
Al menatap Widya tanpa berkedip. Namun, tatapannya tak terbaca. Ia hanya memandang Widya tanpa bicara. Raut kecemasan makin terlihat jelas.
Yudha pun ikut maju. Ia berdiri di samping Widya.
"Al, ini papi," ucap Yudha.
Al mengalihkan pandangannya pada Yudha. Tatapan yang sama Al berikan pada ayahnya itu. Yudha menghela napas.
Wina ingin melepaskan dirinya dari pelukan Al. Namun, Al seakan enggan melepaskannya. Wina berpikir keras untuk melepaskan diri.
"Bang, bisakah Abang tidak memelukku seerat ini?" tanyanya.
Al menoleh dan tersenyum pada Wina. Ia mengecup lembut pipi Wina. Wajah Wina merona saat ciuman itu terasa di kulitnya. Matanya membola. Pelukan itu pun terlepas, berganti dengan genggaman di tangan Wina. Al mengecup punggung tangan Wina berkali-kali. Membuat Wina bingung.
Samudra semakin mengepalkan tangannya. Ia begitu marah melihat Al mencium Wina. Meskipun, hanya di pipi dan tangan. Napasnya semakin memburu. Wajahnya bahkan sudah memadam.
Dennis memegang lengannya. "Lo mau ngelawan orang yang lagi gak waras?" bisik Dennis.
"Dia udah keterlaluan Den," bisik Samudra. Namun, nadanya sarat dengan kemarahan.
"Al," panggil Widya kembali.
Al tak memedulikan mereka dan menarik Wina. Wina sempat menahan tubuhnya. Sungguh, ia merasa sangat takut saat ini. Keringat dingin bahkan sudah mengalir deras di punggungnya.
Matanya meminta pertolongan pada setiap orang yang ada di tempat itu. Security yang hendak membantu, dicegah oleh Dennis.
"Jangan, pak! Biarkan saja dulu. Kita ikuti saja mereka," ucap Dennis. Samudra mendengus kesal.
Kini, Dennis dan yang lainnya mulai berjalan mengikuti Al dan Wina. Al bahkan sudah melingkarkan tangannya di bahu Wina. Al menatap Wina dengan tatapan penuh cinta. Senyumnya pun, terlihat begitu tulus.
"Sayang, Abang gak betah di rumah sakit lama-lama. Lagi pula, Abang sudah sehat," ucap Al.
Tak ada pilihan lain bagi Wina. Mau tidak mau Wina harus berpura-pura. Ia tersenyum pada Al dan menatapnya.
"Benarkah? Kalau begitu, ayo kita temui dokter. Biarkan dokter yang menentukan. Bagaimana?" Al tersenyum dan mengangguk setuju.
Melihat perilaku Al yang seperti ini, Citra menyimpulkan, jika dirinya sudah kehilangan Al sejak lama. Hanya saja, selama ini Al selalu menutupinya dengan baik.
Aku sudah kehilanganmu mas. Hatimu sudah bukan milikku, gumam Citra. Air matanya menetes saat hatinya merangkai kata-kata itu.
Maafkan mami, Nak. Karena kesalahan mami, kau harus merasakan semua ini. Tuhan, jika boleh aku meminta, kembalikan putraku. Jangan biarkan dia menanggung kesalahan ku, doa Widya dalam hati. Ia merasakan sakit yang menyiksa.
Kak, maafkan aku yang tak bisa menjaga putramu. Bukan aku tidak menyayanginya. Tapi, aku tidak bisa menerima Widya, hingga berimbas padanya. Maaf, gumam Yudha.
__ADS_1
Mereka tiba di ruang rawat Al. Wina membantu Al berbaring dan menyelimutinya. Ia memberikan kode pada Dennis untuk memeriksa kondisi Al.
Dennis menggunakan masker dan mendekati ranjang pasien. Ia mulai menggunakan stetoskop yang tadi ia ambil dari meja perawat di depan.
"Saya periksa dulu ya, pak," ucap Dennis.
Al mengangguk dan menuruti setiap perintah dari Dennis. Ia tak menyadari, atau mungkin tak mengenali Dennis lagi saat ini. Sepertinya, di memori Al hanya ada satu nama saat ini.
Setelah serangkaian pemeriksaan, Dennis meminta Al menemui psikiater. Ia mengatakan, jika Al memiliki kecenderungan trauma akibat kecelakaan. Tentu saja, itu untuk mengelabui Al.
"Secara fisik, kondisi bapak sudah baik-baik saja. Tapi, sepertinya anda harus bertemu dengan dokter bagian syaraf. Maaf, itu karena anda melupakan beberapa hal," ucap Dennis.
Al mengerutkan keningnya mendengar penuturan Dennis. "Saya melupakan sesuatu?" tanya Al.
"Iya, pak. Apa anda mengingat siapa mereka? Karena, sejak awal mereka lah yang menemani bapak. Baru ..." Dennis menghentikan ucapannya. Ia tidak tahu harus mengatakan apa.
"Maksud dokter, mereka yang menemani saya?" tunjuk Al pada Widya, Citra dan Yudha. Dennis mengangguk
Kedua mata Al membesar. Ia sangat terkejut mendengar pernyataan Dennis tadi. Ia mengalihkan pandangannya pada Wina. Wajahnya berubah sendu saat menatap wanita itu.
Wina menoleh pada kakaknya. Dennis hanya memberi isyarat dengan mengangguk. Wina memejamkan mata sesaat dan menghembuskan napas lelah.
"Tidak apa, bang. Aku akan temani Abang," ucap Wina.
*****
Wina dan Al kini berada di ruangan spesialis saraf. Mereka pun memulai konsultasi. Al benar-benar tak mengingat kecelakaan yang menimpanya. Saat ia mencoba mengingatnya, sakit kepala mulai menyerangnya.
"Abang, gak apa-apa?" tanya Wina khawatir.
"Abang baik-baik saja, sayang," ucapnya
"Jadi bagaimana, dok?" tanya Wina.
Dokter itu menghela napas panjang. "Tidak apa Pak Al hanya kehilangan sebagian memorinya. Suatu waktu, pasti akan kembali lagi." ucap dokter itu panjang lebar.
Selesai berkonsultasi, Al dan Wina kembali ke kamar rawat. Al baru saja tertidur. Wina segera keluar dari kamar itu.
"Bagaimana kondisinya? tanya Citra.
"Abang, baik-baik saja. Tapi, Abang mengalami amnesia sementara." lirih Wina.
"Aku harus pulang. Darren membutuhkanku. Bantu saja Abang pulih, mungkin dia akan kembali mengingatmu." Wina segera berlalu dari hadapan Citra.
__ADS_1
Wina menghampiri Samudra yang tengah berdiri di depan meja perawat bersama Dennis. Samudra menoleh dan menatap Wina.
"Sudah?" Wina mengangguk.
Tanpa kata, Samudra segera berlalu bersama Wina. Mereka menuju pelataran parkir, tempat Samudra memarkirkan mobilnya.
Hingga tiba di kediaman Dennis dan Fika, Samudra tak sekalipun mengajak Wina bicara. Wina tahu dimana kesalahannya. Hanya saja, ia tidak ingin membahasnya.
"Terimakasih ya, Mas sudah mengentalkan aku pulang. Aku masuk dulu," ucap Wina.
Samudra meremas kuat roda kemudi. Ada rasa kesal yang ia pancarkan. Ia segera memutar balik mobilnya dan kembali ke rumah sakit.
*****
Al baru saja terbangun, saat ia tak melihat keberadaan Wina. Ia mengedarkan pandangannya mencari sosok Wina. Kemudian, ia menemukan Citra.
Al mengerutkan keningnya bingung. "Anda, kenapa ada di ruangan saya?" tanyanya.
"Karena aku istri pertamamu, Mas,"
Al berusaha mengingat nama itu. Namun sayangnya, itu tidak membantu. Al memilih diam. Samudra masuk ke dalam ruang rawat Al. Kemudian, ia mencengkeram baju Al kuat.
"Ada apa ini?" tanya Al.
"Jangan coba-coba sentuh calon istriku," ucap Samudra tegas.
"Siapa calon istrimu?" tanya Al kembali.
"Wina," ucap Samudra.
Seketika, kepala Al berdenyut nyeri. Rasa sakit itu hebat sekali. Samudra melepaskan cengkeramannya. Citra mendekat dan memberikan pelukan hangat untuk Al.
Ia berharap, Al dapat mengenalinya. "Mas, mas tidak apa kan?" tanya Citra.
"Siapa kau," ucapnya terbata karena rasa sakit di kepalanya yang tak tertahankan.
Citra pun memilih memberitahukan status dirinya. "Aku istri pertamamu," ucap Citra.
Al membelalakkan matanya terkejut.
*****
Maaf ya genks sudah menjelang pagi. Aku lupa belum risetπ€ jadi, sambil nulis, sambil riset. mata sudah tak sanggup lagi terbuka. sekarang tepat jam 2 dini hari. tidur dulu ya genks. besok kita lanjut lagi.
__ADS_1
sampai jumpa di bab selanjutnya. lope lope yg buanyak buat kalian semuaπππβ€οΈβ€οΈβ€οΈπππ