Berbagi Cinta: Aku, Madu Sahabatku

Berbagi Cinta: Aku, Madu Sahabatku
Bab 42


__ADS_3

Samudra, Wina dan Silvia pun kembali lebih dulu. Silvia kembali meneteskan air matanya mengingat mantan suaminya yang telah tiada. Persahabatan yang dulu mereka bangun, kini hancur berantakan.


Belum lagi, keegoisan Widya yang rela menjerat orang lain demi kepentingannya. Terselip rasa iba di hati Silvia. Mengingat Widya selalu saja tidak mendapatkan keinginannya.


Mungkin ia memiliki Yudha. Tapi tidak dengan hatinya. Ia bisa memiliki tubuhnya, tidak dengan pikirannya.


Namun, mengingat perbuatannya yang dibutakan cinta, lagi-lagi membuat Silvia kesal setengah mati. Sahabat yang dulu begitu dekat dengannya, mampu menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keinginannya. Silvia bahkan sempat berpikir, jika kematian Andrew, adalah bagian dari rencana Widya, agar Yudha lah yang menikahinya.


Sudahlah, apapun yang terjadi dimasa lalu, pasti akan terbuka dengan sendirinya, gumam Silvia.


"Bunda, baik-baik saja?" Silvia menoleh dan tersenyum.


"Tenang saja, Sayang," ucap Silvia pada Wina.


"Jadi, dia adik ku?" tanya Samudra.


Wina dan Silvia menoleh pada Samudra. Silvia mengangguk. Ia pun baru menyadarinya, disaat pertemuan pertama mereka. Wajah nya, memiliki kemiripan dengan Samudra. Hanya saja, Al memiliki wajah yang cenderung lebih mirip pada ibunya. Sementara Samudra, memiliki perpaduan antara Andrew dan Silvia.


"Jika kau tidak ingin mengakuinya, bunda tidak akan memaksa. Tapi, jika bunda boleh meminta, akui saja Al sebagai adikmu. Bagaimanapun juga, kalian terlahir dari pria yang sama."


Samudra terdiam. Ia hanya memandang jalan dihadapannya. Wina memperhatikannya.


"Kak, ada baiknya kau melupakan masa lalu. Apa pun yang terjadi dulu, jangan sampai terbawa ke masa depan. Bukan karena aku masih menyimpan rasa untuknya. Tapi, ini hanya demi kedamaian hatimu. Maaf, aku tidak bermaksud menggurui mu," ucap Wina.


Samudra mencerna setiap ucapan yang terlontar dari mulut Wina. Apa yang Wina ucapkan memang benar. Saat masalah itu terjadi, ia belum mengerti apa pun. Yang ia tahu, ia hanya kehilangan sosok ayah yang mencintainya.


Samudra menggenggam jemari Wina. Menyatakan rasa terimakasihnya. Mulutnya mungkin tak mengatakan apapun. Tetapi mata dan perbuatannya menyiratkan hal itu. Wina membalas genggaman itu tak kalah erat.


Wina memang sudah memutuskan membuka hatinya pada Samudra. Ia masih berusaha mencintai pria di sampingnya ini. Tidak mudah memang, untuk kembali membuka hati, setelah disakiti. Namun, Wina terus mencoba dan berusaha.


"Apa kau ingin mengambil hak asuh Darren dari mereka?" tanya Samudra tiba-tiba.


"Aku tidak yakin bisa memenangkannya," lirih Wina.


"Aku dan dennis akan berusaha memenangkannya," ucap Samudra.


"Jika bunda boleh menyarankan, sebaiknya kalian bicarakan dulu semuanya secara terbuka. Jika mereka tidak bisa di ajak berkompromi, maka meja hijau lah jalannya."


Wina menoleh pada Silvia dan tersenyum. Sungguh, ia merasa beruntung dikelilingi orang-orang baik dan yang tulus mencintainya. Ia tak pernah menyangka, akan mendapatkan kebahagiaannya lagi.

__ADS_1


*****


"Jadi, aku bukan anak kandung papi? Aku bahkan tidak percaya mami bisa melakukan hal sem*****n itu untuk mendapatkan papi." Al meneteskan air matanya.


Citra yang ada di sampingnya, merangkul lengan Al erat. Saat ini, mereka sedang berkumpul di rumah Al dan Citra. Darren, sudah di bawa oleh pengasuhnya untuk tidur.


"Maafkan mami, Nak," lirih Widya.


Apa yang di simpannya secara rapat, kini terbuka dihadapan putranya. Perbuatannya yang tak pantas pun terbuka.


Widya merasa malu berada dihadapan Al. Jika bisa, ia ingin memutar waktu kembali, dan mengubah kisah hari ini. Sayangnya, semua tak mungkin bisa ia ubah kembali.


"Papi juga minta maaf. Karena perbuatan kami dimasa lalu, mungkin berimbas pada kalian. Cucu kami yang harus pergi diusianya yang masih belia, Citra yang kehilangan rahimnya, dan kau harus kehilangan Wina," ucap Yudha.


"Saran papi, kembalikan Darren pada Wina. Jangan kau rebut lagi kebahagiaannya. Dia sudah cukup menderita selama ini," ucap Yudha.


Widya membelalakkan matanya. Ia tidak menyetujui hal itu. Bagaimana pun juga, di dalam darah Darren, masih mengalir darahnya. Ia adalah orang pertama yang menentang hal itu.


"Tidak, aku tidak setuju. Darren tetap cucu kita. Wina sendiri yang meninggalkannya. Kita tidak pernah mengemis padanya kan?" pekik Widya lantang.


"Apa yang papi ucapkan benar, Mi. Kita tidak bisa terus menyakiti Wina. Lagi pula, kita masih bisa menemui Darren di akhir pekan kan? Mami tidak perlu khawatir," ucap Citra.


"Sudah, hentikan. Nanti kita bicarakan lagi hal ini dengan Wina," sela Yudha.


Sejak perdebatan itu Al lebih banyak diam. Rasa bersalah, malu, benci, rindu, marah, kesal semua menjadi satu. Al tidak mengerti apa yang harus dilakukannya.


Ia merasa bersalah pada Wina dan Silvia. Malu berdiri dihadapan Silvia dan Wina. Benci, karena dirinya terlahir dari ibu yang egois. Rindu melihat senyum Wina yang kini tak lagi ada untuknya. Marah, karena kenyataan demi kenyataan mulai menamparnya. Kesal, karena selama ini, ia telah dibohongi oleh ibu kandungnya.


Al tak lagi bisa berpikir jernih. Ia memilih pergi dan menghirup udara luar. Pikirannya benar-benar kacau saat ini.


"Mas," panggil Citra.


"Aku hanya ingin jalan-jalan sebentar. Kau di rumah saja. Nanti, kalau Darren terbangun, ia pasti akan mencari mu." Al mengusap lembut rambut Citra.


Citra mengangguk. Apa yang diucapkan Al, memang benar. Perlahan, mobil yang dikendarai Al menghilang.


*****


Samudra mengantar Silvia hingga di depan rumah. Kemudian, dia kembali menjalankan mobilnya, guna mengantarkan Wina.

__ADS_1


"Terimakasih, karena mas, mau menerimaku apa adanya," ucap Wina tulus.


Samudra tersenyum. Entah mengapa, mudah sekali baginya untuk jatuh cinta pada Wina. Ia berharap, suatu saat nanti, Wina bisa menerimanya. Wina pun membalas senyum Samudra.


Wina pun masuk kedalam kamar. Ia menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang. Sungguh hari yang melelahkan bagi Wina.


Ponselnya berdering, menampakkan sederet angka yang Wina kenali. Tanpa pikir panjang lagi, Wina menjawab panggilan tersebut.


"Halo," ucapnya.


"Dengan ibu Wina?"


"Ya, saya sendiri." jawabnya.


"Kami ingin memberitahukan bahwa pemilik ponsel ini tengah mengalami kecelakaan."


Wina menutup mulutnya tak percaya. Wina berlari sekuat tenaga untuk dapat tiba di tempat Al berada.


Dengan napas tersengal, ia memasuki ruang rawat Al. Kini, Al tengah tertidur dalam damainya. Wina mendekati ranjang pasien dan melihat kondisi Al dari dekat.


Ada beberapa luka lebam di wajah Al. Dengan gerakan seringan bulu, Wina menyentuh wajah itu. Mengusapnya perlahan dan menyusuri wajah tampan Al.


Sayangnya, kita tidak berjodoh, bang, gumam Wina.


"Wina, Wina," igau Al.


Wina mengerutkan keningnya bingung. Untuk apa Al memanggilnya? Bukankah ia mencintai Citra? Apa artinya ini?


Tuhan, tolong jangan goyahkan hatiku lagi. Aku tidak ingin tersakiti dan menyakiti. Cukup bagiku merasakan sakitnya.


*****


2 bab genks... dan mataku tak sanggup lagi terbuka...


Sampai jumpa di bab selanjutnya genks...


bye-bye....


lope-lope seluas Samudra untuk kalian semua... jiah, Samudra dibawa🤭🤭🤭

__ADS_1


😘😘😘❤️❤️❤️💗💗💗


__ADS_2