Berbagi Cinta: Aku, Madu Sahabatku

Berbagi Cinta: Aku, Madu Sahabatku
Bab 7


__ADS_3

Al dan Citra semakin merasa khawatir. Waktu sudah semakin larut. Citra menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia merasa sangat bersalah.


Sementara Al sudah berjalan mengelilingi ruang tamu di rumah itu seraya menjambak rambutnya frustasi. Ia menyadari kesalahannya. Kata-katanya sudah sangat menyakiti Wina.


Wina benar. Hati wanita mana yang tidak sakit, saat mengetahui dirinya dibohongi dan dikhianati?


Maaf kan Abang Win. Abang tidak berniat menyakitimu. Meski pada akhirnya, kau tetap terluka. Apa yang harus ku lakukan? Dimana Wina? Apa dia baik-baik saja? Wina, pulanglah. Abang berjanji tidak akan menyakitimu lagi. Ayo kita bicarakan ini baik-baik. Abang menyesal melakukan ini. Tolong, kembalilah.


Al hanya mampu bergumam dalam hatinya. Berharap Tuhan mengabulkan sedikit saja harapannya.


*****


Wina masih dalam kondisi tak sadarkan diri. Pria yang menolongnya tadi, duduk di samping ranjang pasien Wina dan memperhatikannya. Ia bersedekap dan menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi.


Wajahnya terasa sangat familiar. Tapi, dimana aku mengenalnya? Atau aku pernah melihatnya? gumamnya dalam hati.


Lamunannya seketika hancur ketika perawat datang. "Dokter Dennis. Ada pasien gawat darurat yang butuh bantuan segera," ucap perawat itu.


Dokter yang bernama Dennis itu segera bangkit dari duduknya dan mengikuti langkah perawat.


*****


Dennis kembali ke ruang rawat Wina tadi. Ia melihat tas yang Wina bawa tadi. Ingin ia membuka tas itu, namun ia takut melanggar privasi pasiennya. Pada akhirnya ia memilih menunggu Wina sadar. Dennis tertidur di pinggir ranjang Wina.


Matahari belum nampak, saat seorang perawat masuk dan melihat Dennis tertidur di sana. Ia mengernyitkan dahinya bingung.


"Dok." perawat itu menepuk pundak Dennis perlahan.


Dennis membuka matanya dan meregangkan tubuhnya. Kemudian ia melihat jam tangan yang melingkar di tangannya.


"Pagi sus." Dennis berdiri.


"Oh, iya. Jika dia bangun, tolong panggil, saya." Dennis segera melangkah keluar.


perawat itu hanya mengangguk. Setelah Dennis keluar, ia menatap wanita di hadapannya itu dengan seksama lalu mengendikkan bahunya.


*****


Widya tiba di rumah Al. Waktu bahkan masih menunjukkan pukul tujuh pagi saat ia tiba. Widya membuka pintu dan melihat pemandangan yang mengejutkan.

__ADS_1


Ia melihat Citra dan Al tertidur di atas sofa. Citra merebahkan kepalanya di atas kedua paha Al. Sementara Al, menyandarkan kepalanya di sandaran sofa.


"Kalian kenapa tidur sini?" tanya Widya saat dirinya berdiri dihadapan pasangan suami istri itu.


Citra membuka matanya dan terkejut melihat kehadiran ibu mertuanya. Begitupun dengan Al. Al mengusap wajahnya dan menegakkan tubuhnya. Widya bersedekap dan menunggu mereka bicara.


"Mi," sapa Al dengan suara serak khas bangun tidur.


Citra berdiri dan mencium punggung tangan ibu mertuanya. Widya tak menolak. Kembali ia mengamati Al dan Citra bergantian.


"Citra, bukannya kamu sudah punya rumah sendiri? Kenapa kamu di sini?" tanya Widya.


"Dimana Wina? Kenapa mami tidak melihat dia? Apa Wina sudah tahu tentang hubungan kalian?" tanyanya beruntun.


Al memijit pelipisnya. Kepalanya semakin berdentum keras mendengar rentetan pertanyaan itu.


"Kenapa kalian diam?" tak mendapat jawaban dari pertanyaannya, membuat Widya segera beranjak mencari keberadaan Wina.


"Wina... Win... Wina..." Widya terus berteriak memanggil Wina seraya membuka semua pintu kamar.


"Mas, bagaimana ini?" tanya Citra dengan wajah penuh ketakutan.


"Biar, Mas yang bicara sama Mami," ucap Al menenangkan.


"Al, dimana Wina? Kenapa dia tidak di rumah?" tanya Widya pada Al.


"Wina, pergi dari rumah, Mi." kepala Al tertunduk dalam. Ia tidak sanggup menatap ibunya.


"Pergi? Kalian sudah membuka rahasia ini? Bukankah sudah Mami katakan, kau harus memilih diantara mereka. Kau tidak akan bisa tidak melukai mereka Al," ucap Widya frustasi.


Widya memejamkan matanya sesaat Sebelum melanjutkan ucapannya.


"Dengar, Mami ingin kau mencari Wina sampai ketemu. Bagaimana pun caranya, Wina harus kembali. Jika tidak, Mami yang akan beritahu Papi mu untuk melengserkan kamu dari jabatan yang kau pegang. Ingat Al, Mami tidak pernah main-main dengan ucapan Mami." Widya berdiri dan meninggalkan mereka.


Baru saja dirinya tiba di depan pintu, ia berbalik dan melanjutkan ucapannya. "Kau Citra, Bukankah aku sudah memperingatkan mu, untuk tidak muncul di hadapan Wina jika mereka sudah menikah? Kenapa kau melanggarnya?"


"Mi, Citra itu istri sah ku. Bukan simpanan ku. Kenapa dia harus bersembunyi?" geram Al.


"Mami, tidak peduli. Bukankah dia yang rela untuk dimadu? Artinya, dia rela menyembunyikan dirinya dari Wina selamanya." Widya segera pergi tanpa berbalik lagi.

__ADS_1


Citra menangis setelah kepergian Widya. Al menarik Citra kedalam pelukannya. Citra menangis tersedu-sedu. Al hanya bisa memeluknya dan mengusap punggung, serta mengecup puncak kepala Citra.


Al tahu, kata-kata ibunya sudah sangat menyakiti nya. Belum lagi Wina yang seakan tak bisa menerima kenyataan ini. Ternyata, semua tak semudah bayangannya. Kini, situasinya semakin sulit. Mampukah dirinya mengatasi semua ini dan mempertahankan kedua istrinya?


Dalam hati, Citra membenarkan ucapan ibu mertuanya. Citra memang menyetujui pernikahan Al dan Wina. Sudah seharusnya ia mengalah pada Wina. Belum cukupkah pengorbanannya yang rela membagi suaminya pada sahabatnya sendiri? Masihkan dirinya salah?


*****


Di rumah sakit, Wina mulai membuka matanya. Ia melihat ke segala arah. Ia menyadari ,jika dirinya tengah berada di rumah sakit saat ini.


Seorang perawat tengah memeriksa infus milik Wina. "Anda, sudah sadar?" tanya perawat itu.


Terdengar suara pintu yang terbuka. Perawat mengangkat pandangannya dan melihat Dennis masuk. Wajahnya terlihat lebih segar dari sebelumnya.


"Dok, pasien sudah sadar," lapor perawat tersebut pada Dennis.


Dennis berjalan mendekat dan menghembuskan nafas lega melihat Wina sudah sadar.


"Nona, anda sudah sadar?" tanya Dennis.


Wina menganggukan kepalanya lemah. "Saya, dimana?" tanyanya lemah.


"Anda, di rumah sakit. Ada keluarga yang bisa dihubungi?" tanya Dennis lagi.


Keluarga, apa mereka menganggap ku keluarganya? Ataukah aku hanya alat bagi mereka? Aku saja tidak tahu apa artinya diriku di hati mereka. Wina merasa gamang dengan statusnya.


Air mata Wina kembali menetes mengingat kejadian yang menyebabkan dirinya terbaring lemah.


"Saya, kenapa dok?" Wina memilih mengalihkan pertanyaan daripada menjawab pertanyaan dokter itu.


"Hipotermia. Tidak parah, sebentar lagi kondisi anda akan membaik. Jadi, apa ada keluarga anda yang bisa kami hubungi? Saya tidak ingin melanggar privasi anda dengan membongkar isi tas anda." Dennis menjelaskan.


"Tidak ada."


Dirinya tidak salah menjawab bukan? Baik Al maupun Citra tidak menganggap dirinya keluarga. Jika dirinya memang keluarga mereka, seharusnya sejak awal tidak ada rahasia bukan? Dalam hati, Wina menertawakan dirinya sendiri yang begitu b***h terseret dalam drama rumah tangga sahabatnya. Bahkan, dirinya menjadi madu untuk sahabatnya sendiri.


🌸🌸🌸🌸🌸


Hai all. terimakasih masih setia dengan story' ini. Jangan lupa like, komen dan votenya ya.

__ADS_1


😭😭😭lagi banyak bawangnya dua part ini....


lope lope yang buanyak buat kalian semua...πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–


__ADS_2