
Citra tak bisa menemukan keberadaan orang itu. Ia pun memutuskan akan mencaritahu nya nanti. Citra berbalik dan menuju ke rumah Wina. Ia memasuki rumah itu. Pemandangan di depannya sungguh menyayat hatinya.
Di dalam sana, terlihat Widya, Wina dan Al. Wina duduk diantara Al dan Widya. Mereka terlihat sangat dekat. Ia tak sengaja mendengar pertanyaan Wina. Namun, jawaban yang keluar dari bibir Widya, tetaplah menyakitinya.
"Mi, boleh Wina bertanya?" Widya mengangguk seraya tersenyum.
"Mau tanya apa, Sayang?" Widya mengusap rambut panjang milik Wina.
Aku tidak pernah diperlakukan seperti itu oleh Mami. Tidak pernah melihat wajah Mami tersenyum padaku, lirih Citra dalam hatinya.
"Apa mami tidak bisa memperlakukan Citra seperti mami memperlakukan aku?"
Deg, Citra menyentuh dadanya. Jantungnya berdegup cepat menunggu jawaban Widya atas pertanyaan Wina tadi.
Widya berhenti mengusap rambut Wina. Sementara Al, menahan napasnya menunggu jawaban Widya.
"Mi," ucap Al setelah Widya terdiam cukup lama.
"Bisa. Tapi ada syaratnya."
Citra yang sudah tahu jawabannya, hanya menyandarkan kepalanya di dinding. Al dan Wina saling pandang dan mengernyitkan dahinya.
"Apa?" tanya mereka bersamaan.
"Citra harus..." (ucapan Widya pada Citra. Baca bab sebelumnya ya.)
Al bangkit berdiri dan terlihat sangat marah pada Maminya. "Mami tidak berhak ikut campur dalam rumah tangga Al. Sudah Al katakan, sampai kapanpun, Al tidak akan pernah menceraikan Citra."
Wina terkesiap, hatinya terasa pedih mendengar ucapan Al yang begitu lantang menolak perceraiannya dengan Citra. Citra yang mendengarnya memilih pergi dari sana. Ia tak sanggup lagi mendengar Widya menceritakan masa lalunya. Apalagi, Widya membenci ibunya.
"Mi, apa salah Citra sampai mami membencinya?" tanya Wina.
Wina mencoba menekan rasa sakit di hatinya. Ia mengatur emosinya demi calon bayinya yang belum diketahui Al dan Widya.
"Tidak ada." Widya membuang pandangannya.
Apa karena dia putri dari wanita yang sudah membuat keluarga kalian hancur? Bukankah, itu masalah ibunya? Kenapa mami malah melimpahkan kesalahan itu pada Citra? Lagipula, Tante Andini tidak sampai menikahi papi Yudha kan?!
Sayangnya, semua itu hanya mampu Wina ucapkan dalam hatinya.
"Mi, jangan limpahkan kesalahan yang tidak Citra perbuat pada dirinya. Lupakan Mi. Al akan bantu mami kembali pada papi." Al menggenggam tangan maminya dan berlutut di hadapannya.
__ADS_1
Matanya bahkan terlihat sangat memelas mengatakan semua itu. Wina tersenyum. Akhirnya, Citra memiliki seseorang yang begitu menyayanginya. Dalam hatinya, sekalipun sangat sakit yang dia rasakan, ia sudah memutuskan, setelah anaknya lahir nanti, Wina akan pergi dari mereka.
"Baik, kalau begitu mami akan menyayanginya, setelah papi mu kembali seperti dulu." air mata Widya menetes. Sejujurnya, ia tak yakin jika Yudha akan kembali seperti dulu lagi. Jikapun hal itu terjadi, semua tidak akan pernah sama lagi.
Al pun mengangguk cepat dan tersenyum pada ibunya. Pria itu menarik Widya kedalam pelukannya dan berujar terimakasih.
*****
Widya dan Al sudah pergi. Saat ini Wina kembali melihat kartu nama yang pernah di berikan Dennis padanya. Wina menggigit bibirnya. Ia terus berusaha meyakinkan hatinya untuk mengambil keputusan.
Ia pun mulai menekan angka dalam ponselnya dan menaruhnya di telinga. Tak lama kemudian, panggilan itu tersambung.
"Halo."
"Dokter, bisa kita bertemu?" ucap Wina to the point.
"Ini, Wina?"
"Iya, ini aku Wina."
"..."
Wina pun memutus panggilan itu, setelah Dennis mengatakan tempat dan waktunya. Wina menarik napas dalam dan mencoba meneguhkan tekadnya. Ia segera mengganti bajunya dan menuju lokasi yang dikatakan Dennis tadi.
"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Dennis.
Pria itu terlihat enggan berbasa-basi. Hingga ia langsung bertanya pada pokok permasalahannya.
"Bisa bantu aku pergi dari suamiku? Tidak saat ini. Tapi, setelah anak ini lahir."
Dennis terkejut mendengar ucapan itu. Benarkah pendengarannya ini?
"Apa kau sanggup meninggalkan buah hatimu sendiri nantinya? Kau tidak akan menyesalinya?" tanya Dennis.
Tadinya, Dennis berharap Wina pergi bersama bayinya. Biar dirinya saja yang merawat keduanya. Ia tak ingin Wina terus tersakiti. Bagaimanapun ceritanya, di madu atau menjadi madu, akan tetap menyakitkan. Dennis sangat mengetahui hal itu. Dennis memang sengaja mencaritahu semua hal tentang Wina. Bahkan, ia sudah memasang mata-mata di sekitar Wina tanpa wanita itu sadari.
Pria itu sangat senang saat Wina meminta bantuannya. Namun ternyata, Wina akan meninggalkan anaknya itu pada suami dan istri pertama dari suaminya.
"Suatu hari nanti, aku pasti akan menyesalinya. Tapi, biarkan itu menjadi misteri."
"Jika anakmu tahu, ibunya dengan sengaja meninggalkan dirinya, kau siap dibenci oleh darah daging mu sendiri?" kembali Dennis mencoba membuat Wina goyah.
__ADS_1
"Aku tahu konsekuensi yang harus ku hadapi. Karena aku sudah memutuskannya, maka akan ku hadapi segala resikonya." jawaban Wina sungguh membuat Dennis tak bisa lagi mendebatnya.
Dennis pun menganggukkan kepala mengerti. "Baik, akan ku pikirkan caranya. Datanglah ke tempat ku jika kau ingin memeriksa kehamilan mu. Aku akan membicarakannya di sana."
Wina mengangguk. Ia pun bangkit berdiri dan bersiap meninggalkan tempat itu. Dennis ikut bangkit berdiri.
"Boleh aku tahu, kenapa kau sangat memperhatikan aku?" tanya Wina. Ia sudah berjalan dua langkah sebelumnya. Namun, berbalik dan kembali bertanya.
"Tidak sekarang. Aku akan memberitahumu nanti."
Wina pun segera pergi meninggalkan tempat itu. Dennis mengepalkan kedua tangannya yang berada di dalam saku celananya.
*****
Citra datang ke rumah sakit, tempat Wina di bawa dulu. Ia mencoba mencari keberadaan Dennis. Citra terus mencari hingga seorang satpam mendatanginya.
"Ada yang bisa saya bantu Bu?" tanya pria itu sopan.
"Ah, saya sedang mencari seorang dokter pak. Tapi, saya lupa menanyakan namanya. Jadi saya bingung jika di tanya seperti ini. Saya hanya ingat wajahnya saja." satpam itu terlihat bingung.
Dari kejauhan, Dennis melihat Citra di tempatnya praktek. Ia tersenyum miring dan berusaha menghindarinya. Ia pun memilih jalan lain.
"Nomor teleponnya ada?" Citra menggeleng.
"Dia dokter teman saya pak. Saya hanya ingin bertanya tentang teman saya saja."
Duh, kenapa jadi ambigu gini ya?
"Maaf, Bu, dengan tidak mengurangi rasa hormat, silahkan ibu bertanya dulu pada teman ibu siapa nama dokter itu. Setelah itu, ibu bisa menemui dokter itu. Di sini, ada banyak dokter yang bekerja," ucap satpam itu tegas.
Citra tahu, dirinya kini terlihat seperti orang yang mencurigakan. Ia pun memaksa senyumnya dan menunduk. Setelah itu, ia berlalu dari sana.
*****
Telat lagi genks. Maaf yaπ’
selamat menikmatiπ€
rekomend hari ini
__ADS_1
sambil nunggu aku up, silahkan mampir ya genks. sampai jumpa di bab selanjutnya
sayang kalian semuaππππππππππ