
Widya masih menunggu keduanya di depan pintu dengan bertolak pinggang. Tak lama kemudian, Al keluar lebih dulu. Terlihat, rambutnya yang basah dan wajahnya yang sumringah.
Al yang baru membuka pintu, terkejut melihat ibu kandungnya berdiri di depan pintu dengan mata menatap tajam. Al bahkan bergidik ngeri melihat amarah yang tertahan di wajah ibunya.
"Dasar anak tidak tahu akhlak," Widya menerjang Al dengan membabi buta.
Al terkejut mendapat serangan dari ibunya. Widya bahkan terus memaki dan mengumpat pada Al.
"Mi, ampun Mi. Sakit, Mi," teriak Al. saat Widya tak menghentikan tindakannya.
"Kamu, sudah tahu Wina hilang. Bukannya dicari, kamu malah enak-enakan mesum di sini," ucap Widya tanpa menghentikan tindakannya.
Wina yang baru saja keluar dari kamar mandi terusik mendengar keributan diluar. Perlahan ia membuka pintu dan terkejut mendapati tingkah bar-bar mertuanya yang memukuli suaminya.
"Mami," panggilnya.
Widya yang masih diliputi amarah, hampir saja ikut memukul Wina saat mendengar ada yang memanggilnya. Namun, Al berhasil menghentikannya.
Widya terkesiap melihat keberadaan Wina di samping anaknya. Segera Widya menghampiri Wina dan memeluknya.
"Ya, ampun Wina. Mami pikir kamu belum pulang, Nak," Wina terkejut mendapat perlakuan hangat dari mertuanya.
"Kamu baik-baik saja kan, Sayang?" Wina mengangguk.
"Mami, gak mau minta maaf dulu sama, Al?" Al melipat tangannya di atas perut.
"Mami gak salah kok. Salah kamu sendiri gak ngasih tahu mami kalau Wina sudah pulang," ucapnya ketus.
"Maaf ya, Mi. Wina sudah buat mami khawatir," ucap Wina sendu.
"Gak, Sayang. Sesekali, Al memang harus dikasih pelajaran. Biar dia bisa mikir salahnya dimana." Widya menarik Wina duduk di sofa.
Mereka pun asyik berbincang dan menanyakan kabar hingga melupakan Al yang juga ada di sana. Lagi-lagi hati Wina menghangat mendapat perlakuan lembut dari Widya.
Sudah lama rasanya ia kehilangan kasih sayang seperti ini. Ia pun teringat, jika dirinya belum selesai membuat hidangan makan malam karena perbuatan Al tadi.
"Mi, Wina masak dulu ya. Tadi, belum selesai," ucapnya dengan wajah bersemu.
"Iya, Sayang. Mami di sini juga ingin bicara dengan Al," Wina pun mengangguk.
Wina segera menyelesaikan masakannya yang tertunda tadi.
*****
__ADS_1
Kini, tinggallah Al dan maminya di ruang tamu. Al menundukkan pandangannya. Widya menatap Al dengan tatapan menyelidik.
"Al, apa Citra tahu Wina kembali?" tanya Widya.
Al mengangguk. "Iya, Citra tahu."
"Lalu?" Al mengerutkan dahinya bingung.
"Maksud mami, apa Wina marah?"
"Tidak. Dia sudah menerimanya," jawab Al.
"Kamu tahu, tidak ada wanita yang ingin dimadu atau menjadi madu."
"Bukankah Mami, yang memaksa Citra berbuat seperti ini? Apa Mami tidak sadar, ada andil mami dalam masalah ini!" Al menatap ibunya tak kalah tajam.
"Mami melakukan ini semua demi kamu Al. Kamu pikir mami tidak punya hati?"
"Demi Al? Salah. Mami hanya memikirkan ego mami sendiri. Demi keinginan mami memperoleh cucu kan? Sayangnya, papi masih berada di luar negeri saat ini. Jika tidak, Al bisa pastikan, jika papi akan sangat marah pada mami," ucap Al menahan geram.
Tanpa mereka sadari, Wina mendengar semua pembicaraan mereka. Awalnya, Wina ingin mengajak suami dan mertuanya makan bersama.
"Apa maksudmu? Mami juga memikirkan keluarga Brahmana Al. Siapa yang akan meneruskan keluarga kita jika bukan kamu? Kamu anak mami dan papi satu-satunya. Sementara Citra tidak bisa lagi memberimu keturunan."
"Iya, mami tidak suka pada Citra. Karena sejak kamu mengenal Citra, kamu berubah. Kamu tidak lagi mendengarkan mami," air mata Widya merebak.
"Mi, Citra itu tidak pernah mempengaruhi Al. Al berubah karena mami terus mendesak Al untuk menikahi wanita-wanita yang gila harta itu. Mami tidak tahu kan?"
Widya mengangkat pandangannya. Ia menatap tak percaya pada ucapan Al.
"Apa?" tanya Widya.
Selama ini, Widya hanya memikirkan dirinya sendiri. Ia begitu memikirkan pendapat dan pandangan teman sosialitanya. Hingga ia memandang Citra sebelah mata.
Saat mengetahui jika Citra hanya pegawai toko, Widya langsung tidak menyukainya. Terlebih, Citra tidak memiliki latar belakang keluarga yang jelas.
Sementara Wina, Widya menyukainya karena latar pekerjaan Wina yang cukup baik. Meski secara latar belakang keluarganya sama tidak jelasnya dengan Citra, setidaknya pekerjaan Wina bisa ia banggakan. Terlebih, Wina bekerja di perusahaan yang bonafit.
"Papi dan aku sudah menyelidikinya. Mami tahukan bagaimana sayangnya papi pada Citra? Al ingin lihat, bagaimana reaksi papi saat mengetahui Al menikahi wanita lain selain Citra. Saat pernikahan kemarin, papi tidak hadir. Al pun diam tak memberitahu papi. Tapi Al tidak bisa menyembunyikan ini semua lebih lama lagi. Asal mami tahu, papi selalu menugaskan seseorang untuk mengawasi keluarganya."
Wina terkesiap mendengarnya. Ia teringat tentang awal pernikahannya dengan Al. papi mertuanya memang tidak menghadiri pernikahan mereka. Widya mengatakan, jika Yudha sedang ada pekerjaan di luar negeri yang tidak bisa ia tinggalkan. Widya bahkan sengaja membelikan rumah yang tidak terlalu besar untuk Wina tempati. Ia takut suaminya mengetahui perbuatannya.
Rasa takut mulai menjalari nya. Bisakah ia mengambil hati papi mertuanya nanti? Sepertinya, ini tidak akan mudah.
__ADS_1
Ekor mata Al menangkap siluet tubuh Wina. Ia berdiri dan terkejut. Widya menoleh mengikuti arah pandang Al. Seketika tubuhnya membeku.
"Wi-wina," lirihnya.
Wina tersenyum paksa. Jauh di lubuk hatinya, ia semakin bersalah, telah memasuki rumah tangga sahabatnya. Air matanya, lagi-lagi menetes. Tak sanggup menerima kenyataan itu, Wina berjalan cepat memasuki kamarnya. Ia menutup pintu dan menguncinya.
Al mengejarnya. Sayangnya, ia kalah cepat. "Win," panggil Al seraya mengetuk pintu kamar itu.
Wina menangis. Tubuhnya merosot di balik pintu itu. Ia bisa mendengar Al yang terus memanggil namanya. Dadanya terasa makin sesak. Wina tak bisa membayangkan bagaimana reaksi papi mertuanya nanti.
"Wina, Sayang, mami bisa jelaskan, Nak," ucap Widya.
Melihat Al yang tak bisa membujuk Wina, membuat Widya merasa harus turun tangan. Sayangnya, Wina tetap tak membukakan pintu.
Wina menelungkup kan wajahnya diantara kedua kakinya. Ia semakin merasa bersalah pada sahabatnya. Semakin merasa jika hadirnya selalu saja tidak dicintai. Dimulai dengan kepergian kedua orang tuanya dan kakaknya.
Haruskah sekarang ia kehilangan pria yang dicintainya ini. Ia sudah sangat mencintainya.
Tidak, aku akan bicara dengan Bang Al. Aku harus bisa membuat papi menerimaku. Bukan aku yang salah. Mereka yang membuatku ada di tengah-tengah rumah tangga mereka. Ya, bukan aku yang salah.
Wina bangkit berdiri dan menghapus air matanya.
*****
Fiuh.... Masalah baru genksπ
Oke. kembali aku promo novel berikutnya...
ini dia...
Jangan lupa mampir ya genks. favoritkan, like komen dan vote.
Jika kalian suka ceritaku ini, jangan lupa berikan vote ya... sampai jumpa di bab selanjutnya
__ADS_1
lope lope se alam semesta untuk kalianππππππππππ