Berbagi Cinta: Aku, Madu Sahabatku

Berbagi Cinta: Aku, Madu Sahabatku
Bab 26


__ADS_3

Al baru saja kembali dari perkebunan teh yang dibelinya. Ia membersihkan dirinya dan bergabung bersama anak dan istrinya. Putra semata wayangnya. Buah hatinya bersama almarhum Wina.


Darren dengan senang hati membantu ibunya. Meski bukan darah dagingnya, Citra sangat menyayangi Darren dengan sepenuh hatinya. Apalagi, Darren adalah anak yang baik juga menggemaskan. Tidak ada alasan bagi Citra untuk tidak menyayangi putranya itu.


Ya, Citra sudah menganggap Darren sebagai putranya sendiri.


"Bagaimana, Darren suka di sini?" tanya Al pada putranya.


"Suka pa, di sini aku punya banyak teman." Darren tersenyum bahagia. Al mengacak rambut putranya gemas.


"Mas, aku mau ke supermaket depan ya!"


"Biar mas antar saja," ucap Al.


"Darren ikut ya, Ma?" Citra tersenyum dan mengangguk.


Selesai makan malam, Citra segera membereskan piring kotor dan sisa makanan. Al dan Darren duduk di ruang tamu dan menunggu Citra.


Sepuluh menit kemudian, mereka berangkat ke supermarket sesuai tujuan mereka. Tiba di sana, mereka mulai mengelilingi area supermarket.


Citra dan Al menuju tempat penjualan daging. Tanpa mereka sadari, Darren mulai berjalan menjauh dari mereka. Darren melihat wanita yang sore tadi ia lihat di taman. Wanita yang pernah dilihatnya dalam album foto.


Langkahnya semakin dekat dengan Wina. "Bisa tolong ambilkan Darren susu itu, Tante?" tanya Darren.


Wina berbalik dan melihat Darren. Mata mereka bertemu satu sama lain. Terkunci selama beberapa menit. Darren merasa sesuatu mengalir di hatinya. Begitu pula dengan Wina.


*****


Wina ingin sekali merengkuh anak di depannya ini ke dalam dekapannya. Memeluknya erat dan tak melepasnya. Mata Wina mulai berkaca-kaca. Entah mengapa, hatinya terasa pedih tak terkira.


Pandangannya dan anak itu terputus saat suara yang begitu dikenalnya memasuki telinganya. Wina mengangkat pandangannya. Wina sempat merasa terkejut saat melihat wajah pria yang pernah mengisi hari-harinya.


Kedua bola mata Al membola sempurna. Wina bisa melihat kerinduan dari sinar yang terpancar di sana. Wina berusaha bersikap biasa saja. Tak terpengaruh dengan keberadaan dua pria beda generasi dihadapannya yang menatap dirinya.


"Ayo, de! Kakak mu sudah telepon." wanita hamil di samping Wina menunjukkan ponselnya yang terus menerus berdering.


Perhatian Wina teralihkan. Ia mencoba tersenyum dan mengangguk tanpa membuka suara. Mereka menundukkan kepala berpamitan.


Wina melewati Al begitu saja. Tiba-tiba, pergelangan tangannya digenggam erat. Jantung Wina berdegup hebat saat kulit mereka bersentuhan. Mungkin saja Al akan merasakan rasa dingin di telapak tangannya.


"Kenapa berhenti? Nanti mas Dennis marah. Ayo!" ajak wanita itu.

__ADS_1


"Kakak hubungi kak Dennis dan minta di jemput saja ya. Nanti aku nyusul," ucapnya.


"Kenapa? Masih ada yang ingin dibeli? Biar kakak temani." Wina segera menggelengkan kepalanya mendengar ucapan kakak iparnya.


"Jangan! Nanti kak Dennis marah kalau kak Fika kelamaan," tolak Wina.


"Kakakmu akan lebih marah kalau kamu kakak biarkan sendiri. Kamu tahu kan bagaimana posesifnya kakakmu itu sama kamu?"


"Biar saya yang antar dia pulang," ujar Al.


"Kamu siapa?" tanya Fika. Dahinya mengernyit saat mendapati jemari Wina yang di genggam oleh Al.


"Saya suaminya."


*****


Kini, Al dan Citra duduk berhadapan dengan Wina di sebuah cafe terdekat dengan supermarket tadi. Wina lebih memilih memandangi putranya yang tengah menikmati eskrim.


"Apa maksudmu melakukan semua ini? Apa kau tidak menyayangi putramu, hingga kau tega meninggalkannya?" Wina mengalihkan tatapannya pada Al.


Citra tak menyela sedikitpun. Sejujurnya, ia pun merasa telah dipermainkan oleh sahabatnya sendiri. Ia memilih diam dan mendengarkan.


"Tidak ada maksud apapun." Wina menundukkan kepalanya.


"Ayo, pulang!" ajak Dennis.


Wina diam tak bergerak. Ia pun tak bersuara. Ia sedang mengatur hatinya yang tengah merasa sesak dan ingin menangis.


"Sayang, bawa Darren ke mobil." Citra menuruti Al.


Setelah memastikan Citra dan Darren pergi, Al berdiri dan menghampiri Dennis yang memegang pundak Wina. Al memasukkan tangannya kedalam saku celana bahannya. Berusaha menahan emosi yang berkecamuk di dadanya.


"Kenapa?" tanyanya pada Al tanpa memandangnya.


"Kau menyembunyikan istriku? Apa alasannya?" tanya Al.


Dennis tak menjawab. Ia tak ingin berdebat dengan Alvino saat ini. Ia menarik lengan Wina agar mereka segera pergi dari sana. Wina hanya menurutinya saja. Tiba-tiba...


Bugh,


Dennis terpental dan menabrak kursi pengunjung yang tidak di tempati. Wina mendekati Dennis dengan wajah penuh kekhawatiran.

__ADS_1


"Kakak baik-baik saja?" tanya Wina. Ia membantu Dennis berdiri.


Dennis tersenyum pada Wina dan menyeka sudut bibirnya yang pecah akibat serangan Al yang mendadak.


"Kamu tenang saja. Aku tidak akan kalah dari suamimu itu," bisik Dennis di telinga Wina.


Al yang melihatnya merasa sangat marah. Wajahnya berubah memadam. Terlihat bagaimana mata Dennis yang dengan sengaja memancing emosinya.


Melihat rasa cemburu yang besar di dalam mata Al, membuat Dennis menyeringai. Ia semakin senang mengganggunya. Dennis memeluk Wina yang mulai terlihat menahan tangisnya. Wina membalasnya.


"Sudah. Jangan seperti ini. Kasihan kak Fika. Kau kan calon ayah kak," ucap Wina dengan terisak.


"Tenang saja. Apa kau tidak tahu seberapa hebat kakakmu ini?" Wina mengeratkan pelukannya pada Dennis.


Hati Al semakin memanas. Rasanya, amarah yang dipendam sudah mencapai ujung kepalanya. Dengan langkah lebar, Al kembali menarik Dennis, hingga Wina ikut terhempas dan menabrak meja cafe di sisi kanannya.


Aaarrgghhh...


"Kak Dennis," pekik Wina.


Al terus menghajar Dennis dengan membabi buta. Dennis melawannya, hingga baku hantam pun tak terelakkan. Tepat saat Dennis akan memukul bagian perut Al, Wina menghadangnya.


Dennis menghentikan pukulannya di udara dan mengepalkan nya dengan erat. Rahangnya bahkan masih mengetat menahan amarah.


Dennis memejamkan matanya dan menghembuskan napas perlahan untuk meredakan amarahnya. Sementara Al, terkekeh mendapati hal itu.


"Jadi, dia kakakmu?" tanya Al seraya mencoba bangkit berdiri.


Dennis mengangkat sebelah alisnya. "Tidak ada urusannya denganmu," ucap Dennis ketus.


"Kau membuat istriku seolah mati, membawanya pergi menjauh dariku, bahkan dari putra kami, kau masih tidak merasa bersalah?" Al tertawa.


Dennis tak menjawab ucapannya. Wina berbalik dan menatap marah pada Al. Ia mulai mendekat. Sekuat tenaga, ia mulai menampar pipi Al. Al terkesiap.


Ia menatap Wina tak percaya. Bukankah Wina yang bersalah dalam hal ini? Jadi, kenapa dirinya yang kini merasa dipersalahkan? pikir Al saat itu.


"Jangan pernah salahkan kakakku atas apa yang terjadi. Kau, tidak tahu apapun tentang aku. Aku lah yang memutuskan untuk meninggalkan kalian bukan kak Dennis," ucap Wina dengan bola mata yang membulat sempurna.


Al semakin tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Ia bahkan hanya mampu menatap Wina tanpa mampu mengatakan apapun.


*****

__ADS_1


Sore genks.... Maaf, karena kemarin aku gak up. Bab ini pun aku merasa kurang feel. Makasih ya buat kalian yang masih menunggu cerita ku. Terimakasih buat bunga dan vote yang kalian berikan. aku terhura😒😒 sungguh


Baiklah. sampai jumpa di bab selanjutnya genks.... Lope lope yang banyak buat kalian semuaπŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜β€οΈβ€οΈβ€οΈπŸ’—πŸ’—πŸ’—


__ADS_2