasa frustasi menghadapi kenyataan, jika Wina kini telah tiada. Al berjalan ke kamar bayi. Bayi itu terlihat sangat tampan. Air matanya menetes melihat bayinya.


"Maafkan papa nak. Kamu kehilangan mama mu karena kesalahan papa. Papa akan menjagamu. Karena mama telah berjuang membawamu ke dunia ini. Darren Brahmana."


Hujan deras mengiringi pemakaman Wina. Citra memeluk Al dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang pria itu. Sementara baby Darren, bersama Widya di kediaman Brahmana. Dennis, hanya melihatnya dari kejauhan.

__ADS_1


*****


Empat tahun kemudian.


Seorang wanita, tengah berjalan di pinggir pantai. Ia menikmati terpaan air laut yang membasahi kakinya. Menikmati semilir angin yang berhembus merdu di telinganya dan menyapa tubuhnya. Rambutnya yang tergerai, menari indah tertiup angin.


Dari kejauhan seorang pria tampan mulai berjalan mendekatinya. Melemparkan senyum terindahnya dan berjalan beriringan dengannya.


"Kau merindukan putramu?" tanyanya.


Wanita itu menatap jauh ke depan dan menghembuskan napas perlahan. Ia masih setia dalam diamnya. Seketika, ia menoleh dan tersenyum begitu manis.


"Ya, aku merindukannya. Seperti apa dirinya sekarang? Apa dia setampan ayahnya? Apa dia memiliki sifat ayahnya atau aku? Gen mana yang lebih dominan dalam darahnya? Dia pasti sangat menggemaskan. Apa aku benar, kak Dennis Pratama?" tubuh Dennis menegang seketika.


Ia menoleh dan melihat senyum di wajah Wina. "Kau tahu aku?" entah mengapa, mata Dennis berkaca-kaca.


"Apa aku sebodoh itu, hingga tidak mengenali kakakku sendiri? Sejak dulu sifat mu tidak pernah berubah. Posesif terhadapku." Dennis tersenyum cerah.


Rupanya, Wina sudah mengetahui identitasnya. Mereka pun saling melemparkan senyum satu sama lain. Kemudian, melanjutkan langkah kaki mereka.


*****


"Sejak kapan kau menyadari aku kakakmu?" tanya Dennis.


"Maaf, karena aku terlalu lama menemukanmu. Aku butuh waktu untuk meyakinkan orang tua angkat ku," ucap Dennis.


"Tidak apa, kak. Aku senang kau kembali di saat yang tepat."


Keesokan harinya, Wina tengah berjalan di dekat taman sekitar tempat tinggalnya. Ia baru saja kembali dari bekerja. Ia berjalan perlahan, saat melihat seorang anak yang bermain bersama teman-temannya. Ia mengernyitkan dahi saat melihat anak itu.


Sepertinya, aku baru melihat anak itu? batinnya.


Wajah anak itu sangat tampan. Kulitnya yang putih bersih serta matanya yang begitu indah, membuat Wina teringat akan putranya lagi.


Dennis, pernah memberikan padanya sebuah foto dua tahun yang lalu. Foto itu, sangat mirip dengan anak itu. Tanpa sadar, Wina menggenggam tali tasnya dengan erat.


Air matanya, mulai memenuhi pelupuk matanya. Wina mempercepat langkahnya menjauhi taman itu. Jantungnya terasa berdegup kencang, kala anak itu menatapnya juga.


Wina tiba di rumahnya dengan napas tersengal-sengal. Ia memegang jantungnya yang masih berdegup dengan kencangnya.


"Kamu sudah pulang?" tanya seorang wanita cantik dengan perut buncit dari arah dapur.

__ADS_1


Wina berusaha tersenyum padanya. "Iya, Kak. Kakak sedang apa? Kak Dennis belum pulang?" Wina mendekatinya dan mencium punggung tangannya.


"Sebentar lagi dia pasti pulang." wanita itu tersenyum pada Wina.


"Kalau begitu, Wina mandi dulu ya kak. Nanti, Wina bantu," ucap Wina.


Wanita itu mengangguk. Wina pun menuju kamarnya. Tak lama kemudian, Seorang pria tampan masuk dan tersenyum padanya. Mendekatinya, dan mencium keningnya.


"Mandi dulu sana." pria itu mencuri ciuman dari bibirnya secepat kilat. Kemudian berlari ke arah kamarnya, ketika mendapati sorot tajam dari istrinya.


Selesai membersihkan tubuh, Wina membantu kakak iparnya menyiapkan makan malam. Kemudian, membereskan piring kotor usai mereka selesai makan.


"Win, temani kakak beli susu ke supermarket depan ya? Sekalian beli buah," ucap kakak iparnya.


"Loh, tumben kakak minta temani aku? Memang kak Dennis kemana?" tanyanya bingung.


"Panggilan darurat." Wina terkekeh.


Selesai membereskan semuanya, Wina dan kakak iparnya segera menuju supermarket. Wina membawakan keranjang dan berjalan di samping kakak iparnya.


"Bisa tolong ambilkan Darren susu itu, Tante?" suara anak kecil itu, membuat Wina berbalik.


Mata keduanya bertemu. Ada kerinduan terpancar di wajah Wina.


"Darren." terdengar suara seorang pria yang sangat Wina kenal.


*****


Hai sayang-sayangnya aku... wah, aku telat terus nih upnya. maaf kan aku ya. maaf kan aku yg belum bisa balas komen kalian😢😢 nanti pasti ku balas. maaf yah.


hari ini aku mau promo punya teman² aku....


jangan lupa mampir ya ke karya mereka. sambil nunggu aku up





gak kalah bagus dari karya ku.

__ADS_1


mau tau akhir cerita Wina, Al dan Citra? nantikan bab selanjutnya. belum tahu di bab berapa kisah mereka akan berakhir. semoga kalian gak bosan ya sama ceritaku. bye bye genks.


lope lope yang banyak buat kalian😘😘😘❤️❤️❤️🤗🤗💗💗


__ADS_2