Berbagi Cinta: Aku, Madu Sahabatku

Berbagi Cinta: Aku, Madu Sahabatku
Bab 73


__ADS_3

Setelah Samudra dan Darren berangkat, Wina mulai mengeluarkan bahan untuk membuat pangsit yang ia janjikan pada suaminya. Setelah berjibaku selama lebih dari dua jam, akhirnya pangsit yang dibuatnya selesai.


"Sudah selesai, Sayang?" tanya Silvia yang menghampiri Wina.


Wina memang mengerjakannya sendiri. Bukan karena Silvia tidak ingin membantunya, tapi karena Wina yang menginginkannya. Wina tersenyum puas menatap ibu mertuanya.


"Sudah, Bun."


Silvia membantu Wina mengemasnya ke dalam kotak makan. Ia mengambil garpu dan mencicipinya.


"Ini enak banget."


Wina tersenyum senang mendapat pujian dari ibu mertuanya. "Bunda mau coba yang ini?"


Silvia melihat pangsit yang berbeda dari yang tadi dimakannya. Ia menggigitnya dan terkejut. Ia hampir memuntahkannya karena rasa panas yang memenuhi rongga mulutnya.


"Bunda, gak apa-apa?" Wina terlihat mengkhawatirkan Silvia.


"Maaf, Wina lupa bilang. Cara makannya berbeda dari yang pertama bunda makan."


Silvia berusaha memakannya hingga habis. Meski mulutnya terasa terbakar. Bahkan, air mata mulai menetes dari sudut matanya.


"Gak apa, Sayang. Boleh bunda tanya?" Wina mengangguk.


"Kenapa yang ini cara makannya beda?"


Wina pun menjelaskan perbedaan makanan yang ia buat. "Yang pertama bunda makan ini, namanya dimsum. Sebenarnya, semua ini jenis dimsum. Hanya saja, beda cara memakannya. Nah, yang kedua bunda makan itu, pangsit. Jadi, sebelum dimakan kita sobek dulu kulit pangsitnya. Supaya, kuah kaldu yang ada di dalam keluar dan bisa kita dinginkan sebelum dimakan."


"Begitu ternyata. Pantas saja, saat bunda gigit rasanya sangat panas. Lidah bunda jadi terasa terbakar tadi. Ternyata, bunda salah." Silvia tersenyum.


"Wina juga salah, Bun. Maaf ya." Wina memeluk Silvia.


Silvia membalas pelukan menantunya. "Jadi, mau bunda antarkan?" tanyanya setelah mereka saling melepas pelukan.


"Wina, sendiri saja, Bun."


"Oke, hati-hati ya, Sayang."


Wina segera berganti pakaian dan menuju rumah sakit tempat Samudra bekerja.


*****


Wina tiba di rumah sakit dan segera menuju ruangan Samudra. Semua perawat tersenyum ramah padanya. Tiba di depan ruangan suaminya, Wina tak langsung membuka pintu. Terdengar suara seorang pria yang tengah berbincang dengan suaminya itu.


Ia memilih diam dan mendengarkan semua ucapan kedua pria itu.


"*Jika sampai aku tahu dia pergi atas permintaanmu, akan ku pastikan kau kehilangan keluarga mu."

__ADS_1


"Kau mengancam ku? Kau pikir, dengan mengancam ku kau akan mengetahui keberadaan istri dan anak mu? Kau tidak akan pernah tahu. Kau bisa memeriksa ponselku, atau menghubunginya dengan ponsel ku." Samudra*.


Wina tak tahan lagi setelah mendengar ucapan pria itu. Ia memilih masuk dan menemui keduanya. Samudra terlonjak kaget saat mendengar suara pintu.


"Sayang."


Samudra mendekati Wina dan memeluknya posesif. Mendengar ancaman Harlan padanya, membuat ia ketakutan. Meski dihadapan Harlan, ia berusaha mengontrol emosinya.


Wina tersenyum pada suaminya itu. Ia mengalihkan pandangannya pada pria yang duduk dengan santai di sana.


"Sepertinya, Anda sedang mengancam suami saya. Saya bisa beritahu Anda, jika sebelumnya Rosa memang meminta bantuan kami. Apa Anda tahu jawaban kami?"


Harlan terdiam memperhatikan setiap ucapan Wina.


"Kamu jelas saja menolaknya. Karena kami tidak ingin berurusan dengan Anda. Ternyata, apa yang saya takutkan terjadi. Jika saja kami menerimanya dulu, mungkin Anda sudah menghabisi kami. Sayangnya, Rosa benar-benar tidak memberitahu kami rencana yang ia susun. Jika Anda sudah tidak memiliki kepentingan, silahkan tinggalkan ruangan ini."


Harlan berdiri dan mendekati mereka. "Oke! Aku percaya, tapi ingat baik-baik aku tidak akan membiarkan kalian bahagia, jika kalian berbohong padaku."


Harlan segera pergi meninggalkan ruangan itu. Wina dan Samudra menghela napas lega setelah Harlan pergi dari sana. Samudra memeluk Wina dan terus mengecup puncak kepala istrinya.


Samudra pun membawa wina duduk di sofa. "Maaf ya, Sayang. Kau harus melihat kejadian tadi.


"Tidak apa, Mas. Sepertinya, kita harus mengamankan Darren untuk sementara. Kita bisa titipkan Darren pada Citra dan bang Al."


Samudra mengeratkan rahangnya. Hatinya merasa tidak terima, jika harus melibatkan Al dalam masalah ini. Namun, untuk saat ini memang hanya itulah jalan keluar terbaik.


*****


Samudra masih memikirkan cara terbaik. Meski Harlan tak menunjukkan tanda-tanda akan melakukan ancamannya, Samudra tetap harus berhati-hati.


Untuk Wina dan bundanya, Samudra sudah menyewa bodyguard untuk menjaga mereka. Ia juga menempatkan seorang bodyguard untuk Darren. Namun, rasa cemasnya belum juga sirna. Samudra berjalan mengelilingi ruangannya. Ia terkejut saat Dennis menepuk pundaknya.


"Astaga!! Hampir saja aku jantungan." Samudra mengusap dadanya.


"Kamu ngapain jalan mondar mandir begini?" Dennis mengerutkan dahinya.


"Aku sedang memikirkan bagaimana caranya melindungi Wina, Darren dan bunda."


"Apa ini soal Harlan?" Samudra mengangguk.


"Jadi, Apa rencana mu?"


"Belum tahu. Aku bingung."


"Bagaimana jika kita laporkan dia ke pihak berwajib." Samudra menoleh.


Ia memikirkan saran dari Dennis. Akankah saran itu berlaku? Ataukah hanya akan menjadi sia-sia? Samudra menghembuskan napas kasar. Ia tak memiliki cara untuk membuat Harlan tak melakukan ancamannya.

__ADS_1


Haruskah ia mencari Rosa dan menyerahkannya pada Harlan? Tidak, itu lebih tidak mungkin. Jika aku mencari Rosa dan membawanya ke hadapan Harlan, aku hanya akan memperburuk keadaan. Bisa saja Harlan menuduhku yang tidakΒ². Ya, Tuhan, apa yang harus ku lakukan?


Samudra menjambak rambutnya karena rasa frustasinya. Ia benar-benar tidak memiliki cara untuk menyelamatkan keluarganya.


*****


Beberapa minggu terlewati. Nampaknya Harlan hanya mengancamnya. Saat ini, Samudra dan Wina tengah menemani Darren bermain di ruang tamu. Mereka bercanda ria dan bermain bersama.


Mereka mengalihkan pandangan pada televisi saat terdengar suara reporter yang mengabarkan kematian Harlan. Samudra terkejut melihat berita itu. Begitupun dengan Wina.


"Astaga, apa yang terjadi?" tanya Wina.


Tidak hanya Harlan, ayah dan ibu angkat rosa pun turut tewas dalam kejadian itu. Bahkan, keluarga Harlan pun tewas di sana. Usaha ilegal milik Harlan pun ikut terendus oleh pihak berwajib.


Pada akhirnya, semua anak buah Harlan, kekayaan, dan aset yang dimilikinya ikut di sita. Semua barang haram yang disimpannya pun dibakar. Harlan memang tak Ter hukum. Namun, ia pasti akan dihukum saat di akhirat nanti.


Satu minggu setelah kejadian itu, Rosa kembali bersama dengan Dani putranya. Orang pertama yang ia datangi adalah Wina.


Wina terkejut melihat penampilan Rosa yang tak lagi sama seperti terakhir kali merek bertemu. "Rosa."


Rosa tersenyum menatap Wina. Ia melambaikan tangannya dan mendekati Wina.


"Terimakasih, kau sudah membantu ku mencari jalan. Sekarang, aku sudah bisa kembali."


"Kau terlihat lebih cantik dan elegan."


"Kau juga. Sepertinya, aura kehamilan mu membuatmu semakin cantik saja."


Mereka saling tertawa bersama. Kini, Rosa dan Wina sudah berdamai.


"Apa kau tahu penyebab kematian Harlan?"


"Musuhnya sendiri. Aku tahu, ada satu orang yang begitu membencinya serta keluarganya. Sudahlah. Biarkan saja. Aku bersyukur mereka sudah mati. Saat mendengarnya, aku memutuskan untuk kembali. Sebelumnya, aku sudah menyelamatkan beberapa aset dan uang untuk menopang kehidupanku sementara."


"Jadi, apa rencana mu?"


"Aku akan membuka sebuah cafe atau restoran. Mungkin juga, toko kue. Hanya itu keahlian ku."


Wina tersenyum. "Kau pasti bisa. Semangat."


Rosa bersyukur bisa mengenal wanita sebaik Wina. Ia bahkan tak pernah menanyakan masa lalu Samudra dengannya.


Semoga kalian terus bahagia, doa Rosa dalam hatinya.


*****


Sedikit lagi, kita menuju tamat .... yuk genks, melipir ke karya terbaru ku. "Love after Marriage and Divorce"

__ADS_1


terimakasih untuk support kalian semua..... sampai jumpa di bab selanjutnya.....πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ€—πŸ€—πŸ€—


__ADS_2