Berbagi Cinta: Aku, Madu Sahabatku

Berbagi Cinta: Aku, Madu Sahabatku
Bab 28


__ADS_3

Al masuk ke dalam mobilnya dan berusaha meredam emosinya. Ia memejamkan matanya dan menyandarkan kepalanya. Menarik napas dalam dan menggunakannya perlahan hingga beberapa kali.


Citra mengusap lengan Al dengan lembut. Darren memperhatikan perubahan pada wajah Al. Masih terlihat jelas di mata Darren, jika papanya sedang menahan rasa kesal.


Perlahan, Al membuka matanya dan memandang Citra dan Darren bergantian. Kemudian senyumnya terbit saat melihat putra semata wayangnya.


Al mengambil alih Darren dan mengusap rambutnya. Menciumi wajah putranya dan mendekapnya hangat.


"Papa sayang sekali sama Darren,' ungkapnya.


"Darren juga sayang papa," ucap Darren.


Citra tersenyum melihat kedekatan mereka. Citra ingin sekali menanyakan tentang Wina. Namun, ia mengurungkan niatnya saat melihat wajah Al yang berubah sendu.


Kemudian, Citra mengambil alih Darren dari dekapan Al. Al tak menahannya dan membiarkan citra mengambilnya.


"Ayo pulang, sudah malam. Darren pasti sudah mengantuk." Al tersenyum dan menjalankan mobilnya.


*****


Citra membawa Darren untuk membersihkan diri di kamarnya. Setelah berganti baju dengan piyama, Darren menaiki ranjangnya. Citra mengecup keningnya, dan mematikan lampu kamar.


"Selamat malam, Sayang." Citra segera memadamkan lampu dan keluar dari kamar itu.


Setelah menutup pintu kamar Darren, Citra kembali ke kamarnya dan Al. Suaminya terlihat sedang menopang dirinya di balkon kamar. Menatap langit yang menghitam di atas sana.


"Mas," panggil Citra.


Al menoleh dan merentangkan tangannya pada Citra. Citra menyambutnya dan menenggelamkan dirinya dalam pelukan Al. Al memeluknya dengan erat.


"Kau baik-baik saja, Mas?" tanya Citra.


Al hanya mengangguk. Meski hatinya sangat tidak baik-baik saja saat ini. Ia merasakan kegelisahan yang tak bisa ia ungkapkan. Jujur saja, ia takut Wina mengambil putranya. Ia juga takut, Wina memilih pergi darinya seperti dulu.


Saat pertama kali melihat Wina tadi, ia sangat terkejut. Namun, ia teringat tentang makam Wina yang berubah satu hari setelah dimakamkan.


Empat tahun yang lalu


*Wina baru saja selesai dimakamkan. Al dan Citra memilih kembali. Tidak ada gunanya meratapi kepergian Wina saat ini. Meski rasa bersalah, menggerogoti Al.

__ADS_1


Selama hampir enam bulan, Al tidak memperhatikan kondisi Wina. Ia berpikir, mungkin Wina mengalami semua itu karena kesalahannya. Bahkan, ia baru satu bulan ini memperhatikannya.


Rasa kecewa akibat peperangan kedua istrinya saat itu, membuat Al melakukan hal konyol pada mereka. Hingga Wina harus dirawat akibat rasa stress berlebih dan hampir membuatnya kehilangan calon bayi mereka saat itu.


Hingga Al memilih tinggal di apartemen dan menjauh dari kedua istrinya. Ia mengabaikan mereka dan hanya mengunjungi mereka sesekali. Itupun, hanya untuk melampiaskan hasratnya.


Saat itu ia berpikir, mungkin saja Wina mengalami stress berlebih lagi saat itu. Hingga Wina mengalami pre-eklampsia dan berakhir meninggal dunia, satu jam setelah melahirkan.


Rasa bersalah Al, semakin terasa saat ia melihat putranya. Putranya bahkan belum sempat mengenali ibu kandungnya. Ia menangis dengan mendekap putranya dan terus menggumamkan kata maaf berulangkali.


Rasa bersalah terus menggelayutinya hingga kemarin*.


Al merasa menjadi orang b***h yang selalu berkubang dalam rasa bersalah. Nyatanya, Wina masih hidup sehat sampai hari ini. Rasa bersalah itu perlahan mulai terkikis dan berubah menjadi rasa ingin tahu.


Al ingin tahu alasan Wina yang sebenarnya. Ingin tahu, kenapa Wina begitu tega meninggalkan anaknya sendiri? Ingin tahu, apakah rasa cinta Wina masih untuknya? Ingin tahu, siapa Dennis sebenarnya? Benarkah dia kakak kandung Wina?


Mengingat Dennis, Al melepas pelukannya dan menatap Citra. Citra mengangkat kedua alisnya. Al mengerti maksud Citra.


"Apa Wina mempunyai seorang kakak laki-laki?" tanyanya.


ia Citra mengerut dalam. Ia kembali menggali ingatannya tentang masa lalu mereka. Kemudian, lintasan seorang pria yang usianya berbeda tiga atau empat tahun darinya dan Wina muncul.


Al terdiam. Jika nama kakak laki-laki Wina adalah 'Tama' lalu, siapa Dennis? Al menyipitkan matanya berpikir. Pikiran-pikiran buruk pun melintas dalam benaknya. Membuatnya menduga akan hal yang tidak-tidak.


"Memang, ada apa, Mas? Kenapa, Mas Al, menanyakan tentang hal itu? Darimana, Mas, tahu tentang Wina yang memiliki kakak kandung?" Citra bertanya tanpa henti.


Al menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. "Wina bilang, Dennis adalah kakaknya."


Citra menatap tak percaya pada ucapan Al. Ingatannya kembali pada sikap Dennis empat tahun lalu. Bagaimana perhatiannya Dennis pada Wina, sikapnya yang posesif dan mata yang sangat dikenalnya. Dia ingat mata itu. Tapi Citra tidak mengetahui, jika Dennis dan Tama adalah pria yang sama.


"Tama," gumamnya seraya mengerutkan alisnya.


"Wina Pratama dan Dennis Pratama." Citra menghembuskan napasnya kasar saat ingatannya terhubung.


"Ya, nama panjang kak Tama adalah Dennis Pratama."


Entah mengapa, Al meneguk salivanya susah. Begitupun dengan Citra. Kini, semua terasa masuk diakal. Alasan Dennis menghajarnya empat tahun lalu dan juga kejadian di cafe tadi.


Kata 'adik' yang di ucapkan Dennis, memang sudah terbukti. Meski sejujurnya, Al masih meragukan kebenaran itu. Namun, fakta jenazah Dennis yang tak ditemukan dulu, membuat Al dan Citra meyakini hal itu.

__ADS_1


*****


Wina bertekad akan menyelesaikan masalahnya bersama Al dan Citra. Ia berjalan mendekati taman, dimana ia pertama kali bertemu dengan putranya.


Ia mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Darren. Nama itu langsung melekat dalam ingatan Wina, saat Al menyebutnya.


Matanya tertuju pada keberadaan rumah yang tak jauh dari taman. Rumah itu bergaya minimalis dan teduh. Rumah itu, hampir sama dengan rumah yang ditempatinya saat berada di Jakarta. Perlahan, ia melangkah mendekati rumah itu.


Ia berhenti tepat di depan pagar rumah itu. Ya, rumah ini sangat mirip dengan rumah yang ditempatinya bersama Al dulu. Mungkinkah Al sengaja melakukan hal itu?


Tangannya terulur ingin membuka pagar itu. Namun, rasa ragu kembali menyergapnya. Jantungnya bertalu-talu tak karuan. Ia merasa, jantungnya akan segera lepas dan hilang dari tempatnya. Ia memegang dadanya dan menarik napas dalam untuk meredakan detak jantungnya. Berkali-kali ia melakukannya. Namun, jantungnya tetap berdetak dengan kencangnya.


Tangannya sudah mulai terasa dingin. Lagi-lagi, Wina menguatkan tekadnya untuk bertemu dengan Al dan Citra. Ia tak ingin lagi terbelenggu dengan ikatan masa lalu. Ia harus bisa melangkah maju. Perkara Darren, Wina tak akan mengambil alihnya. Sekalipun, hati kecilnya menginginkan Darren mengenalnya dan menerima dirinya.


Wina menyadari kesalahannya dan tak akan menuntut apapun dari Darren. Keputusan, ada pada Darren. Perlahan, Wina membuka pagar itu dan mengetuk pintu rumah. Menunggu beberapa menit dan melihat pria yang pernah mengisi hatinya.


*****


pagi genks.... happy weekend buat kalian. Maaf kan aku yang belum bisa memenuhi keinginan kalian untuk double up atau crazy up.


Maafkan aku ya genks๐Ÿคง


hari ini, kau mau mempromosikan novel dedeku....



dan ini, novel my besties






silahkan mampir ke karya mereka ya genks. ke karya ku yang lain juga boleh kok.


sampai jumpa di bab selanjutnya....

__ADS_1


lope-lope yang banyak buat kalian๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ’—๐Ÿ’—๐Ÿ’—โค๏ธโค๏ธโค๏ธ


__ADS_2