Berbagi Cinta: Aku, Madu Sahabatku

Berbagi Cinta: Aku, Madu Sahabatku
Bab 16


__ADS_3

Citra sudah tiba di kediamannya bersama Al. Baru saja kakinya melangkah masuk, terlihat Widya tengah duduk di ruang tamu. Begitu melihat Citra, Widya bangkit berdiri. Melangkah mendekati Citra. Wajahnya terlihat tak bersahabat.


"Mi." Citra mengambil tangan Widya dan mencium punggung tangannya.


Widya membiarkannya. Ia melihat wajah Citra yang sangat mirip dengan wajah ibunya. Rasa kesalnya kembali membara. Kembali teringat akan sikap suaminya Yudha yang berubah drastis.


"Mami ingin minta sesuatu padamu." entah mengapa, perasaan Citra berubah tak enak.


Jantungnya berdegup kencang. Tanpa bisa dihindari, ada rasa takut yang mulai menjalari seluruh pembuluh darahnya.


"Apa?" tanya Citra.


"Kau ingin mami menerimamu kan?" ada kegembiraan yang muncul di hati Citra saat ucapan itu terlontar.


Jelas saja Citra ingin Widya menerimanya. Bukan hanya sebagai menantu, tetapi juga sebagai putrinya sendiri. Sama seperti Widya menyayangi Wina.


Citra menganggukkan kepalanya semangat. Menandakan jika dirinya menginginkan hal itu. Wajahnya bahkan sudah terlihat berseri-seri. Senyumnya juga terlihat begitu manis. Widya memajukan dirinya selangkah lebih dekat.


"Bercerai lah dari Al. Tinggalkan Al. Mami yang akan merawat mu. Setelah kau pergi meninggalkan Al, mami akan siap kan rumah, pekerjaan, dan tentu saja mami akan menyayangimu."


Wajah Citra pias setelah mendengar penuturan mertuanya itu. Senyumnya menghilang. Hatinya semakin terasa sakit. Apakah harus seperti ini caranya, untuk mendapatkan kasih sayang Widya?


"Pikirkanlah baik-baik. Mami pergi dulu." Widya segera meninggalkan Citra yang masih termenung di sana.


Setelah Widya pergi, Citra menjatuhkan tubuhnya di atas lantai yang dingin. Air matanya luruh. Tenaganya serasa menghilang dari tubuhnya. Sekedar mengucap sesuatu pun terasa sangat sulit ia lakukan. Citra hanya mampu mengusap dadanya yang terasa menyesakkan.


Tuhan, sakit sekali rasanya hatiku. Sangat sakit Tuhan. Hingga rasanya aku tak lagi sanggup menjalani hidup ini. Cabut saja nyawaku ini. Di dunia ini, tidak ada lagi orang yang menyayangiku dengan tulus.


*****


Al baru saja selesai dari rapat bulanan yang harus di hadirnya sebagai seorang General Manager. Saat ini, Al tengah menengadahkan kepalanya di kursi kebesarannya.


Kepala terasa berat sejak pagi. Tubuhnya terasa pegal dan sakit. Al mencoba memejamkan matanya sejenak. Berharap sakit di kepalanya sedikit berkurang.


"Al." Suryo sahabatnya membangunkannya.


"Eh, kenapa Sur?" tanya Al seraya memijit pelipisnya.


"Lo yang kenapa? Dari tadi gua lihat, Lo gak fokus. Ada apa?" tanya Suryo.


Suryo mendudukkan dirinya di hadapan Al. Ia siap untuk mendengar cerita Al.


"Gak apa-apa. Cuma lagi gak enak badan saja kok," jawabnya jujur.

__ADS_1


"Sakit?" Al menggeleng.


"Apa, ada yang sedang dipikirkan?"


"Banyak," jawab Al.


"Cerita lah, siapa tahu Gua bisa bantu." Al menatap Suryo.


Menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. "Papi, bilang penyebab mami tidak menyukai Citra itu, papi sendiri."


Suryo mengernyit bingung. "Maksudnya?" tanyanya.


"Papi, pernah ingin menceraikan mami dan menikahi ibu kandung Citra sebelum beliau wafat. Saat mami tahu, kalau Citra itu putri dari wanita itu, mami langsung membenci Citra dan tidak ingin menerimanya."


Suryo menghela napas. Ia tidak paham dengan jalan pikiran orang lain. Bagi dirinya, jika memang Al mencintai Citra, cukup ia mempertahankan Citra untuk tetap ada di sisinya, tanpa mempedulikan kebencian ibunya. Bukankah ibu Citra sudah wafat? Seharusnya tidak ada lagi sumber kebencian itu bukan?


Namun, hal itu hanyalah pikiran Suryo semata. Sementara Al mengerti bagaimana perasaan maminya. Terlebih, selama ini sang mami terus mendukungnya.


"Satu lagi masalahnya, papi bilang, apapun yang terjadi, gua tidak boleh menceraikan Citra."


"Bukannya, Lo mencintai Citra? Kenapa jadi berpikiran untuk menceraikan dia?" tanya Suryo yang tak mengerti jalan pikiran Al.


"Mami. Alasan gua cuma mami," jawab Al.


"Lo b***h ya? Itu masalah mami Lo Al, bukan masalah Lo. Seharusnya, Lo cari cara agar mami Lo merubah sikapnya pada Citra. Bukan seperti ini?" Suryo menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi.


Al memutuskan, akan membuat citra diterima oleh ibunya, bagaimanapun caranya.


*****


Wina menimang kartu nama yang di berikan Dennis padanya. Entah kenapa, pria itu menarik perhatian Wina. Bukan berarti Wina sudah berpaling, tidak. Hanya saja, ada rasa familiar saat dirinya berada dekat dengan Dennis.


Kenapa saat dia di sampingku, aku merasa memiliki seseorang? Rasanya sama seperti saat bersama kak Dirga. Ah, kak Dirga. Aku merindukanmu, ibu dan ayah. Kalian meninggalkan ku dan Citra sendirian. Lihat, nasibku sedih sekali bukan?


Air mata Wina menetes kala ia mengingat keluarganya. Wina memutuskan menyimpan kembali kartu nama itu. Perutnya terasa lapar. Ia berjalan ke dapur, hendak membuat makanan untuk dirinya sendiri.


Tengah asyik meracik bumbu, ia dikejutkan dengan tangan yang melingkari tubuhnya. Wina mengenali aroma parfum itu. Aroma yang selalu menemani harinya satu minggu yang lalu.


"Bang." Wina ingin membalik tubuhnya. Namun, Al menahannya. Ia menyandarkan kepalanya di pundak Wina. Menghirup aroma lembut yang menguar dari tubuh istrinya itu.


"Bau kamu enak," ucapnya ambigu.


"Aku tuh belum mandi loh." Wina kembali berusaha melepas pelukan Al. Namun, tetap tak berhasil.

__ADS_1


"Tapi, masih wangi kok. Aku suka."


Wina menghembuskan napasnya lelah. Entah ada apa dengan suaminya ini. Kembali Wina teringat, jika seharusnya Al tidak pulang ke tempatnya malam ini.


"Kenapa Abang pulang ke sini? Bukannya Abang pulang ke tempat Citra?" tanyanya. Kali ini Wina membiarkan Al memeluk nya.


"Tapi, Abang kangen sama kamu," ucap Al menggoda Wina.


"Abang gimana sih. Gak bisa begitu bang," protes Wina.


Al menghembuskan napasnya berat. "Abang juga gak tahu, kenapa Abang ke sini," jawab Al.


Sejujurnya, Al sendiri tidak mengerti. Ia tahu jika minggu ini, dirinya harus menghabiskan waktu bersama Citra. Tetapi, saat menyetir tadi ia tidak menyadari, jika mobil yang dikendarainya justru mengarah ke tempat Wina. Al justru baru menyadarinya saat Wina bertanya tadi.


"Ya sudah, Abang istirahat dulu saja. Tapi, setelah itu Abang harus kembali ke tempat Citra," ucap Wina tegas.


"Baik, Sayang." Al mengecup pipi Wina sekilas dan berlalu.


Hingga larut malam, Al tidak juga beranjak dari rumah Wina. Entah sudah berapa kali Wina meminta Al untuk kembali ke tempat Citra. Pria itu seakan enggan meninggalkan istri keduanya sendiri. Al merasa seperti ada magnet yang terus menariknya.


Tak hilang akal, Wina pun mengancam Al. Pada akhirnya, Al menuruti keinginan Wina. Pria itu pun kembali ke tempat Citra.


Setelah Al pergi, Wina pun menyadari, jika dirinya menginginkan Al ada di sampingnya malam ini. Namun, ia berusaha menekan egonya. Al bukan hanya milik ya seorang.


*****


Telat lagi upnya🤧 maaf ya genks.


rekomendasi hari ini. sambil menunggu aku up kembali, boleh ya mampir di karya my besties ini



atau, kalian juga boleh loh mampir di karya ku yang lain




yang ini masih on going juga. di ramaikan ya



Oke. Sekian untuk hari ini.

__ADS_1


sampai jumpa di bab selanjutnya.... bye... bye....


lope lope sejagad raya untuk kalian semua😘😘💖💖💖💗💗💗


__ADS_2