Berbagi Cinta: Aku, Madu Sahabatku

Berbagi Cinta: Aku, Madu Sahabatku
Bab 31


__ADS_3

Pemeriksaan terhadap Darren kini telah usai. Dokter yang melakukan pemeriksaan itu pun menjelaskan kondisi Darren pada Al dan Citra. Tepat saat itu, Samudra masuk ke ruangan itu dan ingin mengetahui hasil dari pemeriksaan tersebut.


Samudra dan profesor yang memeriksa kesehatan Darren pun berjabat tangan. Samudra mendengarkan secara seksama penjelasan profesor itu.


Selesai dengan penjelasan profesor itu, Samudra pun menanyakan perihal donor hati pada profesor. Al dan Citra, hanya bisa tercengang mendengar ucapan Samudra.


"Dok, boleh saya tahu syarat untuk bisa menjadi pendonor hati?" tanya Samudra.


"Riwayat kesehatan si pendonor, harus dalam kondisi baik dan sehat. Yang paling penting, memiliki kecocokan golongan darah dan jaringan. Itu syarat utama bagi seorang pendonor. Apa dokter Samudra ingin mencari seorang pendonor untuk adik dari dokter Dennis?" tanya profesor itu.


"Saya yang akan menjadi pendonornya. Jika memang cocok." Al dan Citra menoleh pada Samudra.


"Kalau begitu, kita harus cepat melakukan pemeriksaan menyeluruh. Agar kita bisa memastikan hasilnya. Anda, tentu sudah paham resiko yang akan terjadi bukan?" Samudra mengangguk.


Samudra dan profesor itu segera bangkit berdiri. Namun, langkah Mereke terhenti.


"Saya juga ingin melakukan pemeriksaan. Jika cocok, saya ingin melakukan pendonoran juga," ucapnya tegas.


Citra pun melakukan hal yang sama. Mereka segera menuju ruang pemeriksaan. Seorang petugas lab yang ada di sana, segera melakukan tugasnya. Satu persatu mereka mulai menjalani pemeriksaan.


"Terimakasih profesor." Samudra menjabat tangan profesor.


"Sama-sama dok. Saya akan segera memberitahukan hasil pemeriksaan secepatnya," ucap profesor itu.


Samudra segera meninggalkan Al dan Citra di sana. Al mengantarkan Citra dan Darren kembali lebih dulu. Setelah itu, ia kembali ke rumah sakit. Ia ikut menunggu Wina.


Samudra kembali ke tempat Dennis dan Fika menunggu. Di sana, ia melihat keberadaan Al. Samudra memberikan plastik berisi makanan dan minuman untuk mereka.


"Sebaiknya, antarkan Fika pulang. Tidak baik untuknya berada di sini. Dia harus istirahat." Dennis mengangguk.


"Iya, kau benar. Ayo, Sayang!" Dennis berdiri dan mengulurkan tangannya.


"Tapi, Wina..." ucapan Fika terhenti saat melihat tatapan tajam milik Samudra.


"Kamu tenang saja, ada Samudra. Aku akan segera kembali setelah mengantarmu. Kamu, tidak masalahkan?" Fika tersenyum dan mengangguk.

__ADS_1


"Temani saja Fika. Biar aku yang menunggu Wina. Jika ada hal serius, aku akan menghubungimu," ucap Samudra.


Dennis mengangguk dan segera berlalu dari sana bersama Fika. Tinggallah di sana Al dan Samudra. Al yang sejak tadi hanya mendengarkan pembicaraan mereka, kini mulai mengalihkan perhatiannya pada Samudra.


"Apa hubunganmu dengan Wina?" tanya Al tanpa berbasa-basi.


Samudra mengangkat sebelah alisnya saat mendengar pertanyaan itu. Ia memilih membuang pandangannya ke arah lain daripada menjawab pertanyaan Al tadi.


"Kenapa tidak di jawab?" tanya Al lagi.


"Rasanya, aku tidak ada keharusan bagiku untuk menjawab pertanyaan mu," jawab Samudra.


"Tentu saja kau harus menjawabnya. Karena dia masih istriku," ucap Al menahan amarahnya.


Samudra sedikit merasa kebimbangan dalam hatinya. Jujur saja, ia juga tidak mengerti alasan kenapa dirinya begitu tertarik untuk membantu Wina.


"Tidak ada alasan khusus," ucap Samudra.


Al mengernyitkan dahinya heran. Tidak mungkin seorang pria begitu ingin membantu seorang wanita jika dirinya tidak memiliki ketertarikan pada wanita itu. Sungguh, Al tidak bisa mempercayai ucapan pria di sampingnya ini.


*****


Tiba di rumahnya, Citra sudah memberondongnya dengan berbagai pertanyaan mengenai kondisi Wina dan tang lainnya. Dengan santai, Al menjawabnya. Mulai dari belum adanya kemajuan dari kondisi Wina, sampai kabar dari hasil tes kesehatan untuk melakukan donor yang kemarin mereka jalani.


"Aku bokeh ikut, Mas?" tanya Citra.


"Sebaiknya kau tetap di rumah menjaga Darren, Sayang. Jika ada kabar terbaru, Mas akan menghubungimu." Citra menghela napas panjang dan mengangguk.


Al membalasnya dengan senyum dan segera kembali ke rumah sakit. Tiba di ruang tunggu, Al melihat Dennis dan Samudra sudah duduk di sana.


"Sebaiknya, kau turuti keinginan Wina. Lepaskan dia. Aku tahu, caranya untuk pergi darimu memang salah. Aku bahkan sempat menentang keputusannya. Namun, dia begitu bersikeras melakukan hal itu. Jika bukan aku yang melakukannya, mungkin dia akan meminta dokter lain untuk melakukannya. Saat itu terjadi, kau bahkan tidak akan bisa bertemu dengannya lagi seperti saat ini." Al tertegun mendapati kenyataan itu.


Apa yang Dennis katakan memang benar. Sudut hati Al terasa makin pedih mendengar hal itu. Al menganggukkan kepalanya. Belum sempat dirinya mengatakan apapun, profesor yang kemarin memeriksakan kesehatan mereka datang.


"Selamat pagi dokter Dennis, dokter Samudra, dan pak Al. Saya sudah membawa hasil pemeriksaan kalian kemarin," ucap profesor itu.

__ADS_1


"Untuk kesehatan Darren putra pak Al, memang ada virus yang bisa menyebabkan penyakit yang sama dengan ibu Wina. Tapi, dengan perawatan intensif maka virus itu bisa di tangani, bahkan hilang dari tubuhnya." Al menghembuskan napas lega mendengarnya.


"Berikutnya, untuk pendonoran." profesor itu membalik kertas laporan tersebut.


"Tunggu dulu! Siapa yang akan mendonorkan hati untuk Wina?" tanya Dennis bingung.


Pasalnya, ia tidak tahu menahu tentang hal itu. Bahkan, ia sudah menyerah dengan segalanya. Ia sudah mengikhlaskan jika Wina harus meninggalkannya.


"Aku yang mengajukan diriku," ucap Samudra.


Dennis mengalihkan tatapannya pada Samudra. "Kau, akan mendonorkan hatimu pada Wina?" tanya Dennis dengan mata berkaca-kaca.


"Tenanglah." Samudra menepuk pundak sahabatnya.


Dennis menghapus air mata haru yang menetes. "Terimakasih, Sam," ucap Dennis tulus.


Samudra tersenyum. Kemudian, Dennis dan Samudra kembali meminta profesor tersebut melanjutkan laporannya.


"Dari dokter Samudra, pak Al, dan Bu Citra, hanya satu orang yang memiliki kecocokan dengan ibu Wina." Ketiganya masih menyimak semua ucapan profesor dengan seksama.


"Dokter Samudra, hanya anda yang memiliki golongan darah yang sama dengan ibu Wina. Jaringan serta organ hati anda juga cocok." Samudra mengangguk.


"Aku siap prof," ucapnya datar.


Al terdiam. Jalan untuk ia kembali bersama dengan Wina, sepertinya benar-benar tertutup. Ia menatap nanar pintu ruangan tempat Wina dirawat. Dengan langkah gontai, ia mendekat ke arah ruang rawat Wina dan membelainya dari kaca. Air matanya menetes menatap tubuh Wina yang terkulai lemas dengan berbagai peralatan medis di tubuhnya.


Hatinya terasa sakit sekali saat ini. Dadanya terasa sangat sesak dan nyeri tak tertahan. Hingga air matanya tak hentinya mengalir.


Aku akan mewujudkan keinginanmu. Jika kau ingin bercerai dariku, akan ku lakukan. Asalkan, kau tetap hidup dan kembali pulih seperti dulu. Maafkan aku yang hanya bisa menyakiti hatimu. Aku berjanji kau tidak akan lagi menderita. Maafkan aku. Aku sungguh menyayangimu.


*****


Maaf ya genks, baru bisa up. dari pagi sibuk urus krucil yang ulangan. belum lagi bolak balik dengan urusan penting. Siangnya, aku harus melakukan riset dari banyak artikel kedokteran untuk part ini. Terimakasih untuk setiap bentuk dukungan kalian๐Ÿค—


sampai jumpa di bab selanjutnya genks...

__ADS_1


lope lope yang buanyak buat kalian semua๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜โค๏ธโค๏ธโค๏ธ๐Ÿ’—๐Ÿ’—๐Ÿ’—


__ADS_2