
Al tak jua merespon semua ucapan Citra. Hingga Citra menangis pun, Al tak melakukan apa pun. Tak ada perubahan ekspresi yang berarti. Wajahnya masih sama seperti satu jam yang lalu.
Citra putus asa. Ia merindukan al yang dulu. Al yang selalu ada untuknya. Al yang selalu menghibur dirinya. Entah kemana al yang dulu pergi.
"Citra," panggil Widya.
Citra menoleh dan tersenyum. Ia menghampiri Widya dan duduk di sampingnya. Widya menepuk punggung tangan Citra lembut.
"Kamu, masih bersabar kan, untuk merawat Al?" tanya Widya.
"Aku akan selalu ada untuk Mas Al," ucap Wina.
Widya tersenyum menatap Citra. Ia menarik Citra kedalam pelukannya. Mengusap rambut panjang Citra yang terurai. Citra menitikkan air matanya. Inilah yang dirindukannya. Pelukan jangan dari seorang ibu.
"Apakah kita harus meminta bantuan Wina?" Widya melepas pelukannya dan menatap Citra.
"Apa mami yakin? Aku takut, kedatangan Wina akan semakin memperburuk kondisi Mas Al nantinya," jawab Citra.
"Kau benar," ucap Widya.
Keduanya kembali terdiam dan memikirkan cara lain untuk kesembuhan Al. Saat ini, pria itu bahkan masih setia dalam kebisuannya. Matanya tetap menerawang jauh. Entah apa yang sedang ia pikirkan.
*****
Keesokkan harinya, Wina sedang menemani Darren bermain. Mereka saat ini sedang berada di taman dekat dari rumah yang mereka tempati. Sudah hampir seminggu Darren tinggal bersamanya.
Wina sangat bersyukur bisa diberi kesempatan merawat anaknya. Tengah asyik bermain, ponselnya berdering. Wina melihat nama si pemanggil.
"Darren, mainnya jangan jauh-jauh ya. Bunda angkat telepon dulu. Atau, Darren mau bicara dengan mama Citra?" Wina menunjukkan layar ponselnya yang berkedip. Nama Citra muncul di sana.
"Mama Citra?" Wina mengangguk.
"Mau," ucap Darren semangat.
Wina pun menuntun langkah Darren menuju bangku taman. Mereka duduk berdampingan. Wina menggeser panel hijau di layarnya.
"Halo," ucap Wina.
"Hai, Win,"
"Bagaimana kabar mu dan Abang?" tanya Wina lagi.
"Aku baik. Sementara Mas Al, sangat tidka baik."
"Mama, ini Darren," ucap Darren saat merebut ponsel Wina darinya.
Wina memberikan isyarat mata pada Darren. Darren tersenyum dan mengucapkan maaf tanpa suara. Setelah itu, ia melanjutkan perbincangannya dengan Citra.
"Darren baik-baik saja kan, Nak? Mama ubah ke video call ya,"
Panggilan pun dirubah menjadi mode video. Terlihat wajah murung milik Citra. Wina merasa iba pada sahabatnya itu. Ingin sekali rasanya ia membantu. Namun, ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
"Aku baik, Ma. Bagaimana dengan papa?" tanya Darren.
Terlihat, kamera mulai menyorot wajah Al. Wina merasa semakin iba. Al terlihat seperti kehilangan arah.
__ADS_1
"Papa, ini Darren," pekik Darren. Al tak menggubrisnya. Ia masih setia dengan kebisuannya.
Wajah Darren berubah sendu saat Al tak jua menyapanya. Melihatnya pun, tidak. Wina memeluknya.
"Darren doakan papa ya, supaya papa cepat sembuh," ucap Wina.
Telepon pun terputus. Sepertinya, bicara dengan Darren pun tak membantu menyadarkan Al dari dunianya.
"Hai, jagoan. Sedang apa?" Darren melepas pelukannya dan menoleh.
Kini senyumnya kembali. "Om Samudra." Darren menghampiri Samudra dan memeluknya.
Samudra menyambutnya dan menggendong Darren. Wina tersenyum melihat kedekatan mereka. Samudra menghampiri Wina dan tersenyum.
"Sudah makan?" tanya Samudra.
"Belum," jawab Wina.
"Ya sudah. Ayo kita makan," ajak Samudra.
Samudra pun menggamit jemari Wina. Sepanjang perjalanan menuju mobil, mereka saling bercanda ria.
*****
Wina sedang menemani Darren tidur saat Fika menghampirinya. Mereka berbicara tanpa suara. Fika memintanya keluar untuk bicara. Wina menganggukkan kepala menyetujuinya.
Setelah memastikan Darren tertidur, Wina segera menuju ruang tamu. Ia melihat keberadaan Widya dan Yudha. Setelah mencium punggung tangan keduanya, Wina duduk di samping Fika.
"Sekarang Wina sudah ada di sini. Jadi, apa maksud kedatangan kalian di jam seperti ini?" tanya Dennis.
Dennis tersenyum miring melihat Widya berlutut dihadapan Wina. Ia membuang pandangannya dan berpura-pura tak melihatnya.
"Mami, kenapa mami begini?!" Wina membantu Widya berdiri.
"Mami akan berdiri jika kamu mau membantu mami," ucap Widya.
"Mami butuh bantuan apa?" tanya Wina.
"Bantu Al sembuh, Nak," ucap Widya.
Dennis menatap tajam pada Widya. "Adik saya sudah tidak punya urusan dengan anak anda," tolak Dennis.
Widya menangis tergugu dihadapan mereka. Tangisnya terdengar begitu menyayat hati. Wina tersentuh.
"Apa yang bisa aku bantu?" tanyanya.
"Kamu, mau menolong Al?" tanya Widya.
Dennis bangkit berdiri. Wajah nya terlihat sangat marah saat wina menyetujui permintaan Widya.
"Apa kau b***h? Pria itu sudah bukan urusanmu lagi. Untuk apa kau membantunya? Biarkan saja hidup dalam dunia halusinasinya sendiri," berang Dennis.
"Bukan begitu kak. Aku harus menyelesaikan seluruh permasalahan kami. Bagaimana pun juga, ada Darren diantara kami."
Dennis membuang pandangannya dan meninggalkan tempat itu. Dennis tidak habis pikir dengan cara berpikir adiknya itu.
__ADS_1
*****
Wina tiba di depan ruang rawat Al. Ada keraguan yang menyelimuti hatinya. Belum sempat ia masuk ke dalam, Samudra menarik lengannya dan menjauhi ruang rawat Al.
"Mas." Wina berusaha melepas lengannya yang ditarik oleh Samudra.
Samudra, membawa Wina ke ruangannya. Ia membuka ruangannya dan mendorong Wina masuk. Ia keluar sebentar dan menghampiri meja perawat.
"Sus, tolong tunda jadwal pasien saya pagi ini," ucap Samudra.
Tanpa menunggu jawaban perawat itu, Samudra kembali ke ruangannya dan mengunci pintu. Ia menatap Wina dalam. Tatapannya sangat tajam, hingga membuat bulu kuduk Wina meremang ketakutan.
"Apa maksudmu dengan terus membantu dia? Apa kau masih ingin kembali dengannya?"
wina menyipitkan matanya mendengar semua ucapan Samudra. Apa maksud Mas Samudra? Kembali pada Abang? Itu tidak benar.
"Mas mencurigai ku?" Samudra tak menjawab.
"Jawab mas," ucap Wina lagi.
"Aku tidak suka kau masih berhubungan dengannya," ucapnya tegas.
"Mas, beri aku sedikit kepercayaan. Aku hanya ingin menyelesaikan sisa permasalahan kami. Aku tidak akan pernah kembali padanya. Mas bisa mempercayaiku," ucap Wina.
Samudra menarik Wina ke dalam pelukannya. Ia begitu takut Wina kembali pada Al. Samudra sudah jatuh hati pada Wina. Meski ia tidak tahu, seberapa besar ia mencintai Wina.
"Maafkan, aku. Aku akan mempercayaimu," lirih Samudra. Ia menyesal sudah meragukan Wina.
"Terimakasih, mas," ucap Wina. Ia membalas pelukan Samudra.
Samudra pun mengantarkan Wina kembali ke ruang rawat Wina. Ia menggenggam erat jemari Wina. Wina tersenyum pada Samudra.
Wina menarik napas dalam sebelum membuka pintu. Saat pintu terbuka, Citra, Widya dan Yudha menoleh pada Wina.
Citra terkejut melihat kedatangan Wina. Widya dan Yudha tersenyum melihat kehadiran Wina.
"Kau datang, Nak," Widya menyambut kedatangan Wina. Begitu pun dengan Yudha.
Citra memejamkan matanya menahan kesal. Ia tak ingin lagi melibatkan Wina dalam penyembuhan Al. Citra memang akan melakukan segala cara untuk mengembalikan kondisi Al seperti semula. Namun, Wina adalah pilihan akhir baginya.
*****
Maaf kan aku genks, semalam ketiduran😭😭
sedih aku gagal memberi 2 bab lagi. Sekarang cuma bisa 1 bab. lagi nengok mertua yang sakit.
Nanti kalau pulangnya cepat, aku lanjut nulis ya. Jauh soalnya, Jakarta - Sukabumi. naik motor pula. lelah hayati.
promo hari ini genks... mampir ke karya sahabatku yuk. ceritanya gak kalah seru loh dari cerita yang sering ku promokan di sini. bahkan, dari novelku sendiri.
ok genks... sampai jumpa di bab selanjutnya....
lope² yang banyak buat kalian semua sayang akoh🤗😘😘😘❤️❤️❤️💗💗💗
__ADS_1