
Darren menoleh dan menatap Samudra dengan kedua mata polosnya. Entah apa maksud dari kode yang Samudra berikan pada Darren, hingga Darren kembali menoleh pada Wina. Ia tersenyum pada Wina dan memiringkan kepalanya.
Wina berjongkok untuk menyamakan tinggi mereka dan menatap putranya itu. Darren mendekati telinganya dan mulai berbisik.
"Karena mommy adalah orang yang bersedia bertaruh nyawa untuk kehadiran Darren ke dunia ini. Daddy bilang, mommy adalah panggilan yang tepat untuk memanggil, Mommy."
Darren memundurkan kepalanya dan menatap Wina. Mata Wina berkaca-kaca mendengar semua ungkapan Darren padanya. Wina menarik Darren ke dalam pelukannya. Ia memeluk putranya itu dan mengecupnya dengan sayang.
"Lalu, alasan Darren memanggil om Samudra menjadi Daddy apa?" tanya Wina kemudian.
"Karena, pasangan mommy adalah Daddy."
Wina tersenyum lebar mendengar jawaban putranya itu. Ia bangkit berdiri dan menatap Samudra. Pria dihadapannya ini, selalu punya kejutan untuk dirinya. Membuatnya mudah menjatuhkan hati pada pria itu.
"Terimakasih, mas. Kau selalu bisa membuatku tersenyum."
Samudra tersenyum pada Wina. Wajahnya memerah malu. Ia menundukkan pandangannya.
Dennis dan Fika, ikut tersenyum melihat kebahagiaan yang mulai menghampiri keduanya. Silvia pun memeluk Wina dan mencium kedua pipi calon menantunya ini. Kemudian, ia memeluk putra semata wayangnya.
"Bunda, bangga sama kamu. Jika nanti kalian menikah, tetaplah saling mencintai. Bangun keluarga yang harmonis. Beri contoh yang baik bagi Darren dan anak-anak kalian kelak."
"Iya, bunda."
*****
Acara pun usai. Samudra kini akan mengantarkan Darren dan Wina kembali. Dari belakang, mobil Dennis mengikuti mereka. Sementara Silvia, sudah diantarkan supir untuk kembali ke rumah mereka.
Darren sudah tertidur sejak masuk ke dalam mobil. Wina memangku nya dan mengusap rambut Darren. Samudra tersenyum melihat hal itu. Tiba di depan rumah, mereka melihat mobil lain yang terparkir di halaman. Samudra turun lebih dulu dan mengambil Darren dari pangkuan Wina.
Dari teras, dua pasang mata menatap keduanya. Samudra menggenggam tangan Wina erat. Tak lama, Dennis pun ikut turun bersama Fika. Mereka cukup terkejut dengan kehadiran kedua orang itu.
Sepertinya, Al sudah diperbolehkan pulang hingga ia terlihat di rumahnya saat ini. Dennis dan Fika mengikuti langkah Samudra dan Wina.
Fika membuka pintu rumah dan masuk lebih dulu untuk menidurkan Cahaya, putrinya. Samudra menarik Wina ke dalam lebih dulu. Mereka melewati Al dan Citra begitu saja. Al akan mengikuti keduanya. Namun, Dennis lebih dulu menghalanginya.
"Ada apa kau kemari?" tanya Dennis.
"Ini bukan urusanmu!" seru Al.
"Aku tahu. Tapi ini rumahku. Jadi, ikuti peraturan ku."
__ADS_1
Dennis dan Al saling melemparkan tatapan. Seolah mereka sedang mengukur kekuatan diantara keduanya. Samudra pun muncul.
"Kami ingin mengambil Darren kembali," ucap Citra.
"Besok saja. Darren sudah tidur. Kasihan dia, jika harus dibawa dalam kondisi tidur. Jika mau, besok kalian bisa kembali lagi," ucap Samudra.
Sesuai dengan janjinya pada Wina, jika Samudra tidak akan memulai pertengkaran dengan Al. Ia akan berusaha bicara baik-baik dengan adik tirinya itu.
"Baik, kalau begitu kami permisi." Al dan Citra segera meninggalkan tempat itu.
Dennis dan Samudra menghela napas lega melihat Al yang tak mencari keributan. Dennis menepuk pundak sahabatnya itu.
"Terimakasih karena kau sudah membantu Wina dalam banyak hal. Kau bahkan memberinya kesempatan untuk bisa merawat dan melihat anaknya," ucap Dennis tulus.
"Kau mau tahu satu rahasia?" tanya Samudra.
Dennis mengerutkan keningnya bingung. Rasanya, Dennis tidak pernah tidak mengetahui hal apapun tentang Samudra. Apakah dia melewatkan sesuatu yang penting tentang sahabatnya ini?
"Apa?" tanyanya penasaran.
"Kau tahu kan, seperti apa aku jika sudah mencintai seseorang?" Dennis mengangguk.
"Tapi, apa hubungannya?" tanya Dennis bingung.
Dennis tersenyum mendengar penuturan sahabatnya. Konyol rasanya jika mengingat bagaimana tingkah Samudra belakangan. Apalagi, ia sempat memberi peringatan pada Al, saat pria itu dalam kondisi depresi dan kehilangan memori.
"Sudah ku duga. Jadi, kau sudah mampu move on?" Samudra mengangguk.
"Baguslah."
*****
Wina memandangi wajah Darren yang tertidur pulas. Ia menatap setiap inci wajah Darren dan mengukirnya dalam ingatan. Ia takut jika nantinya, Al dan Citra akan membawa Darren jauh darinya. Wina tak ingin terlalu berharap banyak.
"Win," panggil Fika.
Wina menaikkan pandangannya dan tersenyum pada Fika. Fika menghampirinya dan mengusap pundaknya.
"Yakin saja, kalau Darren akan memilih mu," ucap Fika memberikan semangat.
"Tidak kak. Aku tidak ingin berharap. Dulu pun aku sempat berharap menjalin rumah tangga yang harmonis hingga maut yang memisahkan di awal pernikahan ku dan bang Al. Tapi, semua hancur saat aku mengetahui kenyataannya. Aku yang tak ingin berada diantara bang Al dan Citra, memilih pergi. Karena aku tahu, Citra sangat mencintai bang Al. Begitupun sebaliknya."
__ADS_1
"Bukankah Al juga mengatakan cinta padamu?" tanya Fika.
"Mungkin. Tapi aku tidak yakin. Rasa cinta bang Al pada Citra, jauh lebih besar daripada rasa cintanya padaku. Karena Citra, mampu mengorbankan perasaannya sendiri untuk kebahagiaan bang Al dan keluarganya. Sementara aku, aku tidak akan mampu melakukan itu semua. Aku bisa melihat besarnya cinta bang Al pada Citra. Aku yang terlalu b***h karena berharap bang Al lebih memilihku.
Kakak tahu kan, di dunia ini tidak ada satu wanita pun yang rela berbagi cinta apapun alasannya. Jika pun ada, hanya segelintir orang yang rela melakukannya. Karena setiap manusia, tidak akan mungkin bisa adil. Selalu akan ada kecenderungan memihak dalam dirinya. Aku tahu, Citra pasti terluka juga dengan keputusannya."
"Jadi, kau memilih mundur?"
Wina mengangguk. Matanya kembali menelusuri wajah tampan Darren. Tersenyum dan mengecup pipinya.
*****
Pagi hari, Al dan Citra kembali datang. Darren baru saja keluar dari kamar dan akan sarapan bersama om dan tantenya. Darren hanya memberi senyum pada keduanya. Sementara Wina, berusaha bersikap biasa saja pada mereka.
"Halo, sayangnya mama," sapa Citra.
"Halo, ma, pa," sapa Darren kembali.
"Tidak ingin memeluk papa?" Al merentangkan kedua tangannya.
Darren mendekatinya dan memeluk serta mencium pipinya. Begitupun yang ia lakukan pada Citra.
"Rindu tidak dengan papa dan mama?" tanya Citra.
Darren terlihat berpikir. Kemudian tersenyum dan menganggukkan kepala. Citra mengusap lembut rambut Darren.
"Setelah sarapan, kita pulang ya," ajak Al.
Wina hanya terdiam dan tak ikut bicara. Darren kembali terlihat berpikir. Kemudian, ia menoleh pada Wina.
"Tapi, Darren ingin tinggal dengan mommy," ucap Darren seraya menatap Wina.
Al dan Citra bertukar pandangan. Kemudian, mengalihkan tatapan mereka pada Wina. Wina hanya memandang mereka bergantian tanpa sepatah kata pun.
*****
Pagi menjelang siang genks... Cukup segini dulu ya. Mau ngerjain tugas negara dulu...
Sampai jumpa di bab berikutnya...
bye..bye..
__ADS_1
Lope lope yang banyak buat kalian semua😘😘😘💗💗💗❤️❤️❤️